21.6 C
Denpasar
Selasa, 23 Oktober 2018

Kontingen Denpasar Siap Ikuti Utsawa Dharma Gita Tingkat Provinsi

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Persiapan kontingen Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar menuju ajang Utsawa Dharmagita Tingkat Provinsi Bali Tahun 2018 telah memasuki tahap akhir. Kemarin pada Rabu (25/7/2018) bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, kontingen Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar ini secara resmi dilepas Sekda Kota Denpasar, AAN. Rai Iswara didampingi Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN. Bagus Mataram dan seluruh jajaran terkait lainnya.

Sekda Kota Denpasar, AAN. Rai Iswara dalam sambutannya mengucapkan selamat berlomba sembari memompa semangat seluruh Kontingen Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar. “Utsawa Dharma Gita merupakan wadah pengembangan mental serta kepribadian terutama bagi generasi muda. Telah terbukti dari ajang ini mampu melahirkan tokoh- tokoh serta pemimpin berpengaruh disegala bidang. Setelah mengikuti ajang ini, diharapkan dari puluhan peserta perwakilan Kota Denpasar ini akan lahir sosok – sosok berbudi pekerti yang akan melanjutkan pembangunan di masa yang akan datang,” ujar Rai Iswara.

Lebih lanjut Rai Iswara turut mengapresiasi prestasi Kontingen Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar yang sebelumnya telah empat kali berturut- turut berhasil menggondol juara Utsawa Dharma Gita Tingkat Provinsi Bali dan dua kali juara Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional. “Prestasi yang telah diraih ini tentu bukan kebetulan semata. Didalam nya tercermin keberhasilan Pemkot Denpasar dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya sesuai dengan visi misi kota berawawasan budaya. Bagi para peserta, pesan saya sebelum berlomba agar membahas kriteria lomba untuk dijadikan standarisasi dan menetapkan tujuan sehingga bisa dirumuskan strategi berupa keterampilan dan teknik berlomba. Teknik disini tentu berupa dasar ilmu seni drama seperti ekspresi dan lain sebagainya yang dibalut percaya diri. Niscaya hasil terbaik akan diraih nantinya” ungkap Rai Iswara.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I.GN Bagus Mataram saat ditemui mengatakan Kontingen Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar telah siap seratus persen untuk mengikuti ajang Utasawa Dharma Gita Tingkat Provinsi Bali Tahun 2018, 27 hingga 29 Juli mendatang. “Dalam ajang tahun ini Kota Denpasar total menerjunkan 86 peserta dengan rincian 16 peserta membaca Sloka, 12 peserta menghafal Sloka, 10 peserta Kakawin/Wirama, 10 Peserta Palawakya, 10 Peserta Geguritan/Macepat, 15 peserta Kidung, 2 peserta Dharma Wacana Bahasa Bali, 9 peserta Dharma Widya dan 2 peserta Dharma Wacana Bahasa Inggris. Peserta dibagi dari kategori anak hingga dewasa baik putra maupun putri. Tentu semangat yang diberikan Sekda Rai Iswara saat melepas peserta menjadi motivasi bagi kontingen Kota Denpasar dalam mempertahankan prestasi yang telah diraih sebelumnya,” ujar I.GN Bagus Mataram.

Salah satu peserta kategori Geguritan Remaja Putri, Ni Made Wikandina Putri yang berkesempatan membawakan Pupung Dangdang saat acara pelepasan peserta berharap dapat menampilkan performa maksimal saat lomba sehingga mampu mengharumkan Kota Denpasar. “Saya berlomba nanti pada hari Sabtu, 28 Juli 2018. Persiapan saya tentu terus berlatih tekun didampingi pembina dan menjaga kesehatan,” tutur gadis yang sebelumnya juga pernah mewakili Kota Denpasar di tingkat nasional pada ajang yang sama. (esa/humas-dps/bpn) 

Banjar Tainsiat Siap Gelar Festival Puputan Badung ke-5

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Hari Puputan Badung yang diperingati setiap 20 September menjadi sebuah momentum perjuangan masyarakat Denpasar.  Dikemas dalam balutan seni dan budaya Bali, Banjar Tainsiat yang berkolaborasi dengan Pemkot Denpasar kembali menggelar peringatan Puputan Badung Ke-112 Tahun 2018  yang akan dilaksanakan 20-21 September mendatang.

Hal ini terungkap saat Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara bertatap muka dengan Panitia Festival Puputan Badung Tainsiat ke-5 tahun 2018,  Senin (23/7/2018) malam di Denpasar. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram.

Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram mengatakan peringatan Puputan Badung yang dikemas apik dalam Festival Puputan Badung sangat ideal mengambil tempat di Catus Pata Banjar Tainsiat. Hal ini lantaran kawasan tersebut pernah terjadi peristiwa heroik Puputan Badung dengan tokoh sentral I Gusti Ngurah Made Agung yang kini sebagai Pahlawan Nasional.

“Bukti sejarah, dan semangat perjuangan tentu harus kita maknai sebagai momentum untuk membangun semangat dalam membangun Kota Denpasar secara berkesinambungan dengan melibatkan sektor terbawah seperti halnya krama banjar,” ujar Rai Iswara.

Pihaknya menambahkan, kegiatan kreatif yang digagas oleh Banjar Tainsiat bersama ST. Yowana Saka Bhuwana ini sejalan dengan visi misi Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra dan Wakil Walikota I GN Jaya Negara memberikan pemaknaan semangat heroik Puputan Badung dengan gelaran kegiatan budaya. “Dari semangat Puputan Badung ini dapat menjadi ajang pelestarian seni dan budaya Bali di Kota Denpasar,” paparnya.

Sementara Ketua Panitia I Putu Suyatna mengatakan pelaksanaan Peringatan Puputan Badung kembali digelar Banjar Tasinsiat yang tahun ini memasuki tahun ke-5. Sinergitas di berbagai lini, mulai dari Pemkot Denpasar, Desa Dangin Puri Kaja dapat menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Kota Denpasar untuk memaknai semangat heroik Perang Puputan Badung. Sajian kegiatan budaya Peringatan Puputan Badung tahun ini dilaksankan  selama dua hari dari tanggal 20-21 September mendatang. Kegiatan meliputi gelaran stand produk UMKM lokal, beragam lomba seni, budaya dan kearifan lokal yang juga dimeriahkan penampilan Wayang Cengblonk.

“Kami mengucapkan terimaksih kepada Pemkot Denpasar yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini serta menjadikan Peringatan Puputan Badung di Banjar Tainsiat kalender event Denpasar, ujarnya. (ags/humas-dps/bpn)

331 Orang Calon Jamaah Haji Denpasar Dilepas

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Sebanyak 331 orang calon jamaah Haji dari Kota Denpasar dilepas di Graha Sewaka Dharma Lumintang  menuju keberangkatan ke tanah suci dari Embarkasi Surabaya, Senin (23/7/2018). Pelepasan calon jamaah Haji ini dihadiri Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar Komang Sri Marheni.

Dalam kesempatan tersebut Sekda Rai Iswara mengajak semua calon Jamaah Haji Kota Denpasar untuk bersama-sama menjaga Kota Denpasar, melestarikan dan membangun Denpasar ini agar aman, nyaman, damai bersih dan berbudaya. Tidak hanya itu Rai Iswara berharap agar Jamaah Haji Kota Denpasar juga membawa visi budaya, karena Denpasar sandaran adalah Kota berwawasan budaya .

 Menurut Rai Iswara ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan ketangguhan fisik karena ritualnya ada di dua kota yakni Mekah dan Kota Madinah yang memiliki jarak yang cukup jauh. ‘’Untuk itu saya mengimbau agar calon Jamaah Haji dapat menjaga kesehatan dengan makan makanan yang sehat dan bergizi disertai interval istirahat yang cukup,’’ ujarnya

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar  Komang Sri Marheni mengatakan,  Jamaah Haji Kota Denpasar yang telah melunasi biaya perjalanan ibadah Haji (BPIH) dan siap berangkat sebanyak 331 orang . Keberangkatan Calon Jamaah Haji Kota Denpasar terbagi dalam 2 kelompok terbang (kloter) yakni kloter 60 dan kloter 61. Walaupun berbeda kloter namun jadwal keberangkatan maupun kepulangan tidak berbeda hari namun hanya berbeda 2 jam saja.

Menurutnya Jamaah Haji Kota  Denpasar akan diberangkatkan menuju embarkasi Surabaya pada tanggal 5 Agustus 2018 dan diterima pukul 21.00 wita. Selanjutnya Jamaah Haji akan diterbangkan pada senin tanggal 6 Agustus 2018 pada pukul 21.30 Wib menuju Jeddah dengan rentang perjalanan udara selama kurang lebih 9 jam perjalanan nonstop

Pada fase kepulangan jamaah Haji akan tiba kembali di Surabaya pada tanggal 17 September 2018 pukul 04.55 wita. Dan langsung dibawa ke debarkasi Surabaya untuk proses verifikasi kepulangan, penyerahan koper dan air zamzam. Setelah proses tersebut selesai Jamaah Haji langsung dipulangkan ke Denpasar atau ada yang memilih pulang langsung ke kampung halamannya masing-masing.

Menurutnya pendaftaran Haji sudah memakai sistem online Siskohat (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) sehingga prosesnya relatif cepat sepanjang jaringan bekerja dengan kontinu dan normal. Meskipun demikian ia tidak memukiri bahwa daftar tunggu (waiting list) calon jamaah Bali khususnya Kota Denpasar mencapai kisaran 19 tahun. ‘’Fenomena ini terjadi karena cukup antusiasnya warga Kota Denpasar untuk mendaftar Haji dengan setoran awal Rp 25 juta. Walau harus menunggu selama 19 tahun kedepan untuk bisa berangkat,’’ ujarnya. (ayu/humas-dps/bpn)

Hari Terakhir Pelaksanaan PKB ke-40, Dua Duta Kesenian Lintas Generasi Denpasar Unjuk Kebolehan Bawakan Gong Kebyar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR -Menjelang berakhirnya gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke – 40 Tahun 2018,  pementasan unik turut disajikan Duta Keseniam Kota Denpasar Pada Sabtu (21/7/2018) siang di Kalangan Ratna Kanda, Art Centre.  Dimana, tampil Sekaa Gong Lansia Wredha Sancayate, Br. Tatasan Kaja, Desa Pakraman Tonja mebarung dengan Sekaa Gong anak – anak Gargita Kumara asal TK (Taman Kanak – Kanak) Kumara Sari,  Br. Mertayasa Desa Pamecuta Kaja, Denpasar. Penampilan dua Sekaa Gong beda generasi ini sangat menghibur dan memancing antusiasme tinggi penonton yang memenuhi lokasi pertunjukan.

Pagelaran Gong Kebyar Mebarung antar generasi ini dibuka oleh penampilan Sekaa Gong Lansia Wredha Sancayate menampilkan garapan Tabuh Pat Lelambatan Semarandana yang mengandung arti romantisme keindahan dalam api asmara. Dilanjutkan dengan penampilan Sekaa Gong Anak – Anak Gargita Kumara, TK Kumara Sari,  Br. Mertayasa Desa Pamecuta Kaja membawakan Tabuh Gita Kumara yang memiliki filosofi pengajaran kesenian budaya Bali yang berdampak positif bagi anak. Dilanjutkan kemudian penampilan Tari Rarejangan Siwa Prastuti yang memiliki arti persembahan dengan perasaan suka cita yang mendalam. Tari ini dibawakan dengan luwes oleh sembilan penari wanita lansia diiringi oleh Sekaa Gong Lansia Wredha Sancayate.

Sejurus kemudian anak – anak Sekaa Gong Gargita Kumara kembali melanjutkan penampilan mengiringi tarian Rare Satyaning Bumi yang menceritakan anak – anak yang sedang bermain peran sebagai prajurit penjaga ibu pertiwi. Dilanjutkan penampilan Tari Durga Jauk Manis penggambaran raksasa yang diiringi tetabuhan oleh Sekaa Gong Lansia Wredha Sancayate. Dilanjutkan kemudian penampilan Dolanan (Permainan Kolang – Kaling) dibawakan anak – anak TK Kumara Sari,  Br. Mertayasa Desa Pamecuta Kaja. Menceritakan anak – anak tengah bermain permainan tradisional dan dibagi menjadi dua kelompok. Parade Baleganjur lintas generasi ini ditutup oleh penampilan Sekaa Gong Lansia Wredha Sancayate membawakan garapan Tabuh Gegitan Gita Sala yang tetinspirasi oleh ritual pemujaan yang dilakukan di Pura Maospahit, Denpasar di setiap enam bulan sekali.

Kadisbud Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram didampingi Kordinator Kedua Sekaa, I Wayan Wijaya dan I Ketut Subrata mengatakan bahwa pementasan kali ini merupakan satu-satunya yang menampilkan dua generasi dalam satu panggung, yakni lansia dan siswa TK. “Hanya kami di Denpasar yang menampilkan lansia dan siswa TK dalam satu panggung,” ujar Mataram disela pementasan.

Lebih lanjut dikatakan, dari pementasan dua generasi berbeda ini tentu sangat produktif bagi kreatifitas lansia serta sebagai ajang pengenalan seni budaya sejak dini bagi anak-anak. “Dengan menabuh dan menari, maka lansia akan semakin aktif beraktiftas, dan anak-anak semakin mengenali seni sejak usia dini, sehingga kedepanya pelestarian seni budaya dapat mendarah daging di berbagai kalangan masyarakat Bali,” paparnya.

Pihaknya berharap, kedepan Gong Kebyar Lansia dan Gong Kebyar Anak-anak Siswa TK dapat diwadahi dalam sajian parade dengan menampilka  duta dari masing-masing kabupaten/kota di Bali. “Kami berharap kedepanya parade Gong Kebyar ditambah lagi dua, yakni anak-anak TK dan Lansia,” harapnya.

Salah seorang penabuh lansia, I Wayan Suweca mengaku senang dapat menjadi bagian pelestarian seni dan budaya walaupun memasuki usia senja. “Intinya dapat menjadi bagian pelestarian seni dan membawakan materi dengan maksimal,” ujarnya.(humas-dps/bpn)

GKD Duta Denpasar Tampilkan Sendratari Gugurnya Duryudana

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Duryudana yang merupakan saudara tertua Korawa harus merelakan 99 adiknya gugur di medan pertempuran Kurusetra. Hal inilah yang memastikan bahwa Duryudana harus perang tanding di medan laga Bratayuda melawan Bima yang bersumpah untuk memukul paha Duryudana lantaran dulu pernah memangku Dewi Drupadi. Di akhir peperangan, 100 Korawa harus mengakui kekalahan dan menyerahkan Kerajaan Astina Pura kepada Pandawa.

Wiracerita Gugurnya Duryudana tersebut dikemas dalam sajian sendratari dengan gerak tari nan apik yang dipadukan dengan penokohan dalang dalam balutan harmoni gambelan menambah sempurna penampilan Gong Kebyar Dewasa (GKD) Arsa Winangun, Desa Pakraman Poh Gading, Duta Kota Denpasar saat ‘mebarung’ dengan Sekaha Gong Kebyar Dewasa  Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Warmadewa, Duta Provinsi Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art,  Center, Denpasar, Sabtu (14/7/2018) malam.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara, serta pimpinan OPD di Lingkungan Pemkot Denpasar guna memberikan dukungan langsung bagi Duta GKD Kota Denpasar. Adapun materi yang dibawakan Sekaa Gong Kebyar Dewasa Arsa Winangun yakni Tabuh Pat Lelambatan Kreasi Langlang Linggah, Tari Kebyar Terompong, Tari Kreasi Wangsa Gata, serta sebagai penampilan pamungkas turut dibawakan Sendratari Mahabrata dengan judul Gugurnya Duryudana.

Kordinaor Sekaa, I Ketut Suwanditha saat diwawnacarai usai pementasan mengatakan bahwa secara intensif persiapan telah dilakukan sejak enam bulan  yang lalu. Hal ini mengingat banyaknya materi yang tenu harus dimaksimalkan. “Walaupun pementasan Gong Kebyar bersifat parade, namun sebagai seniman yang akan pemntas di gelaran seni terbesar di Bali hendaknya hartus menampilkan pementasan yang berkualitas sebagai wujud pelestarian dan [engembangan seni budaya Bali,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, GKD yang melibatkan sedikitnya 100 seniman lebih ini tentunya menjadi gambaran perkembangan seni dan budaya di Kota Denpasar. Terkait dengan kendala, pihaknya mengatakan bahwa secara teknis maupun penguasaan materi tidak begitu berarti. Hal ini lantaran para seniman yang terlibat hampir merata merupakan praktisi di bidang seni tabuh, tari dan pedalangan.

“Kalau terkait materi secara prinsip tidak ada masalah, namun demikian perlu dilakukan pendalaman bagi para penabuh dan penari agar materi yang dibawakan memiliki rasa tersendiri bagi para penikmat sehingga tidak hanya asal gerak atau asal menabuh saja, melainkan haru ada rasa dan penjiwaan dalam seni,” pungkasnya.

Sementara, Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara mengapresiasi apiknya penampilan GKD Arsa Winangun Duta Kota Denpasar. Selain itu, tema Sendratari yang diambil dari Epos Wiracerita Mahabrata tentu sangat baik bagi masyarakat. Hal ini lantaran selain menikmati seni sebagai hibura, masyarakat juga dapat memetik nilai-nilai kehidupan dalam cerita Mahabrata.

“Mewakili Pemkot Denpasar saya mengucapkan selamat dan sukses serta berterimakasih kepada GKD Arsa Winangun dan duta kesenian lainya yang telah mengharumkan Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya dengan berpenampilan apik di ajang PKB tahun 2018 ini,” pungkas Jaya Negara. (ags/humasdps/bpn)

179 Warga Denpasar Ikut “Potong Gigi” Massal

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Upacara potong gigi yang dilaksanakan secara massal sama sekali tidak mengurangi makna dari ritual yang dilaksanakan. Justru akan lebih membangun kekompakan umat Hindu.

Sebanyak 179 warga beragama Hindu di Kota Denpasar, mengikuti ritual “mepandes” atau potong gigi secara massal yang di gelar Pasek Maha Gotra, di Pura Pasek, Tegal, Jumat (13/7/2018).

“Upacara potong gigi yang dilaksanakan secara massal sama sekali tidak mengurangi makna dari ritual yang dilaksanakan. Justru akan lebih membangun kekompakan umat Hindu,” kata Ketua Panitia I Wayan Tantra yang juga Perbekel Pemecutan Kelod. Dalam prosesi yang dimaksudkan untuk mengendalikan “Sad Ripu” atau enam musuh dalam diri manusia itu (menurut ajaran Hindu), terlihat semua peserta tiap sesi silih berganti enam gigi bagian atasnya diasah oleh para “sangging” (petugas khusus yang berwenang mengasah gigi umat Hindu).

Para peserta juga melangsungkan persembahyangan bersama pada saat sebelum dan setelah giginya “dipotong”.

“Upacara yang dilangsungkan secara massal ini, selain tidak mengurangi hakikat pemaknaan ritual, dampaknya akan sangat meringankan umat Hindu, khususnya bagi mereka yang tidak mampu,” ujarnya.

Menurut Tantra, bukan besar kecilnya upacara yang akan menentukan makna dari sebuah ritual tetapi keikhlasan umat jauh lebih penting.

“Upacara potong gigi menjadi salah satu kewajiban para orang tua kepada anaknya yang harus dilaksanakan setelah putra-putri menginjak dewasa (akil baligh),” ujarnya.

Namun, tidak jarang umat menunda pelaksanaannya karena jika dilangsungkan di masing-masing rumah tangga setidaknya dibutuhkan biaya minimal Rp10 juta. Potong gigi massal ini menjadi salah satu agenda ritual yang dijadwalkan oleh Pasek Maha Gotra serangkaian upacara atma wedana.

Camat Denpasar Barat AAN Made Wijaya mewakili Walikota Denpasar menyampaikan apresiasi pelaksanaan ritual metatah (potong gigi) massal yang digelar oleh Pasek Maha Gotra

“Saya berharap setelah mengikuti prosesi ini, semua kekotoran dan sifat negatif dalam diri dapat dikendalikan dan dihilangkan,” kata Wijaya.

Lebih lanjut Ia mengatakan metatah jangan hanya diartikan sebagai kegiatan potong gigi semata. Mereka yang menjalani prosesi ini hendaknya memaknai upacara ini sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan kekotoran dan mengendalikan “Sad Ripu” atau enam sifat buruk yang ada pada diri masing-masing.

“Saya berharap lebih banyak lagi lembaga yang terketuk untuk melaksanakan kegiatan semacam ini,” ujarnya. Wijaya juga mengingatkan agar umat senantiasa menyatukan langkah dan pikiran untuk menjaga kerukunan serta kelestarian adat budaya Bali. (gst/humas-dps/bpn)

Ringankan Beban Masyarakat, Bupati Giri Prasta Serahkan Dana Upakara

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pada rahina tilem kasa, Kamis (12/7/2018) kemarin, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta didampingi anggota DPRD Badung I Nyoman Satria menghadiri Karya Tawur Balik Sumpah di Pura Dalem, Br. Cengkok, Desa Adat Cengkok, Desa Baha, Kec. Mengwi. Karya ini merupakan rangkaian dari Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan, Padudusan Agung Menawa Ratna medasar Tawur Balik Sumpah Uttama di Pura Dalem, Desa Adat Cengkok yang puncaknya dilaksanakan pada 18 Juli mendatang. Guna mendukung karya tersebut, pada kesempatan itu Bupati menyerahkan bantuan dana upakara secara simbolis sebesar Rp. 1,2 Miliar.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyampaikan terima kasih atas terlaksananya karya agung di Pura Dalem Desa Adat Cengkok. Hal ini sangat sejalan dengan prioritas pembangunan di Badung dalam upaya melestarikan seni, adat, agama, tradisi dan budaya yang berlandaskan Tri Hita Karana.

Dijelaskan bahwa hadirnya pemerintah ditengah-tengah masyarakat, sebagai bukti bahwa pemerintah membantu meringankan beban masyarakat seperti pembangunan pura maupun bantuan dana upakara, sehingga masyarakat tidak lagi mengeluarkan urunan maupun peson-peson dana.

“Kami ingin meringankan beban pribadi dan beban komunal masyarakat. Beban pribadi seperti kesehatan, pendidikan dan pajak PBB gratis. Beban komunal itu yang disebut peson-peaon, untuk pembangunan pura, odalan, beli gong, pembangunan wantilan maupun balai banjar. Kami yakin dengan beban yang kami sudah bantu sehingga, uang masyarakat dapat dikelola sendiri, dan sudah tentu ekonomi keluarga akan naik,” jelas Giri Prasta.

Selain itu pemkab badung akan mengback-up rencana pembangunan Pura Desa dan Puseh Desa Adat Cengkok hingga tuntas. Untuk itu Bupati mengajak krama Cengkok tetap bersatu dan meningkatkan rasa segilik, seguluk, seluwung-luwung sebayantaka.

Panitia Karya, I Nyoman Rana melaporkan karya agung ini dilaksanakan serangkaian telah selesainya pembangunan pura dalam yang telah rampung 5 tahun lalu.

“Untuk karya ini, kami telah mulai merencanakan tiga tahun lalu. Terlaksananya karya inu juga tidak terlepas dari bantuan pemkab badung khususnya bapak bupati badung. Kami matur suksma kepada Bapak Bupati Badung yang telah membantu karya ini sebesar 1,2 M,” ujar Nyoman Rana.

Selain pembangunan pura, krama Cengkok juga nangiang tapakan barong ket yang sempat hilang 15 tahun lalu. Nangiang tapakan ida bhatara, merupakan bantuan Penglingsir Puri Ubud. Ditambahkan, krama desa adat Cengkok berjumlah 15 sepaon, 44 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 225 jiwa. Rencana kedepan, krama akan melanjutkan pembangunan di Pura Desa lan Puseh. Untuk itu pihaknya akan kembali memohon bantuan kepada Pemkab Badung, semoga pembangunan Pura Desa lan Puseh dapat terlaksana dengan tuntas. (humas-badung/bpn)

Legong Binor Ceritakan Sejarah Binoh Di Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kota Denpasar dengan semangat pengembangan kesenian yang tinggi mampu membangkitkan kembali kesenian yang merupakan ciri khas Kota Denpasar. Seperti halnya salah satu kesenian kuno Palegongan Saih Lima di Desa Poh Gading tepatnya di Banjar Binoh Kaja. Dimana, dengan pelaksanaan rekonstruksi, beberapa gending tua yang khas turut dipentaskan Sekaa Palegongan Semare Pegulingan Banjar Binoh Kaja yang tampil menjadi Duta Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 ini di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (29/6/2018).

Tampak Kalangan Ayodya penuh dengan kerumunan penonton yang ingin menyaksikan kesenian palegongan di Denpasar ini. Adapun materi yang dibawakan pada ajang Parade Tari dan Tabuh Palegongan Klasik tahun ini meliputi Tabuh Gegambangan, Tari legong Keraton Lasem, Tabuh Kebyat-kebyut yang keseluruhanya menggunakan gaya palegongan dengan pakem khas Binoh. Serta  sebagai penampilan pamungkas turut dipentaskan Legong Binor yang menceritakan perjalananDang Acarya Widyarka Kacaiwan ring Binor sebagai cikal bakal adanya Banjar Binoh di Denpasar.

Panglingsir Sekaa Palegongan Binoh, I Made Djesna Winada saat dijumpai disela pementasan mengatakan bahwa penampilan ini merupakan regenerasi Palegongan Binoh, Banjar Binoh Kaja. Suksesnya penampilan tahun ini tak lepas dari kepedulian dan partisipasi seluruh masyarakat Banjar Binoh Kaja untuk kembali membangkitkan kesenian legong klasik ini.

Lebih lanjut dikatakan, keberadaan sekaa palegongan yang kini telah memasuki regenarasi yang ketiga ini telah berhasil merekontruksi berbagai kesenian palegongan dengan pakem khas Binoh. Beberapa diantaranya seperti Tabuh Gegambangan dan Kebyat-Kebyut yang merupakan karya maestro palegongan I Wayan Lotring. “Kami di Binoh mempunyai pakem palegongan tersendiri dengan gambelan saih lima, selain itu, Binoh juga merupakan salah satu desa yang memiliki kesenian legong yang khas di Kota Denpasar,” paparnya.

Kordinator Sekaa, I Wayan Sudiana mengatakan bahwa Binoh memang merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesenian palegongan di Kota Denpasar. Dimana, saat ini ciri khas yang mencolok dari palegongan Binoh adalah jenis gambelan saih lima dengan gantungan rotan di setiap ujung gambelanya. “Iya kalau masyarakat melihat gambelan saih lima dengan gantungan rotan itu pasti dari Binoh dsan gambelanya juga telah berusia sangat tua,” tuturnya.

Terkait dengan persiapan, walaupun materi yang dibawakan sebanyak empat tabuh dan tari, pihaknya mengaku diperlukan rasa dalam membawakan kesenian dengan ciri khas tertentu. Memahami rasa dalam membawakan tabuh inlay yang cukup lama, termasuk menyesuakian dantara tabuh dan suara gerong.  “Kalau hanya membawakan saya rasa sudah jauh-jauh hari siap, tapi bagaimana kita mampu menampilkan kesenian yang mampu memberikan kesan khas sebagaimana yang diketahui masyarakat tentang Palegongan Binoh, baik itu koteknya, gedignya, dan pakem-pakemnya sehingga pembawaan mampu mewakili kekhasan tabuhnya,” ungkapnya.

Salah satu penabuh, Satria Wicaksana mengaku bangga dapat turut andil dalam melestarikan kesenian khas di banjar Binoh Kaja. Sebagai generasi muda tentu pihaknya berharap semakin banyak anak-anak yang mau melestarikan legong. “Saya senang dapat menjadi bagian pelestarian seni di Banjar Binoh Kaja yang merupakan kesenian palegongan khas di Kota Denpasar,” pungkasnya. (ags/humas-dps/bpn)

Wayang Kulit Babad Duta Denpasar Angkat Kisah Dalem Sidhakarya

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kesenian wayang kulit masih tetap lestari ditengah pesatnya kemajuan zaman di Kota Denpasar. Hal ini tampak saat Parade Wayang Kulit Babad pada gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018. Dimana, Duta Kota Denpasar turut menampilkan Wayang Kulit Babad dengan mengangkat kisah perjalanan Brahmana Keling di Bali yang merupakan cikal-bakal Dalem Sidhakarya.

Kordinator Wayang Kulit Duta Kota Denpasar, I Made Gede Wira Bhuana Putra saat diwawancarai usai pementasan mengatakan bahwa adapu cerita yang diangkat tahun ini merupakan perjalanan Brahmana Keling di Bali sebagai cikal-bakal Dalem Sidhakarya. “Sesuai dengan kearifan lokal dan cerita rakyat Bali, bahwa di Denpasar terdapat sebuah desa yang menjadi saksi perjalanan Brahmana Keling, yakni Desa Sidhakarya,” ungkapnya.

Desa Sidhakarya inilah yang dulunya bernama Bandana Negara yang merupakan Pasraman Brahmana Keling. Disanalah Brahmana Keling menerima permintaan maaf dari Dalem Waturenggong karena telah mengusir saudaranya sendiri dari Pura Besakih ketika itu yang menyebabkan gagalnya pelaksanaan Karya Eka Dasa Ludra.

Sekembalinya Brahmana Keling dengan mengucapkan japa mantra maka Upacara Eka Dasa Ludra dapat dilaksanakan kembali bersamaan dengan upacara Nangluk Mrana, karena sebelumnya Bali pernah mengalami kegeringan dan kekeringan. “Atas jasa Brahmana Keling yang telah menyukseskan upacara tersebut maka mulai saat itu pula Brahma Keling bergelar Dalem Sidakarya dan pasramanya di Bandana Negara kini dikenal dengan Desa Sidhakarya,” ungkapnya.

Terkait dengan persiapan, Wira Bhuana mengaku telah melaksanakan persiapan sejak enam enam bulan bersama Sanggar Suara Mekar Br. Antap Panjerselaku pendukung pementasan . Hal ini lantaran cerita yang dibawakan harus berdasarkan babad yang ada. “Kalau kesulitan tidak terlalu, karena rentang waktu latihan juga cukup panjang sehingga materi yang dibawakan dapat maksimal,” paparnya.

Sementara, Dalang Duta Kota Denpasar, I Wayan Ary Putra Negara mengaku bangga mampu mengabdikan ilmunya kepada Kota Denpasar sebagai seorang seniman wayang. “Saya merasa bangga dapat tampil sebagai duta Kota Denpasar di ajang PKB tahun ini, hal ini dikarenakan PKB merupakan ajang apresiasi seni tertinggi bagi seniman di Bali sehingga menjadi kebanggan tersendiri,” pungkasnya. (ags/humas-dps/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
6PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
83PengikutMengikuti
16PelangganBerlangganan