Hari Kedua Silahisabungan Arts Festival #2

BALIPORTALNEWS.COM, MEDAN – Pengunjung mulai memadati Pulau Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Mereka datang dari berbagai kota di Sumatera Utara, diantaranya Medan, Balige, Tarutung dan Siantar dan kota lainnya. Akhir-akhir ini, kegiatan berkemah semakin populer di kalangan pejalan dan pencinta alam, Jumat (21/7/2017) lalu.

Namun, dengan semakin banyaknya jumlah pengunjung yang berdatangan, keindahan alam yang sakral seakan tercemar dengan sampah dan pencemaran air. Tidak sekadar ingin mengekspos keindahan Danau Toba, Rumah Karya Indonesia dalam kegiatan Silahisabungan Arts Festival mengupayakan adanya festival seni yang memelihara budaya dan tradisi di Tao Toba, tepatnya kecamatan Silahisabungan.

Kegiatan ini digagas oleh Rumah Karya Indonesia bekerjasama dengan masyarakat penduduk Silahisabungan, kegiatan ini cukup memancing minat wisatawan dalam negeri untuk berkunjung sebab kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari memberikan edukasi bagi masyarakat dan pengunjung, seperti kegiatan yang dilakukan pada hari pertama yakni lomba mewarnai bagi anak-anak kecamatan silahisabungan, dan beberapa perlelatan seni tari bagi pelajar SMA dan pembacaan karya puisi dengan tema lokal.

Selain  itu juga Seribu Tenda menjadi salah satu topik pilihan bagi pengunjung, sebagian dari mereka ada yang mendirikan tenda sendiri, ada pula yang memesan tenda melalui panitia penyelenggara kegiatan. Semangat kebersamaan itu terbangun, sambil menikmati pertunjukan musik, tari opera dan workshop batik yang dilakukan oleh Komunitas Perempuan Hari Ini.

Perhelatan seni juga bisa dinikmati dari tenda masing-masing sebab tenda sengaja dibuat berdekatan dengan panggung serta mengambil momen sunset dan sunrise di Danau Toba. Pada hari yang kedua, kegiatan semakin padat dengan adanya pertunjukan Opera Batak dari pelajar Paropo juga pertunjukan musik tradisi dari beberapa grup musik yakni Boraspati, Equaliz dan lain sebagainya.

Bagi saudara yang masih menikmati seribu tenda dan pertunjukan musik masih ada besok (Minggu, 23 Juli 2017) dan silahkan datang berkunjung, sebab kegiatan ini bukan hanya perhelatan seni namun konservasi juga dilakukan esok yakni penanaman pohon dan tabur bibit ikan di Danau Toba. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Hari Pertama SAFE (Silahisabungan Arts Festival #2) Sukses Digelar

BALIPORTALNEWS.COM – Suling, Sarunai dan tabuh gondang lengkap sudah, mengalirkan suasana pedesaan yang hijau dan berbudaya. Anak-anak dari usia empat tahun hingga sebelas tahun, remaja dan orsng tua, berbondong-bondong dengan kostum daerah, berjalan ke Sopo Godang HKBP Paropo. Raja Turpuk beserta pomparannya duduk di barisan paling depan, berdampingan dengan pengurus Bada Geopark Kaldera Toba, PLN Peduli serta panitia inti SAFE (Silahisabungan Arts Festival) #2. Kecamatan Silahisabungan sedang berbahagia. SAFE #2 dihelat.

Potensi Danau Toba yang memendam kearifan lokal serta warisan budaya tidak dapat dipungkiri lagi. Hal ini merupakan peranan dari generasi muda desa yang diyakini mampi mengekspos potensi tersebut melalui karya pertunjukan serta hasil olahan kreatif dan karya lainnya. Hari pertama SAFE #1 yang dimulai pada siang hari diisi oleh kolaborasi pertunjukan anak-anak yang diantaranya adalah Lomba Mewarnai dan Menggambar, Vocal Group, Fashion Show dan Opera Batak. Kompetisi tersebut dinilai dapat mengasah kreativitas anak-anak sejak dini, sehingga suatu saat mereka dapat mengekspresikan diri untuk mewariskan budaya yang melekat padanya. Anak-anak kecamatan Silahisabungan juga menampilkan sebuah karya pentas berjudul “ Sapuluh Dolok” yang dikemas dalam opera batak. Selama berminggu-minggu, anak-anak mendapatkan pelatihan intensif dari para penggiat Teater. Tidak hanya itu, lomba fashion show juga digelar pada sore harinya, bahkan diberikan penilaian dari Juri yang di undang dari Medan.

PLN Peduli melalui malam budaya yang dihelat juga menyerahkan Gondang dan Kostum Tari kepada Sanggar Grace, yakni sanggar asuhan yang didirikan untuk anak-anak Tao Silalahi berekspresi. PLN peduli berharap agar kedepannya cenderamata tersebut dapat bermanfaat demi berlangsungnya kegiatan kebudayaan.Keesokan harinya (22 Juli 2017), anak-anak sekolah yang terdiri dari siswa SMP hingga SMA akan berjalan menyusuri Bukit Baha ke Pulau Paropo dalam karnaval budaya. Bahkan, akan ada juga pelatihan (workshop) membatik desain khas Tao Silalahi dan handcraft di pinggir Tao Toba. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Anak Angin Luncurkan Album Perdana “Jiwa Merdeka”

BALIPORTALNEWS.COM – Kelompok musik Anak Angin akhirnya meluncurkan album perdana yang dikemas dalam tajuk “Jiwa Merdeka”. Album perdana itu merupakan kumpulan karya kelompok musik besutan I Ketut “Boping” Suryadi, seniman multitalenta yang juga politisi di Tabanan.

Format musik yang terdiri dari Boping (vokal), Teddy Irawan (keyboard, gitar, dan vokal latar), Iwan Andrean (gitar), Anang Rachman (bass dan vokal latar), serta Dean Andreana Hakim (drum), meluncurkan album mereka yang dibalut diskusi dan acara syukuran, Jumat (19/5/2017).

Sejumlah musisi yang ikut terlibat dalam proses penggarapan album itu juga hadir dalam acara tersebut. Di antaranya pimpinan kelompok musik Sirkus Barok, Sawung Jabo. Ada juga musisi Ayu Weda beserta sejumlah alumni kemah budaya. Tak ketinggalan juga dihadiri pengamat musik Bens Leo.

Di album “Jiwa Merdeka” berisi sepuluh lagu. Antara lain Rimba Asing; Calo Jalur Tikus; Gumi Brara Brere; Debu Berkabut; Bercerminlah; Egaliter; Angin Menyambar;Padamu Negeri; Berikan Cinta yang Tersisa; dan Menjadi Matahari.

Dalam sesi diskusi, Bens Leo menyebut pribadi Boping sebagai marwah musik di ranah politik. Memadukan kemampuan berkesenian dengan dunia politik. “Sebuah upaya untuk menyantunkan politik yang selama ini kental dengan intrik. Kesimpulan ini telah dia tuangkan dalam sebuah artikel di salah satu majalah,” ujar Bens.

Soal genre musik yang diusung Anak Angin, Sawung Jabo, malah cenderung tidak tertarik untuk mengelompokkan sebuah karya musik ke dalam satu genre. “Saya tidak tertarik mengelompokkan musik apa. Saya ibaratkan, ini perahu kreatif yang berlayar di samudera luas. Terserah yang dengar, mau menyebutnya musik apa. Kalau saya pribadi, ini musik yang bagus. Itu saja sudah cukup,” tukasnya.

Sementara Boping mengaku tergerak untuk aktif berkesenian, sekalipun saat ini tengah berada di jalur politik. Yang membuatnya intens berkesenian adalah kegelisahannya mengenai kondisi peradaban kebudayaan, seperti yang telah diungkapkan penyair WS Rendra.

“Saya tidak peduli, apakah langkah saya besok akan top sebagai musisi atau tidak. Saya tidak peduli. Yang penting saya berbuat dan berkarya untuk masyarakat, sekecil ruang yang saya tempati. Virus itu juga ditularkan oleh Mas Jabo,” tukas Boping. (ita/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

GLUE & Paviliun Records: Rilis GLUE New EP & Single “TERBIASA”

BALIPORTALNEWS.COM – Setelah merilis album ‘Kesempatan Kedua‘ 2012 silam. Di Bulan April 2017 (Menjelang Record Store Day) kemarin ini Glue, band indie pop lawas yang sering wara wiri di indie/britpop scene Jakarta kembali merilis sebuah mini album bertajuk ‘TERBIASA‘. Mini album ini terdiri dari 5 buah lagu :

  1. Lupakan Sejenak Dunia
  2. Beku
  3. Terbiasa feat Maria ‘Stereomantic’
  4. Dunia Mengapa Kau Membenciku 
  5. Disco13

Terbiasa dan Dunia Mengapa Kau Membenciku merupakan 2 single teranyar. Beku sudah dirilis pada 2015 lalu. Sementara itu Lupakan Sejenak Dunia dan juga Disco13 diambil dari album ‘Kesempatan Kedua‘. Kehadiran vokalis ‘baru rasa lama’ Irvin Kusumah dan Yudha Pramita disisi Keyboard/Synthesizer menjadi pembeda dari album sebelumnya. Sementara duet syahdu dengan Maria Stereomantic‘ pada lagu ‘Terbiasa‘ hadir memberikan efek romantis mini album ini.

Terbiasa juga menjadi single andalan dimini album ini. Lagu ini bercerita tentang pahit manisnya dinamika sebuah relasi asmara yang di bungkus dalam tempo sedang, penulisan lirik yang ringan serta sedikit sentuha nada Timur Tengah pada aransemen Nya. Ada kisah personal dibalik lagu yang dibuat oleh Agustinus Yugo (gitar akustik) ini. ‘Terbiasa’ adalah sebuah lagu yang awalnya didedikasikan sebagai hadiah pernikahan bagi sang istri namun akhirnya menjadi monumen penghormatan terakhir kepergian sang istri akibat kanker. Lagu ini memang terdengar manis sekaligus menyedihkan. (r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :