Karena pelaku UMKM yang mengelola obat herbal di Buleleng belum banyak sementara bahan baku atau komuditi yang dimiliki Buleleng sangat melimpah. Pelaku dan bahan baku harus bersinergi, untuk itu dirinya akan lebih mendorong produk yang sudah dihasilkan. Melalui akses pemasaran yang lebih ditingkatkan dan kualitas sertifitkasi produknya sehingga masyarakat lebih nyaman menggunakannya.
“Contohnya untuk minuman herbal minimal punya izin Produk Industri Rumah Tangga (P-IRT) atau layak pangan yang sehat untuk dikosumsi, ada juga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan juga membantu dalam kemasan produk,” tambah Kadis Sudiarta.
Hal ini senada dengan pernyataan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat memperkenalkan konsep “The Spirit of Sobean”. Ia menjelaskan konsep ini akan dijadikan branding tentang potensi-potensi lokal terbaik yang ada di Buleleng. Pemetaan dilakukan terlebih dahulu sehingga potensi lokal yang terbaik dijual ke khalayak. Potensi lokal yang terpilih juga bisa dijadikan sarana untuk mensejahterakan masyarakat di Kabupaten Buleleng.
“Seperti hasil-hasil pertanian, destinasi wisata, bahkan hotel-hotel terbaik di Buleleng. Destinasi wisata terbaik yang bisa masuk seperti kebersihan dan keasriannya terjaga. Termasuk perilaku masyarakat sekitar yang bisa dijadikan sumber perekonomian dimasyarakat,” jelasnya.
Pameran obat herbal Bali yang digelar dalam agenda Rakorda staf ahli se-Bali ini melibatkan pelaku UMKM, salah satunya pelaku usaha obat herbal dari Buleleng. Untuk Buleleng diikuti oleh 4 pelaku UMKM diantaranya Bali Pure VCO dari Desa Sembiran, Panji Herbal dusun Mandul desa Panji, Bulhar Bugar dari Lovina,Jasmine Jamu Giri Emas.(bpn)













