Sumber Foto : Instagram @esportsleagueid

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTATim UGM PRIDE berhasil meraih juara pertama pada gim DotA 2 dari gelaran Indonesia Esports League (IEL) University Super Series yang diselenggarakan pada 11-12 Juni 2020 lalu.

Baca Juga :  Alumni UGM Diharap Tetap Terus Belajar

Tim Esports UGM ini berhasil menjadi jawara pada cabang DotA 2 setelah menang telak 2-0 atas Kwik Kian Gie School of Business pada pertandingan grand final.

“Tim UGM PRIDE  berhasil melaju ke babak grand final setelah menang telak dengan skor 2-0 atas Tim Esports Universitas Indonesia (UI) dan di final juga berhasil menaklukan tim Kwik Kian Gie School of Business dengan skor 2-0,” papar salah salah satu anggota UGM PRIDE, Erwin Ginting, Selasa (16/6/2020).

Erwin menyebutkan UGM PRIDE terdiri dari 2 tim berbeda yang sering memenangkan kompetisi. Penggabungkan tim ditujukan untukmemperkuat tim dalam gelaran IEL. Tim yang dibentuk pada September  2019 lalu itu beranggotakan Hasyim Muhammad (Fakultas Teknik), Michael Edrick (FMIPA), Muhammad Amin (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Julian Edo Hartono (FMIPA), Cahya Bela Nuswantara (Fakultas Ilmu Budaya), dan Erwin Ginting (Fakultas Hukum).

Dia menjelaskan secara garis besar, pola permainan DotA 2 mirip olahraga konvensional yakni catur. Perbedaannya adalah jika pada permainan catur, satu pemain mengendalikan semua bidak yakni prajurit, ratu, raja, kuda, dan benteng, namun pada DotA 2 masing masing bidak dikontrol oleh satu orang pemain. Dalam DotA 2 sendiri, terdapat 5 bidak yang kemudian diistilahkan sebagai hero. Tugas hero ini cukup sederhana yakni menghancurkan base atau markas tim lawan.

“Disinilah letak keasyikan permainan DotA 2, setiap hero memiliki fungsi permainan masing-masing. Ada yang bertindak sebagai penyerang utama, pelindung tim, pendukung penyerang atau bisa juga sebagai penyembuh dari serangan dan mengembalikan keadaan pertempuran,” imbuh mahasiswa Fakultas Hukum ini.

Gim DotA 2 memiliki sistem permainan layaknya permainan catur. Sebelum pemain dapat menghancurkan markas lawan, pemain pun dituntut untuk merubuhkan satu persatu benteng/menara penyerang dari lawan. Ketika semua benteng habis, pemain baru bisa masuk ke lingkungan kerajaan dan menghancurkan markas lawan.

Dalam kompetisi IEL, tim UGM turut mengirimkan anggotanya untuk bertanding di cabang Free Fire. Namun di cabang ini tim UGM harus puas berada di peringkat 4.

“Bisa mengamankan posisi ke-4 pada  final dirasa sudah lebih dari cukup, walau kenyataannya perbedaan skor dengan  juara 3 sangatlah tipis,” ujar Apriliandi (Sekolah Vokasi) selaku kapten dari Tim Free Fire sekaligus Ketua UGM Esports Community.

Selain Apriliandi, Tim Free Fire UGM sendiri turut diperkuat oleh Ilham Syach Reza (Fakultas Kehutanan), Bambang Abdullah (FEB), Ghulam Saaf (Fakultas Peternakan), dan Dian Anggraini (Fakultas Farmasi).

Gelaran final dan grand final rencannya akan dilaksanakan secara terpusat di Ligagame Esports Arena di Jakarta Barat pada tanggal 11 April 2020. Namun dikarenakan pandemi Covid-19, pelaksanaan terpaksa ditunda dan dilaksanakan dari rumah masing-masing.

Abyzan Syahadin (Fisipol) selaku founder dan pengawas dari UGM Esports Community, pun turut mengapresiasi kemenangan UGM dalam IEL – University Super Series ini.

“Esports ini bidang baru, di mana pun itu, termasuk di UGM sendiri sebagai sebuah institusi pendidikan. Untuk itu, kemenangan tim UGM pada gelaran esports nasional, antarperguruan tinggi pula, merupakan sebuah terobosan prestasi,” kata Abyzan.

Indonesia Esports League – University Super Series merupakan turnamen esports bertaraf nasional resmi yang diadakan di bawah supervisi Komite Olimpiade Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan IESPA (Indonesia Esports Association). Pada 2020 ini, IEL telah memasuki gelaran musim kedua yang diikuti sebanyak 24 universitas se-Indonesia. (humas-ugm/bpn)