“Everyone wants a new concept and something new, saya percaya dalam kondisi sekarang akan menjadikan 1 impact bahwa online shopping akan buka pop up store di mall, supaya dapat spectrum of customer yg berbeda. At the end of the day kita harus cari satu titik untuk bisa kerja dengan omni channel, offline dan online, both of them have to work well together,” ungkap Ivy.
Sepakat dengan pernyataan Ivy, Handaka Santosa menegaskan pentingnya mengetahui tren pasar dan pentingnya customer experience.
“Department store saat ini harus merubah konsep, teori yang menyebut one stop shopping harus di-implement dikombinasikan dengan apa yang disebut customer service, dan attitude dari team yang melayani juga harus beda. Saat ini orang menganggap department store jualan pakaian, sepatu, kosmetik, dll. Tapi saat ini dalam rangka merubah SOGO kami sudah membuka apotik, keperluan farmasi dan booth tepat di pintu utama kami. Agar orang juga melihat bagaimana trend kebutuhan customer,” tegas Handaka.
Pusat perbelanjaan atau mal diproyeksi masih sulit bangkit meski vaksin Covid-19 telah didistribusikan. Didorong tingginya kekhawatiran masyarakat, maka customer confidence menjadi strategi yang wajib ditingkatkan.
Menutup diskusi hari ini, Alphonsus Widjaja selaku Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia menyatakan pihaknya optimis terhadap keberlangsungan pusat perbelanjaan.
“Tenant perlu berjualan dengan konsep baru dan dengan cara yang baru, bukan hanya buka toko lalu selesai. Tugas pengelola adalah mencari titik temu kepentingan tenant dan kustomer ini, inilah yang saya sebut new paradigm. Bukan lagi menjual place of business tapi menjadi whole business. Perusahan harus bisa tidak hanya menyewakan tempat, tenant perlu sekali konsep baru yang tidak hanya berjualan saja. Di sisi lain pengelola harus bisa mencari konsep baru untuk konsumer yang tidak hanya menjadi tempat belanja,” tutupnya.(bpn)













