30 C
Denpasar
Jumat, 21 September 2018

Kenakalan Remaja di Bali Makin Serius

Oleh : Putu Rumawan Salain, Pengamat Pendidikan

 

Maraknya pemberitaan terkait dengan kenakalan remaja akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan besar yang jawabannya perlu kecermatan dalam kasus demi kasus. Secara garis besar atau umum akan berdalih bahwa pendidikan merupakan arena membentuk kecerdasan dan kepribadian termasuk perilaku anak didik memiliki tanggung jawab utama. Kiranya pandangan tersebut tidaklah salah, namun harus diingat bahwa hamper 2/3 waktu mereka setiap hari berada diluar sekolah, bisa di rumah ataupun diluar rumah. Jika demikian adanya maka bibit nakal dapat saja terbentuk ketika waktunya berada di luar rumah, di rumah, ataupun di sekolah. Dengan catatan bahwa tidak ada satu manusiapun yang lahir di dunia untuk menjadi penjahat! Semuanya berharap menjadi manusia sempurna dengan seutuh-utuhnya “suputra”

Tekanan sekolah dari guru dan kawan-kawannya dapat saja merubah sikap dan mental mereka. Apakah menjadi pendiam, reaksioner, ataupun lainnya. Demikian pula kerasnya kehidupan dan penghidupan di rumah dapat saja mereka memperoleh tekanan dari orang tua maupun keluarganya. Bahkan mungkin saja diantara mereka ada yang tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh orang tuanya untuk menopang ekonomi keluarga. Kondisi tersebut dapat saja membentuk anak didik menjadi mandiri dan terkadang tidak mau mendengarkan nasehat atau pendapat orang lain.

Dua lokasi tersebut diatas masing-masing memiliki fasilitator, motivator, maupun inspirator yaitu yang di sekolah disebut guru “Guru Waktra” sedangkan guru yang di rumah disebut dengan Guru Rupaka “orang tua”. Diluar dua lokasi keberadaan siswa tersebut diatas, siswa juga berada di lingkungan mereka yang mengajarkan berbagai hal yang sulit di monitor. Bukankah  mereka sebagai makhluk sosial dalam bersosialisasinya bisa tanpa batas usia, tanpa mengenal profesi, maupun jenis kelaminnya.

Labilnya usia remaja menjadikannya  mereka mencari tokoh atau figur di luar rumah ataupun sekolah. Tumbuhnya geng motor dan lainnya adalah salah satu contoh yang sedang berlangsung kini. Keberanian para remaja berbuat melawan hukum atau merugikan orang lain tampaknya dapat dinyatakan bahwa mereka sudah pasti melupakan dua unsur Catur Guru lainnya yaitu Guru Swadyaya “sang pencipta” dan Guru Wisesa“pemerintah”. Guru  Swadyaya meletakkan tata nilai atas keyakinan dengan landasan hukum atau norma agama, sedangkan satunya lagi yaitu Guru Wisesa menuntun kita untuk melaksanakan  ketentuan yang ditetapkan oleh Negara. Melawan terhadap keyakinan maupun Negara masing-masing ada konsekuensinya.

Perubahan jaman yang demikian cepat melalui bantuan Informasi dan Teknologi (IT) menyebabkan manusia bebas berselancar  mendapatkan berbagai informasi melalui komputer yang statis maupun bergerak sampai dengan hand phone dengan tidak mengenal jarak dan waktu. Bahkan tidak jarang anak-anak usia sekolah mencari tahu tentang berbagai informasi yang tidak layak sesuai usianya.  Alat-alat tersebut bervariasi dari segi harga, dimensi,  dan kualitasnya, kita tinggal memilihnya sesuai dengan kemampuan. Bagi yang tidak mampu mereka cukup dengan mengunjungi warnet yang tanpa pengawas. 

Dunia maya ini memang mengasyikkan bahkan cenderung menyeret penggunanya menjadi individu yang egois, ketergantungan dan kecanduan serta waktunya banyak tersita untuk itu. Hampir disetiap ruang publik dijumpai orang dari berbagai usia memainkan gadgetnya. Maraknya dunia maya ini dipandang sebagai salah satu pemicu meningkatnya kenakalan remaja. Harus diakui bahwa teknologi maupun informasi bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhi dan mengubah sikap dan perilaku, padahal semua maklum bahwa ke dua hal tersebut memiliki manfaat yang sangat berguna. OLeh karenanya yang mampu membatasinya adalah diri sendiri, jangan biarkan anak-anak yang sedang tumbuh berguru secara otodidak menggunakan gadget. Dampingi dan berikan peralatan yang memadai sambil memberikan nasehat tentang yang boleh, tidak boleh, dan boleh dengan catatan. Memang sulit, tapi wajib dilakukan demi masa depan mereka yang penuh dengan tantangan dan perubahan.

Manusia pada era globalisasi ini cenderung didorong menjadi konsumtif karena belitan industri dan kaum kapitalis menyebabkan uang semakin dibutuhkan dalam kehidupan dan penghidupan. Setiap insan suka tidak suka, senang tidak senang dituntut untuk punya uang dengan berbagai cara untuk mempertahankan dan melangsungkan hidupnya. Hidup menjadi keras, mandiri, terukur yang selanjutnya akan mempengaruhi perilakunya. Ada yang sanggup menyesuaikan dirinya ada yang antara sanggup dan tidak, dan yang paling tidak beruntung adalah bagi yang tidak sanggup. Ketiga-tiganya memiliki resiko yang sama dalam hal terimbas berbagai pengaruh. Ketidak mampuan memperoleh kebutuhan mereka menimbulkan berbagai cara untuk memilikinya. Akibat kebutuhan bertalian dengan konsumerisme dengan pragmatisme dan prestise menjadikan orang melakukan hal-hal yang tidak rasional dan berlawanan dengan norma.

Oleh karenanya virus kenakalan pada remaja dapat saja terjadi oleh karena alasan-alasan yang sepele dan tidak masuk akal dan banyak diantaranya jiga disebabkan karena peniruan yang diperoleh dari melihat, mendengar dan mungkin juga melihat kejadian disekitarnya ataupun juga melalui film-film yang memuat kekerasan atau penyimpangan perilaku yang dapat dinikmati melalui TV, film, atau video yang dapat ditonton secara individual ataupun nobar (nonton bareng) di rumah atau diluar rumah. Usia remaja yang labil ditengarai sangat menyukai peniruan dan sayangnya peniruan tersebut tidak berlangsung melalui bimbingan yang benar.  

Dari berbagai deskripsi diatas, kenakalan remaja yang semakin serius di Bali perlu penanganan yang lebih serius dan holistik dan manusiawi. Catur Guru merupakan salah satu benteng yang perlu disosialisasikan di setiap insan pendidikan. Dampingi anak-anak disaat menikamati hiburan melalui siaran TV atau ketika mereka di dalam kamar sedang menggunakan computer ataupun dengan gadget. Sudah saatnya berkomonikasi dengan anak-anak kini disekati dengan memposisikan diri sebagai kawannya dan bukan dengan otoriter layaknya orang tua atau guru dengan anak atau muridnya.  Pemerintrah seharusnya tidak melakukan pembiaran dan menganggap masalah ini remeh karena muara dari segala kejahatan tersebut ujung-ujungnya dapat berlabuh di penggunaan narkoba dan miras. Pemerintah diharapkan hadir dan melakukan berbagai upaya kearah perbaikan moral dan akhlak serta memberikan contoh (bukan dikotori dengan korupsi dan lainnya).

Sudah saatnya mengembalikan dan meningkatkan peran konseling di setiap sekolah untuk memonitor gejala-gejala awal penyimpangan dari anak didik. Guru-guru konseling seharusnya berani dan jujur mengungkapakan persoalan yang dihadapi para siswa yang bermasalah. Dengan cara yang sama diharapkan pula orang tua siswa bekerjasama dengan guru konseling untuk mengawasi dan membinmbing putera-puterinya dan bukan dengan memusuhinya. Di dunia nyata yang semakin banyak menawarkan beragam produk yang instan dalam berbagai hal seharusnya dihadapi dengan mampu memilih dan membentengi dirinya dengan keteguhan dan prinsip yang baik dan benar. Benar menurut agama “Guru Swadyaya”  dan pemerintah “Guru Wisesa”  serta percaya dan menerapkan apa yang diberikan oleh guru sekolah “Guru Waktra” dan kedua orang tua “Guru Rupaka”. Dan…. Jangan pernah lupa bahwa dalam ranah kehidupan ini masih ada Tat Twam Asi dan Karma Phala. ***

Buruh, Kelompok Terlupakan di Pilkada Bali

BALIPORTALNEWS.COM – Tahun 2018 , masyarakat indonesia akan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Serentak di 171 daerah diantaranya 17 Provinsi, 39 kota dan 1115 Kabupaten se-Indonesia, termasuk salah satu diantaranya Provinsi Bali.

Para pasangan calon (paslon) kepala daerah berlomba-lomba menawarkan program kepada masyarakat untuk dapat terpilih sebagai kepala daerah. Namun agaknya ada bagian kelompok masyarakat yang saya lihat belum masuk menjadi bagian dari agenda program mereka. Kelompok yang terlupakan tersebut adalah para buruh di bali.

Dalam suasana peringatan may day ini, sangat sedih melihat buruh masih menjadi bagian kelompok yang terlupakan partisipasinya di dalam pilkada.

Partisipasi politik untuk kelompok buruh di dalam pilkada untuk sekarang ini agaknya masih di pandang secara sempit oleh para paslon kepala daerah. Kelompok buruh hanya dilihat sebgai bagian yang ditempatkan tidak lebih hanya ikut mencoblos tanda gambar partai ataupun foto wajah paslon yang tidak lebih dari 5 menit didalam TPS, untuk 5 tahun.

Namun dalam memperoleh ruang bagi buruh untuk terlibat memberikan suatu tawaran program dan debat isu masalah perburuhan kepada para paslon tidak pernah ada. Hal ini dapat kita lihat dalam kegiatan-kegiatan kampanye atau debat paslon yang tidak pernah mengundang kelompok buruh dalam hal ini adalah seluruh serikat buruh yang ada di Bali untuk bisa berada disana, padahal kita tahu buruh di bali merupakan bagian yang sangatlah vital sebagai penggerak roda ekonomi di bali.

Berbicara Isu-isu masalah perburuhan dan kesejahteraan buruh, sebenarnya sangatlah apik untuk di bahas baik dari sudut pandang hak asasi manusia di sisi Sipil Politik (HAM SIPOL) maupun Ekonomi Sosial Budaya (HAM EKOSOB). Dari sudut pandang HAM SIPOL, masalah perburuhan dapat dilihat dari bagaimana masyarakat bali memperoleh pekerjaan, perlindungan pada saat buruh bekerja, dan juga berserikat.

Sempitnya lahan pekerjaan bagi warga bali disertai mudahnya tenaga kerja asing bekerja dan kurangnya perlindungan tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri maupun buruh dalam negeri yang masih sampai saat ini bekerja dengan status hubungan kerja yang tidak manusiawi merupakan masalah yang tidak bisa di sepelekan.

Sedangkan dari sudut pandang HAM EKOSOB, masalah perburuhan sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan buruh. Ketika buruh bekerja tentu tujuannya adalah memperoleh upah untuk kesejahteraan diri sendiri dan keluarga. Upah yang di dapat ataupun upah yang nanti di habiskan untuk memenuhi  kebutuhan hidup bagi buruh tidak lepas dari adanya kebijakan para paslon yang akan terpilih. Jangan sampai, dengan kelompok buruh tidak terlibat menawarkan program kepada para paslon tersebut, kaum buruh mendapatkan kebijakan yang berdampak pada pengurangan kesejahteraan mereka seperti kebijakan upah murah, kebijakan kenaikan biaya kesehatan dan biaya pendidikan, atau kebijakan mahalnya barang kebutuhan pokok yang kesemuanya itu berimbas pada penurunan angka daya beli masyarakat di daerah bali.

Dengan demikian, kelompok buruh sebagai penggerak roda ekonomi di bali tidak bisa dipandang sebelah mata oleh para paslon di pilkada bali ini dan sekiranya mereka dapat dilibatkan dalam menyusun program yang mewakili suara buruh dan menjadikan program mereka sebagai bagian dari program utama para paslon kepala daerah.

 

Oleh :

Made Wipra Pratistita, SH

Direktur Lembaga Advokasi Buruh Bali

Cerdas Menanggapi Hoax

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pesatnya kemajuan teknlogi informasi dalam penyampaian berita, membuat berita dengan mudah tersebar luas secara cepat. Hanya cukup hitungan detik sebuah informasi akan tersebar luas melampaui batasan samudra hingga negara. Ironinya, di negara kita pesatnya kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan tingginya budaya membaca.

Negara yang pluralisme dan rendahnya minat baca menyebabkan masyarakat kita mudah menjadi korban berita hoax. Oleh karenanya melembagakan budaya membaca salah satu alternatif bagi kita untuk menangkal berita-berita hoax. Karena dengan membaca akan melatih kemampuan sesorang untuk menganalisa sebuah berita.

Semakin banyak buku yang dibaca maka semakin berkembang pula kemampuannya dalam menganalisa sebuah berita. Tentunya kemampuan menganalisa yang baik menjadikan orang bijaksana menanggapi berita sehingga tidak mudah terprovokasi. Lebih dari itu membaca adalah salah satu dinding untuk mencegah kebodohan.

Mudahnya berita beredar di dunia maya terkadang dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak bertangung jawab dengan tujuan-tujuan tertentu. Oleh karenanya kita harus memiliki trik jitu untuk menganalisa kebenaran dari sebuah berita.

Dengan demikian PC KMHDI Denpasar merasa perlu untuk mengadakan diskusi publik tentang bagaimana kita sebagai generasi muda agar lebih bijak dalam menanggapi berita Hoax tersebut, Sebagai Realisasi dari kegiatan tersebut, Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2017 yang bertepatan dengan hari peringatan Sumpah Pemuda, PC KMHDI Denpasar Mengadakan Diskusi Publik dengan tema “Cerdas Menanggapi Hoax”.

Narasumber dari kegiatan tersebut ialah I Kadek Nurbawa, SE yang merupakan Demisioner KPID Provinsi Bali dan Made Iwan Darmawan adalah seorang penulis yang di moderatori oleh I Wayan Darmayasa Kabid Litbang PC KMHDI Denpasar.

Selain itu kedua narasumber itu merupakan alumni dari KMHDI. Peserta dari kegiatan tersebut berjumlah 15 orang yang berasal dari kader PD KMHDI Bali, PC KMHDI Denpasar dan PC KMHDI Badung.

Made Iwan Darmawan dalam penyampainya menenkankan agar kita selaku kader KMHDI harus bisa dan suka dengan kegiatan menulis karena secara tidak langsung disaat menulis kita akan banyak membaca untuk menambah wawasan.

Selain itu ketika bisa menulis keuntungan lainya adalah kita akan terlihat sama dihadapan siapapun, Kadek Nurbawa selaku narasumber juga menekankan bahwa bukanlah Hoax yang harus diperangi atau dihilangkan,  Kontrol Hoax pada diri sendiri, kita lah sebagai konsumen dari informasi itu harus lebih cerdas dalam menanggapi agar tidak menjadi korban berita Hoax tersebut.

Made Joniarta sebagai ketua panitia acara tersebut juga berharap demikian, berharap agar generasi muda khususnya kader KMHDI dapat lebih cerdas dalam menanggapi berita apapun yang belum tentu kejelasanya, Agar dapat bisa menyaring segala informasi yang masuk dan tidak menjadi korban dari berita Hoax. (humas-kmhdi.denpasar/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Ganyang!!!, Iklan Lowongan Kerja Berbau SARA

BALIPORTALNEWS.COM – Ganyang!!!. Itulah kalimat perlawanan yang harus berkumandang ke pengusaha hotel di Bali yang melakukan tindakan sentimen identitas dengan membawa nama agama serta mengandung sikap diskriminasi terhadap golongan tertentu (SARA) yang kesekiankalinya muncul di Pulau Bali.

Pola penyebaran isu SARA tersebut kesekiankalinya dilakukan dengan menyebar iklan Lowongan Kerja yang menyertakan kalimat menerima karyawan Non Hindu, seperti yang dibuat oleh Management The Rich Prada Hotel Bali dalam situsnya menuliskan kalimat The Rich Prada Hotel Bali is a 5 star hotel located in Pecatu Graha Urgently we are hiring potential and high motivated candidat for position : Housekeeping Supervisor (Non Hindu) room attendant (Daily Worker) Requirement : 1. Good Command of English Both Written & Spoken, 2. Associate or Diploma Degree. 

Iklan lowongan kerja berbau SARA merupakan informasi yang benar-benar menganggu nilai kerukunan dan hal ini perlu di Ganyang. Sebab, informasi tersebut adalah salah satu upaya untuk memecahbelah antarsuku dan agama di Bali yang sudah akur berpuluh-puluh tahun yang lalu hingga sekarang melalui nilai Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Namun masalah ini kembali terulang lagi, seakan-akan mereka yang menebar SARA ini memamerkan kembali kekuatannya di Negara Pancasila. Walaupun ada yang mencoba mengoyahkan kerukunan bangsa Indonesia di Bali dengan menebar iklan lowongan kerja berbau SARA, namun sampai kapanpun Bali dan Indonesia akan bersatu merajut beragam suku dan agama yang telah dikagumi dunia internasional.

Diluar dari nilai kerukunan, iklan lowongan kerja dari Management The Rich Prada Hotel Bali yang berbau SARA itu telah melanggar peraturan Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pada BAB III, Pasal 5 yang telah mengamanatkan setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan, dan Pasal 6 yang menyebutkan setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Atas masalah ini, mungkin orang yang menyebarkan lowongan kerja SARA ini adalah orang yang tidak paham peraturan.

Kedepan, secara politik pemerintah harus memberikan ketegasan kepada perusahaan hotel yang melakukan diskriminasi terhadap tenaga kerja, lain dari pada itu Dinas terkait yang mengeluarkan perizinan terhadap perusahaan hotel harus rajin-rajin melakukan pengawasan untuk memastikan warga lokal Bali memperoleh pekerjaan di tanah Bali. Hal ini penting, karena persoalan kesejahteraan masyarakat selain menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga menjadi tanggungjawab perusahaan hotel untuk menciptakan iklim investasi yang sehat dengan menjalankan tanggungjawab sosialnya, tanpa menimbulkan kesenjangan sosial.

Disisi lain, dari timbulnya masalah tersebut ada sebuah pertanyaan besar, kenapa The Rich Prada Hotel Bali yang berdiri di tanah Bali sangat berani mencantumkan lowongan pekerjaan untuk mengaet karyawan Non Hindu. Apakah umat Hindu di Bali tidak bisa bekerja di hotel atau skill-nya yang kurang. Atau mungkin, Management The Rich Prada Hotel Bali ketakutan dengan adanya banyak libur yang dilakukan masyarakat Bali, khususnya yang beragama Hindu akibat aktivitas kebudayaan dan adat istiadatnya.

Kalaupun demikian hal ini perlu diluruskan bersama, karena sebagian besar generasi muda Bali yang beragama Hindu jangan diragukan lagi skill-nya untuk bekerja di hotel, dimana mereka sudah menempa ilmu pengetahuannya di perguruan tinggi negeri/swasta di Bali yang memiliki mata kuliah perhotelan atau pariwisata dengan harapan setelah kuliah bisa diterima di perhotelan untuk bekerja. Apalagi pariwisata di Bali sudah merupakan lokomotif pembangunan perekonomian masyarakat Bali, karena sebagian besar masyarakat Bali mengantungkan hidupnya kepada pariwisata termasuk perhotelan.

Kemudian, seandainya ada anggapan masyarakat Bali yang beragama Hindu itu banyak libur karena aktivitas kebudayaan dan adat istiadatnya, maka management hotel tersebut harus memahami Desa Kala Patra (Tempat, Waktu, dan Keadaan) Pulau Bali yang masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari kegiatan budaya dan adat istiadat, hingga  mampu menjadi daya tarik wisatawan.(ptr/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
5PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
15PelangganBerlangganan