
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – PLN mulai menerapkan program Friday Clean Energy Day sebagai upaya nyata mendukung penghematan energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, didampingi Asman Operasi Sistem Distribusi, Dewa Gede Surya Mastra, menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiatif internal PLN yang berdampak luas bagi lingkungan.
“Program ini mendorong seluruh pegawai PLN untuk menggunakan transportasi non-BBM setiap hari Jumat sebagai bentuk kontribusi penghematan energi,” ujarnya saat ditemui di Denpasar, Rabu (15/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, PLN menerapkan aturan ketat. Kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) tidak diperbolehkan masuk ke area kantor, sehingga pegawai diwajibkan menggunakan alternatif transportasi seperti kendaraan listrik, sepeda, berjalan kaki, maupun transportasi umum.
Meski pada awal penerapan masih ditemukan beberapa pegawai yang lupa, komitmen tetap dijalankan secara konsisten.
“Memang ada yang terlupa, tetapi sesuai komitmen, kendaraan berbahan bakar tetap tidak diperbolehkan masuk,” jelasnya.
Program ini juga menjadi solusi atas keterbatasan penerapan work from home (WFH) di lingkungan PLN, mengingat perusahaan tetap harus menjaga operasional kelistrikan. Dengan konsep ini, penghematan BBM tetap bisa dilakukan tanpa mengurangi produktivitas kerja.
“Kalau WFH kendaraan tetap di rumah. Nah, konsep Clean Energy Day ini sama, kendaraan BBM tetap di rumah, tetapi pegawai tetap masuk kerja,” tambahnya.
Untuk mengukur efektivitas program, PLN memanfaatkan sistem pelaporan berbasis aplikasi. Setiap pegawai mencatat moda transportasi yang digunakan serta jarak tempuh perjalanan, yang kemudian dikonversi menjadi estimasi penghematan BBM.
Hasilnya, implementasi perdana pada 10 April 2026, menunjukkan hasil signifikan. Sebanyak 9.241 pegawai tercatat berpartisipasi, dengan total penurunan emisi mencapai sekitar 28,6 ribu kilogram CO₂e. Rata-rata penurunan emisi per pegawai sebesar 2,49 kilogram CO₂e. Selain itu, program ini juga berhasil menghemat sekitar 12.400 liter BBM, dengan efisiensi biaya energi mencapai lebih dari Rp153 juta.
Petrus berharap program ini dapat terus berjalan konsisten serta menjadi contoh bagi instansi lain dalam mendukung transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon.(tis/bpn)












