Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM – Laju erosi di sub daerah aliran sungai (DAS) Ngujung, Kota Batu, Jawa Timur terus meningkat. Alih fungsi hutan menjadi lahan tegalan dan kebun menjadi penyebab peningkatan laju erosi di kawasan tersebut.

Data Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) tahun 2008 mencatat laju erosi di DAS Brantas hulu termasuk sub DAS Ngujung sebesar 118,608 ton/ha/tahun. Sementara erosi yang diperbolehkan sebesar 13,23 ton/ha/tahun sehingga indeks erosi sebesar 88,2%.

“DAS akan kritis jika laih fungsi lahan tidak terkendali dan dalam pengolahan lahan dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Misalnya saja penanaman wortel, kembang kol, dan kubis pada petak-petak lahan yang dibuat searah dengan kemiringan lereng,” papar Dosen Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang, Drs.Didik Taryana, M.Si., Selasa (15/8/2017) saat ujian terbuka program doktor di Fakultas Geoagrafi UGM.

Menurut Didik upaya pengendalian laju erosi perlu dilakukan salah satunya dengan penerapan model prediksi laju erosi secara spasial maupun temporal. Hal tersebut penting dilaksanakan agar dapat mengetahui unit lahan yang berkontribusi besar terhadap erosi.

Baca Juga :  SMPN 2 Denpasar Pertahankan Juara Umum Porsenijar

Melakukan penelitian prediksi laju erosi di sub DAS Ngujung dengan menggunakan model WEPP, Didik menemukan fakta bahwa prediksi laju erosi secara spasial terbesar pada unit lahan V2/Andisol/III/KBN sebesar 91,25 ton/ha/tahun dengan pola tanaman wortel, brokoli, kubis. Sedangkan pada unit lahan V3/Andisol/IV/SMK sebesar 39,52 ton/ha/tahun dengan pola tanaman brokoli, kubis, brokoli. Sementara pad aunit V3/Andisol/III/SMK sebesar 27,15 ton/ha/tahun dengan pola tanam, jagung,sawi, ketela, jagung.

Disebutkan Didik secara temporal laju erosi tinggi terjadi pada bulan Januari sampai Juni. Sedangkan jenis tanaman yang memiliki tren erosi tinggi meliputi brokoli, wortel, kubis, serta sawi.

Baca Juga :  Polres Badung Tangkap Enam Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

“Integrasi laju erosi dengan pola tanam, jenis tanaman, dan pengolahan lahan, serta pelaksanaan rencana tata ruang wilayah dapat menurunkan laju erosi sampaitingkat yang diperbolehkan,” pungksanya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :