Panglingsir Puri Gerenceng, AA Ngurah Agung membubuhkan tanda tangan pada bentangan kain hitam. Sumber Foto : dar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – 20 September menjadi tonggak sejarah yang tidak bisa dilupakan dan perlu dikenang sepanjang masa. Karena pada tanggal tersebut, tepatnya 114 tahun silam telah terjadi perang besar di Bali, yakni Perang Puputan Badung (kini wilayah Kota Denpasar). Tonggak inilah diperingati oleh generasi penerus di Puri Gerenceng Denpasar, Minggu (20/9/2020).

Panglingsir Puri Gerenceng, AA Ngurah Agung menyampaikan peringatan Hari Puputan Badung ini sebagai momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan (leluhur) dalam meraih kemerdekaan guna merebut harkat martabat rakyat Indonesia. Diharapkan ke depan para generasi penerus bisa melanjutkan dan mempertahankan semangat atau “Spirit Puputan” dalam pembangunan bangsa dan negara. Tujuan lainnya adalah tetap melestarikan warisan budaya leluhur melalui cerita-cerita Babad yang dilantunkan melalui Kakawin.

“Peringatan Hari Puputan Badung ke-114 menjadi spirit lelangi (leluhur) dan spirit generasi penerus. Mudah-mudahan peringatan ini bisa kami selenggarakan setiap tahun,” ujar AA Ngurah Agung.

Pada kesempatan ini juga dipajang lukisan dan jejak kaki para pejuang Puputan Badung. “Kompyang (buyut) dan kakek-kakek kami adalah para pejuang Puputan Badung. Salah satu dari anak raja diselamatkan di Puri Gerenceng selama 3 bulan hingga usianya 22 tahun. Ketika menginjak dewasa dibuatkahlah istana dan beliau dinobatkan sebagai Raja Pamecutan X,” imbuhnya.

Baca Juga :  Peringati Hari Sumpah Pemuda, Skutik Honda Tawarkan Promo Hemat

Ia pun berpesan agar generasi penerus tidak melupakan Puri (rumah) dan Pura (tempat ibadah) sebagai bagian warisan budaya, terlebih dalam kondisi heterogenitas penduduk di Kota Denpasar saat ini. Lalu, Para (rakyat) juga perlu dijaga seperti dalam kondisi pandemi Covid-19 ini. Begitu pula Purana (silsilah), yaitu dari mana masyarakat datang (asalnya) karena di Kota Denpasar makin ke depan akan dibanjiri oleh pendatang. Pesan ini juga ditujukan kepada Gede Ngurah Ambara Putra yang saat ini menjadi bakal calon Walikota Denpasar dan kebetulan hadir pada peringatan ini.

Pada peringatan ini disuguhkan performance art, berupa bentangan kain panjang berwarna hitam yang digelar dari jaba puri (area luar) menuju pelataran Gedong Agung Puri Gerenceng. Kain tersebut diberi goresan putih berbentuk telapak kaki, percikan tinta merah dan taburan bunga.

“Telapak kaki berwarna putih itu mencerminkan bahwa sebelum Perang Puputan Badung meletus para prajurit mengenakan pakaian putih karena seperti sudah ada firasat akan kalah atau gugur. Bunga sebagai simbol para pengikut yang gugur, dan tinta merah menyimbolkan darah para prajurit atau pejuang yang gugur. Pesannya adalah agar kita sebagai generasi penerus bisa melanjutkan perjuangan tersebut di masa sekarang dengan berlandaskan kesucian dan hati yang bersih,” ungkap Pelukis AA Oka Agung.

Baca Juga :  Pelajar Badung Ikuti Lomba Cerdas Cermat Pekan Nasional Keselamatan Jalan

Diceritakan pada Kamis, 20 September 1906 terjadi dua kali perang dahsyat, yaitu Perang Puputan pertama di wiilayah Taensiat antara prajurit Badung dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Made Agung (Raja Puri Denpasar) menghadapi tentara Kerajaan Belanda yang dipimpin Jenderal Mayor MB Rost van Tonningen yang datang dari arah timur, yaitu Puri Kesiman, dimana sehari sebelumnya telah dikuasai Belanda. Raja Puri Denpasar beserta para prajurit pun gugur. Perang Puputan kedua terjadi di sekitar tepi barat Tukad Badung, sebelah timur Puri Pemecutan. Laskar Kerajaan Badung yang dipimpin Raja Pemecutan (Cokorda Pemecutan IX) didampingi putrinya, I Gusti Ayu Oka dan para kerabat juga gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa. (dar/bpn)

Silahkan Berkomentar

Please enter your comment!
Please enter your name here