Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA – Operasi pertambangan merupakan salah satu penyebab peningkatan laju deforestasi di Indonesia. Hanya saja, kerusakan hutan akibat operasi pertambangan belum diketahui secara pasti.

Heri Sunuprapto, peneliti pada Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XV Gorontalo, Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan menyebutkan bahwa pemanfaatan data penginderaan jauh khsusunya satelit optik resolusi spasial menengah seperti landsat sangat potensial untuk menyediakan data spasial termasuk pertambangan di kawasan hutan. Data penginderaan jauh ini dapat menyediakan data spaisal pertambangan dalam bentuk multi resolusi dalam berbagai tingkat skala. Disamping itu dapat menyajikan perkembangan arealpertambangan dari waktu ke waktu.

Baca Juga :  Erupsi Gunung Agung, Karo Ops Polda Bali Perintahkan Seluruh Personel Ops Aman Nusa Bersiaga

“Seri satelit Landsat telah merekam bumi secara kontinu dalam jangka panjang yang cocok untuk memantau kawasan hutan dan lingkungan, tetapi memiliki kekurangan dalam resolusi spasial,” jelasnya, Selasa (20/6/2017) saat melaksanakan ujian terbuka program doktor di Fakultas Geografi UGM.

Melihat kondisi tersebut, Sunu mengatakan perlunya eksplorasi metode penajaman dan ekstraksi informasi tematik untuk mendukung pemantauan dan evaluasi kegiatan pertambangan di kawasan hutan. Melakukan identifikasi area pertambangan emas melalui analisis spasial berbasis citra satelit landsat di kawasan hutan Kabupaten Pohuwanto, Gorontalo, Sunu mendapatkan sejumlah temuan. Antara lain strategi penafsiran dengan pengamatan lapangan terbukti menjadi strategi tepat yang dapat meningkatkan kemampuan penafsiran citra.

Baca Juga :  Optimalkan Fungsi Sungai, 2000 Mancing Mania Ikuti Lomba Mancing Banjar Oongan

“Penafsiran dengan strategi pengamatan lapangan dapat mendeteksi dan mengidentifikasi kegiatan di area pertambangan emas rakyat dalam kawasan hutan dengan akurasu 60-70 persen,”urainya.

Dari penelitian ini menunjukkan metode fusi citra merupakan salah satu metode penajaman spasial yang mampu meningkatkan kemudahan  penginterpretasian citra. Sedangkan penajaman spasial citra Landsat dengan metode fusi citra IHS yang dimodifikasi terbukti dapat meningkatkan akurasi identifikasi area penambangan dan kualitas detail dan meningkatkan kemudahan penafsiran citra.

Sunu mengungkapkan dari hasil pengamatan diketahui terdapat berbagai ti[e menambang di masyarakat. Dalam setiap tipe atau cara menambang masyarakat sesuai dipraktekan pada faset lahan tertentu. Sementara hasil analisis pola spasial menunjukkan pola sebaran spasial lokasi penambangan emas rakyat di kawasan hutan daerah penelitian berpola mengelompok.

“Pola sebaran spasial penambangan emas rakyat ini dipengaruh sejumlah variabel seperti jarak terhadap sungai, fungsi kawasan hutan, dan jenis batuan,” pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :