Ubud Writers & Readers Festival Kembali Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra dan Seni dari Seluruh Dunia pada Bulan Oktober Lalu

0

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Ubud Writers & Readers Festival sekali lagi dengan sukses menjadi kancah pertukaran ide, inspirasi, dan pembelajaran antara penulis dan pembaca dari Indonesia dan negara-negara lainnya pada tanggal 25-29 Oktober lalu. Mengusung tema Origins atau Asal Muasal dalam bahasa Indonesia, selama lima hari tersebut UWRF diisi oleh ratusan program yang disusun berdasarkan tema tersebut. UWRF pada tahun 2017 ini membawa 160 lebih figur-figur mengagumkan dari 30 negara di seluruh dunia untuk tampil di atas satu panggung dan berkolaborasi atas nama sastra dan seni.

Nama-nama besar dunia sastra nasional maupun internasional seperti NH. Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Joko Pinurbo, Intan Paramaditha, Trinity, Jung Chang, Ian Rankin, Simon Winchester, Madeleine Thien, Han Yujoo, dan masih banyak lagi, tampil berdampingan dengan seniman, desainer, sutradara, penari, musisi, dan aktor seperti Pierre Coffin, Djenar Maesa Ayu, Chicco Jericho, Voice of Baceprot, Kan Lumé, Lulu Lutfi Labibi, dan Sakdiyah Ma’ruf.

UWRF juga dengan bangga mempersembahkan sebuah penghargaan Lifetime Achievement Award kepada legenda hidup sastra Indonesia, NH. Dini, pada malam Gala Opening (25/10/2017) di Puri Saren Ubud. Yang juga menjadi highlight dari UWRF 2017 adalah hadirnya 16 penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang datang dari beberapa tempat di seluruh pelosok Indonesia, untuk tampil dalam sesi-sesi diskusi bersama pembicara-pembicara terkenal dunia dan meluncurkan buku Antologi 2017.

72 acara sesi diskusi atau Main Program yang diadakan di tiga venue utama UWRF, yaitu NEKA Museum, Indus Restaurant, dan Taman Baca selalu ramai dihadiri pengunjung yang ingin mendengar diskusi-diskusi mendalam seperti di sesi Beyond the Front Page yang menghadirkan jurnalis-jurnalis top Asia untuk mendiskusikan isu-isu global terkini. Di sesi Moving Images bersama beberapa pembuat film, penggalian kisah di balik layar dimulai dengan bahasan mengenai pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Serta masih banyak lagi sesi menginspirasi lainnya.

Setiap harinya para pencinta sastra dan seni tersebut terus memenuhi lokasi-lokasi tempat diselenggarakannya 200 program UWRF yang terdiri dari sesi-sesi diskusi, workshop, Special Event, pemutaran film, panggung musik, pembacaan puisi, dan program pengembangan karir Emerging Voices yang tersebar di beberapa tempat di Ubud. Tak ada satupun dari mereka yang terlihat mengkhawatirkan status Gunung Agung yang sedang Awas. Festival tetap berjalan lancar dan berhasil mengundang 25,000 lebih pengunjung, banyak dari mereka adalah turis yang untuk pertama kalinya mengunjungi Bali.

Dari data yang dikumpulkan tim UWRF, saat penyelenggaraan festival, termasuk kehadiran penulis mancanegara dan pencinta sastra dalam dan luar negeri, telah berkontribusi senilai IDR10,350,000,000 yang dikeluarkan oleh para pengunjung selama enam hari untuk biaya akomodasi di banyak penginapan, transportasi, restauran, spa, yoga, souvenir, museum, galeri, dan acara budaya di sekitar Ubud dan Bali. Ini adalah sebuah kontribusi dalam menggerakan ekonomi lokal, terutama di bidang pariwisata.

Jumlah tersebut tentunya sangat membanggakan dan sesuai dengan misi organisasi nirlaba yang menaungi UWRF, Yayasan Mudra Swari Saraswati, yaitu untuk memperkaya kehidupan masyarakat lokal melalui program-program seni dan budaya. Dari data tersebut juga tercatat bahwa 96% pengunjung yang hadir akan datang kembali untuk UWRF 2018.

Di acara penggalangan dana yang digelar di Museum Blanco pada tanggal 26 Oktober lalu, berhasil terkumpul dana sebesar IDR15,000,000, yang selanjutnya akan diserahkan kepada Kopernik, sebuah organisasi nirlaba di Ubud, yang akan diteruskan kepada masyarakat di daerah-daerah sekitar Gunung Agung yang terkena dampak aktifitas vulkanik. Malam penggalangan dana ini menghadirkan grup Papermoon Puppet Theater dan grup tari yang diketuai oleh Eko Supriyanto, koreografer asal Indonesia yang berkiprah di panggung internasional. Setiap pengunjung yang hadir dikenakan biaya sebesar IDR100,000 sebagai bentuk donasi.

“Kendati persiapan UWRF dibayangi oleh ketakutan akan aktifitas vulkanik Gunung Agung, kami tetap bertekad untuk terus mendukung masyarakat Bali, yang mana adalah asal muasal terselenggaranya festival ini sendiri,” ujar Janet DeNeefe. “UWRF lahir sebagai bentuk pemulihan dari sebuah tragedi, dan UWRF tahun ini adalah bukti bahwa selama 14 tahun penyelenggaraannya, UWRF terus bertahan dan berkembang dari tahun ke tahunnya.”

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penulis dan pembaca yang telah membantu keberhasilan UWRF tahun ini, baik di komunitas sastra dan seni maupun industri pariwisata Pulau Bali. Dari data yang tercatat tahun ini, hampir semua pengunjung ingin kembali lagi tahun depan dan kami juga sudah tidak sabar untuk kembali membawakan sebuah perhelatan sastra dan seni yang selalu ditunggu-tunggu ini pada tahun 2018.” ujar Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe.

Ubud Writers & Readers Festival dijadwalkan untuk kembali lagi di tahun 2018 pada tanggal 24 hingga 28 Oktober. Tema UWRF 2017 akan diumumkan di www.ubudwritersfestival.com pada awal tahun depan. (r/bp)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Adenanta Sukses Naik Podium Pertama Thailand Talent Cup

0

BALIPORTALNEWS.COM – Pembalap binaan sekolah balap Astra Honda Racing School, Mohammad Adenanta Putra, sukses mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi balap pertama ajang Thailand Talent Cup di Chang International Circuit.

Adenanta mengalami kendala di hari pertamanya. Kurangnya adaptasi membuatnya hanya mampu meraih posisi 7 di sesi kualifikasi. Meski demikian, Adenanta berhasil membayarnya dengan menampilkan performa terbaik di balap pertama dan finis di posisi pertama, setelah mengalahkan 16 pembalap berbakat dari negara lainnya dengan waktu 18:25.498.

“Saya sangat senang dengan hasil balap pertama ini. Hari ini saya mengawali latihan dengan kurang baik. Saya terlambat adaptasi dan dampaknya hasil QTT kurang memuaskan karena hanya start posisi 7. Alhamdulillah, saya mampu tampil maksimal pada race 1 meskipun menghadapi pembalap tuan rumah yang sangat agresif. Walaupun sempat berjarak dengan barisan depan, saya berusaha tetap fokus untuk bisa membaca situasi dan mengejar rombongan depan,” ujar Adenanta.

Sementara itu, Mario Suryo Aji yang juga turut berpartisipasi pada even tersebut mampu menyelesaikan balap di posisi ke 6 dengan waktu 18:25.994. “Hasil Race 1 saya belum dapat meraih podium. Namun, banyak hal positif yang dapat saya dapat dari balapan ini. Selepas start, saya sempat tertinggal dari rombongan depan dikarenakan motor yang belum capai suhu optimum karena cuaca yang sangat berangin dari pagi. Perlahan tapi pasti saya mulai bisa menemukan ritme dan mengikuti rombongan depan. Sayang sekali di 2 lap sebelum finish saya mengalami insiden dengan pembalap tuan rumah, sehingga saya harus keluar dari line balap saya yang mengakibatkan saya hanya mampu finish di urutan ke 6. Semoga race besok saya bisa memperbaiki catatan waktu saya dan juga mampu meraih hasil maksimal dengan finish di posisi top 3,” ujar Mario. (ngr/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Konferensi Internasional Geoinformasi

0

BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa Fakultas Geografi UGM, Risky Yanuar Setiyono, berhasil meraih penghargaan sebagai The Best Presenter pada kategori mahasiswa dalam konferensi dunia The 5th Geoinfromation Science Symposium 2017 di University Club UGM pada 27-28 September 2017 lalu.

Risky mengaku bangga dapat terpilih sebagai presenter terbaik dalam konferensi bergengsi tersebut. Dia tidak menyangka bisa mengalahkan puluhan presenter lain yang berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama di Asia.

“Senang, tidak menyangka bisa jadi best presenter, padahal yang ikut kebanyakan mahasiswa pascasarjana,” katanya, Jum’at (3/11/2017) di Kampus UGM.

Penghargaan tersebut berhasil diraih Risky dengan mengajukan karya tulis terkait upaya pemetaan kepadatan lahan terbangun dengan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh berjudul ” Spatiotemporal Built-up Land Density Mapping using Various Spectral Indices in Landsat-7 ETM+ and Landsat-8 OLI/TIRS”.  Karya tulis diajukan bersama dengan rekannya Aulia Yogi Hastuti di bawah bimbingan Dr. Prima Widayani.

Melalui pendekatan penginderaan jauh dapat meningkatkan efisinesi waktu, biaya, dan tenaga dalam melakukan pemetaan kepadatan lahan terbangun.

“Metod ini belum banyak diaplikasikan di Indonesia. Kebanyakan memakai metode konvensional dengan interpretasi visual,”jelasnya.

Konferensi ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara di kawasan Asia seperti Australia, Jepang, dan Indonesia. Diselenggarakan oleh Fakultas Geografi UGM bekerjasama dengan Badan Infromasi Geospasial dan Ikatan Geograf Indonesia. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Sumbangkan Emas di ASEAN Para Games 2017

0

BALIPORTALNEWS.COM – Laura Aurelia Dinda, mahasiswa Fakultas Psikologi UGM berhasil menyumbangkan emas dari cabang olahraga renang dalam ASEAN Para Games 2017.

Mahasiswa angkatan 2017 ini sukses menyabet emas dengan catatan waktu tercepat 1 menit 30.27 detik di nomor 100 meter gaya bebas kelas S6. Capaian yang diraih ini sekaligus menjadikannya sebagai atlet pertama yang mendapat medali emas dalam pesta olahraga atket difabel se-Asia Tenggara pada bulan September 2017 lalu.

Tidak hanya itu, Laura juga berhasil memecahkan rekor ASEAN Para Games di nomor yang sama sepanjang sejarah penyelenggaraan pesta olahraga ini. Sebelumnya, catatan waktu tercepat dipegang oleh perenang dari Thailand yakni Thongbai Chaiswas dalam wkatu 1 menit 30.77 detik pada tahun 2011 silam.

Laura menuturkan rasa takut dan cemas sempat menghinggapinya saat perlombaan akan dimulai. Ada rasa khawatir tidak mampu berenang dan menyelesaikan kompetisi.

“Sebelum meluncur ke arena saya merasa takut sekali bahkan tidak ingin berenang. Namun akhirnya persaanitu hilang saat melompat dari papan start,” kata gadis kelahiran pekanbaru, 22 september 1999 ini.

Kecintaan Laura terhadap dunia renang mulai muncul sejak kelas 3 sekolah dasar. Awalnya, bergabung dengan klub renang sebagai bagian dari terapi penyakit asma yang dideritanya.

“Dulu renang untuk terapi asma, tapi lama-lama jadi hobi,”ujarnya.

Kecintaan pada dunia renang sangat terlihat dari wajah gadis yang satu ini. Semangat untuk menekuni renang terus menyala dalam diri Laura.

“Saat POPDA 2 tahun lalu saya jatuh dan tulangnya patah jadi seperti ini, tapi saya terus berenang sampai sekarang tanpa kaki,” jelasnya.

Keterbatasan fisik tidak menghalangi Laura untuk terus berenang dan berprestasi. Setiap harinya dia berlatih renang setidaknya selama dua jam.

“Sukses itu bisa diraih meskipun dalam keterbatasan,” tandasnya.

Sederet prestasi juga pernah diraih oleh Laura seperti dalam Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV. Dalam ajang tersebut dia sukses membawa pulang medali emas di nomor 50 meter gaya punggung S9 puteri dan medali emas 400 meter gaya bebas S9 puteri.

Laura merupakan salah satu dari puluhan mahasiswa penyandang disabilitas yang tengah menuntut ilmu di UGM. Sosoknya mampu menginspirasi bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk berprestasi. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Ali Adriansyah Rusmiputro Menutup Musim Dengan Tambahan Poin

0

BALIPORTALNEWS.COM – Sirkuit Jerez, Spanyol menjadi putaran pamungkas gelaran World Super Sport 300 (WSSP 300) musim balap 2017. Di laga terakhir itu, Ali Adriansyah Rusmiputro berhasil menutupnya dengan perolehan poin.

Di Jerez, penampilan pebalap kelahiran Jakarta 24 tahun silam itu sudah terlihat apik sejak sesi Free Practice 1. Ali Adriansyah mampu bertengger di posisi 4 dengan raihan 1 menit 56,687 detik. Catatan waktu itu pula yang membuatnya mampu menembus Superpole 2 setelah masuk Top 10 pebalap yang berhak melaju ke babak kualifikasi terakhir tersebut. Dengan catatan 1:56,940 di Superpole 2, akhirnya Ali Adrian start dari posisi 9 saat balapan.

Sejak awal musim, WSSP 300 memang menghadirkan persaingan yang begitu ketat.  “Saya suka ajang ini, karena semua benar benar menjadi misteri sampai tikungan terakhir,” demikian pebalap Pertamina Almeria Racing Team ini menyebutnya.

Begitu juga di putaran pamungkas ini, bahkan lebih ketat, Ali Adriansyah beberapa kali bersenggolan dengan pebalap lain dan sempat dua kali keluar lintasan akibat senggolan terebut.

Race kali ini saya mengalami banyak contact ditambah posisi saya yang berada di luar line membuat saya harus keluar lintasan beberapa kali. Dalam 2 lap saya kehilangan 6 detik,” ucap pebalap yang didukung PT Pertamina (Persero) itu.

Kehilangan banyak waktu membuat Adrian sempat melorot ke posisi 20. Ia kembali mencoba merebut posisi, namun ia lagi-lagi harus kehilangan waktu akibat senggolan dengan pebalap lain. Kendati demikian, janji Adrian untuk berusaha maksimal push habis-habisan mampu ia buktikan. Perlahan ia merangsek ke depan dan berhasil finis di posisi 11 dengan membawa pulang 5 poin tambahan. “Saya sudah melakukan yang maksimal,” tegasnya.

Ali Adriansyah mengakui bahwa pencapaian yang ia raih di putaran terakhir itu tak lepas dari pengalamannya menjajal Sirkuit Jerez juga kondisi tunggangannya, Yamaha YZF-R3, yang cukup bagus. “Saya sudah mengenali sirkuit sebelum putaran di Jerez berlangsung. Performa motor juga mendukung,” tuturnya. Dengan tambahan 5 poin, Ali Adriansyah Rusmiputro berhasil mengumpulkan 21 poin dan berada di peringkat 18 klasemen 2017.

Menurut Ali Adriansyah tahun pertamanya di WSSP 300 memang diwarnai beberapa kendala, namun ia tidak mau menyalahkan keadaan. “Kendala akan selalu ada, tapi bagaimana kita mengaturnya untuk bisa survive dan melakukan yang terbaik,” ungkapnya.

Ia sendiri menyadari bahwa untuk bisa meraih hasil bagus dengan kontinyu bukanlah perkara mudah. “Saya menyadari masih banyak kekurangan tapi saya tidak mau menjadikan hal itu sebagai alasan. Saya akan berlatih lebih keras dan sekarang sudah tahu ke arah mana saya akan bekerja dan akan kembali lebih kuat.” (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Ali Adriansyah Akan Tampil Maksimal di Jerez

0

BALIPORTALNEWS.COM – Menghadapi putaran final World Super Sport 300 (WSSP 300)  Ali Adriansyah Rusmiputro akan berusaha tampil maksimal. Rider Pertamina Almeria Racing Team itu bertekad akan mengerahkan segala kemampuannya untuk meraih hasil terbaik di Sirkuit Jerez, Spanyol pada putaran final WSSP 300 akhir pekan ini. “Saya akan berusaha tampil maksimal. Saya akan push terus,” ujar Ali Adriasnyah.

Sirkuit Jerez yang terletak di bagian selatan Andalusia menjadi seri penutup WSSP 300 musim balap 2017. Balapan WSSP 300 kali ini juga berbarengan dengan putaran ke-11 World Super Bike.

Untuk mempersiapkan diri pada putaran final ini, Ali Adriansyah melakukan berbagai latihan. Secara fisik, pemuda kelahiran 29 September 1993 ini lebih banyak melakukan latihan dengan bersepeda. Sementara untuk penguasaan tunggangan dan pemahaman karakter lintasan, ia berlatih di Sirkuit Almeria yang telah menjadi tempat tinggalnya setahun terakhir ini.

Menurut Ali Adriansyah, karakter Sirkuit Jerez serupa dengan Sirkuit Almeria. “Ada fast corner-nya, juga very technical,” ucap Ali Adriansyah. Bahkan, menurutnya, penggunaan gear dan sproket pada motor juga sama.

“Oleh karena itu, latihan kami terfokus di Sirkuit Almeria, bukan di Sirkuit Andalusia,” imbuh pebalap yang ditangani oleh David Garcia dan Maturana itu. Sirkuit Almeria dan Sirkuit Andalusia adalah dua sirkuit yang dikelola David Garcia, Manajer Pertamina Almeria Racing Team.

Bagi Ali Adriansyah sendiri Sirkuit Jerez bukan sirkuit yang baru pertama kali ia kunjungi. Selain pernah menjalani uji coba di Jerez, ia juga pernah merasakan tantangan sirkuit legendaris ini saat berkompetisi di ajang European Junior Cup pada tahun 2013. Kendala pada Yamaha YZF-R3 yang sempat ia alami pada beberapa balapan, menurut Ali Adriansyah sudah teratasi. “Sekarang tinggal bagaimana mengatur settingan motor di Jerez,” ucapnya.

Sirkuit Jerez memiliki panjang 4,423 kilometer, dengan total 13 tikungan, 8 ke kanan dan 5 ke kiri. Sirkuit ini termasuk sirkuit yang memiliki tantangan lengkap. Kontur naik turun berpadu dengan berbagai jenis tikungan, mulai yang slow corner, medium corner hingga fast corner. Tidak heran jika Jerez menjadi langganan sebagai sirkuit uji coba untuk berbagai ajang balap, baik itu MotoGP atau Formula 1.

Ajang WSSP 300 putaran final akan dibuka dengan sesi latihan bebas pada hari Jumat, 20 Oktober 2017. Sementara balapannya akan berlangsung pada hari Minggu, 22 Oktober 2017 pukul 14.20 waktu setempat atau pukul 19.20 WIB. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Lima Negara Diterima Jadi Anggota Penuh ISGF

0

BALIPORTALNEWS.COM – Lima negara akhirnya diterima menjadi anggota penuh (full member) the International Scout and Guide Fellowship (ISGF). Kelima negara itu adalah Nepal, Qatar, Turki, Uni Emirat Arab, dan Zambia. Mereka kini menjadi anggota penuh ISGF, organisasi tingkat dunia yang menaungi berbagai organisasi sejenis di banyak negara sebagai wadah bagi orang dewasa di atas 25 tahun yang pernah aktif di kepanduan dan masih tetap ingin hidup berdasarkan prinsip dan nilai-nilai kepanduan. (10/10/2017).

Kepastian kelima negara itu menjadi anggota penuh ISGF diputuskan dalam konferensi dunia bertajuk the 28th ISGF World Conference yang diadakan di Hotel Inna Bali Beach, Sanur, Bali, 9-14 Oktober 2017. Hadirnya kelima negara itu menambah jumlah anggota ISGF yang sekarang telah tersebar di lebih 100 negara di dunia.

Sebelum itu, konferensi telah membahas berbagai upaya ISGF dalam membantu memberdayakan masyarakat. Sebagai orang-orang dewasa yang pernah aktif di kepanduan, mereka memang masih memegang prinsip dan nilai moral kepanduan, di antaranya selalu siap menolong mereka yang membutuhkan.

Berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat antara lain membantu korban gempa dan angin topan di sejumlah negara di benua Amerika, membantu banjir dan gempa bumi yang melanda bagian bumi lainnya, membantu peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya pengetahuan tentang gizi dan cara hidup sehat, membantu obat-obatan, sampai aktivitas literasi berupa pembangunan perpustakaan dan penyediaan buku-buku bacaan bagi masyarakat. Ungkap Mida Rodrigues selaku Chairperson, ISGF Wosr Committee

Prof. Dr. Haryono Suyono  juga mengatakan Walaupun rata-rata anggota ISGF sudah berusia di atas 50-60 tahun, bahkan tidak sedikit yang sudah 80 tahun ke atas, semua peserta konferensi tetap bersemangat mengikuti semua jalannya persidangan. Sebagaimana aktivitas kepanduan yang penuh suasana persaudaraan, acara konferensi juga dimeriahkan oleh nyanyian dan tepuk tangan. Ketika kelima negara tadi, Nepal, Qatar, Turki, Uni Emirat Arab, dan Zambia, dinyatakan sebagai anggota penuh, tepuk dan nyanyian gembira disampaikan para anggota ISGF lainnya. Mereka menyambut hangat kehadiran saudara-saudaranya dalam wadah ISGF tersebut.  Uniknya, persaudaraan antarmereka yang pernah aktif di kepanduan memang tidak memang batas negara dan politik. Meski secara politik kenegaraan antara Arab Saudi dan Qatar misalnya ada ketegangan, tetapi di arena konferensi para anggota ISGF dari Arab Saudi ikut menyambut gembira kehadiran saudara-saudaranya dari Qatar. Itulah memang yang diupayakan melalui gerakan kepanduan ketika digagas oleh Baden-Powell pada awal 1900-an, untuk mengembangkan persaudaraan seluas dunia katanya. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Konferensi ISGF Sedunia Kembali Digelar di Bali

0

BALIPORTALNEWS.COM – Indonesia kembali menjadi tuan rumah perhelatan tingkat dunia. Kali ini bertajuk 28th International Scout and Guide Fellowship (ISGF) World Conference yang diadakan di Hotel Inna Bali Beach, Sanur, Bali, 9-14 Oktober 2017. Sebuah konferensi dari ISGF, atau organisasi dunia untuk mereka yang pernah aktif di gerakan pendidikan kepanduan.

Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi ISGF Sedunia ke-28 itu diputuskan dalam konferensi sedunia ke-27 organisasi itu yang diadakan di Australia pada 2014. Dalam konferensi sedunia ke-28 di Bali kali ini menurut rencana akan diikuti utusan organisasi nasional dari 63 negara. Mereka adalah orang-orang yang dulunya pernah aktif dalam gerakan kepanduan. Sebagian lagi, sampai sekarang masih tetap aktif di kepanduan. Namun, pernah atau masih aktif, semuanya tetap mencintai kepanduan sebagai gerakan pendidikan nonformal yang ikut berperan memberikan kontribusi positif bagi masing-masing individu.

Kepanduan sebagai gerakan pendidikan nonformal, memang hanya melengkapi pendidikan informal di lingkungan keluarga dan komunitas, serta pendidikan formal di sekolah-sekolah. Walaupun demikian, sebagai gerakan pendidikan yang menekankan pada pembentukan karakter dan budi pekerti anggotanya, kepanduan diakui banyak berperan membentuk seseorang menjadi manusia positif yang dapat berkontribusi baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negaranya.

Itulah sebabnya, mereka yang pernah aktif sebagai Pandu kembali bergabung membentuk organisasi ISGF. Organisasi yang seluruh anggotanya adalah orang dewasa itu berdiri di Luzern, Switzerland, pada 25 Oktober 1953. ISGF dibentuk berdasarkan resolusi yang dilakukan dalam pertemuan  kepanduan sedunia, yang idenya adalah untuk membentuk wadah internasional untuk orang-orang dewasa yang sudah tidak lagi aktif di kepanduan,  tetapi masih ingin tetap hidup berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral kepanduan.

Salah satu prinsip dan nilai moral para Pandu adalah siap sedia membantu masyarakat. Itulah sebabnya, anggota-anggota organisasi tersebut terus memberikan darma baktinya untuk masyarakat, melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Sampai 1996, organisasi itu bernama the International Fellowship of Fomer Scouts and Guides (IFOFSAG). Baru kemudian diubah menjadi ISGF. Walaupun berdasarkan catatan pada laman resmi ISGF www.isgf.org, jumlah anggotanya baru 63 organisasi nasional di 63 negara ditambah perwakilan dari 42 negara lain yang belum ada organisasi nasionalnya, tetapi jumlahnya terus bertambah.

Di Indonesia, organisasi nasionalnya bernama Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada). Dalam sejarah kepanduan di Indonesia, sejak 1961 seluruh organisasi gerakan kepanduan yang tadinya ada dihimpun dalam satu wadah bernama Gerakan Pramuka. Beberapa tokoh Pandu yang tidak bergabung dalam Gerakan Pramuka, mulai memunculkan ide untuk membentuk wadah tersendiri pada akhir 1960-an.

Namun masih membutuhkan beberapa tahun lagi, sehingga usulan itu mengerucut dan melalui pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, akhirnya resmi dibentuk Himpunan Pandu Wreda (Hiprada). Pembentukan itu dikukuhkan melalui Keputusan Kwartir Nasional bernomor 075/KN/1975 tertanggal 22 Juli 1975.

Belakangan, penamaan organisasi diubah menjadi Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada), karena banyak pula mereka yang pernah aktif di Gerakan Pramuka namun tidak mengalami masa di kepanduan sebelum 1961, ikut bergabung. Sekarang, Hipprada terbuka untuk mereka yang berusia di atas 25 tahun, baik yang pernah maupun tidak menjadi Pandu atau Pramuka.

Sama seperti ISGF, kegiatan Hipprada yang saat ini diketuai oleh Prof. Dr. Haryono Suyono adalah lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat. Tentu saja, seperti dikatakan Mida Rodrigues yang merupakan Ketua Komite Dunia ISGF, konferensi dunia di Bali sekaligus menekankan semangat kepanduan untuk terus mengembangkan persaudaraan seluas dunia. “Make new friends and keep the old ones”, tuturnya, yang berarti “menjalin persaudaraan dengan teman baru dengan tetap mempertahankan teman lama”. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Huawei Ajak Mahasiswa Terbaik di Indonesia untuk Mengikuti Program Seeds for the Future di Tiongkok

0

BALIPORTALNEWS.COM – PT Huawei Tech Investment (Huawei Indonesia), penyedia solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) global terkemuka, mengundang 10 mahasiswa terbaik dari 7 universitas terkemuka di Indonesia, yang berusia 20 – 24 tahun dan telah melewati seleksi ketat melalui program pelatihan SmartGen, untuk mengikuti program pelatihan alih ilmu pengetahuan global milik Huawei, Seeds for the Future”, selama dua minggu di Beijing dan Shenzhen, yang dimulai dari tanggal 9 hingga 23 September 2017.

Acara pembukaan program ini diadakan pada tanggal 10 September 2017 lalu di Beijing, diikuti pula dengan kunjungan delegasi mahasiswa Indonesia ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing pada tanggal 11 September 2017 yang disambut langsung oleh Bapak Soegeng Rahardjo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok. Sementara acara penutupan program dilangsungkan di kantor pusat Huawei di Shenzhen pada 22 September 2017.

Saat ini, TIK telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan yang penting bagi beragam industri, hal inilah yang mendasari Huawei untuk menyelenggarakan program Seeds for the Future tahun ini. Program ini juga sejalan dengan tema Huawei tahun ini, yaitu eksplorasi menuju dunia yang lebih pintar: eksplorasi merupakan semangat ketekunan, api atau pendorong inovasi, cahaya kecerdasan yang menerangi jalan menuju dunia yang lebih cerdas.

Oleh karena itu, Huawei sebagai pemimpin industri TIK berkomitmen untuk mendukung pengembangan industri TIK untuk mendorong kemajuan ekonomi, sosial, dan ketahanan lingkungan secara jangka panjang. Hal ini karena Huawei percaya bahwa akses terhadap pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan kesempatan-kesempatan yang dapat mendukung kemajuan di industri TIK.

“Saya sangat senang menerima kunjungan dari para perwakilan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam program global Huawei Seeds for the Future ke Tiongkok untuk belajar teknologi TIK, kemajuan inovasi, serta budaya di Tiongkok. Oleh karena itu, saya berharap para mahasiswa ini dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menggali ilmu pengetahuan yang lebih dalam lagi di bidang teknologi dan melihat perspektif global yang nantinya dapat diimplementasikan di Indonesia dan bermanfaat bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia, sehingga para mahasiswa ini dapat memberikan kontribusinya sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Bapak Soegeng Rahardjo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, dalam kunjungan delegasi mahasiswa ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing.

Program Seeds for the Future ini mulai diselenggarakan oleh Huawei Global pada tahun 2008 dengan tujuan untuk mengasah pengetahuan talenta muda lokal di bidang TIK melalui program pelatihan alih ilmu pengetahuan serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan mengakomodir ketertarikan talenta muda di bidang telekomunikasi.

Melalui program ini, para mahasiswa dapat melihat secara langsung operasi bisnis global milik Huawei dengan lingkungan kerja lintas-budaya serta belajar mengenai teknologi-teknologi terdepan di bidang TIK melalui program pembelajaran dan pengalaman bekerja langsung di Kantor Pusat Huawei di Tiongkok.

 Tidak hanya itu saja, para mahasiswa juga mempelajari budaya Tiongkok, mempelajari budaya perusahaan dan manajemen Huawei, mempelajari teknologi TIK terbaru, dan mengoperasikan peralatan di laboratorium. Program Huawei global Seeds for the Future ini telah diikuti oleh 96 negara di seluruh dunia melalui kerja sama dengan lebih dari 200 universitas serta telah memberikan manfaat kepada lebih dari 20.000 mahasiswa sejak tahun 2008.

“Seperti yang kita ketahui, saat ini jumlah populasi di dunia yang menggunakan internet masih sangat rendah, yang menjadikan salah satu alasan Huawei untuk menyelenggarakan program Seeds for the Future tahun ini, dimana Huawei memberikan kontribusi secara berkelanjutan terhadap pengembangan ekonomi digital global di masa depan serta membawa dunia yang lebih terhubung dengan menyediakan pelatihan ekstensif di bidang TIK bagi talenta lokal.

Melalui program Seeds for the Future ini, kami berharap talenta muda Indonesia dapat meningkatkan wawasan mereka mengenai teknologi TIK terbaru, sehingga setelah mengikuti program Huawei, para mahasiswa ini dapat berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih terhubung,” ujar David Harmon, Vice President for Global Government Affairs of Huawei Technology Co., Ltd.

“Saya berterima kasih atas kesempatan berharga yang diberikan oleh Huawei, yang memungkinkan saya untuk mendapatkan pemahaman mengenai budaya Tiongkok serta mendapatkan pengetahuan mendalam mengenai teknologi TIK yang diimplementasikan di Tiongkok, terutama di kampus Huawei. Saya sangat senang dan memiliki keinginan yang sangat kuat untuk bekerja di bidang TIK agar saya dapat memberikan kontribusi terhadap negara saya, Indonesia,” ujar Fariz Azhar Abdillah, Ketua Delegasi Mahasiswa Indonesia untuk Program Seeds for the Future dari Universitas Indonesia (UI).

Sejak tahun 2013, selama lima tahun berturut-turut, Huawei Indonesia telah mengirimkan 80 mahasiswa terbaik dari 12 universitas dan politeknik terkemuka di Indonesia untuk mengikuti program pelatihan global Huawei Seeds for the Future.

Pada tahun ini, para mahasiswa dipilih melalui seleksi ketat yang dilakukan oleh Huawei bersama pihak universitas melalui program SmartGen, sebuah program hasil kolaborasi Huawei bersama 7universitas terkemuka Indonesia di awal tahun 2017 untuk mengembangkan kemampuan talenta muda Indonesia di bidang TIK.

Untuk program ini, Huawei bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Telkom (Tel-U), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Padjadjaran (UNPAD), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Selama lebih dari 17 tahun, Huawei berperan aktif dalam mengembangkan tenaga kerja lokal yang berkualitas tinggi untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang lebih terhubung, melalui seluruh kantor Huawei yang meliputi 14 Kantor Cabang, 64 Pusat Suku Cadang, 3 Pusat Logistik, dan lebih dari 100 Pusat Layanan di seluruh Indonesia.

Sejak tahun 2009, Huawei Indonesia telah aktif dalam memupuk kemampuan inovatif talenta muda Indonesia dan berkontribusi terhadap komunitas lokal melalui program yang berfokus pada pendidikan, seperti beasiswa, program magang, pelatihan bersertifikat selama tiga tahun untuk 1.000 mahasiswa dari 20 universitas dan politeknik terkemuka, program pengembangan talenta muda SmartGen, serta program pelatihan global Huawei Seeds for the Future di Tiongkok. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :