BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – SMAN 7 Denpasar (Sisma) dalam ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) 2018 di Seoul, Korea Selatan, berhasil meraih prestasi yang membanggakan. Sisma yang mengirim tiga tim terdiri atas sembilan siswa sukses menyabet tiga medali perak.

Tim pertama yang terdiri dari lima siswa yakni I Made Deva Usadantara kelas XII MIPA 8, Pradnya Rani Hermizal (XII MIPA 8), Putu Raditha Chintia Wardhani (XII MIPA 8), Ni Nyoman Ritaro Hari Wangsa (XII MIPA 9), dan I Gede Arya Nata Wijaya kelas XII MIPA 7, meraih perak berkat penelitian ‘’Mengkaji potesi tuak nira atau air nira sebagai pengganti insulin pada penderita diabetes’’.

Arya Nata mengungkapkan, diabetes merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh kadar gula yang berlebih dalam darah. Diabetes menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat dunia, salah satunya Indonesia.

Baca Juga :  Silaturahmi Komunitas ‘The Netizen Badung’ Bersama Wabup Suiasa

Umumnya, seseorang dapat terkena diabetes karena tubuhnya tidak memproduksi insulin akibat sel-sel beta di pankreas rusak atau hancur. Insulin diperlukan tubuh untuk mengontrol kadar gula dalam darah. Tentunya, Insulin-insulin buatan dapat menimbulkan efek samping bagi penggunaan jangka panjang pada tubuh.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa tuak nira secara signifikan mampu mengurangi kadar gula, tapi tuak nira tidak mampu secepat insulin dalam menurunkan kadar gula pada darah.

‘’Kami berusaha untuk menemukan insulin yang terbuat dari bahan alami untuk mengurangi efek samping yang biasa ditimbulkan oleh penggunaan insulin buatan. Insulin tersebut berasal dari pohon aren yang biasa disebut dengan air nira,’’ terangnya.

Tim kedua atas nama Ellicia Emerliwati kelas XII IPS 2 dengan karya ilmiah berjudul ‘’Kombinasi ekstrak dot (ampas teh) (camellia sinensis) dan ekstrak daun pegagan (centella asiatica) sebagai insektisida alami mealybug (pseudococcus spp). Ia mengungkapkan, kutu putih (Pseudococcus spp.) merupakan hama parasit yang terdapat di permukaan daun yang bersifat polifag atau mempunyai banyak jenis tanaman inang.

Baca Juga :  Silaturahmi Komunitas ‘The Netizen Badung’ Bersama Wabup Suiasa

Kutu putih memiliki potensi dapat merugikan ekonomis yang sangat tinggi, karena hama ini merusak dengan cara mengisap cairan tanaman. Gejala tanaman yang terkena serangan kutu putih yaitu tanaman gagal membentuk tunas baru, daun tua akan menguning, layu, dan rontok satu per satu.

Pada serangan parah, tanaman akan menguning, layu, lalu mati. Biasanya hama ini bersarang di buku-buku tanaman atau permukaan daun muda, dan bisa merusak ujung akar maupun batang bawah tanaman.

‘’Pada penelitian yang kami lakukan kombinasi ampas teh (Camellia sinensis) dan daun pegagan (Centella asiatica) berpotensi sebagai bio-insektisida terhadap hama kutu putih (Pseudococcus spp.) pada tanaman Kamboja (Plumeria acuminata),’’ ujarnya.

Baca Juga :  Silaturahmi Komunitas ‘The Netizen Badung’ Bersama Wabup Suiasa

Tim ketiga terdiri dari tiga siswanya juga berhasil meraih medali perak dan prestasi terbaik, kreativitas, serta inovasi yang luar biasa atas nama Ni Komang Widiantari Maharani kelas XI MIPA 9, Andi Namira Rachmaninov Saransi kelas XI MIPA 3, dan Ida Ayu Saskara Tranggana Suari kelas XI MIPA 1. Adapun yang diangkat berjudul ‘’Serat dulang dari mikropartikel karbon daun nyamplung kering’’.

Kepala SMAN 7 Denpasar Cokorda Istri Mirah Kusuma Widiawati, mengungkapkan, raihan medali perak di WICO 2018 Korea Selatan, sebuah prestasi luar biasa. Ke depannya, SMAN 7 Denpasar akan lebih mampu bersaing kembali di kancah nasional maupun internasional.

‘’Prestasi yang dicapai para siswa merupakan kebanggaan bagi sekolah. Momen ini akan terus dipertahankan demi kemajuan SMAN 7 Denpasar untuk lebih baik lagi nantinya,’’ pungkasnya. (tis/bpn)