BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Beragam kreativitas seni ogoh-ogoh muncul guna menyambut malam pengerupukan serangkaian Hari Suci Nyepi Caka 1942 Tahun 2020. Tak terkecuali ST. Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Kota Denpasar. Dimana, pada karya tahun ini tetap mempertahankan kearifan lokal dengan mengangkat cerita yang bertalian dengan Bhuta Kala.

Ketua ST. Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Oka Mahendra saat diwawancarai Sabtu (14/3/2020) lalu menjelaskan bahwa kearifan lokal tetap dipegang teguh sebagai sebuah prinsip dalam berkarya. Hal ini meliputi penguatan tradisi gotong royong serta kebersamaan yang selalu dikedepankan. Sehingga diharapkan dari kegiatan membuat ogoh-ogoh ini selain juga meningkatkan rasa kebersamaan juga mampu memupuk kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antar sekee teruna.

“Membuat ogoh-ogoh memang sudah menjadi tradisi, dan itu sudah diwariskan turun temurun setiap tahunya dengan sajian karya yang terus berkembang tanpa meninggalkan pakem aslinya,” ujarnya.

Baca Juga :  Yayasan De Legong Anak Bangsa Serahkan Bantuan Sembako untuk Penyandang Disabilitas

Lebih lanjut dijelaskan, adapun tema yang diangkat tahun ini masih berkutat pada tema besar Bhuta Kala, yakni Ngeruak. Dimana, ngeruak merupakan salah satu upacara yang dilaksanakan umat Hindu Bali sebelum mendirikan bangunan. Hal ini dimaksudkan agar pekarangan yang akan dibangun telah suci dan terbebas dari gangguan Bhuta Kala.

“Intinya adalah penyucian pekarangan sebelum dilaksanakan pembangunan,” tambahnya.

Adapun banten carunya menggunakan ayam brumbun yang diolah menjadi 33 tanding. Selanjutnya ditambah dengan banten pakala hyangan yang terdiri atas sasayut durmanggala, prayascita mala, yang dihaturkan kepada Sang Bhuta Bhutana, dan segehan agung, beserta dengan tatabuhan, dihaturkan kepada Sang Bhuta Dengen.

Dasar rumah diawali dengan bata merah, diisi rajahan bhadhawang nala, bertuliskan (Ang), di atasnya berisi klungah nyuh gading dikasturi dan airnya dibuang bertuliskan Ong. Dilengkapi juga dengan wangi tangi, lengawangi, buratwangi, dedes, dan kwangén kraras (daun pisang kering), mengunakan uang kepeng 11 keteng, dibungkus kain putih, lalu diikat dengan benang tujuh warna.

Baca Juga :  Dinas Perikanan Denpasar Tebar 20.000 Benih Ikan Nila

Selain itu pada kwangen menggunakan uang sejumlah 22 keteng, dengan raka (buah) lengkap. Semua itu kemudian dipendem (ditanam) pada lubang berbentuk persegi (merepat). Namun sebelum itu dilakukan prayascita pada wilayah yang akan dibangun.

“Kareanya, dari pelaksanaan Upacara Ngeruwak ini diharapkan mampu menetralisir Sang Bhuta Bhutana dan Sang Bhuta Dengen sehingga proses pembangunan dapat terlaksana dengan lancar. Serta keberadaan bangunan nantinya mampu memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup Umat Hindu,” ujarnya.

Dalam pengerjaan, suasana gotong royong kental terasa. Setiap insan dapat mempelajari pekerjaan yang ia sukai. Ada yang mengerjakan body, pepayasan, ukiran dan lain sebagainya dengan bimbingan undagi utama I Nyoman Wista Darmada dan I Wayan Boby Agus Sanjaya. Sehingga selain dimanfaatkan untuk pembuatan ogoh-ogoh, ajang ini juga dapat memberikan bekal edukasi dan ketrampilan bagi anggota STT. Dan hal tersebut juga dapat berkembang menjadi industri kreatif.

Baca Juga :  Bupati Suwirta Cek Kesiapan Pariwisata Nusa Penida 

Seperti halnya membuat gantungan kunci dari ukiran kertas, serta membuat ketrampilan lainya yang memiliki nilai ekonomis. Untuk bahan pun dapat dikatakan unik, pasalnya selain menggunakan bambu dan kertas, dalam menciptakan tekstur juga turut digunakan tisue dan bunga jepun yang sudah kering.

“Nah inilah terobosan baru kami dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, selain bunga jepun kering, terdapat pula tali enceng gondok, serabut kelapa, pelepah pisang, daun pisang kering dan banyak lagi bahan alam yang digunakan sebagai wujud ramah lingkungan,” pungkasnya.(r/bpn)