BALIPORTALNEWS.COM – Konser grup band Feast di Bekasi yang diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober lalu memberikan trauma bagi beberapa penontonnya Dilansir dari detik.com, ditengah keramaian konser tersebut terjadi pelecehan seksual yang dialami bukan hanya oleh seorang wanita, akan tetapi beberapa penonton lainnya.

Salah satu korban pelecehan seksual tersebut melalui akun twitternya mengaku bahwa telah mengalami pelecehan seksual oleh seorang laki-laki yang tak dikenalinya. Saat kejadian tersebut terjadi korban hanya dapat menahan tangis dan tak dapat berkata-kata, badannya kaku dan tidak dapat bergerak yang membuat korban kemudian mengalami trauma mendalam.

Permasalahan mengenai pelecehan seksual ini tidak hanya terjadi satu-dua kali saja di Indonesia. Pelecehan seksual ini menyangkut moral serta norma yang sudah benar-benar melenceng dari seharusnya. Moral pada diri manusia sudah seharusnya ditanam sejak dini, tidak hanya diajarkan secara teori, namun juga harus diimplementasikan, sehingga manusia dapat menjunjung nilai moral yang ada. Tidak ada yang membenarkan tindakan pelecehan seksual, terutama dalam bidang agama. Sebagai masyarakat Indonesia yang memeluk agama seharusnya mengikuti ajaran-ajaran yang baik dan menjauhkan larangan-laranganNya. Pelaku pelecehan seksual juga akan terkena ancaman pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak lima miliar rupiah.

Solusi yang dapat ditawarkan terhadap permasalahan pelecehan seksual, terutama pada sebuah acara pertunjukkan, yaitu dengan memperketat keamanan yang ada. Dengan keamanan yang ketat, maka akan mengurungkan niat pelaku dalam melakukan tindakan asusila tersebut, karena para pelaku takut akan pengawasan yang ada. Solusi lainnya adalah dari diri sendiri, seperti penerapan moral dan etika yang baik. Dalam hal ini, mungkin akan sulit untuk dilaksanakan tanpa kesadaran diri sendiri, sehingga diperlukan bantuan dari orang-orang sekitar untuk memberikan hal-hal yang positif.

Meskipun dengan keamanan yang ketat, tidak menutup kemungkinan untuk tercolong satu-dua orang yang melakukan perbuatan asusila tersebut. Salah satu solusi yang diberikan oleh Baskara Puta, vokalis grup band Feast mengenai pelecehan seksual ini adalah dengan menciptakan sebuah simbol yang menunjukkan bahwa seseorang sedang dalam keadaan tidak mengenakkan.

Dalam tweetnya, Baskara memanggil beberapa teman yang juga berkecimpung dalam dunia musik, seperti Kunto Aji. Kunto Aji kemudian membuat sebuah GIF dengan tulisan S.O.S dan menyarankan untuk disosialisasikan agar masyarakat mengetahui dan dapat menggunakannya saat sedang menonton konser musik. S.O.S adalah tanda bahaya dalam kode Morse internasional, dapat diartikan sebagai Save Our Souls, Survivors On Ship dan Save Our Sailors. Dalam hal ini, tanda S.O.S yang digunakan tidak hanya memiliki arti pelecehan seksual, tetapi juga dapat berarti sesak nafas, dicopet atau mengalami kekerasan.

Solusi ini merupakan langkah yang baik dalam mengatasi keadaan tidak mengenakkan yang dialami oleh penonton dalam suatu pertunjukkan. Melalui tanda ini, penonton yang sedang berada ditengah kerumunan dapat meminta pertolongan, tanpa sulit untuk berbicara. Namun yang menjadi kendala adalah apabila orang-orang sekitar tidak mengerti tanda atau simbol yang dimaksud, sehingga memberikan kesan mengabaikan suatu permasalahan. Simbol S.O.S ini harus disosialisasikan untuk dapat dikenal di masyarakat luas, sehingga tujuan dibentuknya simbol ini dapat tercapai dengan baik.

Akan menjadi lebih baik apabila simbol ini menjadi bagian dari seluruh pertunjukkan yang ada. Yang dimaksudkan dari “menjadi bagian” adalah agar pada tiap pertunjukkan atau konser yang diadakan, memberikan himbauan atau pemberitahuan atas penggunaan simbol S.O.S ini, sehingga nantinya kondisi tidak mengenakkan yang dialami penonton dapat ditangani dengan cepat dan sigap, karena salah satu elemen yang sangat penting dalam sebuah pertunjukkan adalah keselamatan penonton.

Simbol S.O.S dapat menjadi hal yang baik dalam mengatasi masalah ditengah keramaian, khususnya pada sebuah pertunjukkan atau konser musik. Masalah ini bukanlah hal yang kecil. Masalah ini harus menjadi perhatian penting bagi seluruh masyarakat, agar dapat meminta bantuan dalam keadaan yang tidak memungkinkan, juga agar tidak ada lagi korban yang selanjutnya.

Selain itu untuk melakukan tindakan represif terhadap tindakan pelecehan seksual ini, korban harus berani berbicara atau melaporkannya ke pihak berwajib, sehingga kasus dapat ditangani dan tidak membiarkan para pelaku berkeliaran dan mencari korban selanjutnya. Dengan diam, secara tidak langsung akan membuat pelaku lebih kuat dalam melakukan tindakan asusila tersebut. Diam tidak selalu menjadi emas, sehingga speak up adalah salah satu cara untuk membuat pelaku takut, dengan begitu, pelaku akan merasa terancam karena akan tersorot oleh masyarakat luas dan mendapatkan ancaman pidana.

Pelecehan seksual bukanlah hal yang main-main. Semakin bertambahnya korban, semakin tidak aman negara ini untuk dijadikan tempat berlindung. Untuk menimbulkan efek jera, pelaku dari tindakan ini sudah seharusnya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan tindakan tak senonoh yang dilakukannya.

Diperlukan peningkatan moralitas terhadap orang-orang, agar tidak terjerumus menjadi salah satu pelaku dari tindak pelecehan seksual. S.O.S dapat menjadi solusi yang baik dalam meminta pertolongan apabila telah terjadi peristiwa yang tak diinginkan. Sebagai korban, jangan pernah takut untuk berbicara dan melaporkan tindakan asusila ini. Berani berbicara untuk melindungi diri sendiri, berani berbicara karena kita benar.

Penulis :
Cantika Triadnyani