BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Diterbitkannya Perwali Nomor 36 Tahun 2018 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik di Kota Denpasar, gerakan jajan di kantin sehat sekolah untuk anak-anak sekolah juga wajib digalakkan. Selain menjaga kebersihan, kantin sehat juga harus menjaga nutrisi anak-anak.

‘’Ini untuk menjaga kesehatan generasi penerus. Asupan anak harus dijaga,’’ tutur praktisi pendidikan, Dr. I made Suada, MM., M.Si., Kamis (10/1/2019).

Menurut Suada, jajan tidak selalu merupakan kebiasaan yang buruk karena anak-anak sekolah punya aktivitas yang tinggi sehingga perlu asupan di antara waktu makan pagi dan siang. ‘’Selain itu, jajan juga upaya pengenalan terhadap aneka ragam makanan,’’ kata Suada.

Menurut Suada, jajanan sehat harus mengandung gizi cukup seperti kalori, protein, dan vitamin. Tidak harus mahal, jajanan tradisional Bali seperti, klepon, pisang goreng, pisang rai, jaje kukus, sumping, bantal, cerorot, ubi kukus, dan pisang rebus, justru lebih sehat dan bergizi. ‘’Paling penting, makanan yang dijual tidak mengandung zat yang berbahaya, dan yang paling penting lagi tidak dibungkus lagi dengan plastik,’’ ucap Suada yang juga Kepala SMP PGRI 3 Denpasar ini.

Menurut Suada yang juga Ketua YPLP PGRI Provinsi Bali ini, untuk membuat hal itu terjadi, alangkah baiknya dibuat payung hukumnya. Di mana para pihak di dinas atau instansi terkait seperti Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Kesehatan serta Badan POM berkerjasama dan membuat peraturan sederhana dan sinergis untuk kantin-kantin sekolah.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, AA Made Wijaya Asmara, S.Sos., MAP., sangat setuju jika sekolah-sekolah menggalakkan jajan tradisional Bali untuk digalakkan di kantin sekolah. Jika sekolah-sekolah di Denpasar mau menjadi penggagas menjual jajanan tradisional Bali di kantin sekolah, akan didukung penuh.

Menurut Agung Wijaya, dengan memperbanyak konten lokal dengan memperbanyak kue-kue tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami untuk dijual di sekolah, selain tentu saja lebih sehat namun juga mengangkat budaya lokal menjadi hidup kembali yang akhirnya akan menjadi trend tersendiri di kalangan para murid, seperti terjadi di negara Jepang. Kalau hal itu terjadi bukan saja menumbuhkembangkan makanan yang sehat, namun juga membuat perputaran industri rumahan akan menggeliat.

Agung Wijaya menambahkan, pihak sekolah juga wajib bekerjasama dengan Puskesmas setempat untuk rutin melakukan uji kesehatan pada makanan yang dijual. Ia menuturkan, pihak sekolah juga berhak menentukan jenis makanan apa yang boleh dijual di kantin sekolahnya. Selain melakukan pengawasan, pihak sekolah harus membatasi penjual makanan yang ada di luar sekolah, karena ditakutkan makanan yang dijual tidak aman bagi anak-anak.

“Ketika berada di lingkungan sekolah anak-anak wajib anjurkan untuk tidak membeli jajanan di luar gerbang,” ujarnya.

Agung Wijaya mengatakan, pemberian edukasi tentang makanan sehat kepada anak-anak harus sering dilakukan oleh sekolah. Memberikan pemahaman tentang memilih makanan yang aman dan bergizi untuk anak, menurut Agung Wijaya, sangat penting. Sebab, anak-anak belum bisa menentukan makanan mana yang aman dikonsumsi. (tis/bpn)

loading...