Soma Ribek
Soma Ribek, Upacara Penghormatan Terhadap Beras di Pulu dan Padi di Lumbung. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Soma ribek merupakan hari suci agama Hindu di Bali yang dilaksanakan dua hari setelah hari Saraswati dan sehari setelah hari Banyu pinaruh. Hari suci Soma Ribek datang setiap 6 bulan sekali yakni pada Soma (Senin) Pon wuku Sinta yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2021 ini.

Soma Pon Sinta disebut juga Soma Ribek, hari puja wali Sang Hyang Sri Amrta, tempat bersemayamannya adalah di Lumbung. Pada hari ini diadakan upacara widhi widhana untuk selamatan atau penghormatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung yang sekaligus mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai tanda bersyukur serta semoga tetap memberi kesuburan dalam hal pangan.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Ngupasaksi Dewa Yadnya Lan Rsi Yadnya di Giria Gede Jumpung Desa Sesandan

Maka dari itu, saat Soma Ribek, umat Hindu akan menghaturkan sesaji di tempat-tempat yang memiliki kaitan erat dengan beras, seperti lumbung atau jineng (tempat penyimpanan padi atau beras). Bisa dibilang hari Soma Ribek merupakan hari Pangan Umat bagi umat Hindu.

Yang menarik, pada hari suci Soma Ribek ada tradisi berpantang untuk menumbuk padi dan menjual beras.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan saat Soma Ribek, orang-orang tidak diperkenankan menumbuk padi, demikian juga menjual beras, karena jika dilanggar, maka akan dikutuk oleh Ida Bhatari Sri.

Hal ini sebagai introspeksi diri agar kita selalu menjaga kelestarian sumber-sumber pangan dan selalu bersyukur atas anugrah pangan yang sudah kita nikmati agar jangan sampai tidak terurus bahkan kekurangan pangan. Begitu juga pada hari ini kita sebagai umat Hindu diminta ngastiti Sang Hyang Tri Pramana (Sri, Sadhana dan Saraswati). Terutama hendaklah kita fokus pada sarining tattwa adnjana yaitu memetik sari-sari ajaran-ajaran kebenaran atau ketuhanan.

Baca Juga :  Bupati Tamba Hadiri Karya Rsi Yadnya Griya Mambal Batuagung

Jika ditelaah secara mendalam, hari suci Soma Ribek sebetulnya sebagai hari pangan gaya Bali. Pada hari itulah orang Bali disadarkan tentang betapa pentingnya pangan dalam kehidupan ini. Tanpa pangan manusia tidak bisa hidup dan menjalani kehidupannya. Karenanya, manusia pantas berterima kasih dan mengucap syukur ke hadapan Sang Pencipta atas karunia pangan yang melimpah.

Adanya pantangan tidak menumbuk padi serta menjual beras saat Soma Ribek lebih sebagai bentuk sederhana dari penghormatan atas karunia pangan dari Sang Maha Ada. Pantangan semacam ini sama maknanya dengan pantangan menebang pohon saat hari Tumpek Pengatag. (Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H, Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Mengwi, Badung)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News