Genjot Atraksi Crossborder, Kemenpar Dukung Festival Obiang Zumba 2017

BALIPORTALNEWS.COM, BATAM – Sebagai salah satu destinasi wisata Crossborder, Batam terus tancap gas. Buktinya, wilayah yang berdekatan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia itu akan menggelar Perhelatan Festival Obiang Zumba yang akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 Juli 2017 di Batam Beach View Resort.

Seperti dilansir dari laman resmi Kemenpar, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti didampingi Kabid Promosi Wisata Buatan, Ni Putu Gayatri mengatakan, perhelatan ini rencananya akan mengincar sekitar 1.000 wisatawan mancanegara yang melalui Crossborder atau biasa disebut dengan Great Batam.

Kata Esthy, Great Batam menjadi salah satu dari 3 pintu masuk utama wisatawan ke Indonesia, 2 lainnya yaitu great Jakarta dan Great Bali. Kegiatan ini merupakan kerja bareng Kemenpar dengan Pemerintah Daerah Kota Batam.”Olahraga ini telah menjadi New Life Style bagi masyarakat di Batam dan Singapura, dan ini merupakan salah satu event olahraga yang efektif sebagei event promosi,”ujar Esthy yang juga diamini Gayatri.

Gayatri menambahkan bahwa Obiang Zumba adalah program kebugaran tarian yang melibatkan gerakan tari dan aerobik, dan dilakukan dengan musik. Koreografi Zumba tersebut menggabungkan hip-hop, samba, merengue, salsa, soca dan mambo

“Kegiatan ini baru pertama kali digelar d Batam, itu kenapa Obiang Zumba ini akan dipandu oleh 11 Insruktur Zumba yang terlatih, sudah mendapatkan berbagai penghargaan dan kualifikasi yang mumpuni. Dari manajemen hotel, saat ini hotel sudah Full Booked. Ini yang kita harapkan, wisatawan Singapura dan Malaysia akan berduyun-duyun kesini, karena memang olahraga ini juga populer di negara tetangga,” lanjutnya

Salah satu Instruktur yang akan memandu Obiang Zumba ini adalah Kim Christian, wanita ayu yang berlatih Zumba sejak usia 14 tahun saat ini mengajarkan nberbagai macam tarian Flamenco, Bellydance, Salsa, Bachata, Merengue and Cha Cha. Kim  akan mengajarkan soal gerakan Zumba, pengetahuan tentang otot-otot tubuh, serta bagaimana mendengarkan lagu untuk latihan.

Untuk menambah semakin menariknya acara, Esthy memaparkan bahwa akan ada aktifitas yang unik yaitu “Aqua Zumba” yang diselenggarakan di Swimming Pool Batam Beach View Resort. ” Obiang Zumba ini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan dan mempromosikan Batam sebagai destinasi leisure, olahraga dan MICE di Asia. Acara ini  termasuk Sport Tourusm juga menjadi sajian hiburan, sekaligus juga sebagai upaya menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pihak, guna pengembangan pariwisata yang penuh  kreatifitas di Batam,” ujar Esthy.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengungkapkan adanya  peluang baru di titik-titik lintas batas dengan negara tetangga. Tahun ini crossborder area  menjadi target perolehan wisman. Karena itu, berbagai event digelar untuk menghidupkan wilayah perbatasan dengan berbagai festival

“Di mana-mana, crossborder itu bisa menjadi generator baru untuk menembus wisatawan mancanagara, apalagi Batam yang hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu jam untuk nyebrang ke Batam dari Singapura,” jelas Menpar Arief Yahya, di Jakarta.

Event tersebut juga dipastikan akan semakin menarik karena penempatan lokasi acara yang sangat bagus yakni Batam Beach View Resort. Hotel dan Resort ini berlokasi di Nongsa, daerah pesisir utara Batam yang masih sepi, Batam View Beach Resort dibangun pertama kali di Batam. Dengan areal seluas 10 hektar termasuk taman, pantai, dan keindahan alam lainnya, Batam View Beach Resort merupakan resort yang terluas di Batam.

Dari Batam View Beach Resort, Anda bisa menyaksikan pemandangan ke seluruh daerah Batam, kerlip Singapora, dan Laut Cina Selatan. Dari Singapore, hotel ini hanya berjarak 35 menit dengan menggunakan feri sedangkan lapangan golf hanya berjarak 3 km. Dengan jumlah kamar 212 kamar.

Acara tarian Zumba juga acara yang unik dan menarik. Senam zumba merupakan salah satu jenis olahraga yang saat ini kian populer di antara wanita Indonesia. Jika anda adalah salah satu orang yang ingin memulai kelas zumba, tidak ada salahnya untuk mengenal jenis olahraga yang satu ini.

Zumba adalah salah satu jenis kelas senam dengan gerakan  dan musik yang berakar dari tradisi latin. Selama senam kita akan melakukan gerakan yang  terinspirasi dari gerakan salsa, merengue, mambo, reggaeton, tango, chachacha dan hip-hop.

Satu sesi kelas zumba biasanya berlangsung selama 50-60 menit yang terdiri dari  sesi gerakan cepat (fast rhythm)dan gerakan lambat (slow rhythm) dikombinasi dengan resistance training untuk membakar lemak dan membentuk otot. Bisa dikatakan zumba adalah olahraga cardio yang juga mampu membentuk tubuh.Zumba sering dipromosikan sebagai pesta dansa, sehingga peserta nya selalu senang dan antusias untuk mengikuti kelasnya setiap hari. Have fun, and love yourself! Begitu kira-kira pesan yang disampaikan oleh para instruktur zumba. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Obama Berlibur di Indonesia, Ini Arti Pentingnya bagi Pariwisata

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Pariwisata Indonesia kedatangan endorser kondang. Adalah Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44 yang akan berkunjung ke Indonesia sekaligus berlibur.

Pemberitaan tentang rencana Obama ke Indonesia pun sudah ramai di media luar  negeri. Rencananya, tokoh internasinal bernama lahir Barack Hussein Obama II itu akan menjadi pembicara pada acara yang digagas Diaspora Indonesia

Namun, tokoh dunia yang pernah menjalani sebagian masa kanak-kanaknya di Jakarta juga akan bernostalgia. “Obama to enjoy nostalgic vacation in Indonesia,” tulis laman Inquirer.

Laman Newssweek juga sudah mengabarkan hal serupa. “After White House, Barack Obama Will Return to Childhood Home of Indonesia for the First Time.”

Tentu saja Obama tak sendirian. Ada pula istrinya, Michelle Obama dan kedua putrinya,  Malia dan Sasha yang bakal ikut mengunjungi Indonesia. Sedangkan Bali, Jogja dan Jakarta pun sudah masuk dalam daftar kota yang akan dikunjungi Obama dalam lawatannya mulai 23 Juni hingga awal Juli mendatang.

Salah satu yang paling gembira dengan rencana kunjungan Obama adalah Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya.  “Kami menyambut gembira Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama yang bakal berlibur ke Indonesia. Tiga destinasi yang akan dikunjungi adalah Bali, Jakarta dan Jogja,” katanya.

Menurut Arief, kunjungan Obama punya makna yang sangat strategis. Apalagi tokoh dunia itu selalu menjadi perhatian media.

“Barack Obama adalah endorser strategis, tokoh dunia, salah satu pemimpin Amerika yang fenomenal. Sampai akhir masa jabatannya pun masih dipuji dan dicinta publik Amerika dan dunia,” kata Arief.

Lebih lanjut Arief mengatakan, ketika tokoh dunia sekaliber Obama berlibur di Bali, Jogja-Borobudur dan Jakarta, maka hal itu menjadi pesan bagi seluruh dunia. ”Bahwa  Indonesia sangat aman sebagai destinasi wisata. Dengan tiga destinasi wisata itu sangat layak dikunjungi, tempat liburan yang aman, nyaman, dan standar dunia pula,” tutur Arief.

Menteri asal Banyuwangi itu juga mengatakan, hal yang akan dilakukan Barack Obama dalam liburannya akan mirip dengan kunjungan vakansi Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz pada Maret lalu. Raja Salman yang merasa betah  Bali menjadi endorser wisatawan Timur Tengah.

Sedangkan Obama, sambung Arief, akan menjadi endorser untuk mendorong travellers AS dan Eropa ke Indonesia. Selain itu, kunjungan Barack Obama ke Bali makin memperkuat brand Pulau Dewata sebagai  The World’s Best Destination 2017 pilihan pelancong di laman TripAdvisor, website paling dipercaya oleh travellers dunia.

“Bali makin tak terelakkan sebagai destinasi wisata yang terbaik dunia mengalahkan London, Paris, New York City dan lainnya,” sambung Arief.

Sedangkan bagi Jogja dan wilayah Joglosemar yang punya ikon Borobudur, kunjungan Obama juga tak kalah penting. Apalagi Presiden Joko Widodo sudah menetapkan Borobudur sebagai satu dari 10 Bali Baru.

“Borobudur merupakan destinasi prioritas yang diberi tagline The World Cultural Masterpiece, Mahakarya Budaya Dunia. Ini (kunjungan Obama, red) juga menjadi promosi yang luar biasa bagi Joglosemar.

Menteri yang dikenal sebagai kampiun marketing itu juga menilai kunjungan Obama ke Indonesia punya medua value tinggi. Sebab, hadirnya Barack Obama makin meyakinkan penduduk dunia bahwa Indonesia aman untuk dikunjungi, punya keindahan tradisi budaya dan alam yang tak terbantahkan.

“Hadirnya Barack Obama dengan tujuan berlibur atau berwisata akan memiliki news value yang sangat besar bagi promosi Wonderful Indonesia,” ulasnya.

Selain itu, Obama juga tokoh beken yang aktif di media sosial. Saat ini akun @BarackObama di Twitter punya followers hingga 91,1 juta. Sedangkan di Instagram, Obama dengan 231 unggahan atau posting memiliki 14,3 juta followers.

“Jika Obama memngunggah kegiatan liburannya di Bali atau Jogja dan Jakarta, wow, promosi yang luar biasa. Bisa dihitung engagement-nya, bisa menjadi viral ke mana-mana,” sambung menteri yang juga ahli teknologi informasi itu.

Bahkan, kunjungan Obama juga diyakini akan mendongkrak kuliner Indonesia. Sebab, Obama saat menjabat Presiden AS pernah menuturkan kesannya tentang kuliner khas Indonesia seperti sate, bakso dan nasi goreng.

“Kuliner sate, nasi goreng, Bakso langsung mendunia karena dia menyebut suka dengan makanan khas Indonesia itu. Kami bergarap kali ini Barack Obama kembali berstatemen soal kuliner Indonesia,” pungkasnya.(*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

ASITA Puji Program Famtrip Kemenpar, TA/TO India Terpukau Joglosemar

BALIPORTALNEWS.COM, JOGJAKARTA – Program Familirazation Trip atau Famtrip Kementerian Pariwisata (Kemenpar) disambut positif oleh para industri di Jawa Tengah. Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Tengah menilai apa yang dilakukan Kemenpar dalam memboyong 15 Tour Operator dan Tour Travel (TA/TO) ke destinasi Yogyakarta, Solo dan Semarang atau biasa disebut Joglosemar, 15 hingga 19 Juni 2017 sangat efektif.

”Terima kasih Kemenpar, ini sangat bermanfaat banget. Tepat sasaran mengenal Joglosemar dengan Famtrip, dan saya yakin mereka akan kembali lagi membawa rombongan dengan paket wisatanya,” ujar Ketua ASITA Jawa Tengah Joko Suratno seperti dilansir dari laman resmi FB Kemenpar RI.

Seperti diketahui, Kemenpar membawa 15 TA/TO untuk melaksanakan Famtrip ke Semarang-Magelang dan Yogyakarta dengan mengunjungi berbagai destinasinya.

Joko mengatakan bahwa Famtrip adalah promosi pariwisata yang paling efektif. Coba bayangkan saat semuanya dikenalkan langsung ke destinasi wisata yang eksotis dan menarik di Joglosemar. Imbasnya, imbuh Joko, apa yang mereka lihat, mereka sentuh, mereka rasa, bisa langsung diceritakan dan ditawarkan kepada klien-klien di India.

”Apalagi TA/TO yang dibawa Kemenpar ini adalah yang besar, efeknya akan sangat dahsyat sekali dan kami tour travel di Jateng juga harus siap menawarkan destinasi yang terbaik dan penyambutan yang bagus untuk mereka. Apalagi kalau Kemenpar terus melebarkan Famtripnya mengajak Wisman Tiongkok, itu akan membuat pergerakan pasar bukan hanya Bali yang dikenal dunia, namun juga Joglosemar semakin naik daun,” ujar dia.

Salah satu peserta Famtrip dari India, Bindra Hardeep Singh dari Valcomm Travel Corp mengatakan, Joglosemar benar-benar membuat takjub. Baru tiga hari saja, imbuh Bindra, segala macam hal yang unik dimiliki destinasi Joglosemar. Para TA/TO dari India itu dihari pertama menginap di Gumaya Hotel Tower Semarang dan diajak Dinner di Koenokeoni Caffe Galerry.

Setelah itu diajak ke Sam Po Kong. ”Sangat salut bahwa jalur Laksamana Cheng Ho ternyata melewati Semarang. Ini sejarah yang menarik yang dimiliki Indonesia, selain itu ternyata berita-berita yang terdengar bahwa Indonesia itu tidak aman, ternyata tidak benar, ini buktinya aman-aman saja kok. Malah masyarakat Indonesia sangat ramah,” kata Bindra.

Selain ke Sam Po Kong, peserta juga diajak makan siang di Mesastila Resort, Tour Mesastila Coffee Planatation dan pindah Hotel ke Plataran Borobudur Resort and Spa, Magelang. Selanjutnya makan malam di Patio Plataran sambil menikmati malam dan pemandangan Candi Borobudur. ”Sangat indah dan asik untuk dinikmati,” ujarnya.

Kemenpar juga mengajak  TA/TO India itu Experiencing Andong Village Tour, makan siang di Manohara Resort Borobudur, berkunjung ke Borobudur, belanja ke Mirota atau Malioboro dan menginap di Sheraton Mustika Yogyakarta Resort. Dan hari keempat, para TA/TO tersebut dibawa berkunjung ke Prambanan, Sewu dan Plaosan, makan di rumah makan Padang, kunjungan ke Gunung Merapi, dan keesokannya pulang ke India.

Deputi Pemasaran Mancanegara Kemenpar Profesor I Gde Pitana didampingi Asdep Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar Vinsensius Jemadu mengatakan, Joglosemar merupakan pintu masuk (entry gate) bagi wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah dan Jogjakarta, sedangkan Borobudur yang ditetapkan sebagai satu di antara 10 destinasi prioritas menjadi magnet utama dalam membangun kerjasama pariwisata Joglosemar.

Kata Vinsenius, kesiapan Joglosemar sebagai destinasi unggulan terlihat dari aksesibilitasnya antara lain memiliki 3 bandara internasional (Bandara Achamad Yani, Bandara New Yogyakarta, dan Bandara Adi Soemarmo). Dan sebentar lagi akan segera memiliki bandara terbaru, terbesar, di Kulonprogo.

Joglosemar juga sudah lama menjadi  detinasi favorit bagai wisatawan kapal pesiar (cruise) dunia yang singgah di pelabuhan Tanjung Emas Semarang (Semarang- Borobudur–Solo-Yogyakarta) serta menjadi destinas favorit bagi wisman Eropa yang mengikuti paket tour Java-Bali Overland.

“Kesiapan ini menjadikan Joglosemar ditetapkannya sebagai destinasi wisata yang dibranding (destination branding) oleh Wonderful Indonesia; selain Greater Jakarta, Greater Bali, Greater Kepri (Kepulauan Riau), Wakatobi Bunaken, Raja Ampat, Medan, Lombok, Makassar, dan Bandung,” kata Vinsensius yang juga diamini Kepala Bidang Perjalanan Wisata Pengenalan Asdep Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar Heri Retno Indrijani.

Dengan ditetapkan sebagai destination branding, Kemenpar gencar melakukan strategi branding dan integrated marketing communication Joglosemar bersama Wonderful Indonesia ke mancanegara.Joglosemar mempunyai Borobudur sebagai magnet utama dalam menarik kunjungan wisman.

Borobudur sebagai UNESCO Heritage Site setelah menjadi destinasi prioritas atau menjadi “Bali Baru” dengan sistem pengelolaan single management diharapkan kunjungan wisman ke sana akan meningkat pesat.Sebagai perbandingan (banch marking) tahun 2014 Borobudur dikunjungi sebanyak 254.082 wisman, sedangkan Angkorwat Kamboja dan Georgetown Penang Malaysia juga sebagai UNESCO Heritage Site masing-masing dikunjung 2,3 juta dan 720 ribu wisman.

Menteri Pariwisata Arief Yahya selalu mengingatkan dalam berbagai kesempatan bahwa untuk mendatangkan Wisman harus  mengedepankan tradisi Pentahelix dengan mengolaborasi lima unsur ABCGM –Academician, Business, Community, Government  dan Media–. Hal ini terus dilakukan pria asli Banyuwangi itu karena merupakan ekosistem kepariwisataan yang harus solid, speed dan smart bersama-sama.

”Inline dengan corporate culture yang dibangun harus dengan istilan WinWay, Wonderful Indonesia Way. Atau benar-benar the way to win!  Tentunya dengan solid, speed, smart. Joglosemar menjadi sangat penting, karena berada di satu dari 10 top destinasi, atau 10 Bali Baru. Joglosemar menjadi salah satu pilar dari destinasi prioritas dengan ikon Borobudur yang harus terus dipromosikan selain Bali,”ujar Menpar Arief Yahya. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Menpar Arief – Mendag Enggartiarso Resmikan El Royale Banyuwangi

BALIPORTALNEWS.COM, BANYUWANGI – Rabu, 21 Juni 2017 betul-betul hari istimewa. Bagaimana tidak? Pertama, menjadi hari peringatan ulang tahun Presiden Joko Widodo ke-56. Kedua, tanggal itu juga diperingati sebagai wafatnya Proklamator Kemerdekaan RI dan sekaligus Presiden I, Ir Soekarno. Ketiga, hari itu hari bersejarah bagi Banyuwangi, yang memiliki Hotel Bintang Empat kedua, setelah Santika, yakni El Royale Hotel & Resort.

Lebih istimewa lagi, peresmian itu dihadiri dua menteri Kabinet Kerja Jokowi, yakni Menpar Arief Yahya dan Mendag Enggartiasto Lukita. Bupati Banyuwangi Azwar Anas yang sedang berumrah dari Mekah pun tersambung melalui teleconference.

Menpar Arief menyampaikan 3 hal utama dalam sambutannya. Pertama, dalam pengembangan destinasi dia memperkenalkan 3A, Atraksi, Akses dan Amenitas. Hadirnya El Royale Hotel dan Resort itu adalah bentuk pengembangan amenitas, yang menjadi critical bagi pengembangan destinasi.

Untuk aksesibilitas, rampungnya bandara Blimbingsari menjadi sangat menentukan agar Banyuwangi semakin menjadi destinasi kelas Dunia. Menpar Arief mencontohkan bagaimana Bandara Silangit “dipaksa” untuk maju dan berkembang agar semakin mudah akses ke Danau Toba dan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke sana.

“Sekarang, Silangit didarati semakin banyak airlines dan semakin banyak wisatawan yang diangkut ke pintu menuju Danau Toba itu,” ungkap Arief Yahya, seperti dilansir dari laman resmi FB Kemenpar RI.

Menpar yakin, Banyuwangi bisa lebih cepat, penyediaan 3A-nya.

Kedua, point penting yang disampaikan Menpar Arief Yahya adalah pembangunan ballroom/conference venue terbesar di Banyuwangi yang berkapasitas 1300 orang di El Royale Hotel itu. “Itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk gelaran event MICE sebanyak banyaknya. MICE adalah Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions,” jelasnya.

Keuntungan dari berkembangnya MICE tourism adalah wisman MICE melakukan spending dua kali lebih banyak daripada wisman biasa. ARPU atau Average Revenue Per User-nya jauh lebih tinggi, dan lokasi atau daerah penyelenggaraan MICE akan memperoleh keuntungan berupa perbaikan berbagai sektor yang ada.

Dia mencontohkan, semakin sering conferences, diskusi tentang perikanan dilakukan di Banyuwangi, maka sektor perikanan akan semakin maju.

Ketiga, point yang penting menurut Menpar Arief Yahya adalah, untuk maju memenangkan persaingan, khususnya ketika bidding untuk event MICE nasional maupun internasional, maka Banyuwangi harus Incorporated. Bersatu membawa nama baik Banyuwangi dan Indonesia di pentas dunia. “Ketika bersatu, maka kita akan kuat dan memenangkan persaingan,” jelas Arief Yahya.

Kesempatan itu, juga sekaligus digunakan untuk pelatihan dasar SDM Kepariwisataan di Hotel Santika, 22 Juni 2017. Menpar membuka secara simbolis Pelatihan Dasar SDM bagi stakeholders Banyuwangi melalui penyematan name tag ke perwakilan peserta pelatihan yang terdiri dari unsur akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas dan media, Pentahelix.

Dalam press conference yang dilakukan di El Royale Hotel and Resort yang berarsitektur gaya Osing –Suku Asli Banyuwangi– itu, Menpar Arief menyebutkan bahwa Banyuwangi akan banyak investasi di bidang pariwisata. “Banyuwangi sukses sebagai Kota Festival, dalam setahun ada 72 events dan konsisten, dari tahun ke tahun. Itu menjadi kekuatan atraksi Banyuwangi,” jelas Menpar Arief yang asli Banyuwangi itu.

Top 3 Event Banyuwangi, kata dia, adalah Tour de Ijen, Banyuwanhi Ethno Carnival (BEC), dan Gandrung Sewu, seribu penari gandrung yang menggemparkan dunia itu. Wisata Baharinya punya Marina Boom Banyuwangi. “Destinasi Wisata Baru antara lain Pantai cacalan, air terjun watugedek sempu, hutan pinus songgon, pantai syariah pusan, icon pariwisata (spot selfie),” kata dia.

Dari sisi Akses, bandara Blimbing Sari menjadi andalan aksesibilitas udara Banyuwangi. Soal terminal, pekerjaan fisik sudah selesai, kapasitas baru 250.000 pax/th, yang lama 120.000 pax/th. “Saat ini sedang proses audit dan sertifikasi oleh Dit. Bandara Kemenhub. Sudah diresmikan Mei 2017 bersamaan dengan kesiapan PCN Runway Tahap 1,” jelasnya.

Lalu soal Runway, Panjang runway 2.250 meter, awalnya PCN 27, Tahap 1 upgrade PCN 40, agar dapat didarati B737-500 (NAM Air). Tahap kedua, upgrade PCN 56, agar bisa didarati B737-900 (GA, Lion). “Ditargetkan Tahun 2018 tuntas,” ujarnya.

Soal akses yang lain, Progress Marina Boom Banyuwangi Tahap 1: Total investasi : 65 M, Total kapasitas 40 yacht. Target Juni 2017 selesai. Progress dinding penahan tanah (30%), Pontoon Marina (10%), Keruk kolam marina (65%), fasilitas pendukung restaurant, reception building (100%), eco park tahap 1 (90%).

Tahap ke-2 (Tahun 2018), Total investasi sampai Rp 125 M, Total kapasitas : 140 yachts. Total investasi fasilitas pendukung Marina seperti boat, yard, lounge, infrastruktur dll sekitar Rp 70 M. “Jetty Watu Dodol sudah sampai pada tahap pemasangan jetty dan akhir Februari 2018 sudah finalisasi, semua berprogress dengan baik dan cepat,” kata dia.

Amenitas, menurut Arief Yahya, juga menjadi bahasan yang penting dan mendasar di Banyuwangi. Pulau Tabuhan: Tahun 2017 Tabuhan dan Grand Watu Dodol mendapatkan DAK 1,1 M dari Kemenpar. Pemda 2017 menganggarkan untuk masterplan dan pembangunan prasarana pendukung di sana resto dan tempat transit.
Lalu Amphitheatre Grand Watu Dodol, Landscape GWD sudah selesai, amphitheater akan dikerjakan tahun ini oleh Pemda Banyuwangi.

Data Hotel di Kab. Banyuwangi: Jumlah hotel Tahun 2016 sebanyak 76 Hotel dengan total jumlah 2.385 kamar dan 3.571 tempat tidur. Saat ini ada tambahan hotel baru yakni Hotel eL Royale Hotel & Resort Banyuwangi (Bintang 4), progres pembangunan Hotel Aston (Bintang 3), dan Singgasana (Hotel Bintang 4).

“Banyuwangi punya prospek bagus di pariwisata, masyarakatnya juga semakin ramah dan punya semangat hospitality yang bagus,” kata Menpar Arief Yahya. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Genjot Pariwisata, Bolmut Terapkan Formula 3A ala Arief Yahya

BALIPORTALNEWS.COM, BOLMUT – Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara menyadari pentingnya prinsip akses, atraksi, dan amenitas (3A) ala Menteri Pariwisata Arief Yahya. Sebab, prinsip 3A yang selalu didengungkan Menteri asal Banyuwangi, Jawa Timur itu memang diyakini bakal membuat industri pariwisata makin melambung.

Apalagi, Bolmut merupakan Kabupaten baru setelah melepaskan diri dari Bolaang Mongondow pada 2 Januari 2007 silam.

Dengan usia yang masih sepuluh tahun, Bolmut tentu harus menerapkan formula yang jitu untuk mengejar ketertinggalan sektor pariwisatanya dari daerah lain.

Karena itu, Pemkab Bolmut bertekad menerapkan prinsip yang digaungkan menteri yang meraih Marketeer of the Year 2013 tersebut.

Salah satu yang menjadi fokus Pemkab Bolmut adalah amenitas. Saat ini, Kabupaten Bolmut memang memiliki banyak destinasi wisata yang ciamik seperti pada gambar yang diunggah @bolmut_ig yaitu Tj. Nunuka.

Sayangnya, pemkab juga menghadapi banyak kendala. Salah satunya terkait tempat menginap bagi travelista.

Wakil Bupati Bolmut Suriansyah Korompot mengatakan, pihaknya akan berupaya mengembangkan infrastruktur pendukung pariwisata. Salah satunya adalah hotel.
“Karena di sini rata-rata hanya ada penginapan. Jadi, akan diupayakan mendatangkan investor yang membangun hotel berbintang,” ujarnya beberapa waktu lalu, seperti dilansir di laman resmi FB Kemenpar RI.

Selain itu, Pemkab Bolmut juga akan menggandeng beberapa pihak untuk membangun penginapan yang nyaman bagi wisatawan.

Salah satunya adalah cottage. Namun, Pemkab Bolmut tak mau memiliki cottage yang ala kadarnya.

Suriansyah mengatakan, cottage yang dibangun harus harus memiliki cita rasa lokal.
“Ada upaya bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membangun cottages yang khas daerah Bolmut. Dengan begitu akan menjadi daya tarik bagi turis. Hal itu akan diupayakan di tahun 2017 ini,” imbuh Suriansyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bolmut Sofianto Ponongoa mengatakan, potensi pariwisata di daerahnya akan mampu bersaing dengan daerah lain. “Tinggal dikembangkan bagaimana Bolmut menjadi destinasi pariwisata andalan di Sulut,” kata Sofianto.

Menurut Sofianto, Bolmut memiliki sekitar lima wisata budaya. Di antaranya, Situs Komalig R. S. Pontoh dan makam raja-raja Kerajaan Ex Swapraja Bintauna.

Sedangkan wisata alam berjumlah sekitar 18. Misalnya, Pulau Bokil, Pantai Batu Pinagut, Puncak Kaliandra, dan Pantai Tanjung Dulang.

“Kalau wisata budaya terdiri dari wisata religi, juga rumah adat karena Bolmut merupakan peninggalan sejarah kerajaan,” ujarnya.

Selain bakal menerapkan prinsip amenitas, Bolmut juga akan menggencarkan promosi. Langkah itu harus ditempuh untuk mengenalkan destinasi-destinasi wisata Bolmut kepada publik.

“Untuk menopang pariwisata, saat ini juga akan digenjot pembangunan infrastruktur penunjangnya. Terlebih ini merupakan program pemerintah pusat dan provinsi serta pemerintah daerah,” pungkas Sofianto. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Yuk ke Kudus, Lihat Museum Jenang Pertama di Indonesia

BALIPORTALNEWS.COM, KUDUS – Selain dikenal sebagai kota Kretek dan wisata religi, diam-diam Kudus juga mempunyai museum jenang. Namanya “Museum Jenang Kudus”.

Museum yang dibangun oleh pabrik jenang Mubarok Food itu di Jalan Sunan Muria Kudus, Desa Glantengan, Kecamatan Kota itu adalah yang pertama di Indonesia.
Dari alun-alun arah utara sekitar 300 meter. Museum jenang meneguhkan bahwa Kudus juga kota penghasil jenang terbesar di Jawa Tengah. Ini melengkapi destinasi sebelumnya yaitu makam Syeh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus dan Raden Umar Said atau Sunan Muria.

Museum Jenang tepatnya di lantai dua, gedung dan showrum Mubarok Food Cipta Delicia Kudus.

Direktur Utama Mubarok Food Cipta Delicia, Muhammad Hilmy mengatakan, museum yang dibuatnya itu, menggambarkan suasana diwilayah Kabupaten Kudus. Selain itu, menceritakan aktvitas masyarakat setempat pada tahun 1930 an, di Pasar Bubar Menara, sebagai pasar pertama jenang Kudus.

“Museum Jenang ini satu-satunya dan pertama di Indonesia, kita ingin mengangkat citra Kudus melalui produk jenang,” kata Hilmy, seperti dilansir dari laman FB Kemenpar.

Dijelaskan, di dalam Museum Jenang disajikan berbagai kisah Kudus tempo doeloe awal adanya pembuatan jenang. Kemudian menggambarkan suasa komplek masjid menara dan makan Sunan Kudus yang tersusun rapi didalam maket dan sebuah kitab Al Quran besar di sampingnya.

Tidak hanya itu. Di sebuah ruangan yang cukup luas tersebut, juga berdiri sebuah rumah adat khas Kudus. Selain itu, miniatur menara setinggi lima meter dan kisah perjalanan Mubarok Food Cipta Delisia dari masa ke masa.

“Disini bertemunya seni, budaya, bisnis, pariwisata, ekonomi dan berbagai aspek lainnya. Maka kami dedikasikan Mubarok Food sentra bisnis dan budaya,” tandasnya.

Menurut Hilmy, jika wisatawan ingin melihat peta wilayah Kudus, secara garis besar bisa melihat musem jenang. Sejarah produk jenang, sampai ramainya pengunjung di komplek menara dan masjid Al Quds serta makam Sunan Kudus juga tergambar lengkap.

Adapun cerita jenang Khas Kudus, katanya, dimulai dari produk milik H Mabruri dan istrinya Hj Alawiyah. Pasangan suami istri tersebut memulai bisnisnya membuat jenang. Jenang tersebut dijual di Pasar Bubar Menara pada tahun 1930.

“Awalnya belum ada merk, kemudian seiring jalannya waktu akhirnya dinamai Sinar 33. Nomor itu diambil dari nomor rumah, yang juga sebagai tempat produksi. Kini namanya Mubarok Food,” imbuhnya.

Menurut Hilmy, jumlah pengunjung Musem Jenang sampai saat ini cukup lumayan. Kebanyakan merupakan wisatawan yang ingin berbelanja jenang. Lalu penasaran mampir dan masuk. Mereka senang karena bisa mengetahui sejarah jenang sambil berfoto selfie secara gratis.

“Jumlah pengunjung meski belum banyak audah lumayan, tujuan utamanya membeli oleh-oleh. Museum ini kami sediakan secara gratis untuk siapa saja yang ingin berkunjung,” terangnya.

Bupati Kudus Musthofa menjelaskan museum tidak hanya berfungsi destinasi wisata namun juga sarana edukasi masyarakat umum terkhusus bagi pelajar baik PAUD maupun mahasiswa.

“Perbanyak atraksi supaya jadi obyek wisata. Juga perbanyak kegiatan yang bisa  menampung aspirasi khalayak umum seperti mengadakan workshop di museum,” sarannya.

Supaya promosinya gencar harus proaktif mendatangi sekolah, kampus, dan komunitas masyarakat supaya museum dapat dikenal lebih dekat. Musthofa juga  mendorong pengelola untuk menampung seluruh kegiatan anak muda kreatif supaya dapat melaksanakan kegiatan inovatif seperti pertunjukan, festival, atau semacamnya yang digelar di museum. Sehingga pelan tapi pasti keberadaan museum dapat dikenal lebih dekat.

Menarik pengunjung tidak harus dengan membuat luas museum semakin lebar akan tetapi pendekatan sosiologis dan budaya dapat lebih diutamakan.

Menpar Arief Yahya menilai sukses Museum Jenang Kudus itu sebenarnya bisa dibuat di banyak daerah lain. Karena setiap daerah selalu memiliki kuliner khas yang bisa dibuat storyline dan asal usul sejarahnya. “Dan itu akan menjadi destinasi yang menarik,” kata Arief Yahya. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Genjot Selain Bali, Kemenpar Boyong TA/TO India ke Joglosemar

BALIPORTALNEWS.COM, JOGLOSEMAR – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memperkenalkan destinasi Indonesia melalui program Familirazation Trip atau Famtrip. Kali ini memboyong  tour travel and tour operator (TA/TO) dari India ke destinasi selain bali. Sebanyak 15 orang TA/TO India di boyong ke destinasi Yogyakarta, Solo dan Semarang atau biasa disebut dengan Joglosemar pada tanggal 15 sampai dengan 19 Juni2017.

Deputi Pemasaran Mancanegara I Gde Pitana didampingi Asdep Bidang Pengembangan Pasar Asia Pasifik Vinsensius Jemadu mengatakan, Famtrip ini digelar agar wisatawan mancanegara (Wisman) dari India bisa menyentuh dan merasakan kehebatan Joglosemar. ”Karena Joglosemar juga destinasi yang sangat menarik, mereka harus kita perkenalkan budaya dan alam Joglosemar,” ujar Pitana yang didampingi Vinsensius, seperti dilansir dari laman FB Kemenpar.

Ke-15 TA/TO itu adalah Kanga Madhuri Erach (Ahura Travels), Godia Ramesh Harilal (Varun Worldwide Vacations), Bindra Hardeep Singh (Valcomm Travel Corp), Patel Disha Dashrathbhai (Escape Holidays), Somani Hiral Jigarbhai (Holiday Exotica), Shah Pooja Dhaval (Uniglobe Perfect Connections).

Lalu Chawla Sonia Raju (World of Wonders Travel Pvt Ltd), Aggarwal Naresh Kumar (Travelraze), Malhotra Narinder Kumar (Ekido Holiday Tours P Ltd), Kamboj Vipin (Uniglobe Indica Travel And Tours Pvt. Ltd), Tomar Meenakshi (Sundowner Travel Trailz Pvt. Ltd), Vinod Bala (Devika Travels Pvt Ltd), Pantle Ketaki (Serendipity and Beyond Tours LLP), Jain Saraogi Kuldeep (Raj Yatayat Pvt Ltd), Singh Pooja (Uniglobe Vinayaka Holidays).

Lebih lanjut Vinsensius menambahkan, saat ini tiga pintu masuk terbesar wisatawan mancanegara ada tiga. Yakni, Great Batam, Great Jakarta dan yang terakhir adalah Great Bali. ”Joglosemar juga sudah memiliki fasilitas yang mumpuni, akses, amenitas dan aksebilitas juga sudah mengalami perkembangan sangat baik,” ujar Vinsensius.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Perjalanan Wisata Pengenalan Pasar Asia Pasifik, Heri Retno Indrijani. Selain itu, Kemenpar juga telah berpengalaman menyiapkan skema Famtrip. Semua tamu pasti dibuat nyaman dari destinasi ke destinasi.

”Terutama kami juga terus merevitalisasi 10 destinasi wisata prioritas agar menjadi Bali baru di berbagai provinsi, destinasi prioritas termasuk Borobudur yang ada di pintu masuk Joglosemar. Ada tiga hal dasar yang dibenahi untuk merevitalisasi destinasi wisata yang sudah ada yaitu aksesibilitas, kenyamanan dan juga produknya,” kata dia.

Para TA/TO dari India itu dihari pertama menginap di Gumaya Hotel Tower Semarang dan diajak Dinner di Cascade Restaurant. Setelah itu akan diajak City Tour Lawang Sewu, Sam Po Kong, Batik Peranakan. Lunch di Mesastila Resort, Tour Mesastila Coffee Planatation dan pindah Hotel ke Plataran Borobudur Resort and Spa, Magelang. Selanjutnya makan malam di Stupa Restaurant Plataran.

Bukan itu saja, untuk hari ketiga, Kemenpar akan mengajak  TA/TO India itu Experiencing Andong Village Tour, makan siang di Manohara Resort Borobudur, berkunjung ke Borobudur, belanja ke Mirota atau Malioboro dan menginap di Sheraton Mustika Yogyakarta Resort. Dan hari keempat, para TA/TO tersebut dibawa berkunjung ke Prambanan, Sewu dan Plaosan, makan di rumah makan Padang, kunjungan ke Gunung Merapi, dan keesokannya pulang ke India.

Vinsensius kembali memaparkan, Famtrip adalah salah satu strategi untuk menjaring kunjungan wisman India ke Indonesia, disamping mengikuti bursa-bursa wisata tetap yang ada di India. Kemenpar memang berfikir keras untuk mengubah para wisatawan asal India ini agar tidak selalu bertujuan ke Bali saja.

Menurut VJ, Joglosemar juga masuk daerah yang di-branding dalam pemasaran pariwisata internasional oleh Kemenpar. Ketiga daerah memiliki potensi di bidang budaya, belanja, dan kuliner, untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

”Semoga mereka juga membuat paketnya ke Solo setelah mengetahui Jogja dan Semarang. Karena, salah satu alasan turis mancanegara datang ke Indonesia adalah melihat wisata alam budaya dan karya manusia,” tambah Heri Retno.

Dia memaparkan, wisata budaya menyumbang pasar terbesar mencapai 60 persen. Wisata budaya masih terbagi menjadi warisan budaya dan sejarah sebesar 20 persen, belanja dan kuliner 45 persen, serta wisata kota dan desa sebesar 35 persen.

Berdasarkan data tersebut, Kota Jogja, Solo, dan Semarang, layak masuk daftar daerah yang di-branding dalam pemasaran pariwisata internasional.Untuk branding pemasaran di mancanegara, Kota Jogja, Solo, maupun Semarang bisa mengusulkan pilihan tematik keunggulan daerahnya masing-masing. Seperti keris, batik, serta beragam kekayaan budaya maupun kulinernya.

”Bandara Adisucipto dan Ahmad Yani yang masuk great Yogyakarta memiliki kontribusi besar sebagai pintu masuk utama wisman. Bisa dikunjungi setelah dari Bali atau sesudah dari Semarang dan Jogja,” kata VJ dan Heri Retno.

“Jika ingin menggenjot wisman, maka akomodasi dan segala kelengkapannya harus disiapkan dengan baik juga,” katanya. VJ juga meminta agar mengaktifkan connection Joglosemar, di mana masing-masing bandaranya sudah berstatus internasional. “Jadi kelak orang mau ke Joglosemar, bisa via Adi Sucipto Jogja, Adi Sumarmo Solo dan Ahmad Yani Semarang, lalu dikoneksi melalui overland, jalur darat,” tandasnya.

Menpar Arief Yahya mengatakan, famtrip adalah satu cara memperkenalkan destinasi wisata yang sangat efektif. Peserta bisa merasakan atmosfer atau suasana batin di destinasi tersebut, lalu menceritakan kepada komunitas atau customersnya. Mereka bahkan bisa langsung menjual paket-paket khusus yang sudah pernah dia jalani selama famtrip itu. Mereka juga bisa bercerita kepada khalayak akan keistimewaan orang Indonesia dengan aneka perbedaannya.

“Jadi apa saja yang menjadi keunggulan destinasi kita bisa terekplorasi dengan akurat, lalu promosi apa yang cocok atas destinasi itu dengan lengkap. Ini model promosi yang cukup efektif, apalagi mereka adalah pelaku bisnis Pariwisata. Outputnya bisa langsung ke paket-paket wisata ke Joglosemar, dan mereka menjadi endorsernya,” kata Arief Yahya. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

eL Royale Hotel Lengkapi Akses dan Atraksi Banyuwangi

BALIPORTALNEWS.COM, BANYUWANGI – Amenitas di Banyuwangi bakal makin kuat. Pada 21 Juni 2017, akan ada soft launching hotel bintang empat di daerah yang dijuluki Sunrise of Java itu. Adalah eL Royale Hotel & Resort yang akan melakukan soft launching pada 21 Juni nanti. Rencananya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang bakal menandatangani prasastinya.

“Silakan dikembangkan amenitas di Banyuwangi. Banyuwangi sangat kuat membangun pariwisata sebagai backbone ekonomi daerahnya,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI, Minggu (18/6) seperti dilansir dari laman FB Kemenpar.

Menpar Arief Yahya mengatakan, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang sangat pesat. Itu kemudian membuat banyak pihak berminat untuk berinvestasi. Pariwisatanya juga makin terlihat seksi. G Land, Blue Fire, wisata underwater Bangsring,amanya kian familiar di telinga wisatawan.

“Banyuwangi kini telah menjadi satu di antara tujuan wisatawa utama. Kebutuhan akan kamar hotel terus meningkat. Seperti di masa liburan akhir tahun 2016 lalu, Banyuwangi mengalami lonjakan wisatawan yang luar biasa. Okupansi hotel-hotel di Banyuwangi mencapai seratus persen. Bahkan banyak wisatawan yang tidak kebagian kamar hotel,” kata Arief Yahya.

Menteri yang juga berasal dari Banyuwangi ini menjelaskan, kebutuhan investasi bidang pariwisata sampai tahun 2019 yaitu 120.000 hotel rooms, 15.000 restoran, 100 taman rekreasi, 100 operator diving, 100 marina, dan infrastruktur pariwisata lainnya.

“Sebelumnya saya ingin mengatakan destinasi pariwisata itu dapat dinikmati pelangganya kalau sudah memenuhi 3A. memiliki attractiveness yang tinggi, accessibility yang bagus dan memiliki amenities atau fasilitas yang bagus. Bila sayarat ini terpenuhi maka destinasi itu sudah bisa dikatakan sebagai produk yang dapat dipasarkan atau dijual,” ucapnya.

Nah, melihat realita itu, dia pun menyambut baik dukungan swasta dalam penyediaan amenitas pariwisata. Kehadiran eL Royale Hotel & Resort di Banyuwangi, menurutnya akan sangat mendukung penyediaan akomodasi pariwisata.

General Manager Iwan Sumantri menambahkan, eL Royale Hotel & Resort nantinya akan hadir di Jalan Raya Banyuwangi-Jember KM 7, Dadapan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Saat soft opening nanti 21 Juli, eL Royale Hotel & Resort menyediakan 108 kamar dan enam vila. eL Royal Hotel and Resort juga memiliki beberapa fasilitas pendukung seperti kolam renang untuk dewasa dan anak, spa, gym serta ballroom dan meeting room.

“Sedangkan mulai tahun depan bertambah lagi menjadi 152 kamar, satu ballrom berkapasitas seribu orang, dan enam meeting room yang masing-masing berkapasitas 700 orang,” papar Iwan Sumantri.

Desainnya? Dijamin elegan. Nuansa Banyuwangi akan langsung terasa. Lobi hotel dibuat mirip Pendapa Sabha Swagatha Banyuwangi yang memiliki empat pilar utama. Keramik lantai dipesan khusus bermotif gajah uling, motif khas milik Banyuwangi.

Sementara, atap hotel mengadopsi atap rumah Suku Using, suku asli Banyuwangi. Di depan hotel akan dibangun patung gandrung. Ruang-ruang yang ada di hotel, diberi nama yang identik dengan Banyuwangi.

“Seperti Ijen Restaurant, Using Room, gandrung lounge, dan lainnya. Pintu gerbang juga menggambarkan gerbang Majapahit, karena Kerajaan Blambangan juga berkaitan dengan Kerajaan Majapahit,” ungkap Iwan Sumantri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ikut mengamini.

Dia mengatakan, berdirinya eL Royal Hotel and Resort ini agar bisa mengimbangi kebutuhan penginapan bagi pengunjung yang datang ke Banyuwangi.

Terutama setelah banyak penerbangan dari Jakarta terbang ke Banyuwangi langsung.
“Hotel ini dimaksudkan untuk mengimbangi, antara Atraksi, Akses dan Amenitas. Ketika dua penerbangan bertambah di bulan Juni, maka Amenitasnya juga harus menyesuaikan diri. Harus bertambah,” ucap Bupati Anas.

Dia pun mengaku puas dengan suasana Banyuwangi di sana. Begitu tamu masuk, langsung disambut musik gandrung, lalu masuk lebih dalam lagi suasananya seperti alam Ijen.

“Ini menjadi kampanye kebudayaan Banyuwangi. Ternyata bangunan yang mengakomodir kekayaan budaya Banyuwangi bisa hebat meskipun tak harus dalam bentuk gedung-gedung bertingkat di kota besar,” sambung dia. (*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Semarakkan Lebaran, Festival of Light Kaliurang Dilengkapi Dancing Fountain

BALIPORTALNEWS.COM, KALIURANG – Kawasan wisata di lereng Gunung Merapi, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta akan tetap “hidup” di malam hari. Menyambut libur kenaikan kelas dan libur Lebaran 2017, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama PT Cikal Bintang Bangsa (pengelola Taman Pelangi Monumen Jogja Kembali) kembali akan menggelar Festival of Lights di Gardu Pandang Kaliurang.

dilansir dari laman facebook Kementerian Pariwisata, gelaran Festival of Lights berlangsung selama 45 hari, sejak 16 Juni 2017 sampai dengan 31 Juli 2017 mendatang. FOL kali ini mengambil tema “Gemerlap Ramadhan.”

“Tema ini dipilih untuk menggambarkan kegembiraan dalam melaksanakan puasa Ramadhan dan menyambut libur lebaran. Beragam desain lampion penuh warna-warni akan memenuhi kawasan Gardu Pandang,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Sleman Dra Sudarningsih, MM didampingi Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dra Shavitri Nurmala Dewi, MA, beberapa waktu lalu.

Konten FOL kali ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Selain menampilkan berbagai macam lampion seperti lampion bunga seperti mawar dan tulip, dunia ikan, tanaman gandum, dengan tema Timur Tengah, gelaran Festival of Lights kali ini juga menampilkan kuliner berbagai jajanan tradisional dan modern yang dijual dalam kisaran Rp 15.000,-, serta Dancing Fountain yang hadir pertama kali di Yogyakarta.

Atraksi Dancing Fountain ini meliputi atraksi air menari yang gerak pancarnya disesuaikan dengan lagu, dengan semburan api, laser serta water screen.

Direktur Eksekutif Festival of Light, Solikin Swiji menyampaikan bahwa cukup dengan membayar tiket sebesar Rp 25.000,- pada hari biasa atau Rp 30.000,- pada hari libur nasional dan weekend, pengunjung dapat menikmati atraksi yang sama seperti di Singapura.

“Pengunjung tidak perlu jauh-jauh ke Singapura untuk​ menikmati pertunjukan “air menari” ini. Silakan datang ke Gardu Pandang Boyong di Kaliurang,” tambah Sudarningsih.

Dengan penambahan atraksi DF ini diharapkan tingkat kunjungan ke Gardu Pandang akan meningkat tajam. Pengalaman dalam FOL yang digelar sebelumnya, pengunjung berjubel untuk menikmati pertunjukan alternatif dan tematik ini.

Data menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kaliurang selama bulan Juli selama Festival of Lights berlangsung sejak tahun 2015 menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Berturut-turut jumlah kunjungan wisatawan ke Kaliurang selama bulan Juli untuk periode 2014 adalah 55.367, tahun 2015 85.730 dan Juli 2016 sebanyak 96.368 kunjungan.

Pada liburan akhir tahun lalu, FOL di Kaliurang mengambil tema “Dragon Castle.” Festival ini menampilkan gemerlap figur naga dan kehidupan ala negeri dongeng disorot dengan lampu warna warni nan indah. Di sisi selatan festival, lampu lampu mini dirangkai membentuk figur figur unik bertajuk Romantic Light dan Sakura Light menjadi daya tarik tersendiri bagi pagelaran ini.

Tampilan lampion tematik dan hamparan lampu “berkesan bunga warna-warni” di kegelapan malam,  membuat wisatawan berdecak kagum dan berselfie ria. Mereka menjadikan wahana itu sebagai background berswafoto.

Hadirnya Dancing Fountain bisa menjadi magnet bagi wisatawan. Apalagi ini menjadi satu hal yang baru di kota ini. So, bagi Anda yang lebaran nanti berkunjung ke Jogja, jangan lewatkan agenda ke Kaliurang untuk menikmati Festival of Light ini.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kreativitas yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama PT Cikal Bintang Bangsa (pengelola Taman Pelangi Monumen Jogja Kembali). “Timingnya tepat, di saat Liburan Lebaran yang akan sangat ramai di Jogjakarta dan sekitarnya. Ada puluhan juta orang mudik di saat liburan Lebaran nanti, yang setiap tahun akan selalu sama polanya,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Timeline itu sangat penting dalam bisnis Pariwisata. Mirip dengan telekomunikasi dan transportasi, yang mengenal ada peak season dan low season. Lebaran, itu semua bisnis itu, Tourism, Transportation, Telecomunication berada dalam peak season. “Karena itu, timeline untuk membuat festival itu sangat tepat,” papar Arief Yahya.(*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :