Agung Krishna Nugraha Siswa SMANSA, Raih Medali Perak Matematika Internasional di Singapura

BALIPORTALNEWS.COM – Puncak perayaan HUT ke-56 SMAN 1 Denpasar (Smansa), Senin (8/8/2016) ini dipastikan berlangsung penuh suka cita dan istimewa. Sebagai kado spesial HUT ke-56 Smansa, Agung Krishna Nugraha siswa kelas XI-MIA.5, meraih medali perak pada ajang Matematika Internasional 2016 di Singapura, pada 29 Juli-1 Agustus 2016.

Putra dari pasangan Surya Nugraha dan Yenie yang lahir pada 9 September 2000 ini, memang mumpuni pada bidang matematika. Ia bahkan telah beberapa kali memenangkan kompetisi internasional bidang matematika.

Belajar secara kontinu jadi kunci sukses Agung Krishna menjuarai setiap event matematika. Selain ia punya kelompok kecil dalam belajar terdiri dari para penggemar matematika. Beberapa hari sebelum lomba ia juga masuk karantina untuk bisa fokus persiapan intensif menjelang lomba.

Siswa Smansa lainnya juga menyumbang prestasi membanggakan. Di bidang akademik meraih juara II tingkat nasional lomba Esai Widya Kelana ITB Back To School 2016, juara II Forum Anak Nasional, juara III Regional LKTI di Universitas Udayana, juara I Provinsi Peneliti Belia. Tak kalah juga meraih Guru Berprestasi I Kota Denpasar dan Siswa Berprestasi I dan II serta Siswi Berprestasi II Kota Denpasar.

Sedangkan di bidang non akademik, Marching Band Smansa Manggala Dara meraih juara I nasional  lomba Marching Band dalam Langgam Indonesia XXIX tahun 2016, serta juara I Panahan Tingkat Provinsi Bali. Beragam prestasi ini membuktikan siswa Smansa tak bisa dibendung untuk terus berprestasi.

Kepala SMAN 1 Denpasar, Drs. Nyoman Purnajaya, M.Pd., menyampaikan rasa  syukurnya atas semua capaian tersebut. Tanpa doa, kerjasama, usaha,  disiplin, solidaritas dan pengorbanan mustahil hal tersebut bisa dicapai. Kerena itu pihaknya mengajak semua komponen stakeholder bekerjasama untuk membangun prestasi bangsa.

 

Penulis : Gandhi
Editor : Putu Tistha

Sukla Arnata Tokoh Pendidikan yang Perjuangkan Hak Pendidikan Anak

BALI-PORTAL-NEWS.COMSEORANG tokoh pendidikan Bali, Dr. I Wayan Sukla Arnata, SH, MH., sudah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan. Bermula sebagai guru PNS, dirinya memantapkan diri keluar dan membuka sekolahan sendiri secara gratis khusus untuk anak miskin, anak hasil broken home, dan anak telantar yang mau dibina dan di sekolahkan.

Pendidikan yang diasuh Sukla Arnata adalah Yayasan Pendidikan Gajah Wahana murni dari hasil jerih payahnya sendiri. Dalam penuturannya dirinya terpanggil menyekolahkan anak putus sekolah, dari SD hingga lulus SMA/SMK, bahkan Sukla Artana juga mencarikan pekerja kala anak asuhnya sudah lulus, selanjutnya terserah anaknya akan kembali ke orang tua kandungnya atau tetap membantu dan mengabdi di Yayasan Gajah Wahana yang dikelola Sukla Arnata.

Ditanya sudah berapa anak asuh yang lulus dan kerja tidak terhitung, namun kini masih ada 100 anak lebih yang mereka benar-benar anak dari keluarga miskin, anak jalanan dan anak telantar juga dari korban broken home yang masih di sekolahkannya. ‘’Kalau anak-anak yang sudah lulus dan mandiri kerja sudah banyak, tapi saat ini yang masih menjadi anak asuh saya sekitar seratus anak dan nanti setelah lulus sama seperti sebelumnya. Saya kasih kebebasan apakah ingin pulang ke orang tuanya atau ikut mengapdi di lembaga pendidikan yang saya kelola”, papar tokoh kelahiran Badung, 23 Agustus 1957 yang berhati bak malaikat ini.

Kenapa menolong anak-anak dan menyekolahkan mereka secara gratis, menurutnya harta dan apa yang dimilikinya adalah hanya milik semu. Hartanya adalah milik semu dari harta yang dititipkan Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga ada hak orang miskin dan orang yang membutuhkan uluran tangan untuk kita bantu. ‘’Anak-anak adalah aset bangsa sehingga kita harus melenyamatkan anak-anak  sebagai generasi ke depan negeri tercinta kita salah satunya menyamarkan hak anak, hak anak untuk menghantam pendidikan,’’ imbuh Ketua Umum Yayasan Gajah Wahana ini.

Bicara hari anak Nasional, Sukla Arnata berharap semakin banyak orang-orang yang peduli terhadap perundingan anak sehingga kita semua sayang anak, lingkungan ramah anak, kota layak anak, dan sekolah ramah anak, dengan demikian kasus kekerasan anak akan semakin terkikis dengan sendirinya.

Mengetahui hal tersebut Komisi Nasional Perlindungan Anak berencana menyambangi Yayasan yang didirikan oleh I Wayan Sukla Arnata sekaligus memberikan apresiasi dan penghargaan atas dedikasinya selama ini yang menyelamatkan hak anak dengan pengambilan diri di dunia pendidikan sebagai bapak asuh anak-anak yang putus sekolah.

I Wayan Sukla Arnata merupakan pendiri lembaga pendidikan dari tingkat TK, SD, SLTP, SMK Pariwisata, Kesehatan hingga memilki Diploma Kepariwisataan yang berlokasi seluruh kabupaten/kota di Bali Bali, yang bernaung di bawah Yayasan Gajah Wahana, sejak 1990 sampai 2012.

Ada tiga pokok  terkandung  dalam Pancasila dikatakan Sukla Arnata dalam penanganan masalah kesiswaan agar terhindar dari masalah aksi kriminal atau tawuran pelajar. Pertama sosionalisme artinya bangsa yang berprikemanusiaan. Kedua sosiodemokrasi artinya kebebasan yang dibatasi dengan prikemanusiaan agar tidak ribut tidak ada anarkis, brutal dan aksi keributan lainnya. Ketiga berketuhanan dengan menghargai kebebasan pemeluk  agama masing-masing pasti tidak ada konflik.

Penulis : Ryandra Paramartha
Editor : Putu Tistha

HUT Ke-56 SMAN 1 Denpasar, Gelar 32 Kegiatan, Realisasikan Teori Renzulli

 BALI-PORTAL-NEWS.COM – SMAN 1 Denpasar (Smansa) dikenal sebagaisekolah yang menyandang berbagai predikat. Smansa sejak 1980-an dijulukisekolah favorit, sebagai sekolah unggulan di era 1990-an, sekolah dengan Program Percepatan sejak 2002, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sejak 2006 yang kini istilah itu telah dihapus. Berlanjut menyandang predikat sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri sejak 2013, sekolah berintegritas 2015.

Tak dipungkiri dengan beragam predikat yang disandang, menjadikan setiap moment yang diselenggarakan Smansa sebagai ajang mendidik. Bahkan kegiatan-kegiatan menyambut HUT pun tetap bertajuk edukatif dan promotif.

Smansa yang merayakan puncak HUT ke-56 pada 8 Agustus nanti ini tak tanggung-tanggung menggelar 32 kegiatan yang semuanya bermuatan pengembangan kecerdasan, kreativitas dan tanggung jawab. Kegiatan -kegiatan tersebut meliputi, donor darah, lomba pramuka se-Bali, lomba PMR se-Bali,olimpiade fisika se-Bali, olimpiade biologi se-Bali, olimpiade matematika,olimpiade agama Hindu, lomba karya tulis ilmilah, debat bahasa Inggris, debatbahasa Indonesia, lomba jurnalistik, lomba baca puisi, serta menulis puisi.

Selain itu juga digelar lomba bidang seni tradisional Bali, fun bike, bahkan guru-guru dan pegawai pun menggelar lomba lagu pop, megegitaan dan olahraga. Rangkaian HUT akan ditutup dengan pagelaran GKS (Gempita Karmany Smansa) yang digelar awal Oktober mendatang.

Ketika ditanya wartawan apakah ini tidak jor-joran? Kepala SMAN 1 Denpasar Drs. I Nyoman Purnajaya, M.Pd., menjelaskan, bahwa SMAN 1 Denpasarmendidik siswa berbasis teori Renzulli tentang  ‘’Three Golden Ring’’ yakni  kecerdasan, kreativitas dan tanggung jawab.

Menurut Purnajaya, individu yang unggul itu adalah individu cerdas (intelektual, sosial, emosional, lingusistik, komputasi, kinestika, estetika, spiritual dst). Kecerdasan yang tidak dibarengi kreativitas tidak akan mampu menciptakan hal baru, tidak mampu memodifikasi, tidak mampu menginovasi. Kemudian kecerdasan dan kreativitas harus dibarengi dan dibentengi dengan tanggung jawab.

‘’Bayangkan orang cerdas dan kreatif tapi tidak bertanggung jawab, ia dapat menghancurkan peradaban manusia seperti yang sering dipertontonkan oleh sejarah. Kecerdasan sebagian besar dapat dikembangkan di kelas, kreativitas harus dikembangkan melalui berbagai kegiatan, sedangkan tanggungjawab harus dikembangkan melalui pemberian berbagai tugas kepada siswa baik di sekolah maupun di rumah. Simak juga teori-teori dari Reinal Kasali di rumah perubahan,’’ ungkap Purnajaya.

Lantas apa hambatan pendidikan di Smansa yang Anda rasakan? Ketika ditanya demikian, Purnajaya menjawab bahwa secara mendasar tidak ada, namun hambatan biasanya timbul dari sikap beberapa dari kita yang kurang arifmenanggapi anak-anak yang punya banyak kegiatan dan mendapat tugas-tugas.

‘’Kita pada umumnya masih berpandangan bahwa sekolah yang terbaik itu adalah sekolah yang mampu membuat murid-muridnya tekun  belajar di kelas saja, bila perlu dari pagi sampai sore. Padahal itu baru mengembangkan satu dari tiga komponen keunggulan saja,’’ katanya.

Ketidak seimbangan ini sebut Purnajaya, adalah cikal-bakal disarmonisasi individualistik. Di samping itu juga resiko biaya kegiatan yang terkadang kita gunjingkan, terutama bagi kita yang kurang paham dan terbius oleh wacana pendidikan gratis. “Biasalah,’’ pungkas Purnajaya singkat.

Penulis : Gandhi
Editor : Ryandra

MPLS di SMPN 6 Denpasar Penuh Keriaan

BALIPORTALNEWS.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 6 Denpasar sangat berbeda dibandingkan di sekolah lain. Dikatakan berbeda, karena pembukaan MPLS dibuka langsung Kepala SMPN 6 Denpasar yang anyar yakni Gusti Ayu Putu Tirtawati, S.Pd., ditandai dengan pelepasan balon ke udara.

MPLS di sekolah ini diikuti 360 siswa kelas VII dengan kehadiran 100 persen. Hebatnya lagi, MPLS di sekolah ini juga melibatkan Ketua Komite SMPN 6 Denpasar, Wayan Suada, sebagai Ketua Pemantau MPLS.

Tirtawati mengungkapkan, MPLS sangat penting artinya untuk pengenalan sekolah, membudayakan hidup tertib, dan menjalin komunikasi antara warga sekolah. Tata krama juga diberikan untuk mengisi muatan pendidikan karakter dan budaya malu di sekolah.

Karenanya, MPLS di SMPN 6 Denpasar dikemas penuh dengan suasana gembira, dan sangat jauh dari kesan perpeloncoan dan kekerasan. Ini sesuai dengan tema MPLS ‘’Melalui MPLS yang Sejuk, Sehat dan Berbudaya Kita Tumbuhkan Generasi Muda yang Berkarakter dan Peduli Lingkungan’’.

Tirtawati didampingi Wakasek Kesiswaan Drs. Made Rutha, Wakasek Kurikulum Wayan Gandawati, Wakasek Sarpras Nyoman Sunarta, S.Pd., dan Wakasek Humas GA Swadari menambahkan, MPLS lebih banyak diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, program dan cara belajar siswa aktif, tata krama siswa dan pemahaman budaya sekolah, serta menanamkam budaya malu di kalangan siswa.

MLPS berbudaya diimplementasikan dengan bentuk sopan santun, bersih dan budaya malu. Tirtawati menyebutkan sebagai suatu kebenaran bahwa tak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tak didasari oleh nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat.

Sedangkan MPLS berkarakter diimplementasikan pada 18 nilai pendidikan karakter bangsa. Dikatakan nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agam, budaya, hukum adat dan istiadat.

MPLS ramah lingkungan diimplementasikan dengan aksi bersih dan PSN. Siswa diajak selalu peduli dengan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, memberishkan lingkungan setiap pagi sebelum jam pelajaran, rasa memiliki di kelas, dan tidak merusak sarana dan prasarana di sekolah.

Usai mengikuti MPLS, Jumat (15/7) seluruh siswa baru diajak out bond ke Bedugul. Kegiatan ini selain untuk refresing, sekaligus mengajak siswa belajar dan peduli dengan alam sekitar.  (tis/bpn)

SMAN 2 Denpasar Cetak SDM Bali yang ‘’Vidyaya Prajnam Prapnumahe’’

BALIPORTALNEWS.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Denpasar berlangsung dalam suasana riang gembira. Tak ada aroma perploncoan dari kakak senior, karena MPLS di sekolah ini total ditangani oleh guru-guru. Sebanyak 393 siswa kelas X mengikuti MPLS dengan kehadiran 100 persen.

Kepala SMAN 2 Denpasar, Drs. Ida Bagus Sueta Manuaba, M.Pd., mengaku bahagia melihat wajah-wajah ceria siswa baru mengikuti MPLS. MPLS dikemas sesuai dengan tema yakni ‘’Melalui MPLS yang sejuk, sehat dan berbudaya kita tumbuhkan generasi muda yang berkarakter dan peduli lingkungan’’.

Kasek Ida Bagus Sueta Manuaba didampingi Wakasek Kurikulum Nengah Mardana, S.Pd., Wakasek Humas Semadiyasa, S.Pd.,M.Pd., Wakasek Sarpras Ni Wayan Rustini, S.Pd., M.Pd., dan Wakasek Kesiswaan Dra. Ni Made Wertiasih, M.Pd., menambahkan, MPLS diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, program dan cara belajar siswa aktif, tata krama siswa dan pemahaman budaya sekolah, serta menanamkam budaya malu di kalangan siswa. Budaya malu itu meliputi malu melanggar, malu terlambat, malu jika malas belajar dan malu jika hasil ulangan jelek.

MPLS ramah lingkungan diimplementasikan dengan aksi bersih dan PSN. Karena itu, Ida Bagus Sueta Manuba yang baru dua bulan menjabat kepala sekolah menggantikan Drs. Ketut Sunarta, M.Hum., yang sudah memasuki masa pensiun, minta MPLS diikuti secara baik sehingga mampu membawa perubahan perilaku bagi siswa. Serta MPLS yang berbudaya ini diharapkan dapat melahirkan siswa yang kreatif, inovatif dan kompetitif.

Ida Bagus Sueta Manuba menegaskan, SMAN 2 Denpasar berkomitmen bulat melahirkan SDM Bali yang Vidyaya Prajnam Prapnumahe yang artinya dengan ilmu pengetahuan kita mencapai kebijakan. (tis/bpn)

MPLS SMK TI Bali Global Denpasar Bentuk Siswa Berkarater

BALIPORTALNEWS.COM – Tercatat 558 siswa baru mengikuti MasaPengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK TI Bali Global Denpasar.Pelaksanaan MPLS yang dipusatkan di GOR Basket Indoor KONI Bali, dibuka Senin (11/7/2016) oleh Kepala SMK TI Bali Global Denpasar Drs. I Gusti Made Murjana, M.Pd., ditandai penyematan tanda peserta MPLS.

Pembukaan MPLS SMK TI Bali Global dihadiri Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof. Dr. I Made Bandem, MA.; Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti, Drs. IB Dharmadiaksa, M.Si.,Ak, dan Ketua STMIK STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan.

MPLS SMK TI Bali Global Denpasar lebih menekankan pada penumbuhan 18 pendidikan karakter bangsa sehingga anak-anak mampu berbudi pekerti yang baik setelah berakhirnya kegiatan MPLS ini. Ini sesuai dengan tema MPLS  “Melalui MOS yang Sejuk, Sehat dan Berbudaya, Kita Tumbuhkan Generasi Muda yang Berkarakter dan Peduli Lingkungan’’.

Murjana mengungkapkan, materi MPLS di antaranya perkenalan teknologi informasi yang diberikan Ketua STMIK STIKOM Bali, perkenalan lingkungan sekolah dan karakter bangsa oleh kepala sekolah, materi kebersihan lingkungan oleh Dinas BLH/DKP, tata krama siswa oleh Ketua Komite Sekolah, wawasan KSPAN, serta materi kepemimpinan oleh Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti. Pada Kamis (14/7/2017) ada kegiatan PSN dan bakti sosial berupa penghijauan.

Murjana menuturkan, peserta MPLS tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, SMK pertama di Denpasar yang berbasis khusus di bidang IT ini memiliki total 1.555 siswa. “Peningkatan tidak saja dalam jumlah siswa, tapi juga ruangan kelas tahun ini. Di SMK TI Bali Global ada lima kompetensi keahlian yaitu Teknik Komputer Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Multimedia, Animasi dan Desain Komunikasi Visual ,” jelasnya. (tis/bpn)

MPLS SMAN 7 Denpasar Tumbuhkan Budaya Literasi

BALIPORTALNEWS.COM – SMAN 7 Denpasar menjadikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai tonggak penumbuhan gerakan budaya literasi. Setiap siswa baru diwajibkan membawa satu buku bacaan, yang nantinya dimanfaatkan sebagai perpustakaan kelas.

‘’Nantinya setiap kelas akan ada pojok bacaan,’’ tegas Kepala SMAN 7 Denpasar, Dra. Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati, disela-sela pelaksanaan MPLS di SMAN 7 Denpasar, Senin (11/7/2016).

Selain menumbuhkan gerakanbudaya literasi, siswa baru juga diajak meneliti dan memperkenalkan tenun ikat endek Bali dan diunggah di media sosial, salah satunya instagram. Kegiatan ini selain memberikan efek kepada siswa untuk melek teknologi sekaligus menanamkan pada siswa untuk mencintai produk tradisional.

Siswa baru juga dikuatkan dalam cinta lingkungan untuk memperkuat jiwa anak muda SMAN 7 Denpasar  cinta lingkungan sebagai sekolah berwawasan wiyata mandala. MPLS diikuti 397 siswa baru dengan kehadiran 100 persen.

CIM Kusuma Widiawati didampingi Waka Kurikulum I Wayan Sucipta, S.Pd., Waka Humas Nyoman Sedana, S.Pd., M.M., Waka Kesiswaan Drs. Made Siarta, M.Pd., Waka Sarpras Drs. Made Wirawan dan Waka SDM Dra. Ni Nyoman Sriwati Asih, menambahkan, MPLS juga diarahkan untuk kemandirian siswa.

Salah satunya membiasakan siswa bangun pagi sebab saat PBM mereka sudah berada di sekolah pukul 06.30. Proses pembelajaran ini akan menjadi pembiasan dan budaya sehingga anak-anak Sisma ini disiplin tiba di sekolah.

Hari pertama MPLS di sekolah ini dipantau senator asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Bahkan Arya Wedakarna sempat memberi wejangan menggugah anak muda Bali untuk menjadi SDM yang cerdas dan menjadi  pemimpin masa depan. (tis/bpn)

MPLS di SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata

BALI PORTAL NEWS – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata berjalan dengan penuh riang gembira dan menyenangkan. Di dua sekolah itu, pelaksanaan MPLS jauh dari aroma perploncoan.

Hari pertama pelaksanaan MPLS di dua sekolah kejuruan itu, Senin (11/7/2016) dipantau khusus senator asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Saat itu, Wedakarna mengungkapkan SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata adalah sekolah terbaik di Denpasar. Untuk itu siswanya harus dibentuk menjadi calon pemilik masa depan.

Wedakarna juga mengapresiasi dua sekolah kejuruan dibawah naungan Yayasan Pendidikan Gita Asrama Mandala ini terus berkembang sangat pesat. Baik dari jumlah siswa baru yang terus meningkat, maupun dari segi sarana prasarana sekolah yang sangat representatif.

Di SMK Bali Dewata menurut Kaseknya Drs. Made Supartha, M.M., tahun ini menerima 205 siswa baru terdiri dari 105 siswa program keahlian Akomodasi Perhotelan, 64 siswa program keahlian Jasa Boga dan 36 siswa program keahlian Multimedia.

Sementara di SMK Kesehatan Bali Dewata menerima 168 siswa baru. Mereka tersebar di dua program keahlian yakni 104 siswa di program keahlian Keperawatan dan 64 siswa di program keahlian Farmasi.

Kasek Made Supartha dan Kepala SMK Kesehatan Bali Dewata, Dr. Nyoman Suwija, M.Hum., mengaku senang mendapat perhatian dari Komisi III DPD-RI yang juga putra Bali. Terkait dengan MPLS, Made Supartha dan Nyoman Suwija, menegaskan MPLS di SMK Bali Dewata dan SMK Kesehatan Bali Dewata bebas dari praktik perpeloncoan.

Menurut Made Supartha, siswa baru lebih banyak diajak mengenal lingkungan sekolah, kultur sekolah, kegiatan belajar dan pengenalan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Siswa juga diberi ceramah kesadaran berbangsa dan bernegara, kepemimpinan, tata krama dan disiplin, meteri kepramukaan, ceramah bahaya miras, narkoba dan HIV/AIDS.

Sementara pada hari terakhir pelaksanaan MPLS, siswa baru diajak melakukan bakti sosial dengan kegiatan PSN serta penghijauan di sekitar lingkungan sekolah. ‘’Dalam pelaksanaan MPLS ini kita total mengajak siswa baru untuk mengenal lebih dekat kultur dan budaya sekolah. Dengan demikian mereka senang belajar di sekolah dan mencintai sekolah,’’ ujar Made Supartha. (r/bpn)

SMPN 3 Denpasar Pilot Project Program Pendidikan Keluarga

BALI PORTAL NEWS – SMPN 3 Denpasar dipercaya menjadi pilot project program pendidikan keluarga yang dirintis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk memastikan pelaksanaan program pendidikan keluarga, Senin (11/7/2016) sekolah ini ditinjau oleh Dr. Astuti Darmiyanti,MA., Ed., dari Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembina Pendidikan Keluarga.

Kehadiran Astuti Darmiyanti diterima langsung Kepala SMPN 3 Denpasar, Wayan Murdana, S.Pd.,M.Psi. Menurut Murdana, program pendidikan keluarga bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru dan mendorong peran orang tua serta wali murid dalam meningkatkan kecerdasan serta kualitas pendidikan anak.

Mekanisme pelaksanaannya, lembaga pendidikan memfasilitasi orang tua dan wali murid untuk melakukan pendampingan anak didiknya dalam proses belajar mengajar di kelas. Dengan demikian, orang tua dan wali murid bisa mengikuti perkembangan dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan anaknya. “Jadi peran aktif orang tua dan wali murid sangat dibutuhkan dalam proses pelaksanaan pendidikan keluarga,” ujarnya.

Murdana menyebutkan, dalam program pendidikan keluarga ini proses pendidikannya mengutamakan sinergi antara orangtua siswa, masyarakat dan sekolah. Konsepnya keluarga belajar. Jadi orang tua dan wali murid juga harus belajar sehingga bisa mengikuti perkembangan dunia pendidikan dan bisa mendidik anaknya dengan baik.

Saat itu Astuti Darmiyanti tak hanya bangga dengan peserta MPLS yang ketika diuji mampu menunjukkan karakter siswa yang baik, ia juga bangga dengan inovasi dan ide cerdas SMPN 3 Denpasar membentuk anak berkarakter.

Wayan Murdana menegaskan SMPN 3 Denpasar secara kontinyu melaksanakan visi sekolah yakni berprestasi internasional, berbudaya lingkungan dan berakhlak mulia. Hal itu diwujudkan dimana SMPN 3  sudan memiliki satgas keamanan kebersihan, Polisi Keamanan Sekolah (PKS). Belum lama ini juga sudah diluncurkan bank sampah  dan inovasi teranyar memiliki pusat pengolahan  air limbah.

Para peserta MPLS pun diberikan pemaparan soaa pengolahan limbah ini. Makanya dia menegaskan MPLS di SMPN 3  Denpasar yang diikuti 360 siswa pas dengan tema utama yang sejuk, sehat dan berbudaya.(rpbn)