Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM – Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya akan memperluas wilayah pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia di 12 kelurahan di Kota Yogyakarta setelah sebelumnya berhasil melepas di 7 kelurahan lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan kasus demam berdarah dengue di Yogyakarta.

Peneliti  utama EDP Yogya, Prof. Adi Untarini mengatakan sejak bulan Agustus 2016 lalu pihaknya telah melepas nyamuk ber-wolbachia di tujuh kelurahan di kota Yogyakarta yaitu Karangwaru, Wirobrajan, Pakuncen, Patangpuluhan, Kricak, Tegalrejo, dan Bener. Pelepasan wolbachia di daerah tersebut menuai keberhasilan .

“Saat ini presentasi nyamuk ber-Wolbachia cukup tinggi. Di empat kelurahan kita hentikan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia karena keberadaannya telah mencapai 60 persen,”paparnya, Senin (20/3/2017) saat konferensi pers di Ruang Fortakgama UGM.

Adi menyebutkan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia akan dihentikan jika prosentase nyamuk ini sudah mencapai angka 60 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa nyamuk ber-Wolbachia sudah mampu bertahan dan berkembangbiak secara alami.

Baca Juga :  Kampung Langit Ajak Para Pengajar Untuk Mendidik Anak Dengan Cinta

“Kita akan segera melepas lagi di wilayah yang lebih luas untuk membuktikan efektivitas metode Wolbachia ini,” jelasnya.

Pada tahan dua ini akan dilakukan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di 12 kelurahan di kota Yogyakarta yakni Cokrodiningratan, Terban, Pringgokusuman, Sosormenduran, Baciro, Suryatmajan, tegal Panggung, Ngupasan, Muja Muju, Kadipaten, Patehan, Wirogunan, Warungboto, Mantrijeron, Bangunharjo, serta Sorosutan. Pelepasan dimulai pada bulan Maret hingga November 2017 mendatang. Menandai pelepasan Wolbachia tahap kedua ini EDP akan menggelar syukuran ‘Kenduri Warga” pada 22 Maret 2017 di pendopo Taman Siswa Yogyakarta yang rencananya akan dihadiri Gubernur Diy Sri Sultan HB X.

Pelepasan tahap kedua telah dimulai sejak awal Maret, beberapa diantaranya sudah dilepas di Terban, Klitren, Cokrodiningratan, Gowongan, Demanga, Mantrijeron. Pelepasan akan berjalan terus hingga keberdaan nyamuk ber-Wolbachia di 12 klaster ini mencapai 60 persen.

“Kota Yogyakarta kita pilih sebagai wilayah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia karena daerah ini memiliki kasus DBD yang terbilang tinggi. Melalui pelepasan nyamuk ini harapannya bisa menurunkan angka kejadian DBD di wilayah ini,” harapnya.

Sebelumnya, pada tahun 2014 silam EDP juga telah melakukan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Kabupaten Sleman dan Kanupaten Bantul. Sejak dilepas hingga saat ini prosentase nyamuk ber-Wolbachia di kedua kabupaten tersebut cukup tinggi mencapai 80-100 persen dan tidak terjadi penularan DBD setempat.

Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan penanggulangan Masalah Keshatan (P2MK) Dinas Kesehatan Provinsi DIY, Drs. Elvi Effendy, Apt., M.Kes., menyampaikan kejadian DBD di Yogyakarta berlangsung secara fluktuatif. Namun pada tahun 2016 kejadiannya mengalami peningkatan hingga 6 ribu kasus dibanding di tahun sebelumnya sebanyak 4 ribu kasus.

Baca Juga :  SMPN 1 Mengwi Raih Sekolah Adiwiyata Nasional 2019

“Di 2016 angkanya fantastis, kasus naik sampai 6 ribu, tetapi angka kematiannya mengalami penurunan. Hal ini tidak lepas dari semakin meningkatnya pemahaman masyarakat dan kesigapan petugas kesehatan secara cepat menangani persoalan ini,” urainya

Penanggulangan DBD ini dikatakan Elvi tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas kesehatan saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak. Karenanya dia berharap seluruh stakeholder ikut berperan dalam penanggulangan DBD.

“Kami terus mendukung program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia ini. Sejak didengungkan 2011 silam sampai saat ini kemajuannya sangat pesat dan harapannya dapat membantu mengurangi ancaman DBD di Yogyakarta,” katanya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :