Banyu Pinaruh
Penglukatan Banyu Pinaruh Berbeda dengan Penglukatan Lainnya. Sumber Foto : ana/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Hari Suci Banyupinaruh merupakan upacara agama Hindu yang dilakukan sehari setelah Hari Raya saraswati yang jatuh pada tanggal 29 Agustus 2021. Biasanya agama Hindu di Bali merayakannya dengan mendatangi pantai dan tempat melukat seperti di Pura Tirta Empul, Pura Beji Sebatu dan masih banyak lagi tempat lainnya yang bisa dikunjungi untuk melaksanakan penglukatan atau pebersihan.

Namun di tahun ini kita semua masih dalam masa Pandemi Covid-19 dengan adanya aturan pemerintah yaitu PPKM mengakibatkan pembatasan kegiatan yang mengakibatkan kerumunan demi putusnya rantai penyebaran virus Covid-19. Dengan demikian secara tidak langsung umat Hindu di Bali tidak bisa merayakan pelaksanaan Banyu Pinaruh seperti tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga :  PJ Gubernur Bali Ajak Masyarakat Bali Perkuat Dharma Agama dan Dharma Negara di Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1946

Banyu Pinaruh bertujuan untuk pembersihan dan kesucian diri. Banyu Pinaruh sendiri berasal kata dari Banyu yang berarti air, dan Pinaruh atau Pengeruwuh berarti pengetahuan. Pada hari Banyu Pinaruh, biasanya umat melaksanakan Penglukatan yang dapat dilakukan di beberapa tempat seperti Sumber mata air (klebutan), Campuhan (pertemuan aliran sungai dan laut), Pantai, Merajan dengan menghaturkan pejati atau canang sari terlebih dahulu.

Banyu Pinaruh umat Hindu melaksanakan suci laksana, mandi dan keramas menggunakan air kumkuman dari salah satu sumber air yang didapat. Kegiatan ini bertujuan untuk ngelebur mala dengan harapan terjadi keseimbangan lahir dan batin.

Baca Juga :  Tari Rejang Iringi Bhakti Penganyar Pemkab Buleleng di Pura Agung Besakih

Pelukatan Banyu Pinaruh dengan pelukatan lainnya berbeda dimana penglukatan biasa biasanya disesuaikan dengan apa yang menjadi tujuan, sementara penglukatan Banyu Pinaruh ini erat kaitannya dengan turunnya ilmu pengetahuan.

Agama Hindu meyakini, pengetahuan tersebut diturunkan dalam bentuk air. Sebab, air merupakan lambang kemurnian atau kesucian, yang dapat membersihkan noda sekala maupun niskala, serta mengembalikan kemuliaan manusia. Maka dari itu, umat menggelar mandi suci saat Banyu Pinaruh. Barang siapa yang telah memperoleh ilmu pengetahuan, akan menikmati kemakmuran.

Baca Juga :  GOW Jembrana Ngayah Rejang Renteng, Serangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh Pura Besakih

Sebab bagaimanapun, tanpa adanya penciptaan dan ilmu pengetahuan, tidak akan ada kemakmuran. Kemakmuran adalah progres kemajuan. Dalam hal ini Banyu Pinaruh, simbol kemakmuran ini ada pada nasi dira. Dengan membersihkan badan dan keramas di sumber mata air tersebut.

Prosesi ini bermakna untuk membersihkan kegelapan pikiran yang melekat pada tubuh manusia yang dilaksanakan pada pagi hari. Momen Banyu Pinaruh inilah jadi kesempatannya, selain untuk membersihkan diri, juga untuk menenangkan pikiran. (Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H, Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Mengwi, Badung)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News