Merespons Kebutuhan Global, Unpad Buka Program Studi Bisnis Digital dan Aktuaria

BALIPORTALNEWS.COM –  Pada tahun akademik 2018/2019 mendatang, Universitas Padjadjaran akan membuka dua program studi (prodi) baru pada jenjang Sarjana, yaitu Bisnis Digital pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Aktuaria pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Dua prodi ini dibuka untuk menjawab tantangan menghadapi perubahan global saat ini. Sesuai dengan amanat Presiden RI Joko Widodo dalam Dies Natalis ke-60 Unpad, disebutkan bahwa perguruan tinggi, termasuk Unpad, didorong untuk membuka program studi yang tidak konservatif.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad saat menggelar jumpa pers dengan para wartawan, Kamis (8/2/2018) sore mengatakan, dibukanya prodi Bisnis Digital dan Aktuaria juga merupakan respons kebutuhan global terkait tantangan revolusi industri ke-4.

“Ini merespons kebutuhan global ‘zaman now’,” ujar Rektor.

Prodi Bisnis Digital memiliki kekuatan pada pembelajaran bisnis dengan menggunakan teknologi digital. Prodi ini dikembangkan untuk mempersiapkan sumber daya manusia di bidang penguasaan start up digital, market place, big data, hingga artificial intelligence.

Lebih lanjut Rektor mengatakan, bagi Unpad, pengembangan prodi ini dilakukan sebagai implementasi teknologi digital perguruan tinggi.

Para pengajar disiapkan tidak hanya dari FEB, tetapi juga lintas sektor keilmuan, seperti dari Fakultas Hukum terkait bidang implementasi Undang-undang ITE, Fakultas Ilmu Komunikasi, hingga dari prodi Teknik Informatika. Unpad juga akan memperluas kerja sama dengan praktisi bisnis yang sudah bergerak di bidang bisnis digital.

Untuk tahun akademik 2018/2019, prodi bisnis digital pertama di Indonesia ini dibuka dengan daya tampung 40 mahasiswa. Pendaftaran untuk prodi ini dibuka melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Sementara untuk prodi Aktuaria, Rektor menjelaskan, prodi ini dibuka dalam rangka pemenuhan tenaga aktuaris di Indonesia. Tenaga ini dibutuhkan salah satunya untuk menghitung risiko dalam aktivitas bisnis, terutama di bidang asuransi.

“Tenaga Aktuaris belum banyak, padahal menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, Aktuaris ini sangat dibutuhkan,” jelas Rektor.

Prodi Aktuaria dibuka dengan daya tampung 50 mahasiswa. Seperti prodi Bisnis Digital, pendaftaran prodi dibuka melalui jalur SBMPTN. (humas-unpad/bpn)

Prof. Yetti Herdiyati Sumantadireja, “Karies Gigi pada Balita di Indonesia Masih Tinggi”

BALIPORTALNEWS.COM – Karies gigi pada balita masih menjadi permasalahan dental tertinggi di Indonesia. Angka prevalensi karies pada anak balita di Indonesia berada di angka 90,05%. Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB juga menyebut, Indonesia memiliki prevalensi Early Childhood Caries (ECC) tertinggi pada anak usia 3-5 tahun.

Demikian disampaikan Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Prof. Dr. Yetty Herdiyati  Sumantadiredja, drg., Sp.Ped(K), saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka pelantikan dan pengukuhan sebagai guru besar oleh Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (8/2/2018) pagi.

Orasi ilmiah yang dibacakan Prof. Yetti itu berjudul “Peranan Gen gtf B/C yang Mengekspresikan Enzim Glukosiltransferase Streptococcus Mutans pada ECC untuk Menuju Anak Indonesia Sehat”.

Prof. Yetty memaparkan, ECC atau karies gigi pada balita disebabkan empat faktor utama, yaitu gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu. Jika dikaitkan, penyebab karies ini didasarkan adanya hubungan yang tidak seimbang antara daya tahan gigi dan faktor kariogenik, yaitu gigi yang kuat akan lebih tahan terhadap serangan karies dibandingkan gigi yang rentan.

ECC ini awalnya ditandai adanya gambaran titik putih (white spot) pada gigi insisif sulung rahang atas sepanjang margin gingiva atau bagian tepi gusi yang menyelimuti gigi. Gambaran ini terlihat pada usia satu tahun yang diikuti kerusakan pada inisisif lateral gigi.

Apabila gejala ini tidak diintervensi, menjelang usia dua tahun karies dalam berlanjut hingga merusak seluruh mahkota gigi insisif sentral rahang atas dan diikuti kerusakan pada molar satu rahang bawah. Jika masih tetap dibiarkan, pada usia tiga dan empat tahun, karies ini dapat berlanjut mengenai gigi molar kedua rahang bawah.

Puncaknya, ketika di usia lima tahun, seluruh gigi sulung, kecuali kaninus sulung, seluruhnya telah terkena karies.

“Penyebab ECC dikarakteristikkan adanya kolonisasi awal Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Ini merupakan bakteri komensal dalam rongga mulut dan berperan penting dalam pembentukan karies,” jelas Prof. Yetty.

Lebih lanjut dijelaskan, Streptococcus mutans memiliki 4 enzim glukosiltransferase (GTF), yaitu GTF A hingga GTF D. Dari empat enzim tersebut, enzim GTF B dan GTF C yang dapat menyebabkan terbentuknya karies. Pengeluaran enzim GTF ini dikode oleh Gen gtf B dan gtf C yang mampu menghasilkan glukan tidak larut.

Penanganan ECC tidak bisa hanya melibatkan anak dan dokter gigi saja. Peran orang tua, pengasuh, dan pemerintah juga penting dilibatkan dalam penanganan tersebut. Sebab, pencegahan ECC mengutamakan pada promosi tingkah laku dalam merawat gigi, seperti menyikat gigi, keterjangkauan fluoride atau senyawa dalam pasta gigi yang berfungsi menyehatkan gigi, hingga kebiasaan pola makan sehat.

Guru besar yang lahir Bandung, 16 April 1953 tersebut mengatakan, orang tua perlu mendampingi anak dalam menyikat gigi. Penggunaan pasta gigi ber-fluoride minimal dua hari sekali dilakukan sesegera mungkin jika gigi sulung anak mengalami erupsi. Proses ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya ECC.

Selain itu, pencegahan ECC juga dilakukan melalui pendekatan pola makan anak. Prof. Yetti mengatakan, kontrol terhadap makanan yang dapat menyebabkan karies perlu dilakukan dari usia 12 bulan dan terus dijaga selama masa anak-anak. Orang tua juga perlu melatih bayi untuk menghentikan kebiasaan minum susu dalam botol antara usia 12 – 16 bulan, dan mulai membiasakan minum dari gelas. (humas-unpad/bpn)

CfDS UGM Masuk Daftar Nominasi WSIS Prize 2018

BALIPORTALNEWS.COM – Center for Digital Society (CfDS) FISIPOL UGM masuk dalam daftar penerima nominasi World Summit on Information Society (WSIS) Prize 2018.

WSIS Prize 2018 merupakan anugerah tahunan yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU) yakni salah satu badan yang bernaung di bawah kendali PBB. Acara penganugerahan yang dilakukan sejak tahun 2012 ini bertujuan untuk mengapresiasi para individu, LSM, organisasi regional/nasional/internasional, badan swasta dan institusi pemerintahan yang telah berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat berbasis pendekatan pemanfaatan TIK untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDG) pada tahun 2030 kelak.

Pada kompetisi di tahun 2018 ini, CfDS bersama berhasil terpilih sebegai salah satu penerima nominasi WSIS Prize 2018 dalam 18 kategori  bersama dengan 16 inisiatif lainnya dari Indonesia.

“CfDS UGM masuk dalam penerima nominasi kategori 1 yaitu kategori “the role of government and all stakeholders”,” jelas Project Officer – Partnership and External Affairs CfDS,  Fahreza Daniswara, Kamis (8/2/2018) di UGM.

Membawa inisiatif berjudul “Knowledge Building toward Indonesian Digital Society”. Hal tersebut sejalan dengan misi CfDS sebagai pusat studi di UGM yang memiliki fokus utama untuk membangun masyarakat digital di Indonesia melalui berbagai macam kegiatan seperti penelitian, pelatihan, seminar serta acara publik.

Fahreza menyebutkan saat ini proses penganugerahan WSIS Prize 2018 tengah memasuki masa pemilihan secara terbuka bagi publik  yang dibuka hingga tanggal 18 Februari 2018. Oleh sebab itu, dia memohon dukungan dari masyarakat Indonesia dengan memilih CfDS meriah penghargaan WSIS Prise 2018. Pemberian vote dapat dilakukan dengan mengunjungi link bit.ly/voteforcfds.

“Kami mengharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia dengan turut memberikan vote sekaligus memperbesar peluang CfDS UGM dan inisiasi lain dari Indonesia agar dapat mengharumkan nama Indonesia di penghargaan WSIS Prize 2018,” paparnya. (ika/humas-ugm/bpn)

Sekolah Vokasi UGM Kirim Mahasiswa ke Korea Selatan

BALIPORTALNEWS.COM – Sekolah Vokasi (SV) UGM mengirimkan 10 mahasiswanya untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa di Korea Selatan.

Kesepuluh mahasiswa tersebut teridri dari 8 mahasiswa prodi D3 Bahasa Korea dan 2 mahasiswa prodi D3 Bahasa Inggris. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar di Gangneung Wonju National University, Kyungnam University, dan Kangwon University.

“Empat mahasiswa akan belajar di Gangneung Wonju National University, dua di Kyungnam University, dan empat di Kangwon University,” jelas Kepala prodi Bahasa Korea, Supriadianto, S.S., M.A., Kamis (8/2/2018)

Adi mengatakan dalam program pertukaran mahasiswa ini, kesepuluh mahasiswa SV UGM akan belajar antar 6 bulan hingga 1 tahun. Dalam program ini beberapa mahasiswa mendapatkan beasiswa secara penuh dan mendapatkan bantuan biaya pendidikan, bantuan biaya hidup di Korea, tiket pesawat pp, dan asrama. Sementara beberapa lainnya hanya menerima bantuan biaya pendidikan saja.

“Melalui program pertukaran mahasiswa ini mereka juga bisa belajar budaya Korea dan juga ajang mengasah komunikasi, kepemimpinan dan membangun jejaring internasional,” jelas Adi.

Menurut rencana delegasi dari SV UGM dijadwalkan berangkat menuju Korea Selatan pada 28 Februari mendatang. Sebelumnya, mahasiswa telah dilepas secara langsung oleh Dekan SV UGM, Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., didampingi Kepala Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB) Dr. Endang Soelistiyowati, M.Pd. , Kepala Program Studi Bahasa Korea Supriadianto, S.S, M.A., serta Manager KUI Andri Handayani, S.S., M.A pada 19 Januari 2017 lalu. (ika/humas-ugm/bpn)

Mahasiswa KKN UGM Beri Pelatihan Pengembangan Teh Bunga Krisan

BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa KKN PPM UGM mendorong pemanfaatan  bunga krisan dan mawar yang banyak dibudidayakan petani di Desa Sidomulyo, Kota Batu, Malang menjadi produk teh yang bernilai ekonomis.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengadakan sosialisasi pembuatan teh bunga krisan dan bunga mawar bagi Kelompok Tani Krisan Mulyo Joyo. Para mahasiswa yang tergabung dalam KKN PPM UGM JTM 16 memberikan penyuluhan terkait proses pembuatan dan pengolahan krisan dan mawar menjadi teh.

Tim KKN PPM UGM ini beranggotakan mahasiswa interdisipliner yaitu Jonathan Kent (Fakultas Teknik), Andini Nursetiani (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Reinaldo Salim (Fakultas Teknik, dan Tamara Adys (FISIPOL). Mereka menjalani KKN sejak tanggal 23 Desember 2017 hingga 9 Februari 2018 dengan dosen pembimbing lapangan Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc.

Andini mengatakan dalam acara ini juga disampaikan pemaparan tentang pemilihan dan pemerikan bunga, proses pembuatan teh, pengembangan desain kemasan.

“Kita juga sampaikan analisis biaya pembuatan teh krisan dan teh mawar,”tuturnya, dalam rilis yang dikirim Kamis (8/2/2018).

Kegiatan tersebut mendapatkan apresiasi positif dari petani bunga di Sidomulyo. Mereka terlihat cukup antusias mengikuti sosialisasi tersebut dan berdiskusi terkait penegmbangan produk.

“Harapannya dari kegiatan ini, para petani dapat memanfaatkan potensi bunga krisan dan mawar menjadi produk olahan yang bernilai jual tinggi serta menjadi minuman khas Desa Sidomulyo,” pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)

Siapkah Indonesia Tingkatkan Energi Baru dan Terbarukan?

BALIPORTALNEWS.COM – Sebagian besar negara di dunia sepakat mengembangkan energi baru dan terbarukan sebagai upaya mengurangi pemanasan global melalui penandatangan Perjanjian Paris terkait perubahan iklim, 2016 lalu. Indonesia, sebagai salah satu negara yang menandatangani perjanjian tersebut, sudah siapkah mengembangkan energi baru dan terbarukan?

Mantan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji mengatakan, Indonesia kaya dengan potensi energi baru dan terbarukan. Potensi ini perlu didukung dengan komitmen Pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan.

Saat menjadi pembicara dalam seminar “Climate Change and the Development of Renewables and Industries: From Strategy to Policy” yang digelar SDGs Center Universitas Padjadjaran, di gedung Unpad Training Center, Jalan Ir. H. Djuanda No. 4, Bandung, Selasa (6/2/2018),  Nur menyampaikan data mengenai pemanfaatan energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Ia memaparkan, penggunaan energi baru dan terbarukan di bidang transportasi, kelistrikan, maupun industri pada 2015 masih sebatas 10%. Sementara, pemanfaatan energi minyak masih berada di kisaran 34%, batu bara 32%, dan gas 24%. Dibandingkan dengan China yang konsisten dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan, Indonesia masih tertinggal jauh.

Pada capaian 2016, persentase pemanfaatan energi air, angin, dan surya sudah berada di atas 30%. Sementara pemanfaatan energi batu bara masih di angka 58%. Namun, China berkomitmen bahwa pengembangan energi tersebut akan terus ditingkatkan hingga lebih dari 60% pada 2040.

“Kita punya energi baru yang bisa dimanfaatkan, diantaranya energi surya, angin, dan laut,” kata Nur.

Konsultan dalam industri penyediaan tenaga listrik ini menjelaskan, Indonesia perlu belajar dari komitmen China dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan. Di sisi lain, ada keunikan dari potensi yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah memiliki karakteristik potensi tersendiri.

Untuk itu, ia mendorong Pemerintah memetakan potensi energi baru dan terbarukan. Ia menilai, energi surya potensial dikembangkan di wilayah Kupang sebesar 5 Megawatt dan Gorontalo sebesar 2 Megawatt. Sementara untuk energi angin, pantai selatan Jawa, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara merupakan wilayah yang layak dikembangkan.

Dari segi investasi, Pemerintah juga harus konsisten dalam memfasilitasi investasi swasta terhadap pengembangan energi baru dan terbarukan.

Peneliti dari Department of Geography and Resource Management The Chinese University of Hongkong, Xu Yuan mengatakan, meningkatnya emisi karbon dioksida (CO2) di China mendorong dilakukan perubahan. Secara bertahap, China terus mengembangkan energi baru dan terbarukan. Hingga saat ini, China berhasil menjadi negara dengan pengembangan industri listrik berbasis angin dan surya terbesar di dunia.

Ini didukung dengan komitmen Pemerintah melalui kebijakan yang merespons pada perubahan iklim. Melalui strategi “Giant Panda”, China mengintegrasikan isu perubahan iklim ini terhadap transformasi ekonomi, ketahanan energi, dan perlindungan terhadap lingkungan. (humas-unpad/bpn)

UGM-KAGAMA Bangun Hunian Tetap Korban Banjir dan Longsor di Pacitan

BALIPORTALNEWS.COM – Tim Galanggo UGM bersama Kagama membantu pembangunan hunian tetap bagi penduduk korban  banjir dan tanah longsor di Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Hal tersebut ditandai dengan groundbreaking bantuan hunian tetap bagi penduduk korban banjir dan tanah longsor pada hari Jum’at, (2/1/2018) lalu di Desa Tinatar. Hadir dalam kegiatan tersebut tim Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Kagama dan tim Galanggo UGM yang merupakan start-up bergerak pada kegiatan filantropi dan kerelawanan di bawah naungan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM.

Acara ground breaking diawali dengan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan hunian tetap bagi warga korban banjir dan tanah longsor di Desa Tinatar. Pembangunan hunian tetap dilakukan diatas tanah milik Sabarin, salah satu warga setempat untuk dibangun dua unit rumah bagi dua kepala keluarga korban tanah longsor.

Kepala Desa Tinatar, Himo Wahyudi menyampaikan ucapan terima kasih kepada UGM dan Kagama yang telah memberi perhatian dengan membantu warga yang terdampak bencana di Pacitan. Bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi para penduduk korban bencana.

Usai groundberaking tim Galanggo UGM dan tim PP Kagama melanjutkan perjalanan menuju Rumah Dinas Bupati Pacitan, Indarto. Pada kesempatan itu, Indarto meminta bantuan UGM untuk melakukan studi kelayakan terhadap sejumlah bangunan layanan publik, khususnya sekolah dasar yang terdampak banjir.

Tidak hanya itu, Indarto juga menyampaikan wacana pengembangan peternakan sapi bagi warga di Pacitan. Oleh sebab itu dia berharap nantinya UGM dapat membantu dalam melakukan kajian terhadap daerah yang cocok untuk pengembangan peternakan.

Sementara Wakil Sekjen Bidang pengabdian Masyarakat dan Penguatan Budaya PP Kagama, Dr. Ahmad Agus Setiawan dalam kunjungan tersebut menyampaikan pihaknya akan mengusulkan kepada UGM agar kedepan dapat mengirimkan mahasiswa KKN di daerah Pacitan, terutama di daerah-daerah yang terkena bencana alam beberapa waktu lalu. (ika/humas-ugm/bpn)

Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional di Thailand

BALIPORTALNEWS.COM – Tim mahasiswa UGM berhasil meraih penghargaan dalam Thailand Inventor’s Day pada 2-6 Februari 2016 di Thailand.

Dalam ajang “Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition” tersebut, tim UGM mendapatkan medali emas dan special award  dari Polandia.

Tim mahasiswa UGM yang beranggotakan Sahala Wahyu Wardana dan Ema Nur Afifah dari Fakultas MIPA dan Kharirotul Suhaila dan Rasyidin Caniago dari Fakultas Pertanian sukses memperoleh penghargaan dengan mengembangkan platform kolamkita.com.

Kolamkita.com merupakan sebuah platform yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi moderen aquaculture untuk meningkatkan produksi di sektor budidaya ikan air tawar di Indonesia. Memiliki tiga layanan utama yaitu menyediakan infromasi budidaya ikan yang valid dan terkini, menyediakan kebutuhan dan paket bududaya ikan, serta menyediakan jasa pemasaran ikan pasca panen.

Sahala mengatakan pengembangan kolamkita.com berawal dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan budidaya ikan di masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang berkeinginan untuk melakukan budidaya ikan, tetapi masih mengalami kebingungan karena minimnya pengetahuan budidaya ikan.

“Selain itu juga masih ada persoalan terkait lahan budidaya dan penjualan pasca panen,” jelasnya saat dihubungi masih berada di Thailand, Rabu (7/2/2018).

Kenyataan tersebut menggerakkan Sahala dan ketiga rekannya untuk mengembangkan sebuah platform yang dapat menjawab berbagai persoalan budidaya perikanan dalam satu wadah.

“Jadi dalam platform ini kita menyediakan seluruh kebutuhan budidaya ikan mulai dari infromasi budidaya, konstruksi kolam, benih ikan, pakan, hingga market untuk  menjual produk hasil budidaya,” urainya.

Sahala menyebutkan kolamkita.com saat in masih berada dalam tahap pengembangan. Rencananya platform ini akan segera dirilis pada pertengahan tahun 2018. (ika/humas-ugm/bpn)

Wabah Difteri: Kekebalan Tubuh Rendah, Dilema Antivaksin, dan Isu Sekuritisasi

BALIPORTALNEWS.COM, JATINANGOR – Provinsi Jawa Barat menduduki provinsi kedua dengan kasus penderita difteri terbanyak di Indonesia, menyusul Jawa Timur di posisi pertama. Ini pula yang menjadikan angka penderita difteri di Indonesia meningkat dalam dua tahun terakhir.

Buruknya, penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok usia anak-anak, namun juga menyerang usia remaja dan orang tua. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Alex Chairul Fatah, dr., Sp.A(K), rentannya usia dewasa terserang difteri disebabkan meningkatnya jumlah populasi dewasa dengan kekebalan tubuh yang lemah.

“Ini dapat mengancam kehidupan. Apabila tidak diobati dan penderita tidak mempunyai kekebalan, angka kematiannya akan mencapai 50%. Bila diobati akan turun 10%,” ujar Prof. Alex saat menjadi pembicara dalam diskusi “Mengupas Tuntas Waspada Difteri” yang digelar Dewan Profesor Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Eijkman No. 38, Bandung, Senin (5/2/2018).

Selain Prof. Alex, turut hadir sebagai pembicara Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Dr. Kusnadi Rusmil, dr., Sp.A(K), Guru Besar FMIPA Unpad Prof. Dr. Toto Subroto, M.S., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Adhiatma Y.M. Siregar, PhD, dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad Prof. Dr. Obsatar Sinaga, M.Si.

Sebelumnya, difteri rentan menular ke anak-anak. Namun, melihat data penderita difteri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, ditemukan penderita berusia 71 tahun. Sementara di Surabaya, saat ditemukan kasus difteri pada usia dewasa, para tenaga medis sempat menduga bahwa penyakit tersebut bukanlah difteri.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia ditemukan adanya kasus difteri. Rata-rata, kasus ini menyerang kelompok usia 4 – 8 tahun dan kelompok usia 15 tahun ke atas. Prof. Alex ini menilai, perubahan paradigma masyarakat yang menolak vaksin menjadi penyebab tingginya penyebaran difteri pada orang dewasa.

Beberapa faktor lainnya yaitu perubahan jadwal imunisasi pada kelompok usia tertentu dan masih buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia.

Prof. Kusnadi membenarkan pendapat Prof. Alex. Ia mengatakan, pola imunisasi ulangan (booster) tidak banyak dilakukan di Indonesia.

Rendahnya pola imunisasi ini menjadikan kekebalan imunitas (herd immunity) masyarakat Indonesia rendah. Dalam beberapa lama, berbagai macam penyakit akan dengan mudah menyerang populasi dengan kekebalan yang rendah dan menularkan kembali kepada yang lainnya.

Dalam kasus difteri saja, satu penderita berisiko menularkan difteri kepada 6 – 7 orang. Jika kekebalan tiap orang rendah, wabah ini berisiko menularkan ke sejumlah orang lainnya. Satu orang akan kebal terhadap difteri jika kekebalan imunitasnya di atas 85%.

Untuk itu, Prof. Kusnadi mendorong pihak terkait melakukan imunisasi massal. Imunisasi ulangan penting dilakukan terutama bagi kelompok usia prasekolah, remaja, hingga kelompok lanjut usia. Saat ini, pola imunisasi lengkap masih pada kelompok usia 0 – 1 tahun, 2 tahun, dan usia sekolah.

“Kita belum ada imunisasi untuk remaja, kita harapkan Dinas Kesehatan mulai menganjurkan imunisasi remaja. Pada lansia, imunisasi juga dilakukan untuk mengurangi morbiditas,” ujar Prof. Kusnadi.

Pemerintah juga harus merespons cepat terhadap penyebaran wabah difteri. Prof. Kusnadi mengatakan, upaya Outbreaks Response Imun (ORI) seharusnya dilakukan tatkala ditemukan minimal satu penderita difteri. ORI ini merupakan langkah untuk memutus mata rantai penyebaran virus. (humas-unpad/bpn)