BALIPORTALNEWS.COM, BANGLI – Dalam situasi dan kondisi apapun hendaknya panca indera telinga dituntut untuk harus bisa mendengar segala masukan informasi dan peluang agar kita dapat melewati masa sulit krisis pandemi Covid-19 dengan baik dan gemilang, sesuai dengan salah satu filosofi Toya Devasya yaitu hewan Gajah yang memiliki telinga yang besar dan sensitif  untuk mendengar (good listener).

Hal tersebut dikemukakan oleh Putu Astiti Saraswati, CEO Toya Devasya @toyadevasya  saat Live Instagram dengan topik ‘Life Must Go On, How to Find Infinite Harmony In Our Limitation’ bersama Tri Darmaja @komangtri, seorang Artpreneur Seniman Jewellry papan atas asal Bali, Kamis (16/4/2020) lalu.

Menurut Putu Ayu Astiti, yang akrab disapa Ayu, Disaat inilah waktunya kita untuk mengembangkan kreativitas dan menyemai segala problema agar nantinya tidaklah seperti ‘Fire Fighting’ yang harus memadamkan segala persoalan.

Diperlukan ketajaman instuisi bisnis agar kita bisa mengidentifikasi usaha mana saja yang bisa mem-backup usaha lainnya, Hal tersebut sudah diproyeksikan oleh Tri Darmaja yang mengikhlaskan beberapa propertinya yang semula gerai kuliner ULAM Restaurant menjadi unit usaha lain seperti Day Care, Coffee Shop dan Art Shop.

Baca Juga :  Gubernur Koster Apresiasi Peran OJK Bali Bersinergi dengan Pemda Menjaga Perekonomian Bali

Menurutnya, Disaat inilah waktunya kita untuk mengembangkan kreativitas dan menyemai segala problema agar nantinya tidaklah seperti ‘Fire Fighting’ yang harus memadamkan segala persoalan.

“Karena kita berfikir pada saat itu bahwa harus ada unit usaha lain sebagai pendukung usaha inti yaitu ULAM Restaurant, dan terbukti disaat situasi sulit seperti bencana Gunung Agung yang sempat hampir sepi kunjungan wisatawan, kami bisa melalui masa sulit itu,” terang Komang Tri.

Menurutnya, salah kalau persepsi orang pada saat itu pemerintah tidak berbuat apa-apa, Buktinya pemerintah mendukung didatangkannya sekelompok Miss Universe untuk kunjungi Bali untuk meyakinkan bahwa Bali adalah destinasi pariwisata yang aman.

Kini berkenaan dengan Satu Dekade berkarya, Komang Tri sebelumnya sudah berencana melakukan ekspansi usaha dengan membuka gerai di Jakarta dan di Bandara Ngurah Rai yang dianggapnya memiliki potensi bisnis yang besar, “Namun apa daya, kedua tempat tersebut yang menjadi sorotan, jadi akhirnya kami urungkan (tunda) dahulu,” terang seniman yang juga menekuni painting jewellry (lukisan dinding dengan unsur perhiasan).

Baca Juga :  Badung Ranking I Tingkat Nasional MCP Tahun 2020

Dan kabar baiknya, Komang Tri Jewellry malah tetap melayani penjualan perhiasan dan aksesoris dengan membuka layanan penjualan online.

Diskusi interaktif yang digelar secara live dan berkala oleh akun Instagram @toyadevasya yang memiliki follower berjumlah 25 ribu pengikut ini bertujuan untuk melakukan sharing kepada masyarakat terkait peluang dan strategi dalam menghadapi pandemi Covid-19.(ads/bpn)