Ditemui usai groundbreaking, Bupati Agus Suradnyana menjelaskan revitalisasi Pasar Rakyat Banyuasri ini sebagai upaya penataan wajah kota, terlebih lagi interaksi ekonomi ditargetkan terbangun tinggi dengan revitalisasi ini. Tentu, membangun interaksi ekonomi harus dilakukan dengan tarikan-tarikan ekonomi seperti pasar yang bersih.
“Kalau pasar jadi bersih, sanitasinya bagus, penerangannya bagus, orang pasti akan datang,” jelas Agus Suradnyana.
Memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 mulai menyerang dunia termasuk di Buleleng. Namun dengan tekad yang kuat, Bupati Agus Suradnyana memastikan proyek ini tetap berlanjut. Dengan skema pendanaan menggunakan anggaran tahun jamak atau multiyears. Pendanaan proyek revitalisasi Pasar Banyuasri ini terdiri dari tiga unsur. Ketiga unsur tersebut adalah Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Bali, BKK yang berasal dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR) Kabupaten Badung dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Buleleng
Akhir tahun 2020, pengerjaan revitalisasi Pasar Banyuasri di Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng telah mencapai 92,5 persen. “Tinggal 7,5 persen lagi. Astungkara lancar sehingga pada awal Desember 2020 bisa mencapai 100 persen,” jelasnya.
Satu tahun berlalu semenjak awal revitalisasi. Dengan memanfaatkan 159 Milyar, segenap usaha Pemkab Buleleng akhirnya membuahkan hasil. Pasar Banyuasri kini tampil dengan wajah baru, menjadi pasar modern nan megah. Pasar Banyuasri adalah kado terindah Pemkab Buleleng untuk HUT ke-417 Kota Singaraja. Kini, Pasar Banyuasri menjadi ikon dan kebanggaan bagi segenap masyarakat Kabupaten Buleleng.
“Perayaan HUT ke-417 Kota Singaraja akan mengesankan. Dibukanya Pasar Banyuasri menjadi kado terindah untuk masyarakat Singaraja,” pesan Bupati Agus Suradnyana. (bpn)













