BALIPORTALNEWS.COM – Pada acara HUT ke-3 Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Minggu (12/2/2017) di Parkir DTW Jatiluwih, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta yang hadir sebagai undangan diberikan kehormatan untuk menyampaikan konsep pariwisata berbasis eko wisata.

Dihadapan undangan yang terdiri dari Wakil Bupati Tabanan Komang Sanjaya, Sekda Tabanan, Dandim Tabanan serta jajaran Pejabat perangkat daerah Tabanan, Bupati Giri Prasta menyampaikan, bahwa ini merupakan sebuah kehormatan didaulat oleh Wabup. Tabanan Komang Sanjaya untuk menyampaikan beberapa hal tentang konsep pariwisata.

Menurut Giri Prasta, masalah pariwisata harus berpijak pada Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan. Untuk di Bali kedepan, Giri Prasta menginginkan adanya konsep one island management, satu pulau satu manajemen, dan konsep one stop destination. Giri Prasta melihat dulu tamu mancanegara maupun domestik yang berwisata ke bali, lama tinggalnya (langth of stay) mulai 8 hingga12 hari.

“Sekarang ini trand itu menurun, hanya 2-3 hari, lalu tamu berkunjung ke daerah lain. Untuk itu kami menginginkan adanya one stop destination, ” jelasnya.

Baca Juga :  Kunjungi Pasar Satria, Amerta Gagas Digitalisasi UMKM

Lebih lanjut dikatakan, bantuan penyisihan PHR Badung ke enam kabupaten di Bali mulai 2009 hingga 2016 sudah mencapai 1,6 trilyun dan mulai tahun ini Badung akan memberikan secara langsung bantuan tersebut dan tidak melalui provinsi.

Berkaitan dengan pendapatan badung, diakui memang 80 persen lebih bersumber dari pajak hotel dan restoran. Untuk meningkatkan sumber pendapatan ini, Dispenda Badung telah mengambil langkah dengan pemasangan tapping box dan web service online sehingga pajak akan langsung masuk ke kas daerah.

“Astungkara kemarin di APBD 2016 mencapai 4,1 trilyun, tahun ini meningkat menjadi 5,4 trilyun. Semakin besar PHR yang kami dapat, akan semakin besar pula dana yang kami bagikan khususnya kepada enam kabupaten penerima, ” tambahnya.

Bupati Giri Prasta menambahkan, bicara mengenai pariwisata yang pertama ada pariwisata alam, kedua pariwisata warisan, ketiga ada desa wisata. Desa wisata ini didalamnya mencakup agro wisata, pariwisata yang berbasis dengan perkebunan dan pertanian, eko wisata, pariwisata berbasis lingkungan, healty wisata, pariwisata berbasis kesehatan dan culture wisata, pariwisata berbasis budaya.

Baca Juga :  Libur Panjang, Pelayanan Pajak dan Retribusi Daerah di Buleleng Tetap Berjalan

Bupati meyakini lima hingga 20 tahun kedepan wisata alam akan menjadi daerah tujuan wisata seperti Jatiluwih ini. Ini harus dikelola dengan baik dengan konsep threepartid yaitu zona aksi (sawah), sarana prasarama penunjang (jalan dan restoran)  serta pengelolanya.

“Dengan bantuan secara langsung ke enam kabupaten ini, kami ingin berbuat sesuatu di Bali untuk kepentingan berkelanjutan. Dengan konsep one stop destination kami ingin langth of stay tamu tinggal di bali akan bisa lebih lama. Misalkan ada paket wisata tour ke Bali, kalau ingin melihat wisata religius bisa ke Karangasem, Batur Geo Park dengan kalderanya bisa ke Bangli, ingin seni bisa ke Gianyar, ingin budayanya bisa ke Denpasar, kalau ingin glamor bisa di Kuta, Badung dan kalau ingin betul-betul nuansa alamnya bisa ke Tabanan. Ini yang kita inginkan sehingga langth of stay akan lebih lama. Kami berkomitmen membantu sepenuhnya dan dinikmati masyarakat setempat,” pungkasnya.

Diakhir acara Bupati Giri Prasta menyerahkan bantuan masing-masing 10 juta kepada peserta pawai dari Desa Jatiluwih dan Desa Gunungsari. (humasbdg/bpn)