25 C
Denpasar
Rabu, 22 Agustus 2018

Mendem Pedagingan di Pura Taman Sekar

BALIPORTALNES.COM – Berlangsung upacara mendem pedagingan serangkaian acara ngenteg linggih di Pura Taman Sekar, Banjar Tegeh, Kecamatan Baturiti, Tabanan, yang akan diselenggarakan pada 15 Oktober 2016. Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti pun hadr dalam upacara tersebut, Selasa (4/10/2016).

Hadir pula Ketua DPRD Provinsi Bali I Nyoman Adi Wiryatama, anggota DPRD Kabupaten Tabanan I Nyoman Suadiana, Kabag Kesra I Putu Wirawan, serta tokoh masyarakat.

Ketua Panitia, Ketut Suwela, mengatakan, proses pembangunan di Pura Taman Sekar sudah rampung pada bulan lalu, setelah dikerjakan selama tiga tahun. Sebelas hari lagi upacara ngenteg linggih, yang puncaknya pada Purnama Sasih Kapat.

Pembangunan pura tersebut, katanya, menghabiskan dana sekitar Rp 4,5 miliar. Bersumber dari swadaya masyarakat dan punia. Pura Taman Sekar di-empon 320 KK, 69 di antaranya berstastus sebagai KK aktif.

Bupati Eka mengatakan, yadnya yang dilakukan warga merupakan salah satu bentuk rasa syukur dan terima kasih kehadapan Sang Pencipta. “Dewa yadnya yang dilakukan warga merupakan bentuk pengorbanan tulus ikhlas atas segala murah dan rezeki yang beliau limpahkan,” ujarnya.

Melengkapi rangkaian upacara hari itu, diisi dengan tarian rejang dewa, yang ditarikan anak-anak kecil yang belum menginjak dewasa. Juga menampilkan tari baris tombak dan tari topeng. (ita/bpn)

Beleganjur Gianyar Jadi Tamu Kehormatan di Lumajang 

BALIPORTALNEWS.COM – Festival Baleganjur 2016 Kabupaten Lumajang, Jawa Timur diikuti sembilan kontingen yang berasal dari Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan Malang.

Pada Festival Baleganjur kedua ini,  Bali yang diwakili Kabupaten Gianyar ditunjuk sebagai tamu kehormatan untuk menampilkan kebolehan di depan masyarakat Lumajang.

Penampilan pelajar SMKN 1 Sukawati yang mewakili Kabupaten Gianyar ini berhasil membuat ratusan penonton yang memadati areal wantilan  Pura Mandara Giri Semeru Agung, Lumajang pada Minggu (2/10/2016) terpana menyaksikan penampilan kesenian Bali ini.

Wakil Bupati Gianyar, Made Mahayastra yang turut hadir dalam festival tersebut sangat mengapresiasi pagelaran festival baleganjur ini. 

Dikatakan, festival ini sekaligus merupakan kontribusi nyata Pemkab Lumajang untuk ikut serta melestarikan, membina dan mengembangkan salah satu musik Bali yakni baleganjur di Kabupaten Lumajang.

"Ini merupakan kolaborasi budaya yang sangat indah. Semoga hubungan kerjasama budaya Bali dengan Lumajang ini semakin erat dan terus dapat berlanjut," harap Wabup Gianyar Mahayastra. (hms gianyar/bpn) 

Gubernur Pastika Apresiasi Ketulusan Yadnya Masyarakat Desa Pakraman Tegeh, Angseri, Tabanan

BALIPORTALNEWS.COMPembangunan Pura Taman Sekar di Desa Pakraman Tegeh, Desa Angseri, Tabanan yang dilakukan secara sukarela dan tulus ikhlas oleh masyarakat Desa Pakraman Tegeh mendapat apreasiasi positif dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Ia menyatakan sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan masyarakat Tegeh karena telah mampu melaksanakan yadnya dengan sukarela, tulus dan ikhlas.

Demikian disampaikan dalam sambrama wacananya saat menghadiri rangkaian upacara Ngenteg Linggih di Pura Taman Sekar Desa Pakeaman Tegeh, Desa Angseri, Tabanan, Sabtu (1/10/2016).

"Kalau masyarakat sudah mampu secara sukarela dan tulus ikhlas dalam melaksanakan yadnya itu artinya karya tersebut bisa dikatakan telah sempurna," jelas Pastika yang menurutnya segala sesuatu yang digunakan atau dipersembahkan untuk yadnya ataupun proses pembangunan sebuah pura seharusnya dilandaskan dengan perasaan sukarela dan tulus ikhlas dan juga di barengi dengan semangat gotong royong sehingga apa yang menjadi tujuan dari upcara tersebut dapat tercapai. "Kalau masyarakatnya masih belum mampu untuk sukarela atau belum tulus, pura itu tidak akan menjadi suci," imbuhnya.

Lebih lanjut disampaikan Pastika, setelah proses rangkaian upacara ngenteg linggih tersebut selesai diharapkan pura tersebut mampu untuk dipergunkan secara berkelanjutan untul mempelajari agama.

Menurutnya di Pura tersebut diharapkan setiap hari ada kegiatan yang berkaitan dengan agama, baik itu kegiatan sembahyang, diskusi tentang keagamaan ataupun sekedar sharing dan bertukar pikiran. Sehingga dengan demikian diharapkan hal tersebut mampu untuk meningkatkan sradha bhakti masyarakat kepada Tuhan dan juga pengetahuan tentang agama.

Sementara itu Ketua Panitia Karya Nyoman Ady Wiryatama mengaku sangat berterima kasih atas kedatangan dari Gubernur Pastika dan para undangan lainnya. Menurutnya dengan kehadiran guru wisesa atau Gubernur Bali menjadi saksi kegiatan ngenteg linggih tersebut, upacara tersebut dapat dikatakan telah mencapai sebuah kesempurnaan. Lebih lanjut ia menyampaikan pura tersebut diemong oleh masyarakat desa pakraman Tegeh yang berjumlah 2617 orang.

Pura yang pengerjaannya dilaksanakan selama 2,5 tahun tersebut, pembangunannya murni berasal dari swadaya masyarakat baik itu berupa materi maupun tenaga pembangun ditambah dengan bantuan – bantuan dari pemerintah baik itu Pemprov Bali maupun Pemkab Tabanan. Ia juga menyampaikan bahwa puncak upacara akan dilaksnakan pada tanggal 15 Oktober 2016.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Pastika juga menyerahkan dana punia yang kemudian dilanjutkan dengan penanda tanganan prasasti oleh Gubernur Pastika, Ketua DPRD Bali, dan Bupati Tabanan. Acara persembahyangan bersama kemudian diakhiri dengan acara ramah tamah. (r/humas pemprov bali/bpn)

Tampil Apik, Empat Sekaa Gong Kebyar Pukau Penonton

BALIPORTALNEWS.COM Memasuki hari kelima pelaksanaan Parade Gong Kebyar dan Kesenian Klasik yang merupakan  serangkaian peringatan 110 Tahun Puputan Badung di Kota Denpasar dalam gelaran Mahabandana Prasada Tahun 2016.

Pada Jumat malam (30/9/2016) pelaksanaan Mahabandana Prasada dengan gelaran sebulan penuh parade kesenian klasik dan Gong Kebyar menampilkan empat sekaa gong yakni Sekaa Gong Wanita Canting Mas Sanggar Seni Carat Coblong Desa Pemecutan Kelod berdampingan dengan Sekaa Gong Wanita Remaja Maruta Banjar Lebah Sumerta Kaja. Pada Seksi kedua penampilan Sekaa Gong Kebyar Anak-anak yang menampilkan Sekaa Gong Anak-anak Swara Jaya Banjar Pekandelan berdampingan dengan Sekaa Gong Anak-anak Murda Cruti Banjar Binoh Kaja Ubung.

Para penikmat seni di Kota Denpasar, mulai dari yang tua hingga anak-anak nampak antusias memadati arena pertunjukan dan menikmati jalannya pertunjukkan di Panggung Utama Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung.

Meski suasana pementasan sempat diguyur hujan tidak menyurutkan niat penonton dan anak-anak untuk terus menampilkan satu persatu kebolehannya diatas panggung. Diawali dengan penampilan Sekaa Gong Wanita Remaja Maruta Banjar Lebah Sumerta Kaja yang membawakan Tabuh kreasi Kosalya Arini dimana tabuh ini merupakan sebuah konsep tabuh instrumental yang ditata oleh Bapak I Wayan Berata pada Tahun 1969.

Kosalya Arini merupakan sebuah tanaman obat-obatan yang diekpresikan kedalam musical gong kebyar yang dikemas menjadi sebuah tabuh kreasi kekebyaran. Tidak kalah menarik penampilan kedua oleh Sekaa Gong Wanita Canting Mas Sanggar Seni Carat Coblong Pemecutan Kaja  yang menampilkan tabuh yang berjudul Tabuh Batur Sari, dimana Tabuh Batur Sari merupakan sebuah gending tabuh telu. Gending ini digubah dalam bentuk kreasi gending “mepayas” yang bersumber dari “jajar pageh” gending yang disebut “pengecet”.

Setelah menampilkan tabuh kreasi dilanjutkan dengan penampilan 2 tarian dari masing-masing sekaa gong, Sekaa Gong Wanita Remaja Maruta Banjar Lebah Sumerta Kaja yang menggunakan pakaian bernuansa merah muda ini menampilkan tari panyembrahma dan tari wiranata.

Sedangkan Sekaa Gong Wanita Canting Mas Sanggar Seni Carat Coblong Pemecutan Kaja yang menggunakan pakaian bernuansa hitam tampil apik dengan membawakan tarian yakni Tari Puspawresti dan Tari Wiranata. Pada seksi kedua, tidak kalah dengan seksi pertama penampilan Sekaa Gong Kebyar Anak-anak yang menampilkan Sekaa Gong Anak-anak Swara Jaya Banjar Pekandelan berdampingan dengan Sekaa Gong Anak-anak Murda Cruti Banjar Binoh Kaja Ubung memukau penonton dengan menampilkan 1 tabuh kreasi dan 2 tarian dari masing-masing sekaa gong.

Sekaa Gong Anak-anak Swara Jaya Banjar Pekandelan menampilkan Tabuh Kosalya Arini dan 2 tarian yakni Tari Mregepati dan Tari Manukrawa dan Sekaa Gong Anak-anak Murda Cruti Banjar Binoh Kaja Ubung menampilkan Tabuh Lokaria dan 2 tarian yakni Tari Mregepati dan Tari Baris Bandana Manggala Yuda. Mereka sangat piawai dalam memainkan gambelan yang mendapatkan tepuk tangan dari para penonton, tidak saja dari kalangan masyarakat Kota Denpasar namun juga tampak wisatawan mancanegara. (r/eka/hms pemkot dps/bpn) 

Bupati Badung Hidupkan Kembali Lembaga Listibiya

BALIPORTALNEWS.COM – Pembangunan adat dan budaya menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Badung.  Salah satu Kebijakan yang diambil oleh Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, dalam upaya pelestarian adat dan budaya yang bernafaskan Agama Hindu di Kabupaten Badung, dengan menghidupkan kembali Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya).

Pembentukan Listibiya di Kabupaten Badung melalui melalui Surat Keputusan Bupati Badung, Nomor 1590/02/HK/2016 tentang Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Badung Periode 2016-2021. Bupati Giri Prasta mengatakan, pentingnya pembentukan lembaga ini yang akan membina para seniman, sekaligus memberikan masukan dan pertimbangan kepada pemerintah dalam segala menyangkut seni dan budaya. "Kehidupan masyarakat di Bali tidak lepas dari kegiatan seni, adat dan budaya. Pengaruh modereniasasi sebagai salah satu dampak pesatnya pembangunan sektor pariwisata, tidak boleh mengikis nilai-nilai adat budaya yang kita miliki," kata Bupati.

Untuk itulah, Bupati berharap dengan dibentuknya Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan ini, pembinaan dan pengembangan kebudayaan di Kabupaten Badung secara keseluruhan bisa lebih dimantapkan, guna terwujudnya Kabupaten Badung yang berbudaya dan sejahtera. Bupati juga menekankan, pemerintah akan memperhatikan kehidupan para seniman dan pelaku-pelaku budaya, agar mendaptkan penghargaan serta penghidupan yang layak.   Sementara itu, tugas-tugas Listibiya yang tercantum dalam SK Bupati 1590/2016 adalah, menyampaikamn pertimbangan-pertimbangan kepada Bupati tentang masalah-masalah kebudayaan dan kesenian dalam arti seluas-luasnya, baik diminta maupun tidak diminta.

Membantu Pemerintah Kabupaten Badung dalam membina, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan kepada berbagai pihak baik perorangan, kelompok/lembaga di Kabupaten Badung. Mengusahakan agar para seniman di Kabupaten Badung mendapatkan penghargaan yang wajar dan penghidupan yang layak. Mencegah kemerosotan  mutu kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Badung. Menjaga agar kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Badung tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur yang merendahkan martabat kepribadian masyarakat di Kabupaten Badung, serta menyampaikan laporan evaluasi dan bertanggung jawab secara berkala kepada Bupati Badung.

Adapun susuanan Kepengurusan Listibiya Kabupaten Badung sebagai berikut, sebagai pembina Bupati Badung, Wakil Bupati Badung, Ketua DPRD Badung, Sekretaris Daerah, dan Kepala Dinas Kebudayaan Badung. Dewan Penasehat/Pertimbangan Ketua Ida Bagus Gede Mambal, S.Ag, Sekretaris I Gusti Lanang Subamia dan memiliki 7 orang anggota. Selanjutnya jajaran pengurus diketuai  I Gusti Ngurah Artawan, Wakil Ketua I Nyoman Darmu , Sekretaris I I Made Mindrawan, Sekretaris II Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan. Bendahara I AA Made Suarsana, Bendahara II I Ketut Wirawan. Lembaga ini juga memiliki koordinator-koordinator di sejumlah bidang. (r/humas pemkab badung/bpn)

 

Keterangan Foto : Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta dan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa.

Karya Agung di Pura Taman Sekar Tegeh

BALIPORTALNEWS.COM – Menjelang upacara ngenteg linggih di Pura Taman Sekar, Desa Pakraman Tegeh, Kecamatan Baturiti, Tabanan, ratusan warga pengempon Pura Luhur Taman Sekar mengikuti melasti ke Ulun Danu Beratan, Rabu (28/9/2016). Proses melasti diawali dengan matur piuning di pura setempat, yang diikuti seluruh pengempon Desa Pakraman Tegeh.

Upacara melasti juga dilakukan mulang pekelem ke tengah laut, dengan sarana berupa ayam, itik, dan kambing hitam. Upacara melasti ini dipuput Sri Empu dari Griya Kelaci. Proses melasti kemudian diakhiri dengan sembahyang bersama.

Ketua Panitia, yang juga Bendesa Adat I Made Yudiana, mengatakan, puncak karya di Pura  Taman Sekar akan digelar pada 15 Oktober mendatang, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Prosesi nyejer selama 11 hari.

“Pembangunan pura telah rampung bulan lalu, setelah proses pembangunan selama kurang lebih tiga tahun. Bulan depan, tepatnya pada Purnama Sasih Kapat, kami akan melaksanakan puncak acara ngenteg linggih,” ujarnya.

Pembangunan pura dikatakan telah menghabiskan dana sekitar Rp 4,5 miliar, yang didapat dari swadaya masyarakat dan punia. Pura Taman Sekar diempon 320 KK, 69 di antaranya berstastus sebagai KK aktif. (ita/bpn)

Rai Mantra : Kebudayaan Adalah Sebuah Kebutuhan

BALIPORTALNEWS.COM – Setelah Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Utara dan Denpasar Timur, kini giliran Kecamatan Denpasar Selatan yang di evaluasi oleh Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar, yang mana pada kesempatan ini Desa Pakraman Panjer yang menjadi duta Kecamatan Denpasar Selatan dalam Evaluasi Pembinaan Penataan Desa Pakraman dan Taman Gegirang Tingkat Kota Denpasar, Senin sore (27/9/2016) di Wantilan Desa Pakraman Panjer.

Evaluasi Desa Pakraman ini di hadiri dan disaksikan langsung Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya sekaligus membuka evalusi dengan penerimaan awig-awig Desa dari Jro Bendesa Desa Pakraman Panjer I Nyoman Budiana. Hadir juga dalam evaluasi ini  Plt. Kebudayaan Kota Denpasar Ni Nyoman Sujati, Camat Denpasar Selatan AA Gde Risnawan, Ketua Tim Panureksa Sabha Upadesa Kota Denpasar I Wayan Meganada, Kades, Lurah, Tim Sabha Upadesa dan Krama Desa Pakraman Panjer. Dimana dalam evaluasi pembinaan penataan Desa Pakraman Kota Denpasar ini, Desa Pakraman Panjer mengikutkan 9 Banjar Adat.

“Peninaian Evaluasi Pembinaan Penataan Desa Pakraman ini janganlah dijadikan suatu beban, akan tetapi jadikanlah suatu kebutuhan untuk masyarakat semua, dikarenakan kebudayaan adalah sebuah kebutuhan di Bali. Yang merupakan ini salah satu cara mengangkat harkat dan martabat atau harga diri kebudayaan kita sebagai orang Bali, sebab kebudayaan itu di dunia adalah sebuah harga diri. Dimana kebudayaan ini sangat dekat dengan Desa Pakraman, disinilah bibit-bibit kebudayaan harus terus di kembangkan dan dipertahankan,” kata Walikota Rai Mantra.

Di era globalisasi ini tantangan sebuah Desa Pakraman dalam mempertahankan kebudayaan harus di dasari oleh konsep Tri Hita Karana didalam menjalaninya dengan Tri Hita Karana yang meliputi Parahyangan yang merupakan kepercayaan terhadap Tuhan, Pawongan merupakan perwujudan antar sesama manusia dan Palemahan perwujudan alam semesta atau lingkungan/wilayah yang merupakan inti dari sebuah kebudayaan yang harus di jalani. Oleh sebab itu diperlukan strategi kegiatan kebudayaan dalam sebuah obyek sebagai unsur-unsur sebuah kebudayaan, dimana unsur kebudayaan ini terdiri tujuh unsur yang meliputi Agama, Aksara, Seni, Organisasi Sosial, Pendidikan, Ekonomi dan Teknologi, ketujuh unsur ini lah yang disebut dengan Ketahanan Desa Pakraman.

Sementara Ketua Tim Panureksa Sabha Upadesa Kota Denpasar I Wayan Meganada mengatakan, Lomba Pembinaan Penataan Desa Pakraman dan Taman Gegirang Tingkat Kota Denpasar di masing-masing Kecamatan ini guna memberikan pembinaan kepada Desa Pakraman untuk meningkatkan peran sertanya dalam menggali, melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Bali. Dikarenakan Denpasar merupakan tempat sebagai titik pertemuan masyarakat Bali untuk mencari nafkah, jadi dengan pembinaan ini kebudayaan di Denpasar bisa tetap di pertahankan.

Selain juga untuk meningkatkan ketahanan sebuah Desa Pakraman, dimana indentitas budaya yang ada tidak  akan hilang begitu saja jika sebuah ketahanan pelestarian budaya daerah terus di jaga, di rawat, dipertahankan dan di teruskan oleh generasi muda sekarang ini. (ays’/humas pemkot dps/bpn)

Generasi Muda Diharapkan Maknai Ajaran Seni Sastra Guna Hadapi Tantangan Hidup

BALIPORTALNEWS.COMPelestarian terhadap seni sastra Bali harus terus dilakukan. Tidak sekedar merupakan warisan, seni sastra  mengandung nilai filosofis dan ajaran agama. Salah satu upaya untuk menjaga kelestarian seni sastra Bali adalah melalaui kegiatan Utsawa Dharma Gita yang digelar rutin setiap tahun. kegiatan ini diharapkan bisa menjadi media bagi generasi muda untuk memamahami dan mendalami makna ajaran agama yang mengandung filsafat, etika dan estetika guna pembentukan karakter sejalan dengan tantangan dan permasalahan hidup yang semakin komplek saat ini.

Demikian penegasan yang disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat membuka secara resmi penyelenggaraan Utsawa Dharma Githa ke-27 Tahun 2016 yang ditandai dengan pemukulan Gong di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Selasa (27/9/2016). “Kegiatan ini penting sekali dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter generasi muda, karena dalam sastra-sastra itu terdapat nilai-nilai luhur ajaran agama yang bisa dijadikan pedoman dalam menghadapi kehidupan ini, semakin sering materi-materi disampaikan semoga semakin baik karakter dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada,” cetus Pastika.

Harapan tersebut menurut Gubernur Pastika sangat perlu mengingat di era globalisasi seperti saat ini terdapat berbagai issu-issu dan ancaman yang patut diwaspadai, sehingga diperlukan penyamaan pemikiran dan tindakan dengan benteng ajaran agama yang kuat. Kedepannya, frekuensi kegiatan seperti ini diharapkan Gubernur Pastika semakin diperbanyak dan digelar rutin setiap tahun. “Kedepannya harus terus dilaksanakan, dan tidak berhenti hanya sekedar membaca membaca, tetapi dipahami makna dan artinya, serta yang terpenting diamalkan,” pungkas Pastika.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha yang dalam kegiatan ini selaku Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan kegiatan Utsawa Dharma Gita bertujuan sebagai media pelestarian sastra dan ajaran-ajaran agama Hindu. Sebelum kegiatan ini berlangsung, pihaknya sudah melaksanakan pembinaan-pembinaan ke seluruh Kabupaten/Kota di Bali.

Adapun kategori yang dilombakan dalam acara ini yakni Sloka, Kidung, Kekawin, Dharma Wacana, Dharma Wacana Bahasa Inggris, serta Dharma Widya. Direncanakan digelar selama 3 hari, mulai 27 s.d 29 September 2016, yang diikuti oleh Kontingen dari Kabupaten/Kota se-Bali. lebih jauh, Ia menjelaskan kontingen yang menjadi juara umum akan mewakili Bali dalam ajang Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional yang rencananya akan dilaksanakan di Palembang.

Dalam acara yang turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun, juga dilaksanakan Pengukuhan Tim Dewan Juri, serta pembacaan Sloka. (r/humas pemprov bali)

Program Rahina Berbahasa Bali Kembali akan Digiatkan

BALIPORTALNEWS.COM – Pemerintah Kota Denpasar kembali akan menggulirkan program rahina berbahasa Bali bagi siswa di Denpasar.

‘’Program rahina bahasa Bali itu akan kita gulirkan mulai pendidikan anak usia dini (PAUD),’’ kata Wayan Sukana, Selasa (27/9/2016).

Menurut Sukana, terobosan ini dilakukan untuk menghargai kearifan lokal, dan sebagai upaya menyelamatkan bahasa Bali yang makin terpinggirkan dan seolah jadi bahasa ‘’asing’’ bagi manusia Bali sendiri.

‘’Program rahina berbahasa Bali itu akan segera digulirkan tinggal menunggu surat keputusan (SK) Walikota Denpasar,’’ ujar Wayan Sukana.

Menurut Wayan Sukana, meskipun hanya diberlakukan selama satu hari  setiap pekannya, atau setiap rerahinan Purnama atau Tilem, paling tidak kita punya setitik harapan bahwa program yang mewajibkan seluruh siswa menggunakan bahasa Bali ini akan menjadi ''rahim'' yang subur bagi "kelahiran" generasi-generasi penutur bahasa Bali baru.

‘’Terus terang, saya cukup tersentak mendengar prediksi menyatakan bahasa Bali akan punah di tahun 2041. Kalau bahasa Bali sampai punah, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Bali ini. Bali akan kehilangan salah satu kekayaannya yang sangat berharga," ujar Wayan Sukana.

Menurut Wayan Sukana, prediksi lain yang menyatakan  bahasa Bali tinggal satu generasi saja itu wajib disikapi secara serius. Dikatakan, prediksi itu sejatinya lebih banyak bertujuan untuk membuat manusia Bali jengah sehingga tergugah untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan secara terstruktur dan tersistematisasi.

Kendati mengaku tidak yakin seratus persen bahasa Bali  akan "terkubur" begitu cepat atau hanya dalam hitungan puluhan  tahun, namun argumentasi itu jelas bukan hal yang mengada-ada. ‘’Kalau memang ada niat, saya yakin bahasa Bali juga bisa dimanfaatkan sebagai ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam menyampaikan materi pelajaran matematika, fisika, kimia dan sebagainya. Tentu saja, tidak semua istilah bisa serta merta diterjemahkan ke dalam bahasa Bali karena memang belum ada padanannya dalam bahasa Bali,’’ ujarnya. (tis/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
4PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
12PelangganBerlangganan