Tyto Alba
Konservasi Tyto Alba. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, TABANANBermula pada awal tahun 2015, ketika pertanian di Subak Ganggangan diserang hama tikus yang mengakibatkan hampir gagal panen, padahal saat itu para petani di Subak Ganggangan, Penebel, Tabanan sudah mulai menerapkan pola pertanian selaras alam (organik) atau tidak mau menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan hama tikus.

Melihat kondisi tersebut, I Made Jonita selaku Ketua Kelompok TuwuT (Tyto Alba Uma Wali Untuk Tani) bersama dengan Komunitas TaLov (Tabanan Lover) dan Perwakilan dari Program Uma Wali berkumpul dan mencari solusi untuk mengatasi hama tikus tersebut.

“Dengan petunjuk dari seorang teman, kita disarankan untuk memakai Burung Hantu Tyto Alba dalam mengendalikan hama tikus tersebut,” ujar Dek Enjoy sapa akrab Made Jonita saat ditemui Tim Baliportalnews.com, Minggu (27/12/2020).

Baca Juga :  Kodim Tabanan Gelar Vaksinasi Bagi Veteran, Purnawiran dan Warakawuri

Dari hasil diskusi tersebut, dua orang dari Kelompok TuwuT belajar ke Tlogoweru, Demak, Jawa Tengah untuk mempelajari penerapan Burung Hantu Tyto Alba dalam mengendalikan hama tikus dan terbentuklah Konservasi TuwuT ini.

“Berawal dari belajar ke Demak, dan kita mendapatkan anakan Tyto Alba dari beberapa tempat yang kebetulan burung tersebut berumah di Kantor Camat Kediri dan Kantor Camat Tabanan,” tambah Dek Enjoy.

Dek Enjoy juga menjelaskan kenapa lebih memilih mengadopsi anakan Tyto Alba ketimbang yang sudah dewasa, karena anakan mudah untuk dilatih. “Yang masih anakan bisa kita latih hanya memakan tikus, kalau sudah dewasa belum terbiasa makan tikus” tambahnya.

Perlu diketahui, pada Nopember 2015, Kelompok TuwuT sudah melepasliarkan Burung Hantu Tyto Alba sebanyak 8 ekor di wilayah Subak Ganggangan. Manfaat dari keberadaan Tyto Alba ini mulai dirasakan oleh petani mulai Maret 2016, dimana hama tikus sangat berkurang.

Baca Juga :  Wujud Empati Terhadap Warga Miskin, TNI Salurkan Bantuan Sembako

“Para petani sering melihat Tyto Alba memangsa hama tikus,” jelasnya.

Disinggung kenapa Kelompok TuwuT lebih memilih Burung Hantu Tyto Alba ketimbang burung predator yang lain, Dek Enjoy menjelaskan ketika di Tlogoweru, Demak, Jawa Tengah, pihaknya melihat bagaimana burung ini sangat efektif sebagai predator hama tikus.

Tyto Alba
I Made Jonita (Dek Enjoy) selaku Ketua Kelompok TuwuT (Tyto Alba Uma Wali Untuk Tani). Sumber Foto : tis/bpn

“Burung Hantu Tyto Alba mempunyai keunikan tersendiri, seperti berburu di malam hari, pergerakannya sulit terdeteksi,” tambahnya.

Hingga saat ini, Konservasi TuwuT sudah bisa melepasliarkan Burung Hantu Tyto Alba sebanyak dua kali dalam setahun. ”Daerah pelepasan tidak hanya di Kabupaten Tabanan, tetapi sudah meluas hingga ke Kabupaten/Kota lainnya di Bali,” ujar Dek Enjoy.

Untuk harapan kepada anak-anak muda di Bali, Dek Enjoy berharap agar anak-anak muda mulai berperan aktif untuk menjaga lingkungan, khususnya ikut berpartisipasi menjaga dan melindungi keberadaan Burung Hantu Tyto Alba. “Anak muda harus aktif, terutama berperan dalam menjaga kebersihan dan keasrian alam tempat tinggalnya,” tutupnya (tis/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here