• Judul Buku : Mimpi Jadi Caleg
  • Penulis : Kristin Samah dan Fransiska Ria Susanti
  • Penerbit : Kompas
  • ISBN : 978-979-709-741-7
  • Halaman : xii + 220 hlm

Awal tahun ini saya cukup beruntung karena saya mendapatkan sebuah buku dari organisasi saya dengan judul “Mimpi Jadi Caleg” yang ditulis dengan menarik oleh dua perempuan hebat yaitu, Kristin Samah dan Fransiska Ria Susanti yang sama-sama bergelut di bidang jurnalis. Buku yang memiliki daya tarik utama pada sampul dan juga judulnya ini tentu menambah daya tariknya untuk dibaca oleh penggemar buku di mana pun berada. Tak terkecuali saya. Walaupun buku ini sudah terbit sejak tahun 2013, saya menilai bahwa isinya masih relevan sampai sekarang. Sampul buku yang didominasi dengan warna biru dengan siluet seseorang menggunakan peci dimana memperlihatkan siluet tersebut menggunakan kaca mata yang di tengah lensanya berisi gambar kursi tersebut mungkin ingin memperlihatkan bahwa kursi legislatif merupakan sorotan dan menjadi idaman bagi semua kalangan.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Tiara Mengejar Mimpi Kuliah di UGM di Tengah Keterbatasan

“Mimpi Jadi Caleg” ini terbagi menjadi 15 bagian yang diawali dengan bagian “bangsal nomor 16” yang menceritakan tentang begitu banyaknya caleg yang gagal menduduki kursi di Senayan sana dan berujung pada Rumah Sakit Jiwa atau harus berurusan dengan konsultan kejiwaan (psikiater). Bahkan tak sedikit pula yang berakhir teragis. Meninggal dunia. Menjadi pertanyaan, mengapa sampai sebegitunya caleg yang gagal menerima dampak psikis. Hal ini terjawab di bagian-bagian selanjutnya. Menganut pemilihan daftar terbuka membuat para caleg harus berjibaku untuk mengerahkan segala apa yang mereka punya. Tak pelak, hal itulah yang mereka pikirkan ketika langkahnya gagal setelah mengetahui pengorbanan yang telah dilakukan tak sesuai dengan hasil yang mereka harapkan. Hasil yang tak sesuai dengan pengorbanan itu yang menyebabkan tekanan bagi para caleg sampai-sampai ada yang harus mendekam di Rumah Sakit Jiwa atau harus meregang nyawa.

Dengan sistem daftar terbuka ini sesungguhnya memberikan ruang kepada rakyat untuk lebih dekat dan mengenal calon-calon yang akan mewakili suara-suara mereka di rumah rakyat. Hal ini tentu menuntut calon untuk lebih sering bertemu dengan rakyat dengan membawa berbagai program dan perubahan nyata di depan mata rakyat. Tak sedikit pula caleg-caleg yang menggunakan kepentingan pragmatis saja untuk memenangkan kompetisi Pemilu ini dengan membayar suara rakyat dengan uang “Politik Tunai”. Hal ini tentu menjadi sebuah kebiasaan yang tidak sehat dalam persaingan politik dalam setiap pesta demokrasi. Rakyat yang sudah muak dengan janji-janji “busuk” caleg lebih berpikir pragmatis dengan langsung meminta apa yang bisa caleg berikan kepada rakyat seperti uang, paket sembako, pembangunan, dll. Sehingga inilah yang menciptakan budaya “Politik Transaksional” yang memberikan dampak pada masyarakat yang tidak ter-edukasi dengan baik terkait persoalan politik.

Di era pemilihan langsung seperti ini, caleg dituntut untuk menyiapkan berbagai hal dari segala jenis aspek secara baik. Sumber Daya Manusia (SDM), waktu dan juga yang pasti dana. Era pemilu tahun 2004 dan 2009 saja dana yang harus disiapkan oleh para kontestan pemilu berkisar di antara 300 – 500 juta. Itu tergantung daerah pemilihan (dapil) semakin luas dan padat penduduk di dapil yang mereka tempati, maka akan semakin besar pula modal yang harus mereka siapkan. Bahkan salah satu partai menyebut modal yang harus disiapkan oleh caleg yang ingin melenggang ke gedung senayang mencapai 5 – 10 miliar rupiah. Angka yang sangat gila bagi saya, mengingat penghasilan yang mereka dapatkan setelah menduduki kursi DPR/MPR nantinya tak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan di awal. Inilah yang menjadi faktor utama tumbuhnya benih-benih korupsi di elit wakil rakyat. Belum lagi jika mereka mendapatkan tekanan dari partai untuk memberikan sumbangan atau konstituennya yang ingin segera mendapatkan bantuan berupa program-progam nyata sebagai imbalan telah memilihnya.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Tiara Mengejar Mimpi Kuliah di UGM di Tengah Keterbatasan

Hal yang paling penting menurut saya yang disajikan dalam buku ini adalah, penulis memberikan panduan yang jelas dan runut bagi kita yang memiliki minat untuk ikut meramaikan pesta demokrasi nanti sebagai calon legislatif (caleg). Mulai dari memilih kendaraan untuk berpolitik, memahami daerah pemilihan (dapil), lantas menentukan strategi politik, mengenal dan memahami lawan politik baik dari internal atau eksternal partai serta mengetahui duri-duri yang siap menyambut kita dalam proses perjalanan menuju kursi legislatif baik di tingkat nasional maupun daerah.

Maka dari itu, penting rasanya bagi saya, anda, dan kita semua yang memiliki ketertarikan yang kuat akan dunia politik untuk membaca buku “Mimpi Jadi Caleg” agar bisa mempersiapkan diri sejak dini. Mengingat pemilu masih 4 tahun lagi sejak sekarang. Mari membaca.