BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pengelolaan sampah jika hanya dibebankan kepada pemerintah memang relatif berat. Tugas ini harus segera dibagi. Apalagi petugas yang dilibatkan dan armada yang terbatas. Jika dibandingkan dengan volume sampah dengan daya dukung penanganan sampah, jelas pemerintah akan kewalahan.

Adalah Pemerintah Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, yang menjadi pelopor swakelola sampah terintegrasi oleh desa adat atau disingkat Sapu Jagat. Peluncuran sistem Sapu Jagat ini dilakukan, Jumat (18/10/2019) kemarin oleh Camat Denpasar Timur, Wayan Herman, di Kantor Lurah Penatih.

Lurah Penatih, I Wayan Astawa mengatakan, dari pelaksanaan uji coba sistem Sapu Jagat ini, respon warga dari empat desa adat yang ada di Kelurahan Penatih yakni Desa Adat Angabaya, Desa Adat Penatih, Desa Adat Penatih Puri, dan Desa Adat Tembau, sangat baik. Pihak kelurahan penyiapan delapan armada plus tenaga.

Ia mengatakan, tujuan pelaksanaan swakelola persampahan ini selain sebagai langkah pemberdayaan masyarakat, juga sebagai proses penanganan dan pengurangan sampah mulai di rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik. Astawa menyebutkan, inovasi ini juga sebagai salah satu tupoksi sebagai aparatur pemerintah terbawah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, serta menjawab problama yang terjadi di masyarakat yakni masalah kebersihan dan sampah.

Baca Juga :  Lepas Peserta "Gasbro", Sekda Rai Iswara Ajak Bangkitkan Pariwisata Sanur

Dengan sistem ini, sambung dia, masyarakat tak perlu jauh-jauh lagi datang ke TPS, namun sampah masyarakat dijemput oleh petugas secara terjadwal. Melalui sistem Sapu Jagat ini, beban DLHK Kota Denpasar, akan berkurang. Dan, krama adat diharapkan termotivasi menjaga kebersihan dan menghilangkan perilaku buruk membuang sampah ke sungai atau ke lahan kosong.

“Kami berharap masyarakat Kelurahan Penatih, khususnya ikut berperan dalam menangani sampah mulai dari rumah tangga masing-masing. Termasuk melakukan pemilahan tersebut,” ujarnya.

Bendesa Adat Tembau, Made Merta mengatakan, sistem Sapu Jagat dengan menurunkan layanan motor sampah ke rumah-rumah warga menjadi salah satu layanan yang selama ini memang sangat diharapkan masyarakat. Dengan sistem Sapu Jagat yang didukung armada motor bak sampah ini, kata dia, warga tak lagi harus jauh-jauh membuang sampah ke TPS.

‘’Sangat bagus, karena motor sampah memasuki kawasan perumahan dan menjemput hingga di depan pintu warga. Layanan ini kami harapkan berkelanjutan dan makin ditingkatkan karena sangat membantu dan memudahkan warga dalam mengatasi sampah rumah tangga,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Dokar City Tour Denpasar Beroperasi Terapkan Prokes, Sabtu-Minggu Gratis

Camat Denpasar Timur, Wayan Herman mengatakan, inovasi yang dilakukan Kelurahan Penatih, ini sangat luar biasa. Bahkan menurut Herman, sistem Sapu Jagat atau swakelola sampah terintegrasi dengan desa adat yang dilakukan Kelurahan Penatih ini adalah pertama di Denpasar, bahkan di Bali.

Menurut Herman, dengan inovasi ini satu masalah sudah bisa ditangani yakni masalah sampah. Ia juga mengapresiasi Kelurahan Penatih juga aktif dalam mengelola sampah masyarakat melalui bank sampah. Ia berharap desa/kelurahan lain di Denpasar Timur bisa meniru langkah yang dilakukan Kelurahan Penatih.

Dengan demikian, permasalahan sampah di Kota Denpasar, akan tertangani dengan baik dan tak hanya membebankan DLHK Kota Denpasar. Kedepannya ia berharap semua masyarakat semakin sadar untuk memilah sampah sehingga dapat mewujudkan Denpasar bersih.

Hadir pada kesempatan tersebut, tokoh masyarakat Kelurahan Penatih, Ketut Buda; Kasi Penanganan Sampah Bidang II DLHK Kota Denpasar, Dewa Gede Oka; Jro Bendesa Adat Penatih Puri, I Gusti Ngurah Punia Negara; Jro Bendesa Adat Penatih, Wayan Sana; Jro Bendesa Adat Tembau, Made Merta; Jro Bendesa Adat Angabaya, Made Sumadanta, serta Ketua LPM Kelurahan Penatih, Wayan Nendra. (tis/bpn)