BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Sungguh besar dampak yang harus diterima oleh bangsa Indonesia, ketika penghapusan pelajaran dan penanaman ideologi Pancasila kepada generasi muda. Pergeseran pemahaman ideologi bangsa menjadi sangat memprihatinkan.

Dari hasil survey Cisform 2018, tercatat 36,5 persen mahasiswa pada kampus-kampus yang disurvey menyatakan setuju ideologi Khilafah diterapkan di Indonesia. Kenyataan ini, mesti disikapi bersama sebagai langkah darurat ke depan, untuk bersama kembali mensosialisasikan dan mengajarkan Pancasila sebagai dasar-dasar sikap mental dan ideologi bangsa.

Hal itu disampaikan anggota MPR RI daerah pemilihan Bali, I Gusti Agung Rai Wirajaya saat menggelar seminar sosialisasi mengenai wawasan kebangsaan di Ayucius Restoran Denpasar, Selasa (26/11/2019) lalu.

Menurut Gung Rai, tak hanya mahasiswa, ternyata para pendidik juga tercatat terpapar paham radikal. Tercatat dari sumber PPIM UIN 2018, 33 persen guru menganjurkan anak didiknya berperang untuk mewujudkan negara salah satu agama. Malah Pengawai Negeri Sipil (PNS) tercatat dari survey Alvara 2018, 19,4 persen PNS yang tidak setuju Pancasila. ‘’Ini sungguh mengkhawatirkan kita sebagai bangsa. Mari kita sikapi bersama. Ini tugas kita bersama, tantangan kita dan saatnya kita satukan hati untuk keutuhan bangsa ini,’’ ujar Gung Rai di hadapan para peserta dari kalangan kampus di Bali itu.

Ditambahkannya, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) memiliki satu kewajiban untuk mengawal cita-cita reformasi dan pelaksanaan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menghargai Bhineka Tunggal Ika.

‘’Nilai-nilai dalam empat pilar kebangsaan ini mesti terus dikobarkan. Kita saksikan bersama di media, salah satu nilai kebangsaan kita, Bhineka Tunggal Ika juga sedang diuji. Mari kita sadari, Indonesia terbentuk dari keberagaman. Jaga Kebhinekaan ini, sebagai satu kekuatan bangsa. Bukan membuat kita tercerai berai,’’ tegasnya.

Menurut Agung Rai Wirajaya, tujuan seminar yang dihadiri sekitar 150 orang dari kalangan pelajar, pemuda dan mahasiswa ini, adalah sebagai usaha untuk mewujudkan cita-cita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. ‘’Upaya mensosialisasikan dan memasyarakatkan kembali nilai-nilai luhur bangsa ini, sangat penting artinya bagi kelangsungan bangsa ke depan. Dengan merangkul generasi muda, kami berharap nilai kecintaan kebangsaan akan tumbuh dan bergema selalu dalam hati. Terutama nilai-nilai kebhinekaan yang mulai luntur,’’ tegas Gung Rai.

Selain menghadirkan Rai Wirajaya sebagai narasumber, juga menghadirkan tokoh akademisi I Ketut Witarka Yudiata dan tokoh aktivis perempuan dan kaum termarginalkan, IGA Diah Yuniti. Dalam seminar, para peserta sangat kritis memberikan masukan dan mengomentari permasalahan sosial kebangsaan saat ini, sehingga sosialisasi tampak hidup dan bergairah. (tis/bpn)