28 C
Denpasar
Rabu, 21 November 2018

Ringankan Beban Masyarakat, Bupati Giri Prasta Serahkan Dana Upakara

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pada rahina tilem kasa, Kamis (12/7/2018) kemarin, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta didampingi anggota DPRD Badung I Nyoman Satria menghadiri Karya Tawur Balik Sumpah di Pura Dalem, Br. Cengkok, Desa Adat Cengkok, Desa Baha, Kec. Mengwi. Karya ini merupakan rangkaian dari Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan, Padudusan Agung Menawa Ratna medasar Tawur Balik Sumpah Uttama di Pura Dalem, Desa Adat Cengkok yang puncaknya dilaksanakan pada 18 Juli mendatang. Guna mendukung karya tersebut, pada kesempatan itu Bupati menyerahkan bantuan dana upakara secara simbolis sebesar Rp. 1,2 Miliar.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyampaikan terima kasih atas terlaksananya karya agung di Pura Dalem Desa Adat Cengkok. Hal ini sangat sejalan dengan prioritas pembangunan di Badung dalam upaya melestarikan seni, adat, agama, tradisi dan budaya yang berlandaskan Tri Hita Karana.

Dijelaskan bahwa hadirnya pemerintah ditengah-tengah masyarakat, sebagai bukti bahwa pemerintah membantu meringankan beban masyarakat seperti pembangunan pura maupun bantuan dana upakara, sehingga masyarakat tidak lagi mengeluarkan urunan maupun peson-peson dana.

“Kami ingin meringankan beban pribadi dan beban komunal masyarakat. Beban pribadi seperti kesehatan, pendidikan dan pajak PBB gratis. Beban komunal itu yang disebut peson-peaon, untuk pembangunan pura, odalan, beli gong, pembangunan wantilan maupun balai banjar. Kami yakin dengan beban yang kami sudah bantu sehingga, uang masyarakat dapat dikelola sendiri, dan sudah tentu ekonomi keluarga akan naik,” jelas Giri Prasta.

Selain itu pemkab badung akan mengback-up rencana pembangunan Pura Desa dan Puseh Desa Adat Cengkok hingga tuntas. Untuk itu Bupati mengajak krama Cengkok tetap bersatu dan meningkatkan rasa segilik, seguluk, seluwung-luwung sebayantaka.

Panitia Karya, I Nyoman Rana melaporkan karya agung ini dilaksanakan serangkaian telah selesainya pembangunan pura dalam yang telah rampung 5 tahun lalu.

“Untuk karya ini, kami telah mulai merencanakan tiga tahun lalu. Terlaksananya karya inu juga tidak terlepas dari bantuan pemkab badung khususnya bapak bupati badung. Kami matur suksma kepada Bapak Bupati Badung yang telah membantu karya ini sebesar 1,2 M,” ujar Nyoman Rana.

Selain pembangunan pura, krama Cengkok juga nangiang tapakan barong ket yang sempat hilang 15 tahun lalu. Nangiang tapakan ida bhatara, merupakan bantuan Penglingsir Puri Ubud. Ditambahkan, krama desa adat Cengkok berjumlah 15 sepaon, 44 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 225 jiwa. Rencana kedepan, krama akan melanjutkan pembangunan di Pura Desa lan Puseh. Untuk itu pihaknya akan kembali memohon bantuan kepada Pemkab Badung, semoga pembangunan Pura Desa lan Puseh dapat terlaksana dengan tuntas. (humas-badung/bpn)

Legong Binor Ceritakan Sejarah Binoh Di Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kota Denpasar dengan semangat pengembangan kesenian yang tinggi mampu membangkitkan kembali kesenian yang merupakan ciri khas Kota Denpasar. Seperti halnya salah satu kesenian kuno Palegongan Saih Lima di Desa Poh Gading tepatnya di Banjar Binoh Kaja. Dimana, dengan pelaksanaan rekonstruksi, beberapa gending tua yang khas turut dipentaskan Sekaa Palegongan Semare Pegulingan Banjar Binoh Kaja yang tampil menjadi Duta Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 ini di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (29/6/2018).

Tampak Kalangan Ayodya penuh dengan kerumunan penonton yang ingin menyaksikan kesenian palegongan di Denpasar ini. Adapun materi yang dibawakan pada ajang Parade Tari dan Tabuh Palegongan Klasik tahun ini meliputi Tabuh Gegambangan, Tari legong Keraton Lasem, Tabuh Kebyat-kebyut yang keseluruhanya menggunakan gaya palegongan dengan pakem khas Binoh. Serta  sebagai penampilan pamungkas turut dipentaskan Legong Binor yang menceritakan perjalananDang Acarya Widyarka Kacaiwan ring Binor sebagai cikal bakal adanya Banjar Binoh di Denpasar.

Panglingsir Sekaa Palegongan Binoh, I Made Djesna Winada saat dijumpai disela pementasan mengatakan bahwa penampilan ini merupakan regenerasi Palegongan Binoh, Banjar Binoh Kaja. Suksesnya penampilan tahun ini tak lepas dari kepedulian dan partisipasi seluruh masyarakat Banjar Binoh Kaja untuk kembali membangkitkan kesenian legong klasik ini.

Lebih lanjut dikatakan, keberadaan sekaa palegongan yang kini telah memasuki regenarasi yang ketiga ini telah berhasil merekontruksi berbagai kesenian palegongan dengan pakem khas Binoh. Beberapa diantaranya seperti Tabuh Gegambangan dan Kebyat-Kebyut yang merupakan karya maestro palegongan I Wayan Lotring. “Kami di Binoh mempunyai pakem palegongan tersendiri dengan gambelan saih lima, selain itu, Binoh juga merupakan salah satu desa yang memiliki kesenian legong yang khas di Kota Denpasar,” paparnya.

Kordinator Sekaa, I Wayan Sudiana mengatakan bahwa Binoh memang merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesenian palegongan di Kota Denpasar. Dimana, saat ini ciri khas yang mencolok dari palegongan Binoh adalah jenis gambelan saih lima dengan gantungan rotan di setiap ujung gambelanya. “Iya kalau masyarakat melihat gambelan saih lima dengan gantungan rotan itu pasti dari Binoh dsan gambelanya juga telah berusia sangat tua,” tuturnya.

Terkait dengan persiapan, walaupun materi yang dibawakan sebanyak empat tabuh dan tari, pihaknya mengaku diperlukan rasa dalam membawakan kesenian dengan ciri khas tertentu. Memahami rasa dalam membawakan tabuh inlay yang cukup lama, termasuk menyesuakian dantara tabuh dan suara gerong.  “Kalau hanya membawakan saya rasa sudah jauh-jauh hari siap, tapi bagaimana kita mampu menampilkan kesenian yang mampu memberikan kesan khas sebagaimana yang diketahui masyarakat tentang Palegongan Binoh, baik itu koteknya, gedignya, dan pakem-pakemnya sehingga pembawaan mampu mewakili kekhasan tabuhnya,” ungkapnya.

Salah satu penabuh, Satria Wicaksana mengaku bangga dapat turut andil dalam melestarikan kesenian khas di banjar Binoh Kaja. Sebagai generasi muda tentu pihaknya berharap semakin banyak anak-anak yang mau melestarikan legong. “Saya senang dapat menjadi bagian pelestarian seni di Banjar Binoh Kaja yang merupakan kesenian palegongan khas di Kota Denpasar,” pungkasnya. (ags/humas-dps/bpn)

Wayang Kulit Babad Duta Denpasar Angkat Kisah Dalem Sidhakarya

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kesenian wayang kulit masih tetap lestari ditengah pesatnya kemajuan zaman di Kota Denpasar. Hal ini tampak saat Parade Wayang Kulit Babad pada gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018. Dimana, Duta Kota Denpasar turut menampilkan Wayang Kulit Babad dengan mengangkat kisah perjalanan Brahmana Keling di Bali yang merupakan cikal-bakal Dalem Sidhakarya.

Kordinator Wayang Kulit Duta Kota Denpasar, I Made Gede Wira Bhuana Putra saat diwawancarai usai pementasan mengatakan bahwa adapu cerita yang diangkat tahun ini merupakan perjalanan Brahmana Keling di Bali sebagai cikal-bakal Dalem Sidhakarya. “Sesuai dengan kearifan lokal dan cerita rakyat Bali, bahwa di Denpasar terdapat sebuah desa yang menjadi saksi perjalanan Brahmana Keling, yakni Desa Sidhakarya,” ungkapnya.

Desa Sidhakarya inilah yang dulunya bernama Bandana Negara yang merupakan Pasraman Brahmana Keling. Disanalah Brahmana Keling menerima permintaan maaf dari Dalem Waturenggong karena telah mengusir saudaranya sendiri dari Pura Besakih ketika itu yang menyebabkan gagalnya pelaksanaan Karya Eka Dasa Ludra.

Sekembalinya Brahmana Keling dengan mengucapkan japa mantra maka Upacara Eka Dasa Ludra dapat dilaksanakan kembali bersamaan dengan upacara Nangluk Mrana, karena sebelumnya Bali pernah mengalami kegeringan dan kekeringan. “Atas jasa Brahmana Keling yang telah menyukseskan upacara tersebut maka mulai saat itu pula Brahma Keling bergelar Dalem Sidakarya dan pasramanya di Bandana Negara kini dikenal dengan Desa Sidhakarya,” ungkapnya.

Terkait dengan persiapan, Wira Bhuana mengaku telah melaksanakan persiapan sejak enam enam bulan bersama Sanggar Suara Mekar Br. Antap Panjerselaku pendukung pementasan . Hal ini lantaran cerita yang dibawakan harus berdasarkan babad yang ada. “Kalau kesulitan tidak terlalu, karena rentang waktu latihan juga cukup panjang sehingga materi yang dibawakan dapat maksimal,” paparnya.

Sementara, Dalang Duta Kota Denpasar, I Wayan Ary Putra Negara mengaku bangga mampu mengabdikan ilmunya kepada Kota Denpasar sebagai seorang seniman wayang. “Saya merasa bangga dapat tampil sebagai duta Kota Denpasar di ajang PKB tahun ini, hal ini dikarenakan PKB merupakan ajang apresiasi seni tertinggi bagi seniman di Bali sehingga menjadi kebanggan tersendiri,” pungkasnya. (ags/humas-dps/bpn)

Angkat Swabawaning Nur, Baleganjur Denpasar Refleksikan Sepirit Penciptaan Layang Janggan ‘Naga Raja’

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Sajian lomba Baleganjur anak-anak kembali memeriahkan gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018. Lima sekaa yang merupakan duta kabupetan di Bali turut unjuk aksi di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art, Center Denpasar, Senin (25/6/2018) malam. Tak ketinggalan turut tampil unjuk kebolehan Sekaa Baleganjur Dharma Sandhi, Banjar Dangin Peken, Denpasar Selatan yang membawakan kreasi Baleganjur bertajuk Swabawaning Nur.

Selain itu, turut tampil sekaa baleganjur Duta Kabupaten Tabanan, Kabupetan Karangasem, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Klungkung. Hadir dalam kesempatan tersebut Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara bersama pimpinan OPD di Kota Denpasar untuk memberikan dukungan langsung kepada Duta Kesenian Kota Denpasar.

Kordinator Sekaa, I Made Aditya Prayudi didampingi Komposer I Wayan Arik Wirawan saat diwawancarai usai pementasan mengatakan bahwa persiapan pementasan ini telah dilakukan sejak enam bulan lalu. Dimana, diperlukan sajian garapan yang mampu dibawakan oleh anak-anak. “Kalau dulu Baleganjurnya dewasa sehingga kekuatan dari penabuh lebih tinggi, namun saat ini anak-anak, sehingga harus disesuaikan dengan kekuatan anak-anak, namun jika dibandingkan dari segi kekuatan, anak-anak saat ini sudah baik dalam membawakan gending baleganjur dewasa,” paparnya.

Dikatakan lebih lanjut, judul Swabawaning Nur merupakan pengembangan dari tema inti PKB yakni Teja Dharmaning Kahuripan dengan makna api sebagai sepirit penciptaan. Swabawaning Nur berasal dari kata Swabawa yang artinya karakter dasar, sedangkan Nur artinya sumber cahaya. Sehingga Swabawaning Nur dapat diartikan sebagai sepirit api untuk kreatifitas penciptaan.

Aditya Prayudi mengatakan bahwa api merupakan bagian dari Panca Maha Butha yang dapat menjadi cikal bakal munculnya semangat penciptaan. Semangat inilah yang nantinya menjadi ikon budaya baru seperti halnya layangan Janggan Nagaraja yang fenomenal. “Api itu dapat diartikan sebagai semangat, semangat inilah yang mampu menciptakan sebuah kreatifitas seperti layangan Nagaraja yang merupakan layangan janggan terbesar dab terpanjang di Bali ini dapat diselesaikan dan mencatatkan rekor muri,” paparnya.

Semangat penciptaan layangan inilah yang dikemas melalui sajian tabuh baleganjur dengan judul Swabawaning Nur. Dimana, beragam aktifitas dalam penciptaan layangan janggan Nagaraja sebagai ikon budaya yang mampu diwujudkan. Seperti halnya mulai dari membelah bambu, meraut buluh, merakit, memasang kain, dan saat menerbangkan layang-layang dengan penuh rasa riang gembira.

Dengan memadukan dentuman kendang lanang wadon dengan iringan hentakan cengceng kopyak membuat ledakan semangat yang pantang menyerah. Ditambah jalinan melodi reong, ponggang, kajar, kempli, gong dan kempur seakan meliyuk indah seperti gerakan ekor sang Nagaraja di udara. “Tabuh Baleganjur inilah yang menjadi gambaran tentang semangat pantang menyerah generasi muda Banjar Dangin Peken yang senantiasa selalu optimis dalam setiap kegiatan,” ujarnya

Terkait dengan juara, pihaknya mebgaku mempercayakan kepada dewan juri dan masyarakat. Dimana, seni merupakan sesuatu hal yang mengacu kepada rasa yang metaksu dan mendapat kesempatan untuk melestarikanya saja sudah merupakan suatu kebanggan. “Untuk juara kita percayakan saja kepada dewan juri dan masyarakat penikmat seni, intinya kami sudah berusaha maksimal dalam menampilkan garapan baleganjur sebagai duta Kota Denpasar,” tandasnya.

Sementara, Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara yang hadir dalam kesempatan tersebut turu mengapresiasi penampilan apik dari Sekaa Baleganjur Dharma Sandi Banjar Dangin Peken sebagai Duta Kota Denpasar. “Kami mewakili Pemkot Denpasar mengapresiasi dan berterimakasih atas penampilan apik dari sekee baleganjur anak-anak ini, kedepanya semoga dapat terus berkontribusi bagi kelestarian dan pengembangan seni di Kota Denpasar,’ harapnya. (ags/humas-dps/bpn)  

Pastika Ajak Para Cendikiawan Kembalikan Kejayaan Hindu

BALIPORTALNEWS.COM – Saat ini Hindu di dunia tengah menghadapi tantangan dan persoalan yang sangat kompleks. Salah satu persoalan yang cukup serius adalah makin berkurangnya jumlah penganut Hindu di dunia. Untuk itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang juga selaku Presiden World Hindu Parisad (WHP) mengajak para cendikiawan dan tokoh agama bersama-sama berjuang mengembalikan kejayaan Hindu. Hal tersebut diungkapkannya pada Pembukaan World Hindu Wisdom Meet (WHWM) ke-6 Tahun 2018 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Sabtu (23/6/2018).

Lebih jauh Pastika mengungkap, Hindu pernah menjadi agama terbesar pada masanya. Namun saat ini penganutnya makin berkurang hingga hanya menjadi nomor empat. Mengutip data statistik dari sejumlah sumber, dia menyebut penganut Hindu saat ini hanya 15 persen dari penduduk dunia dan di Indonesia presentasenya tak lebih dari 1,69 persen. “Untuk Bali memang masih mayoritas yaitu 82 persen, namun perlu dicatat bahwa sebelumnya pernah mencapai 90 persen,” ujarnya. Data tersebut memberi gambaran bahwa Agama Hindu tengah menghadapi persoalan serius. “Tiap tahun jumlahnya berkurang, apa yang terjadi dan apa yang harus kita lakukan, itu yang perlu kita rumuskan,” imbuhnya. Jika tak segera dievalusi, dia khawatir Agama Hindu akan hilang secara perlahan-lahan.

Menyikapi hal tersebut, Pastika mengajak umat khususnya kalangan pemuka agama melakukan introspeksi internal. “Kalau anak-anak kita banyak yang pindah agama, itu salah kita sebagai orang tua. Jangan salahkan mereka atau pihak yang mengajak,” imbuhnya. Menurut Pastika, banyak hal yang harus menjadi bahan perenungan. Para cendikiawan dan tokoh agama diminta menghentikan perdebatan karena hal itu membuat bingung kalangan muda. “Kita harus menghentikan perdebatan tentang masa lalu. Memang, untuk memahami hidup sesekali kita perlu menengok ke belakang, namun jangan sering-sering. Saatnya kita melihat ke depan untuk menghadapi perubahan yang terjadi sedemikian cepat,” bebernya.

Pastika menaruh harapan besar terhadap pelaksanaan WHMM ke-6 yang secara khusus mengangkat tema Hindu For Better Life (Hindu untuk Kehidupan yang Lebih Baik). Cendikiawan Hindu dari sejumlah Negara yang hadir dalam pertemuan ini diharapkan menyumbangkan pemikiran segar dan praktis untuk dituangkan dalam buku manual Hindu for Better Life yang nantinya dapat dipedomani kalangan generasi muda. Karena sejauh ini, sebagian umat khususnya di Bali masih berputar-putar pada level paling bawah yaitu upacara sehingga mengesankan kalau Hindu itu rumit.  “Bukan berarti saya ingin menghilangkan upacara, tapi mari kita rumuskan yang simpel dan mudah dipahami. Jangan buat Hindu itu rumit sehingga anak-anak kita bingung, mumet, ruwet, merasa berat dan akhirnya terbang,” cetusnya.

Pada bagian lain, Pastika juga mengingatkan pentingnya validasi data jumlah umat. Menurutnya hal itu sangat penting karena akan menjadi pedoman Dirjen Bimas Hindu untuk memperjuangkan kepentingan umat.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. I Ketut Widnya mengapresiasi pelaksanaan WHMM yang mengangkat tema Hindu for Better Life. Menurut dia, tema ini sangat relevan dengan kondisi Hindu saat ini. Dia berharap, pertemuan ini menghasilkan rumusan yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas SDM Hindu dalam menghadapi era globalisasi.  Hal senada juga disampaikan Ketua PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. Dia ingin, Umat Hindu mempunyai nilai tawar dan selalu berjalan di jalan dharma.

Sedangkan Chairman Organizing Commite sekaligus Sekjen WHP I Ketut Donder,M.Pd menerangkan bahwa WHP telah terbentuk sejak tahun 2013 dan menjadikan WHWM sebagai agenda tahunan. Tiap tahun, ujar Donder, kegiatan ini mengusung tema berbeda yang disesuaikan dengan kondisi. Tahun ini tema yang diangkat yaitu Hindu For Better Life (Hindu untuk Kehidupan yang Lebih Baik). Tema tersebut dipilih sesuai dengan kondisi umum umat Hindu di berbagai negara termasuk Indonesia. WHWM 2018 juga dimaksudkan untuk menginventarisir SDM Hindu sebagai modal untuk melakukan perbaikan sosial, mempertebal keyakinan umat tentang kebenaran ajaran agama.

Narasumber WHWM 2018 berasal dari dalam dan luar negeri antara lain Swami Paramatmananda Saraswati (India) membawakan topik Understanding to Hindu Teaching for Better Life, Prof. Subash Chandra Das (India) dengan topik Global Hindu Networking fo Better Life, Ajay Singh (India) dengan topik International Advocacy for Hindu Case, Dr. Chandra Saragan (Malaysia) dengan topik Silambam : Revining the Ancient Hindu Martial Art (Malaysia, Silambam Hindu Martial Art), Swami Anand Krishna (Anand Ashram, Indonesia) dengan topik Tri Hita Karana : Indigenous Balinese Hindu Wisdom System for Modern Time, Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran (Indonesia) dengan topik Spiritual Tourism for Better Life,  Ngakan Putu Putra, SH, MA, (Indonesia) dengan topik Bhagawad Gita as Practical Guidence, I Gede Sudibya membawakan topik Implementation the Spirit of Hindu Economic. WHWM 2018 diikuti peserta dari berbagai lembaga seperti PHDI Pusat dan Daerah, Dewan Persatuan Pasraman Indonesia, Perwakilan dari Kementerian Agama RI, LSM dan organisasi Hindu di Indonesia, Perguruan Tinggi Hindu di Indonesia, Tokoh Masyarakat Hindu di Indonesia, peserta dari beberapa negara baik perorangan maupun organisasi serta perwakilan mahasiswa Hindu di Indonesia.

Kegiatan WHWM 2018 dikemas dengan model seminar yang dibarengi dengan berbagai acara pentas Seni Drama in Sanskriti about the Ancient History of Hindu Maharsi Journey to Bali, pentas seni silat Martial Art of Silambam as the Ancien Hindu Martial Art Malaysia berkolaborasi dengan Pasraman Seruling Dewata Bali. (humas-bali/bpn)

327 Seniman Denpasar Ikuti Pawai Pembukaan PKB ke-40 Tahun 2018

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018 yang diawali dengan pawai pembukaan secara resmi dibuka Presiden RI, Joko Widodo di Kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi, Renon, Denpasar, Sabtu (23/6/2018).

Ajang apresiasi seni tahunan yang digagas Mantan Gubernur Bali, Alm. Prof. IB Mantra ini tentunya diikuti oleh duta kesenian sembilan kabupaten/kota di Bali serta utusan luar daerah dan bahkan luar negeri. Turut hadir dan melaksanakan peninjauan Plt. Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara untuk memberikan dukungan dengan meninjau kesiapan seniman secara langsung sebelum pawai dibuka secara resmi. Dalam kesempatan tersebut 327 seniman yang merupakan perwakilan 22 banjar turut andil sebagai Duta Kota Denpasar dalam pawai kali ini.

Plt. Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara saat diwawancarai disela peninjauan kesiapan tim kesenian pawai mengatakan bahwa Pemkot Denpasar mendukung penuh pelaksanaan PKB setiap tahunya. Ajang PKB ini dapat menjadi wahana bagi seniman Kota Denpasar untuk mengembangkan seni dan kebudayaan serta kearifan lokal Bali khususnya Kota Denpasar sebagai ajang pelestarian dan penguatan dalam berkesenian.

“PKB ini merupakan ajang apresiasi seni bagi seluruh seniman di Kota Denpasar sebagai upaya pelestarian dan pengembangan seni di Kota Denpasar,” jelas Jaya Negara.

Sementara, Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram mengatakan bahwa pawai Duta Kota Denpasar tahun ini diwakili oleh Desa Peguyangan. Dimana terdapat sedikitnya 327 seniman yang berasal dari 22 banjar ikut serta dalam pawai yang mengimplementasikan tema pokok ‘Teja Dharmaning Kahuripan’ yakni ‘Purana Ing Pageh Hyang’ yang merupakan asal mula Desa Peguyangan.

Lebih lanjut dikatakan bahwa adapun iringan pawai Duta Kota Denpasar diawali kendaraan hias bunga jempiring yang merupakan maskot Kota Denpasar. Turut ditampilkan  Tari Legong Dedari Kanda Pat Sari yang menggambatkan kisah kearifan lokal dan situs kebudayaan yang ada di Kota Denpasar. Dimana, kesenian ini merupakan duplikasi dari kesenian sakral di Pura Luhur Kanda Pat Sari yang berada di Desa Paguyangan.

Selain itu, turut ditampilkan 30 gebogan, Tari Wayang Wong yang merupakan salah satu dari 9 tari Bali yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, busana truna/truni Denpasar, Tradisi Ngelawang serta Fragmentari Babad Paguyangan Barak yang merupakan pengembangan Purana Ing Pageh Hyang. Dimana fragmentari tersebut mengisahkan antara pertempuran Goak Buleleng yang dipimpin Ki Barak Panji Sakti dengan Pasukan yang dipimpin Kyai Jambe Merik dari Kerajaan Badung.

“Inilah salah satu cerita dan kearifan lokal di Kota Denpasar yang dikembangkan dalam sajian pementasan seni budaya sebagai wujud pelestarian seni, budaya, situs dan ritus yang ada di Kota Denpasar, khususnya Desa Peguyangan yang berada di wilayah Kecamatan Denpasar Utara,” jelasnya.

Salah seoarang peserta, Ni Made Rustini mengaku senang dapat mengikuti pawai pembukaan PKB ke-40 ini. Dirinya merasa senang lantaran dapat tampil secara langsung di depan panggung kehormatan yang diisi oleh pajabat dan bahkan presiden RI. “Ini kesempatan langka, dan membanggakan dapat tampl sebagai duta Kota Denpasar di PKB tahun 2018 ini,” ungkapnya. (humas-dps/bpn)

Jaya Negara Buka Pitik Kite Festival Ke-8

BALIPORTALNEWS.COM – Tarik Layangan jenis Bebean “Poleng” ke Udara, Plt. Walikota Denpasar IGN Jaya Negara membuka secara resmi Festival Layang-Layang Pitik Kite Festival ke-8 yang di adakan oleh Sekaa Teruna Setia Remaja Bajar Pitik Pedungan, Sabtu (23/6/2018) di persawahan Abasan Sari.

Sebelum itu, Jaya Negara menyerahkan Piala Bergilir Walikota Denpasar kepada Ketua Panitia Pitik Kite Festival ke-8 untuk diperebutkan kembali oleh peserta layang-layang tahun ini.

Selain ikut menaikan layangan jenis bebean, Jaya Negara juga berkesempatan menaikan layangan jenis Janggan dan ikut serta memasang Bungan Guwangan Pertama (memasang pita suara yang bergetar yang terbuat dari daun pohon ental) pada layangan bebean. Walaupun cuaca mendung dan gerimis, akan tetapi antusias peserta tidak padam, apalagi dengan di tambah lantunan gambelan Baleganjur tak pernah putus yang terus mengiring para peserta lomba kite festival ini.

“Saya sangat mengapresiasi dan mendukung kreativitas anak muda di Kota Denpasar khususnya Sekaa Teruna Setia Remaja Bajar Pitik Pedungan yang secara rutin setiap tahunya mengadakan lomba kite festival, yang tentu mendukung pelestarian kebudayaan memainkan layang- layang disamping dampak ekonomis yang juga bisa didapat”, ungkap Jaya Negara saat di temui disela-sela kegiatan. Dimana layang-layang merupakan bentuk kebudayaan khas yang kita miliki sebagai orang Bali. Dan berbagai jenis layangan khas seperti bebean, janggan dan pecukan hanya bisa ditemukan di Bali.

Sementara Ketua Panitia Pitik Kite Festival, IGA Gede Dharma Putra mengatakan, perlombaan layang-layang ini telah memasuki tahun ke-8 dengan peningkatan peserta setiap tahunnya yang cukup drastis. Dimana pada tahun ini di ikuti oleh 700 layang-layang yang akan mengudara berlomba menunjukan ke elokannya di udara, dengan berbagai jenis layangan seperti layangan janggan, bebean, pecukan dan layangan kreasi baru selama dua hari ini, dari tanggal 23 sampai 24 Juni 2018.

Tidak hanya dari Denpasar saja, Pitik Kite Festival ini juga di ikuti dan dimeriahkan oleh peserta dari beberapa Kabupaten yang ada di Bali. Adapun para juri berasal dari unsur seniman layangan dan budayawan yang akan menilai layangan dari segi warna, bentuk, guwangan, kondisi terbang dan kekompakan peserta. Dimana nantinya para peserta akan memperebutkan piala bergilir Walikota Denpasar. (ays’/humas-dps/bpn)

Bale Pesandekan Honda Bagikan Pamedek Dupa Untuk Sembahyang Di Pura Sakenan

BALIPORTALNEWS.COM – Ribuan umat memadati pujawali di Pura Sakenan, saat Kuningan yang merupakan rangkaian Galungan yang bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawaan Adharma (keburukan) yang dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya sepuluh hari setelah hari raya Galungan.

Astra Motor Bali, melalui Semeton Honda Bali Card kembali menyediakan fasilitas yang dapat dinikmati umat Hindu yang melakukan persembahyangan di Pura Sakenan. Fasilitas yang disiapkan berupa tempat istirahat nyaman “Bale Pesandekan Honda” untuk para pamedek (umat) yang bersembahyang di Pura Sakenan.

Di Bale Pesandekan Honda hadir mulai, (8-9/6/2018), di mana pamedek selain dapat beristirahat sejenak juga dibagikan dupa sebagai sarana sembahyang, serta tambahan minuman free (gratis). “Ini wujud nyata kepedulian Honda untuk masyarakat Bali, semoga fasilitas ini dapat memberikan manfaat untuk konsumen khususnya pamedek yang sembahyang di Pura Sakenan yang setiap harinya diperkirakan mencapai ribuan umat,” kata Region Head Astra Motor Bali, Ronaldo Widjaja.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan Astra Motor Bali, yang diselenggarakan 2 kali setiap tahunnya dengan harapan dapat mempererat ikatan emosional masyaraka Bali, kepada Honda. (ngr/bpn)

Pujawali Pura Sakenan, Jaya Negara Ajak Pemedek Selalu Jaga Kebersihan Lingkungan

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Bertepatan dengan Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (9/6/2018), sejak pagi Umat Hindu dengan berpakaian adat sudah memadati Pura Sakenan Desa Pekraman Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan. Umat Hindu sangat antusias menyambut dan merayakan hari Raya Kuningan, selain sembahyang di merajan rumah masing-masing, umat juga tangkil ke sejumlah pura, salah satunya Pura Sakenan.

Tak terkecuali Plt. Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara didampingi Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara berserta Pimpinan, dan staf OPD di Lingkungan Pemkot Denpasar tampak hadir serta melakukan persembahyangan di Pura Sakenan yang juga bertepatan dengan puncak Karya Pujawali.

Persembahyangan bersama yang dipuput dua sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Putra Telaga Griya Telaga Sanur dan Ida Pedanda Gede Putra Bluangan Griya Gede Delod Pasar. Pelaksanaan puncak pujawali ini terasa sangat khusuk  diiringi dengan tarian wali, topeng, kekidungan dan gambelan. Pujawali ini merupakan suatu wujud rasa syukur yang dilaksanakan Pemkot Denpasar dalam upaya melanjutkan pembangunan di Kota Denpasar.

Plt. Walikota Jaya Negara mengatakan, dengan selalu memohon petunjuk kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dari pelaksanaan upacara ini mampu memantapkan Sradha Bhakti kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari namun tak terlepas dari hal tersebut, diharapkan kepada pemedek yang tangkil agar tertib dan mematuhi aturan yang ada, selalu menjaga kebersihan lingkungan Pura serta membuang pada tempatnya sarana-sarana persembahyangan yang telah selesai dipakai sehingga tercipta kenyamanan bersama.

Panitia Karya Pujawali Pura Sakenan Ida Bagus Gede Pidada yang ditemui disela-sela kegiatan mengatakan Pujawali kali ini menggunakan pebangkit disertakan pula pakelem alit ke segara. Lebih lanjut dikatakan seperti pujawali sebelumnya, Pujawali kali ini didukung oleh pemkot Denpasar dengan segala fasilitasnya. Selain itu, pada tahun 2019 akan dilaksanakan kegiatan Eka Darsa Warsa Karya serangkaian karya di Pura Sakenan.

Sedangkan Lurah Serangan Wayan Karma mengatakan, Upacara pujawali ini secara rutin dilaksanakan  bertepatan pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan dilaksanakan selama 5 hari dan penyineban pada hari Selasa mendatang.

“Kami berharap pemedek tidak berbondong-bondong tangkil pada puncak pujawali ataupun Manis Kuningan karena Ida Bathara akan nyejer selama 5 hari dan pada hari Selasa (12/6/2018) nanti karya baru masineb sehingga masih ada kesempatan untuk tangkil dan terhindar dari suasana ramai serta berdesak-desakan, demi kenyamanan bersama,” harapnya.

Terkait dengan penataan parkir maupun kenyamanan pemedek pihaknya mengaku sudah melaksanakan langkah intensif yang sudah dikoordinasikan dengan pengempon, pengemong, serta bantuan dari Pemkot Denpasar, demi kenyamanan dan keamanan pemedek yang setiap tahunnya bertambah.

“Melalui bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar serta seluruh komponen masyarakat agar selalu menjaga lingkungan areal Pura serta penataan parkir yang rapi diharapkan dapat memberi rasa nyaman dan aman dalam melaksanakan persembahyangan”, katanya. (eka/humas-dps/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
11PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
83PengikutMengikuti
23PelangganBerlangganan