Masyarakat Lampung Rindu Dang Gusti Ike Edwin

BALIPORTALNEWS.COM – Bagi warga Lampung, Irjen Pol. Dr. Drs. Ike Edwin, MH, MM., yang kini menjabat sebagai staf ahli Kapolri, adalah sosok yang sangat disegani.

Pria asal Kampung Tanjung Raja Giham, Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Bandar Lampung, selain sebagai perwira tinggi (Pati) di lingkungan Polri, juga merupakan Perdana Menteri Kepaksian Pernong di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak di Provinsi Lampung.

Karena itiu, pria lulusan Akademi Polisi (Akpol) tahun 1985 yang memiliki pengalaman di bidang reserse ini memang jiwanya sudah menyatu dengan masyarakat Lampung.

Dang Gusti Ike Edwin (panggilan akrab Ike Edwin-red) rupanya masih keturunan berdarah biru putra asli dari daerah Provinsi Lampung, cucu dari almarhum H. Suhaimi bergelar raja, Haji Bupati Pangeran Suhaimi. Tak salah pria kelahiran Jakarta, 11 Desember 1961 ini secara langsung menerima tongkat kepemimpinan dari sang kakek dengan Raja Lampung bergelar Gusti Batin Raja Mangkunegara.

Gelar raja yang disandangnya merupakan tantangan berat baginya. Sebab, kemana pun beliau bertugas dalam menjalankan kewajiban dari negara yang diembannya sebagai perwira tinggi Polri sekaligus menjadi duta budaya daerah Lampung selalu menjaga marwahnya. Bahkan, ketika sudah menjadi perwira tinggi, Dang Ike Edwin tetap tidak pernah berubah dekat dengan masyarakat bahkan tanpa jarak.

Ternyata mantan Kapolda Lampung ini, setiap hari libur dan ada kesempatan selalu tidak lupa memandikan ibunya. Dan hal itupun, selalu disaksikan oleh anak-anaknya sebagai contoh bakti anak terhadap orang tua yang telah melahirkan, menjaga, membesarkan, mendidik dan sebagai kunci kesuksesan dalam menjalani hidup di dunia dan di akherat juga dengan sesama semua berkat warisan ayahanda tercinta.

Warisan akhlak mulia ayahnya hingga melekat sampai sekarang bahkan ketika mengemban berbagai amanah dan jabatan dari Tuhan. Hal itu juga yang ditularkan kepada anaknya saat Dang Ike menyiapkan waktu setiap hari Sabtu pulang ke Lampung untuk memandikan Ibunda tercinta. “Saya setiap Sabtu pulang untuk memandikan Ibu saya, dan rutin pulang dari tugas sebagai Sahli Kapolri disini saya pulang dan saya mengajak anak saya untuk melihat, saya katakan nih Papa mandikan Nenek, nanti kalau Ayah sudah tua kamu akan merawat Ayah seperti ini atau akan meninggalkan Ayah??” tanya Ike Edwin kepada Anaknya.

Masyarakat Lampung pun merasa bangga dengan sosok Dang Ike Edwin. Bagaimana tidak selain berbakti dengan orang tuanya sebagai prajurit bhayangkara, beliau ketika menjabat Kapolda Lampung dijadikannya kesempatan sebagai ladang ibadah. “Apakah ketika saya menjadi Kapolda saya harus bangga?, saya dibilang hebat?, harus dihormati dan dikawal dan seterusnya?,” ucap Dang Ike Edwin yang sejak kecil bercita-cita menjadi Kapolda Lampung.

Justru jabatan baginya, merupakan amanah dan ibadah yang nantinya akan ditanya pertanggung jawabanya, baik di dunia maupun di akherat ketika dihisab. Apa yang sudah kita lakukan selama kita mendapat amanah dan tanggung jawab selama di dunia. Selama menjabat sebagai komandan, baik ketika menjadi Kapolsek, Kapolres, Wakapolda hingga Kapolda, bukan berarti dirinya tak pernah digoda suap. Namun, beliau tetap berpegang teguh dengan pendirian dan selalu memetingkan masyarakat.

Ketika masih bertugas di Lampung Dang Ike Edwin tak lupa selalu setiap acara – acara resmi memberikan salam “L” yang artinya, Salam Lampung, Salam Berbudaya, Salam Bermartabat, Salam Persatuan, Salam Saling Menghormati, Salam Fiil Feisanggiri, Salam Sang Bumi Hkua Juhkai. Bangga dan kagumnya masyarakat Lampung ketika itu, melihat ditangan Kapolri, Gubernur, Kapolda Lampung dan adik-adik HMI Lampung yang membuat tangan bersimbol “L” yang bertanda cinta kepada bumi dan masyarakat Lampung.

Sangking cintanya beliau kepada masyarakat Lampung Dang Ike Edwin selalu mengajak salam “L” kala bersama pejabat atau selesai mengikuti acara-acara resmi agar semakin banyak yang mengenal simbul “L” sebagai lambang Lampung. Jiwa sosial pun selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. Bahkan, ketika mendengar anaknya berbagi dengan teman-temannya, ayah 2 anak ini bangga karena apa yang diajarkannya kepada anaknya sesuai harapannya.

Sosok Irjen Pol Dr. Drs. Ike Edwin, MH, MM mantan Kapolda Lampung ini selalu didambakan dan dirindukan masyarakat Lampung. Apakah akan ada keajaiban Dang Gusti Ike Edwin kembali lagi hadir untuk mengayomi masyarakat di Lampung atau hanya tinggal kenangan dan kerinduan mengenai sosok seorang Dang Ike Edwin.

Diketahui, sampai sekarang Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Politik ini masih merasa jiwanya adalah bagian dari masyarakat Lampung, sehingga selalu bersilaturahmi dengan warga Lampung ketika ada waktu dan kesempatan. Setiap hari, di Mabes Dang Ike Edwin juga selalu makan siang bersama dengan para stafnya dan bawahannya sebagai kebiasaanya selama ini. (znd/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Konflik Kepentingan Sebabkan Korupsi

BALIPORTALNEWS.COM – Komisioner KPK, Alexander Marwata menyebutkan konflik kepentingan memiliki keterkaitan dengan korupsi. Benturan kepentingan baik pribadi maupun kelompok terhadap kepentingan publik tersebut berpotensi menjadikan sesorang berlaku tidak etis.

“tidak hanya menjadi tidak etis, tetapi juga berpotensi merendahkan integritas pribadi untuk kepentingan keuangan atu kepentingan pribadi lainnya,” jelasnya, Jumat (10/3/2017) di Fakultas Teknik UGM.

Menjadi pembicara dalam kegiatan Kapita Selekta di Departemen Teknik Elektro dan Teknik Informatika (DTETI), Alexander menyampaikan terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab seseorang melakukan korupsi atau pelanggaran terhadap kode etik dan integritas. Faktor utama penyebabnya adalah kebutuhan individual dan kerakusan.

“Penghasilannya tidak mencukupi untuk hidup atau karena ingin hidup mewah,” tegasnya.

Mantan auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ini mengatakan bahwa lingkungan kerja yang tidak mendukung juga bisa mendorong tindakan korupsi. Selain itu adanya dorongan untuk berkuasa menjadi pemimpin dan perilaku serta kebiasaan individu.

“Korupsi bisa juga timbul karena adanya keterpaksaan ataupun paksaan seperti melakukan suap untuk melancarkan usaha,” tuturnya.

Dikatakan Alexander meningkatkan profesionalisme dan integritas merupakan salah satu langkah pencegahan korupsi. Pasalnya, seorang profesional akan memegang teguh kode etik dan integritas. Kode etik ini akan menjadikan profesional memberikan pelayanan sebaik-baiknya ke masyarakat dan masyarakat dapat terlindungi dari tindakan yang tdiak profesional.

Dalam kesempatan itu tidak lupa Alexander menyampaikan pesan kepada mahasiswa untuk menegakkan integritas. Selalu bersikap jujur, disiplin, kerja keras, serta tidak mengambil hak orang lain.

“Kalau sudah tidak jujur ini menghawatirkan karena kalau karakter sudah rusak akan susah untuk diperbaiki,” tandanya. (ika/humas-ugm/bpn)

Unpad Terima Lahan Seluas 30 ha di Desa Cintaratu, Kabupaten Pangandaran

BALIPORTALNEWS.COM – Rencana Pemerintah Kabupaten Pangandaran dalam memberikan sejumlah lahan untuk pembangunan kampus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Unpad-Pangandaran ditanggapi positif. Lahan seluas 30 ha di Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Pangandaran ini secara resmi telah diserahterimakan kepada pihak Kemenristekdikti untuk selanjutnya dikelola penuh oleh Unpad.

Penyerahan tersebut secara resmi dilakukan melalui penandatanganan serangkaian Nota Kesepahaman yang digelar di Kampus sementara PSDKU Unpad-Pangandaran di Desa Cikembulan, Sidamulih, Pangandaran, Senin (12/3/2017) lalu.

Penandatanganan terkait penyelenggaraan PSDKU Unpad-Pangandaran dilakukan langsung Menristekdikti RI Prof. Mohamad Nasir, M.Si., Ak., PhD., CA., dengan Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan, dan Bupati Pangandaran H. Jeje Wiradinata.

Selain Menristekdikti dan Gubernur Jabar, acara penandatangananan ini juga dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nachrawi, Walikota Sukabumi H. Mohamad Muraz, Direktur Utama PT. Bio Farma Drs. Iskandar, Apt., M.M., serta perwakilan pimpinan dan mahasiswa Institut Pertanian Bogor.

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, mengatakan, penyelenggaraan kampus Unpad-Pangandaran telah berjalan satu semester. Ada lima program studi yang dibuka di Pangandaran, yaitu: Perikanan, Peternakan, Keperawatan, Ilmu Komunikasi, dan Administrasi Bisnis. Kelima prodi ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk dibuka sebagai prodi di luar kampus utama, yaitu salah satunya telah meraih akreditasi “A”.

Selain itu, kelima prodi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia terutama di Kabupaten Pangandaran. Ini didasarkan atas rendahnya angka partisipasi kasar (APK) lulusan SMA di Jawa Barat yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Upaya ini pun didukung penuh pihak Pemkab Pangandaran, Pemprov, maupun Kemenristekdikti.

“Prodi yang dikembangkan di PSDKU harus betul-betul yang dibutuhkan masyarakat Pangandaran,” ujar Menristekdikti.

Kerja sama yang dilakukan Unpad dan Pemkab Pangandaran dalam mewujudkan kampus PSDKU di Pangandaran terbilang agresif. Pihak Pemkab responsif dengan memberikan sejumlah lahan untuk digunakan sebagai kampus sementara. Atas konsolidasi lanjutan pasca digunakannya gedung SD di Desa Cikembulan, pihak Pemkab kemudian merekomendasikan lahan seluas 30 ha di Desa Cintaratu untuk dibangun menjadi kampus permanen.

Lebih lanjut Rektor mengatakan, setelah dilakukan survei mendalam dari sisi geologi dan hidrogeologi oleh tim Fakultas Teknik Geologi Unpad, sekitar 20% dari 30 hektar lahan tersebut berpotensi untuk dibangun. Survei ini dilakukan mengingat kawasan Pangandaran merupakan daerah yang rawan gempa.

Gubernur menilai, langkah Pemkab Pangandaran dalam memberikan sejumlah lahan kepada Unpad terbilang unik. Dibandingkan dengan 2 kampus PSDKU ITB di Cirebon dan IPB di Sukabumi yang pengelolaan lahannya dilakukan langsung oleh Pemprov, lahan PSDKU Unpad-Pangandaran langsung ditanggung oleh Pemkab, sehingga proses implementasinya akan semakin cepat.

“Pihak Pangandaran sangat responsif, saking ingin cepatnya membangun kampus di Pangandaran,” kata Gubernur.

Siapkan 30 Miliar

Lebih lanjut Aher, panggilan akrab Ahmad Heryawan, berpendapat, PSDKU memiliki keuntungan di dua sisi. Pertama, PSDKU berperan untuk meningkatkan kesempatan masyarakat Jabar untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Kedua, PSDKU Ini sekaligus berperan dalam mengembangkan wilayah Jawa Barat.

“Pangandaran dipilih karena paling siap dan pengembangan wilayah ke depan sangat mungkin berkembang. Alhamdulillah, gagasannya sudah melebihi apa yang dipikirkan orang,” kata Aher.

Guna mendukung program ini, Pemprov Jabar telah mengalokasi anggaran sebesar Rp 30 miliar/PTN untuk digunakan oleh PTN yang menyelenggarakan PSDKU. Bagi Unpad, dana ini akan digunakan untuk pembangunan gedung perkuliahan di lahan Cintaratu. Ditargetkan, mahasiswa PSDKU Unpad-Pangandaran sudah dapat berkuliah di kampus yang baru.

Lebih lanjut Aher mengatakan, untuk itu setiap perguruan tinggi diharapkan sudah mulai mengajukan Detail Engineering Design (DED) untuk kampus PSDKU. “Silakan buat DED-nya, cari dari program CSR. Anggaran dari Pemrpov bisa diluncurkan untuk pembangunan fisik,” imbuh Aher.

Bahkan, jika PSDKU sudah berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin dapat “disapih” menjadi perguruan tinggi baru. “Jika ini berhasil, ini menjadi tantangan Unpad untuk membuat kampus PSDKU di wilayah Jabar lainnya,” kata Aher.

Rektor pun mengapresiasi komitmen Pemprov Jabar. Dukungan anggaran dari Pemprov ini menjadi penyemangat bagi mahasiswa PSDKU. Ia berpendapat, mahasiswa PSDKU memiliki komitmen yang kuat dan jiwa patriotik sehingga mau berkuliah di sini.

Sementara itu, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata juga berharap PSDKU Unpad-Pangandaran mampu mendongkrak kapasitas SDM di Kabupaten Pangandaran. Selama ini, data APK lulusan SMA di Pangandaran ke Perguruan Tinggi hanya sekitar 8%, jauh di bawah rata-rata nasional. Dengan adanya Unpad di Pangandaran diharapkan mampu meningkatkan persentase APK.

“Diharapkan, anak-anak Pangandaran dapat diberi ruang setengahnya agar bisa diterima di PSDKU Unpad-Pangandaran,” ujar Jeje.

Hadirnya dua Menteri sekaligus di Pangandaran menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jeje.

”Hadirnya Pak Menristekdikti dan Pak Menpora memperjelas bahwa Unpad akan terus berada di Kabupaten Pangandaran,” kata Jeje.

Selain melakukan kerja sama penyelenggaraan PSDKU Unpad-Pangandaran, digelar pula pendatanganan Nota Kesepahaman antara Menristekdikti dengan Menpora terkait peningkatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka mendukung program kepemudaan dan keolahrgaan, Menristekdikti dengan Gubernur Jabar dan Walikota Sukabumi terkait penyelenggaran PSDKU IPB-Sukabumi, serta antara Bupati Pangandaran, Rektor Unpad, dan Direktur PT. Biofarma terkait kerja sama riset untuk pengembangan Biodiversity Cultural Diversity and Geo Diversity sebagai rintisan pengembangan Geopark di Pangandaran.

Kerja sama yang dilakukan Menristekdikti dengan Menpora terkait komitmen Menpora dalam pembangunan Aquatic Stadium di Kampus Jatinangor. Gedung ini akan menjadi pendukung sarana aktivitas kemahasiswaan sekaligus ruang pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa khususnya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad. (humas-unpad/bpn)

Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Antraks

BALIPORTALNEWS.COM – Dalam beberapa waktu terakhir masyarakat di wilayah Yogyakarta diresahkan dengan kabar kasus antraks di Desa purwosari, Kecamatan Girimulyo,Kabupaten Kulon Progo. Penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis ini telah mengakibatkan kematian beberapa ternak warga. Bahkan penyakit ini juga diduga telah menyerang belasan warga setempat.

Ketua Tim Respon Cepat Waspada antraks Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D., menghimbau masyarakat agar tidak panik terhadap penyakit antraks, tetapi tetap perlu waspada.  Pasalnya, seseorang yang terinfeksi bakteri antraks dapat disembuhkan secara medis.

 “Antraks pada manusia dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat,” tegasnya saat konferensi pers di Ruang Fortakgama UGM, Sabtu (21/1/2017).

Selain itu, penularan penyakit ini pun tidak bisa ditularkan manusia ke manusia. Penularan bakteri antraks terjadi saat manusia kontak dengan hewan yang terinfeksi antraks.

Penularan antraks dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan, bangkai atau produk hewan sakit yang terinfeksi antraks.  Adapun hewan yang mudah terinfeksi bakteri antraks adalah pemakan rumput atau herbivora seperti kambing, sapi, gajah, domba, dan kuda.

“Penyakit ini bisa menyerang kulit, saluran cerna, serta saluran pernafasan. Orang yang terinfeksi antraks lalu meninggal dikarenakan bakteri sudah menyerang ke saluran pernafasan dan organ lainnya,” urainya.

Untuk mencegah terkena antraks, Riris menekankan pentingnya untuk menjalai pola hidup bersih dan sehat. Apabila ingin mengkonsumsi daging disarankan membeli daging dari rumah pemotongan hewan yang bersertifikat. Selanjutnya dimasak dengan matang hingga suhu 120 derajad celcius atau benar-benar matang.

Pakar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, dr. Abu Tholib, M.Sc., Ph.D., menyebutkan bahwa kasus antraks di seluruh belahan dunia 99 persen menyerang dikulit. Sementara, hanya 1 persen yang menyerang saluran pernafasan (paru-paru) dan organ penting lainnya hingga mengakibatkan penderita menginggal dunia.

“Sebagian besar, 99 persen menyebabkan kelainan kulit dan itu dapat disembuhkan,”terangnya.

Abu Tholib menyampaikan bahwa manusia yang terkena 8.000 spora bakteri hewan antrak yang terinfeksi dalam waktu 8 jam tidak akan mengalami situasi yang membahayakan. Pasalnya, spora bakteri tersebut secara otomatis akan dinetralisir oleh lendiri yang ada di saluran pernafasan. Manusia bisa terserang apabila dalam satu kali kejadian langsung terpapar di atas 10.000 spora antraks.

“Itu pun hanya dalam satu kali, bukan dari akumulasi. Karena manusia juga punya daya tahan tubuh yang bisa melawan segala bakteri atau virus yang masuk,” urainya.

Adapun gejala antraks yang biasa menyerang kulit di antaranya kulit seperti melepuh. Jika sudah sistemik, maka seseorang tersebut mengalami mual dan demam.

“Manusia yang terkena antraks bisa diobati dengan antibiotik. Obat ini masih cukup efektif untuk mengobati orang yang terkena antraks” terangnya.

Ketua Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas kedokteran Hewan (FKH) UGM, dr. Heru Susetya MP.,Ph.D., menyatakan masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengkonsumsi daging. Daging aman dikonsumsi selama tidak menunjukkan gejala antraks. Antraks pada hewan ditandai dengan demam tinggi, sakit  di bagian pinggang, hewan mati mendadak dengan tanda-tanda keluar darah di seluruh lubang tubuh.

“Jika menemukan tanda-tandai ini segeralah melapor ke Pos Kesehatan Hewan (poskeswan) terdekat,” tegasnya.

Heru juga menghimbau masyarakat untuk tidak menyembelih dan mengkonsumsi hewan ternak sakit yang terinfeksi antraks. Masyarakat dapat menghubungi poskeswan untuk memastikan bahwa hewan ternak aman dikonsumsi dan bebas dari antraks. Adapun ciri daging yang aman dikonsumsi adalah berwarna merah segar dan tidak berbau anyir.

“Hewan terinfeksi harus segera dikubur. Jangan disembelih karena bakteri jika kontak dengan udara akan membentuk spora yang bisa menular kemana saja,” jelasnya.

Mitigasi Ternak

Sementara itu, untuk meningkatkan kemanan hewan yang dikonsumsi, Dekan Fakultas peternakan UGM, Prof.Dr. Ali Agus menyarankan masyarakat untuk meningkatkan mitigasi perdagangan hewan. Terlebih saat di suatau wilayah terdapat hewan ternak yang dicurigai terinfeksi antraks. Hal tersebut dilakukan dengan melibatkan peran poskeswan untuk lalu lintas kesehatan hewan.

“ lalu lintas hewan ternak di daerah endemis harus segera diputus agar bakteri antraks tidak menyebar ke luar daerah,”tegasnya.

Selain itu juga dengan mengawasi mobilisasi hewan ternak. Menurutnya, pergerakan hewan yang sakit akan menyebabkan penyakit berpindah. Dengan begitu, jika ditemukan hewan yang terkena antraks maka daerah itu ditutup untuk lalu lintas hewan.

“Guna mencegah penyebaran bakteri antraks perlu dilakukan desinfeksi di daerah yang ada hewan terkena antraks. Sedangkan hewan-hewan disekitarnya juga perlu diobati dan divaksin,”paparnya.

Sementara hewan mati sebaiknya segera dimusnahkan sesuai dengan prosedur. Disamping itu barang-barang yang tercemar atau pernah bersentuhan dengan hewan pun harus dimusnahkan.

“Sekali lagi masyarakat tidak perlu terlalu panik, harus tenang dan berfikir jernih serta segera melakukan mitigasi terhadap kasus antraks ini,” katanya. (ika/humas ugm/bpn)

Pancasila Mampu Tangkal Radikalisme

BALIPORTALNEWS.COM – Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr. Arqom Kuswanjono menyebutkan Indonesia saat ini menghadapi empat persoalan serius yang harus segera diselesaikan. Ancaman terbesar yang dihadapi saat ini adalah terkait radikalisme, terorisme, narkoba, dan korupsi.

“Hal ini terjadi akibat Pancasila tidak dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,”katanya, Rabu (26/7/2017) dalam Konferensi internasional “Indonesia Philosophy and Peace of the World” di Fakultas Filsafat UGM.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila dapat menghadapi berbagai tantangan tersebut. Oleh sebab itu penting untuk membangun dan memantapkan kembali ideologi Pancasila di masyarakat. Mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang plural dinilai perlu dilaksanakan, terlebih di tengah terpaan virus anti-Pancasila yang semakin meluas.

Arqom menyampaikan hasil survei Kementrian Agama menunjukkan bahwa Pancasila masih diyakini sebagai ideologi terbaik bangsa.  Tidak hanya itu, banyak negara yang mengapresiasi Pancasila sebagai falsafah ideologi bangsa dan negara Indonesia.

“Hal ini menjadikan optimisme bahwa Indonesia mampu terus berkembang mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.

Sementara Prof.Yang Seung Yoon, dari Hankuk University of Foreign Studies, Korea dalam kesempatan tersebut banyak memaparkan tentang konflik yang terjadi di Semenajung Korea. Permasalahan di Semenanjung Korea tidak hanya menjadi urusan antara dua negara dan bangsa Korea saja. Namun begitu telah menjadi permaslaahan masyarakat internasional, khsuusnya negara anggota sekutu pada masa PD II.

“Karenanya masyarakat internasional tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas kondisi Semenanjung Korea yang masih berlangsung sampai sekarang,”tegasnya.

Yang Seung Yoon mengatakan hampir semua rakyat Korea percaya bahwa reunifikasi dua Korea di Semenanjung Korea pasti dapat diwujudkan. Hal ini tentunya dapat cepat terwujud jika ada dukungan dari masyarakat internasional dalam menghapuskan permasalahan di Semenanjung Korea.

Ketua panitia kegiatan, Prof. Mukhtasar Syamsuddin menyebutkan melalui konferensi internasional  diharapkan dapat muncul sejumlah ide dan strategi dalam upaya membangun perdamaian dunia. Terlebih di tengah situasi saat ini banyak terjadi konflik di masyarakat dunia dan peperangan di beberapa negara-negara dunia.

Konferensi internasional ini disebutkan Mukhtasar merupakan salah satu bagian dari rangkaian peringatan  Lustrum X dan Dies Natalis ke-50 Fakultas FilsafatUGM. Setidaknya terdapat 20 kegiatan dalam peringatan lustrum dan dies pada tahun in. Puncak acara ditandai dengan rapat senat terbuka, laporan dekan, pidato ilmiah, serta bedah buku Filsafat Wayang Sistematis pada 18 Agustus 2017 mendatang. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Anjing Kintamani Jadi Maskot Peringatan Dies Natalis Unud Ke-54

BALIPORTALNEWS.COM – Universitas Udayana (Unud) menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi Anjing Kintamani. Ditengah tantangan berat mempertahankan keberadaan anjing ras asli Bali ini, Unud menetapkan anjing Kintamani sebagai maskot perayaan Dies Natalis Unud ke-54 pada 29 September 2016 mendatang.

“Ada karakteristik khusus yang dimiliki anjing Kintamani yang bisa menginspirasi generasi muda dan masyarakat Bali sehingga anjing Kintamani perlu dilestarikan. Kami memahami anjing Kintamani punya sifat pemberani, cerdas, tangkas dan setia,” kata Panitia Dies Unud ke-54 dari mahasiswa Yandhani Astika Putra, di sela-sela rapat panitia di Kampus Unud Bukit Jimbaran, Jumat (25/8/2016).

Anjing Kintamani, tambah Mahasiswa Fakultas Teknik Unud ini, menjadi lambang kebudayaan dan kebanggaan masyarakat Bali. Karena bicara unud juga bicara Bali, katanya, pemilihan anjing Kintamani sebagai maskot penyelenggaraan dies Unud sangat tepat.

Menurut Astika Putra, terkait perayaan Dies Unud, mahasiswa Unud akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan meliputi seminar nasional kepemudaan, pekan olah raga dan seni (Porseni), serta malam anugerah prestasi. Porseni akan mempertandingkan sejumlah cabang olah raga dan seni seperti sepak bola, catur, basket, bulu tangkis, tenis meja.

Kegiatan seni, lanjutnya, ada defile, dan pentas seni kontemporer serta pemilihan Jegeg Bagus Udayana. “Ada juga kegiatan Lomba Karya Tulis Ilmiah sebagai ciri masyarakat ilmiah,” tegas Astika Putra.

Sementara Ketua Panitia Dies Unud Dr. IGN Alit Susanta, SP., M.Sc., menyambut baik prakarsa mahasiswa Unud atas rencana kegiatan yang perayaan Dies Unud.  “Hal ini wujud dari tema perayaan Dies Unud ke-54 yakni membangun sinergi mewujudkan Unud yang unggul, mandiri, dan berbudaya,” tegasnya.

Dr. Alit Susanta memaparkan, perayaan Dies Unud ini dilaksanakan di empat lokasi berbeda yakni Kampus Unud Bukit Jimbaran, Kampus Unud Jl. PB. Sudirman Denpasar, Kabupaten Jembrana, dan Timor Leste. Jenis kegiatannya, kata Alit Susanta, seminar dan orasi ilmiah, workshop dan penyuluhan, pameran serta acara kekeluargaan.

Secara rinci, Dosen FP Unud ini, memaparkan di Kabupaten Jembrana dilaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tajuk “Abdi Udayana di Jembrana” berupa pembinaan kelompok ternak kambing dan pelatihan pembuatan pupuk kompos, mengadakan pelaihan cara membuat bibit pisang dan budidaya pisang yang sehat.

Kegiatan lain, katanya, berupa operasi katarak, operasi bibir sumbing, dan berbagi informasi tentang pendidikan tinggi dan seminar pembangunan desa sesuai UU No. 6 Tahun 2014. “Antusiasme masyarakat Jembrana, alumni, serta mahasiswa KKN sangat tinggi menunjang kegiatan Dies Natalis di bumi makepung, mudah-mudahan kondisi ini mampu mendekatkan Unud agar lebih dicintai masyarakat Jembrana dan Bali,” tandas Dr. Alit Susanta Wirya.

Ditambahkan, untuk operasi katarak ada 300 pasien yang memeriksakan diri dan delapan orang diantaranya dioperasi, semantara operasi bibir sumbing sebanyak 3 orang. (r/bpn)

Gagasan Ambulans Motor Karya dr. Dani Ferdian Raih Juara Anugerah Prakarsa Jawa Barat 2017

BALIPORTALNEWS.COM – Jika baru-baru ini Pemerintah Kota Bandung merilis Ambulans Motor sebagai integrasi program “Layad Rawat”, Dosen Fakultas Kedokteran Unpad dr. Dani Ferdian, M.KM., merupakan penggagas dari program tersebut. Tidak hanya diaplikasikan, ide Dani ini juga diapresiasi Pemprov Jawa Barat sebagai pemenang Lomba Anugerah Prakarsa Jawa Barat 2017.

“Gagasan yang saya prakarsai ini terkait dengan optimalisasi sistem kegawatdaruratan medis di Kota Bandung,” ujar Dani saat diwawancarai Humas Unpad melalui sambungan telepon, Kamis (24/8/2017).

Dani mengutarakan, angka kegawatdaruratan medis di Kota Bandung saat ini cukup tinggi. Namun, hingga saat ini sistem penanganannya masih belum optimal. Alasan pertama belum optimal adalah masyarakat kurang mengenal adanya Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dengan menelepon ke layanan 119.

Dari sisi layanannya sendiri, fungsi SPGDT belum optimal. Layanan nomor 119 saat ini masih digunakan untuk layanan rujukan. Saat ditanyakan ke pihak terkait, Dani menemukan sistem ini masih terkendala kurangnya sumber daya manusia dan tidak jelasnya standar operasional prosedur saat melakukan tindakan kegawatdaruratan medis.

Alasan kedua, lanjut Dani, saat terjadi insiden kegawatdaruratan medis seperti kecelakaan di jalan raya, masyarakat tidak langsung menelepon ambulans. “Masyarakat lebih memilih untuk memanggil angkot, berhentiin mobil, dan lain sebagainya. Bahkan selanjutnya, ketika mereka harus menolong, mereka tidak berani karena takut berkaitan dengan hukum,” jelasnya.

Keberadaan mobil ambulans rupanya belum mampu menjangkau keseluruhan lapisan masyarakat. Melihat kondisi jalanan Kota Bandung yang sering macet dan banyak didominasi jalanan kecil, respons mobil ambulans untuk bisa memberikan golden time (penanganan medis segera) akan berkurang.

Berangkat dari dua alasan tersebut, ada beberapa gagasan yang dihasilkan dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unpad ini. Gagasan pertama, Dani mencoba mengembangkan SPGDT lebih komprehensif. Seiring kemajuan teknologi, SPGDT tidak hanya didapat dengan menelepon ke layanan 119 saja, tapi bisa dijangkau dengan mudah melalui sebuah aplikasi bernama “Layad Rawat” di telepon pintar.

Gagasan kedua, Dani mencoba mempercepat prosedur operasional melalui sistem yang jelas, yaitu tim 119 dapat langsung melakukan tindakan tanpa ada permintaan terlebih dahulu dari pihak kepolisian.

“Kalau sekarang sistemnya begitu masuk ke 119, 119 melakukan triase (penilaian). Dari hasil triase itu akan merujuk pada layanan puskesmas terdekat dengan tempat kejadian untuk disambungkan dan puskesmas langsung melakukan tindakan,” urai Dani.

Sepeda motor pun dipilih sebagai moda transportasi menuju lokasi tindakan. Dani menjelaskan, ambulans motor ini lebih dikhususkan untuk tindakan pertolongan pertama, bukan sebagai mobilisasi pasien atau pertolongan lebih lanjut.

“Jika misalnya ditemukan ada kejadian orang berhenti nafas dan jantung, setidaknya bisa melakukan basic life support lewat presipitasi jantung dan paru-paru. Dengan kemampuan tim medis dan peralatan yang dibawa oleh motor bisa memberikan respons kegawatdaruratan awal,” paparnya.

Program “Layad Rawat” ini juga melayani tindakan nonkegawatdaruratan. Dani menjelaskan, layanan respons SPDGT ini terdiri atas lima tahapan. Untuk tahap satu dan dua terkategori gawat darurat yang harus dilakukan tindakan segera. Sementara untuk tahap tiga hingga lima, tindakan bisa dilakukan maksimal hingga 1×24 jam.

Sebelum diikutsertakan pada lomba Anugerah Prakarsa Jawa Barat, gagasan ini juga meraih juara pada Kompetisi Inovasi Urang Bandung. Sebagai apresiasi juara tersebut, Walikota Bandung Ridwan Kamil pun mengaplikasikan gagasan Dani Ferdian ini di Kota Bandung. (humas-unpad/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

EF EPI 2017: Kecakapan Berbahasa Inggris Negara Indonesia, Turun ke Peringkat Rendah

BALIPORTALNEWS.COM, Jakarta – Tahun ini, EF meluncurkan laporan tahunan indeks kecakapan bahasa Inggris (EF English Proficiency Index/EF EPI) yang ketujuh. EF EPI merupakan kajian terbesar di dunia yang mengukur kecakapan bahasa Inggris orang dewasa diantara mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Laporan ini disusun dengan menganalisa data dari EF Standard English Test (EF SET) suatu tes bahasa Inggris gratis online pertama di dunia. Lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, dari 80 negara turut berpartisipasi pada EF EPI tahun ini.

Laporan EF EPI 2017 dipublikasikan bersamaan dengan sesi diskusi dan jumpa pers yang disampaikan oleh Senior Director, Research & Academic Partnership of EF Education First, Minh N. Tran dan pakar Sumber Daya Manusia, Eileen Rahman dengan mengangkat tema “Speeding-Up Your English”, pada Selasa (12/12) di hotel Pullman, Senayan Jakarta.

Peringkat Indonesia tahun 2017 turun dari peringkat 32 dan tingkat Kemahiran Menengah pada tahun lalu, menjadi peringkat 39 dan tingkat Kemahiran Rendah tahun ini. Mereka dengan tingkat Kemahiran Rendah dapat mengerti email yang sederhana dan terlibat dalam pembicaraan yang ringan. Terkait dengan peringkat tersebut Tran mengatakan, “Negara dengan kemampuan Bahasa Inggris tingkat rendah menunjukan kemampuan bangsa tersebut masih dalam tahap mengkonsumsi dan belum mampu melakukan negosiasi, mediasi maupun melobi, bahkan berkompetisi dengan negara lain dalam bahasa Inggris.

Laporan tahunan EF EPI 2017 juga mengukur peringkat kawasan, dimana Eropa masih berada pada peringkat pertama, sementara Asia berada di peringkat kedua. Tahun ini EF EPI juga mencakup kawasan Afrika sebagai suatu kawasan yang baru dan berbeda, yang menduduki peringkat ketiga, yang kemudian disusul oleh Amerika Latin peringkat keempat dan kawasan Timur tengah pada peringkat kelima dan terakhir. Kemampuan bahasa Inggris masyarakat merupakan modal suatu negara untuk mampu bersaing dalam dunia perekonomian yang lebih luas, seperti salah satunya pada komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), jelas Eileen Rahman.

Dengan dibentuknya MEA pada tahun 2015 menjadi sebuah kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan dan membuktikan daya saing masyarakat Indonesia dalam memenangkan persaingan ekonomi global. Namun untuk mencapainya, tentunya diperlukan kesiapan dari sisi sumber daya manusia atau tenaga kerja.

“Jangan sampai kesempatan untuk berkompetisi ini berubah menjadi sebuah ancaman, sebagai akibat tidak siapnya profesionalisme dari sumber daya atau tenaga kerja di Indonesia”. Jelas Eillen. Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global. Terbatasnya kemampuan berkomunikasi dapat membuat kemampuan bersaing individu menjadi kurang dan pada akhirnya dapat mengakibatkan peluang karir dan bisnis menjadi terhambat. Dalam skala yang lebih luas seperti dalam komunitas MEA, keterbatasan ini tentunya menjadi hambatan dalam melakukan kerjasama bahkan bersaing dengan negara lain.

Data EF EPI 2017 menunjukkan nilai kecakapan bahasa Inggris rata-rata Negara Asia adalah 53,60. Sebagai bahan perbandingan, nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris di Indonesia adalah 52,15 yaitu masih di bawah angka rata-rata kecakapan bahasa Inggris di kawasan Asia. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura mempunyai tingkat kecakapan tertinggi dengan nilai 66.03 dan menempati peringkat 5 di seluruh dunia dengan tingkat Kemahiran  Very High Proficiency, diikuti secara ketat oleh Malaysia (peringkat 13 dengan nilai 61,07) kemudian Filipina (peringkat 15 dengan nilai 60,59) pada tingkat Kemahiran High Proficiency. Merujuk  pada hasil EF EPI 2017, menunjukan bahwa ada banyak ruang untuk meningkatkan kecakapan berbahasa Inggris di Indonesia, terutama di kalangan pekerja profesional.

Dengan wawasan terhadap negara-negara dalam satu kawasan, EF EPI 2017 menyediakan pemahaman yang lebih mendalam terhadap inisiatif yang dilakukan oleh negara-negara tetangga Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. “EF EPI 2017 merupakan upaya EF untuk ikut serta meningkatkan kecakapan bahasa Inggris suatu Negara. Selanjutnya, Negara dengan kecakapan bahasa Inggris yang cukup akan mampu bersaing dalam sebuah dunia yang lebih luas, dimana bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi semakin beragam dan tanpa batas. Di masa kini, masyarakat dituntut untuk mampu bersaing di dunia tanpa batas, untuk bekerja sama dan berkompetisi satu dengan yang lainnya, baik sebagai individu dan dalam lingkup hidup bermasyarakat. Mereka yang mampu berkompetisi adalah yang mampu berkomunikasi dengan baik dengan berbagai budaya dan bangsa dan siap untuk menjadi warga dunia.” Pungkas Tran. (r/bpn)

Masyarakat Dihimbau Kedepankan “Menyama Braya” Dalam Beryadnya

BALIPORTALNEWS.COMPelaksanaan upacara  yadnya hendaknya mengedepankan filosofi "menyama braya" atau bergotong royong, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri melainkan hidup berdampingan yang selalu saling tolong menolong,  terlebih dalam mempersiapkan upacara yadnya yang dapat dikerjakan secara bersama-sama, sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta dalam Karya Melaspas,  Mendem Pedagingan, RSI Gana, Piodalan,Pedudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, Mapedanan, Madasar Caru Balik Sumpah Utama bertempat di Pura Desa Jagapati, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung pada Rabu (17/8/2016).

Lebih jauh, Sudikerta juga menghimbau masyarakat agar dalam pelaksanaan yadnya didasari atas penuh keyakinan atau dalam sastra agama Hindu dikenal dengan Sradha,  sehingga apa yang kita tuju tercapai dengan baik.  Selain itu, krama Desa juga diminta untuk mengedepankan sikap Lascarya, berarti yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun,  baik dari segi ucapan maupun perilaku.

Sehingga setiap yadnya yang dilaksanakan berjalan dengan damai dan dinikmati oleh seluruh krama Desa. Dengan melaksanakn unsur-unsur tersebut, Ia berharap karya Pedudusan Agung ini dapat berjalan dengan lancar sampai akhir acara nanti.

Sementara itu, Kelian Desa Jagapati  I Nyoman Ardana, mengucapkan terimakasih atas kehadiran Wagub Sudikerta. Ia berharap, apa yang telah disampaikan dapat diresapi dengan baik oleh seluruh masyarakat Jagapati dan dapat dijadikan pedoman untuk pelaksanaan Yadnya yang lebih baik. Selanjutnya ia juga melaporkan bahwa puncak  Karya Agung tersebut  akan dilaksanakn pada tanggal 27 September 2016 nanti.

Ia juga mengungkapkan bahwa terkait pendanaan karya tersebut diperoleh dari iuran krama Desa yang mana di Desa tersebut terdapat 4 Banjar dengan jumlah penduduk 2600 Kepala keluarga. Ia berharap karya agung tersebut dapat berjalan dengan lancar sampai pada puncaknya nanti dan memberikan kerahayuan serta kesukertan bagi warga setempat.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut staf ahli Gubernur Bali bidang kemasyarakat Nyoman Sujaya serta para undangan  lainnya.

Sumber : Humas Pemprov Bali