Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Wakil Walikota Denpasar, I.G.N Jaya Negara bersama Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede menyerahkan penghargaan kepada 44 Sekaa Gong Kebyar dan Kesenian Klasik di Kota Denpasar serangkaian memperingati Hari Puputan Badung ke 111 tahun.

Penyerahan penghargaan ini sekaligus menutup parade gong kebyar dan kesenian klasik, Sabtu (30/9/2017) di lapangan I Gusti Ngurah Made Agung. Tampak hadir pula Wakil Ketua PKK Kota Denpasar, Ny. Antari Jaya Negara, Plt. Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, Ni Nyoman Sujati serta pengamat seni di Kota Denpasar.

Wawali Jaya Negara mengharapkan kepada para Sekaa Gong Kebyar dan Kesenian Klasik di Kota Denpasar agar turut membantu Pemkot dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan  budaya Bali. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wadah dan wahana bagi para penggiat seni yang semakin eksis dalam melestarikan seni dan budaya.

“Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi dari sebuah kota kreatif berwawasan budaya, dan dari sinilah kita berharap kelak akan tumbuh bibit-bibit baru dalam melestarikan seni dan budaya Bali yang adi luhung ini,” pungkas Jaya Negara.

Baca Juga :  Kapolres Badung Harap Dukungan Masyarakat Jaga Kamtibmas

Plt. Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, Ni Nyoman Sujati menambahkan, parade gong kebyar dannkesenian klasik ini sudah dimulai sejak Rabu (20/9) hingga Sabtu (30/9) yang diikuti 44 Sekaa Gong Kebyar dan Kesenian Klasik se-Kota Denpasar. Dimana tujuan dari kegiatan ini tidak lain untuk memberikan wadah serta mencari bibit-bibit untuk turut melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Bali ini.

Dalam parade terakhir tersebut, yang menarik dan banyak menyedot perhatian penonton adalah penampilan 2 Sekaa Gong Anak-anak yakni Sekaa Dharma Putra, Banjar Sindhu Kaja, Kelurahan Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan berhadapan dengan Sekaa Natar Ayun, Banjar Saba, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur. Sekaa Dharma Putra membawakan 3 garapan tabuh dan tari yakni Tabuh Cerukcuk Punyah, Tari Mregepati dan Tari Pendet.

Baca Juga :  Reorientasi Pariwisata dan Pasar Mancanegara di Masa Pandemi

Sementara, Sekaa Natar Ayun yang memakai busana merah yang dikombinasikan warna hitam tampil cukup memukau penonton serta disambut tepuk tangan riuh para penonton. Mereka membawakan 3 garapan tabuh dan tari yakni Tabuh Telu Natar Ayun, Tari Baris Tunggal dan Tari Tedung Sari. Tari Tedung Sari dapat diartikan, tedung artinya payung dan sari artinya inti yang suci, dan banyak hal dapat ditiru dari makna sebuah payung.

Dalam konteks yang berbeda, payung juga memiliki makna sebagai pengayom dan peneduh. Payung dimanfaatkan sebagai properti yang dieksplorasikan secara total sehingga menghasilkan sebuah garapan yang sangat indah, dinamis dan artistik. Pembina Tari, I Nyoman Sadia dan Pembina Tabuh, I Nyoman Purna dan I Wayan Sudana. (ngurah/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :