Ribuan Anak PAUD Denpasar Antusias Ikuti Parade Ogoh-Ogoh

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ribuan anak-anak dari lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan mengenakan pakaian adat madya dan mengusung ogoh-ogoh berukuran mini, Sabtu (10/3/2018) memadati lapangan Lumintang Denpasar. Tampak anak-anak PAUD sangat antusias mengikuti kegiatan rutin tahunan Pemkot Denpasar bersama Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Denpasar menjelang perayaan Hari Suci Nyepi.

Lengkap dengan api obor yang dibawa anak-anak PAUD perempuan serta lantunan Baleganjur anak-anak PAUD laki-laki menjadi kemeriahan parade ogoh-ogoh anak-anak PAUD tahun ini. Pelaksanaan kegiatan yang diikuti 60 ogoh-ogoh berukuran mini dibuka secara resmi Plt. Walikota Denpasar, I GN Jaya Negara bersama Bunda PAUD Denpasar yang tampak dihadiri Ny. Antari Jaya Negara, Ketua Dharmawanita Persatuan Denpasar, Ny. Kerti Rai Iswara dan pimpinan OPD terkait Pemkot Denpasar.

“Ini sebagai langkah impelemantasi Padmaksara sebagai visi misi Pemkot Denpasar yang terdapat lima titik point, diantaranya pelestarian budaya Bali dan ekonomi kreatif,” ujar Plt. Walikota Denpasar I GN Jaya Negara.

Lebih lanjut dikatakan Implementasi Padmaksara mengarahkan penguatan jati diri masyarakat berlandaskan kebudayaan Bali. Melalui keterlibatan anak-anak PAUD dalam parade ogoh-ogoh ini mengajarkan sejak dini tentang pelestarian budaya Bali. diharapkan dapat mengenal prosesi dari pelaksanaan hari suci Nyepi yang juga memberikan nilai rasa kebersamaan dan kegotongroyongan dalam pembuatan dan mengusung ogoh-ogoh. Dalam kegiatan ini juga memberikan peluang peningkatan ekonomi kreatif masyarakat dalam berkreativitas membuat ogoh-ogoh sejak dini yang dilakukan lembaga PAUD.

Disamping itu para perajin ogoh-ogoh juga dapat memberikan pemikiran kepada anak-anak tentang sebuah kreativitas ogoh-ogoh. Hal ini juga didukung dengan perluasan akses kepada anak-anak dan para orang tua yang berbaur dalam parade ogoh-ogoh ini. Dari implemetasi spirit Padmaksara ini, menurut Jaya Negara dapat memberikan kebahagian kepada masyarakat Kota Denpasar. “Jadi implementasi Padmaksara ini dapat memberikan arah dalam capaian kebahagiaan masyarakat yang memberikan akses seluas-luasnya sebagai ruang ekspresi masyarakat dengan penguatan jati diri berlandasakan budaya Bali dari sejak dini,” ujar Jaya Negara.

Ketua IGTKI Denpasar, Made Aryaningsih mengatakan parade Ogoh-Ogoh anak PAUD Denpasar telah menjadi agenda rutin setiap tahun. Hal ini tak terlepas dari program penguatan kebudayaan Bali yang dilakukan sejak dini Pemkot Denpasar dan didukung penuh IGTKI Kota Denpasar. Tahun ini kegiatan parade ogoh-ogoh diikuti 2000 anak-anak PAUD dengan 60 ogoh-ogoh berukuran mini. Tidak sekedar mengusung ogoh-ogoh, namun juga mengajak anak-anak memupuk rasa kebersamaan dan kekompakan.

“Kami harapkan anak-anak didik kami nantinya dapat mengetahui dan memahami rangkaian perayaan hari suci Nyepi yang juga dilakukan lewat prosesi parade ogoh-ogoh,” ujara Made Aryaningsih. (pur/humas-dps/bpn)

Pemkot Larang Penggunaan Sound System di Pawai Pengerupukan

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Guna menciptakan ketertiban dan kenyamanan saat malam pangerupukan, Pemerintah Kota Denpasar melarang seluruh sekaa teruna dan komunitas masyarakat menggunakan Sound System. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan budaya Bali termasuk tetap menggunakan alat musik tradisional Bali yang dimaikan oleh sekaa truna di Kota Denpasar. Hal tersebut disampaikan Plt. Walikota Denpasar IGN. Jaya Negara saat ditemui di Denpasar beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Jaya Negara menambahkan, bahwa penggunaan sound system saat pawai pengrupukan dirasa mengurangi makna, karena bagaimanapun akan lebih baik menggunakan alat musik tradisional Bali, dan hal tersebut sekaligus diharapkan mampu menjaga kondusifitas. “Memaknai hari suci ini tentu harus dengan bijaksana, saya rasa masyarakat sudah sangat sadar akan hal itu, kreatifitas anak muda juga sangat luar biasa, hanya saja Pemerintah memiliki kewajiban untuk mengingatkan,’’ ungkapnya. Sebagai kota yang berwawasan budaya, Jaya Negara mengajak semua masyarakat Kota Denpasar terutama kepada sekaa teruna serta komunitas yang akan mengikuti dan melakukan prosesi pengarakan ogoh-ogoh agar ikut menjaga ketertiban dan keamanan masing-masing.

Lebih lanjut Jaya Negara mengajak masyarakat untuk menjaga spirit Hari Suci Nyepi yang digunakan sebagai momentum mulat sarira dan mampu mengendalikan diri, sehingga tidak terjerumus melakukan hal-hal yang bersifat negatif yang dapat memancing timbulnya suasana yang kurang harmonis. “Mari kita jaga bersama dan lakukan prosesi ogoh-ogoh ini dengan tertib sehingga tidak menimbulkan gesekan antar pengusung ogoh-ogoh, sehingga tidak menodai kesucian hari raya Nyepi ini,” ujarnya.

Terlebih di tahun 2018 yang merupakan tahun politik ini, ia berharap sekaa teruna maupun komunitas-komunitas yang ada tetap menjaga kondusifitas dan menghindari konflik antar banjar maupun komunitas. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk tidak mengkonsumsi minuman keras maupun obat-obatan terlarang.

Jaya Negara berharap iring-iringan ogoh-ogoh ini menggunakan gamelan Bali, sehingga prosesi dapat berjalan dengan hikmat dan tertib. Untuk itu diharapkan peran para kelian banjar, bendesa pakraman, pecalang, serta kades dan lurah agar ikut mengawasi warga masyarakatnya, sehingga pelaksanaan prosesi pengarakan ogoh-ogoh dan malam pangerupukan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. ‘’Peran dari tokoh-tokoh masyarakat adat ini sangat kami harapkan untuk ikut membantu dan mengawasi prosesi ini di samping dari aparat Kepolisian, Satpol PP dan Dinas Perhubungan Kota Denpasar,’’ ujarnya.

Sementara, Kadisbud Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram menambahkan bahwa Pemkot Denpasar melarang penggunaan Sound System,  mengingat penggunaan alat musik tradisional layaknya gambelan Bali sudah menjadi ciri khas dan budaya yang adihulung. Menurut Mataram, Musik Tradisional yang dimaksud yakni Baleganjur, Tektek, dan berbagai jenis alat music yang bericirikan kebudayaan Bali. “Kami berharap malam Pangerupukan tahun 2018 menjadi kegiatan yang mencerminkan kebudayaan Bali,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut pihaknya juga telah melakukan kordinasi dengan semua elemen termasuk Pecalang Desa. Hal ini dalam rangka mengambil tindakan tegas jika masih ada kelompok atau STT yang dalam proses mengarak ogoh-ogoh menggunakan alat musik yang tidak mencerminkan kearifan lokal Bali.  (eka/humas-dps/bpn)

46 Ogoh-Ogoh di Denut dinilai Dinas Kebudayaan

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR   Tim Penilai Lomba Ogoh- Ogoh Kota Denpasar 2018 yang terdiri dari unsur Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan perwakilan Sekaa Teruna – Teruni  (STT) se-Kota Denpasar mulai mengadakan penilaian ogoh- ogoh hasil karya seluruh STT se-Kota Denpasar. Proses penilaian dimulai dari tanggal 6 Maret 2018 hingga tanggal 9 Maret 2018 dengan 182 ogoh-ogoh. Pada Selasa (6/3/2018) penilaian hari pertama diawali menilai sebanyak 46 Ogoh- ogoh di kecamatan Denpasar Utara.

Ogoh- ogoh karya STT di Kecamatan Denpasar Utara selain menggunakan bahan- bahan ramah lingkungan sesuai anjuran Pemerintah Kota, juga nampak beberapa STT mencoba berkreatifitas menggunakan bahan baku alternatif seperti kertas tisu, kulit telur ayam dan daun pisang kering. Bahkan beberapa STT ada juga yang telah menambahkan sentuhan teknologi kedalam karya ogoh- ogohnya. Salah satu Ogoh-ogoh karya STT Banjar Ambengan, Peguyangan Kangin bahkan menggunakan bahan kulit telur ayam.

Salah satu tim juri, I Ketut Sudita mengatakan penilaian yang dialkukan diantaranya dari segi kreatifitas berupa bentuk, ekspresi, komposisi dan penggunaan bahan pembuatan ogoh- ogoh.

Lebih lanjut dikatakan pada tahun ini kriteria hampir sama seperti ditahun sebelumnya. Peserta tidak diperkenankan menggunakan bahan seperti stereofoam dan diharapkan menggunakan bahan ramah lingkungan. “Bahkan berdasarkan hasil pengamatan kami, beberapa STT telah bereksperimen menggunakan bahan alternatif seperti tisu dan kulit telur ayam yang terlihat memberi efek khsusus pada ogoh- ogoh. “Tim penilai lomba ogoh- ogoh Kota Denpasar tahun ini terdiri dari pakar dari beberapa disiplin  ilmu seperti seni rupa, tari untuk menilai fragmen dan ada juga ahli dibidang cerita dan sinopsis. Tentu lomba ogoh- ogoh yang digagas Pemkot Denpasar ini bertujuan untuk terus melestarikan warisan seni budaya di Bali dan mengarahkan generasi muda Kota Denpasar melakukan hal- hal yang positif,” ungkapnya.

Wisnu Pramana, Ketua STT Yowana Dhika Karma, Banjar Batur, Peguyangan Kaja saat ditemui pada saat penilaian mengatakan pengerjaan ogoh- ogoh selama dua bulan dimulai awal januari dan rampung pada awal maret. Ogoh- ogoh ini bertema Atma Corah dan telah diberi sentuhan teknologi. Ogoh – ogoh digerakkan dengan memakai mesin degan satu poros dan tiga rotasi atau pergerakan yaitu memutar, kedua gerakan dileher dan gerakan di badan. “Kami sangat senang dan bangga dapat dinilai secara langsung oleh tim Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Semoga hasil yang kami terima dari karya kami memuaskan dan kami jadikan pembelajaran untuk dapat menghasilkan karya yang lebih baik kedepannya,” ujarnya. (esa/humas-dps/bpn)

29 Ogoh-Ogoh Di Desa Kesiman Siap Berparade di Catus Pata Tohpati

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Sebanyak 29 Sekaa Teruna Teruni (STT) siap mengikuti Parade Ogoh-ogoh di Simpang Empat Tohpati (Catus Pata), Kesiman Denpasar pada tanggal 16 Maret 2018 mendatang. “Kegiatan ini dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1940 dan Hari Raya Nyepi pada tanggal 17 Maret 2018,” ujar  I Made Suena didampingi Ketua Panitia Parada Ogoh-ogoh Made Semaraputra saat beraudensi dengan PLT Walikota Denpasar IGN Jaya Negara di Kantor Walikota Denpasar Senin (5/3/2018).

Suena mengatakan, Parade Ogoh-ogoh Simpang Empat Tohpati  rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai wadah kreatifitas Sekaa Teruna Teruni Kesiman. Untuk tahun ini pelaksana parade ini dilaksanakan oleh Desa Kesiman Kertalangu. Meskipun demikian parade ini masih tetap diikuti 3 Desa Dinas yakni Desa Kesiman Kertalangu, Desa Kesiman Petilan dan Kelurahan Kesiman.

Ketua Panitia Parada Ogoh-ogoh Made Semaraputra  mengatakan, kreatifitas ogoh-ogoh ini akan diikuti 29 ogoh-ogoh dari tiga Desa Dinas. Untuk penilaian  ada dua kategori yakni penilaian di tempat dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 Maret mendatang serta penilain antraksi di Catus Pata Tohpati. Dalam parade ini para peserta  akan merebutkan juara 1 hingga 3 dan harapan 1 hingga 6. “Parade ogoh-ogoh ini sedikit berbeda, karena pihaknya akan berusaha menyingkat acara sehingga parade ini tidak terlalu lama seperti tahun sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu PLT Walikota Denpasar IGN Jaya Negara mengapresiasi Parade Ogoh-ogoh yang dilaksanakan Desa Kesiman Kertalangu. Menurutnya parade ini sangat bagus sebagai wada kratifitas anak muda di Kota Denpasar umumnya dan Kesiman pada khususnya.

Dalam parade ini, Jaya Negara berharap agar para peserta menjaga kenyamanan dan keamanan pelaksanaan ogoh-ogoh saat berlangsung. ”Sehingga tidak terjadi hal-hal yang dingginkan,” harapnya. Dalam kesempatan itu Jaya Negara juga berharap agar anak-anak muda  tidak mengkomsumsi minuman-minuman beralkohol.  Dengan demikian maka semua umat Hindu dapat melaksanakan perayaan Hari Suci Nyepi berjalan nyaman, aman dan tenang. (ayu/humas-dps/bpn)

Pawai Budaya “Bali Art Carnival” Tampilkan Bahan Daur Ulang

BALIPORTALNEWS.COM – Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III yang di buka malam ini, Sabtu (3/3/2018), diawali dengan Pawai Budaya “Bali Art Carnival”. Pelepasan pawai yang digelar di depan Jayasabha, ditandai dengan membunyikan Okokan, alat tradisional khas Kabupaten Tabanan oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Menariknya, karnaval ini menampilkan berbagai kostum yang didesain oleh seniman dibuat dari bahan daur ulang. Gubernur Pastika mengatakan, pemanfaatan bahan daur ulang ini merupakan upaya memberi inspirasi dan motivasi bagi seniman Bali untuk memanfaatkan bahan-bahan bekas yang didaur ulang sehingga menambah nilai tambah. “Ini memanfaatkan daur ulang, untuk desain guna memberi inspirasi dan motivasi bagi seniman,” ujarnya.

Pawai ini merupakan kali kedua diadakan, serangkaian dengan Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya yang dilaksanakan setiap tahunnya. Bali Mandara Nawanatya merupakan wadah bagi ekspresi seniman muda yang inovatif menuju kesejahteraan dan kemajuan dan keagungan peradaban Bali.

Pastika menilai pawai kali ini cukup baik, tak kurang puluhan seniman menampilkan berbagai kostum karnaval hasil rancangan para desainer. “Untuk tahap awal lumayan, tahap berikutnya bisa lebih komplek, lebih banyak lagi pesertanya, sehingga bisa memberikan arti untuk Nawanatya ini,” katanya.

Ditambahkannya, Nawanatya merupakan ajang atau ruang yang disiapkan untuk memberi kreatifitas baru, jadi sepanjang tahun Pemprov Bali menyelenggarakan kegatan-kegiatan kesenian dan budaya untuk memberikan spirit baru kepada kesenian Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha mengatakan selain diikuti seniman-seniman muda Bali, juga turut berpartisipasi diantaranya Yayasan Penggak Men Mersi, SMA Bali Mandara, Kisrama Production-Singaraja, Fortuna Management-Singaraja, Komunitas Seni Pancer Langiit, dan Banyuwangi Ethno Carnaval. “Para peserta menggunakan bahan daur ulang seperti kertas dan koran bekas, plastik dan sebagainya. Hampir sebulan sebelum pawai, Disbud telah menggelar workshop tentang pembuatan kostum karnaval,” jelasnya. (r/bpn)

182 Ogoh-Ogoh Ikuti Lomba Di Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar memberikan ruang bagi seluruh masyarakat untuk melakukan kreativitasnya. Salah satunya memberikan ruang pada sekaa teruna untuk mengekspresikan kretivitas melalui pembuatan ogoh-ogoh yang berkaitan dengan menyambut hari suci Nyepi Caka 1940.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar IGN Bagus Mataram didampingi Kabid Kebudayaan, I Made Wedana, Jumat (2/3/2018) ditemui di ruang kerjanya.

Lebih lanjut Ngurah Mataram menambahkan ogoh-ogoh yang dibuat sekaa teruna dinilai oleh Tim Penilai dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar yang penilaiannya berlangsung dari tanggal 6-9 Maret mendatang. “Sejak dibuka pendaftaran ogoh ogoh dari tanggal 22 Januari sampai 22 Februari 2018 terdapat 182 ogoh-ogoh yang telah mendaftar,” ujarnya.

Dari jumlah tersebut pesertanya terdiri dari 48 peserta dari Kecamatan Denpasar Utara, 38 peserta dari Kecamatan Denpasar Barat, 38 peserta dari Kecamatan Denpasar Selatan dan 58 peserta dari Kecamatan Denpasar Timur. Dari lomba tersebut nantinya terdapat 32 pemenang dengan komposisi delapan sekaa di masing-masing kecamatan dan berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 10 juta.

Kendati demikian, sekaa yang sudah pernah mendapatkan nominasi selama dua tahun berturut-turut akan disidit atau tidak diikutsertakan dalam penilaian. Disamping itu semua peserta lomba termasuk 32 pemenang lomba akan melakukan pawai dan rutenya telah ditentukan  masing-masing desa/lurah. Hal ini baik untuk menjaga keamanan terlebih lagi tahun ini merupakan tahun politik. Disamping juga pelaksanaan di masing-masing desa lurah telah dilaksanakan sejak tahun 2014. “Dinas Kebudayaan hanya melakukan penilaian terhadap ogoh-ogoh yang telah dibuat oleh masing-masing sekaa teruna,” jelasnya.

Untuk syarat lomba menurut Ngurah Mataram   ogoh-ogoh yang akan diseleksi yakni harus tidak menggunakan styrofoam / gabus dan spons, harus dibuat dengan bahan ramah lingkungan seperti ulat-ulatan bambu, kayu, kertas, guungan, gedeg, rotan, atau penyalin. Adapun tinggi ogoh-ogoh minimal 3 meter dan maksimal 5,5 meter diatas permukaan tanah/lantai. Kawat jaring hanya boleh digunakan pada aksesoris kamen, saput, selendang, dan rambut. Dan karet sandal hanya boleh pada gelang, kamen. dan bandong.

“Kenapa tidak boleh menggunakan styrofoam karena disitu ketika mengulat tiing ada sifat gotong royong. Selain juga kita kembali menjaga budaya kita, dan ogoh ogoh ini menjadi ajang pergaulan dan tukar pikiran tentang sharing membuat teknik ogoh-ogoh. Bukan hanya teknik tetapi juga filosofi agama hind,” ujar Ngurah Mataram.

Mengingat Pemerintah Kota Denpasar sangat komit terhadap ekonomi kreatif berwawasan budaya Ngurah Mataram mengaku memberikan bantuan sebesar Rp 3,5 juta semua masyarakat untuk pengembangan ekonomi kreatif salah satunya pembuatan ogoh-ogoh ini.(gst/humas-dps/bpn)

Pemkab Badung Gelar Upacara Ritual “Nangluk Merana”

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pemerintah Kabupaten Badung, bersama Desa Adat Kerobokan menggelar ritual Nangluk Merana atau pembersihan secara spiritual alam semesta yang bertujuan menjaga kesuburan tanaman di area persawahan (subak). Acara yang dipuput Ida Pedanda Gde Sakti Tlabah Griya Pesraman Patu Bidak Kerobokan dilaksanakan di Pura Jung Petitenget Kerobokan, Kamis (1/3/2018) kemarin.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri dan mengikuti langsung ritual ini bersama Anggota DPRD Badung, A.A. Ngurah Ketut Nadi Putra, Camat Kuta Utara AA. Arimbawa, Camat Kuta, Kuta Selatan I Made Widiana,  kepala Badan Pendapatan Daerah dan Pesedahan Agung I Made Sutama, bendesa adat kerobokan AA. Putu Sutarja, tripika, tokoh adat kerobokan masyarakat pengemong pura serta para petani dan subak se-Badung.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta dalam sambutannya mengatakan, Kegiatan upacara nangluk merana yang dilaksanakan ini  termasuk perayaan yang istimewa karena bertepatan dengan hari purnama. Upacara Nangluk merana bertujuan untuk keselamatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya terutamanya tanaman dan binatang yang ada di persawahan dan tegalan (perkebunan). “Tujuan lain dari pelaksanaan upacara ini disamping untuk pelestarian adat dan budaya juga agar alam semesta yang berupa tanah pertanian dan tegalan tetap dapat terjaga dengan  kelestarian adat, yang damai dan sejahtera (santi dan jagadhita),” ucapnya.

Dengan upacara nangluk merana ini diharapkan dapat mengurangi berbagai macam malapetaka seperti hama penyakit yang dapat menyerang tanaman maupun binatang. “Semoga apa yang dilaksankan dengan tulus iklas mendapat kerahajengan masyarakat se-jebag Badung dan Bali” imbuhnya, selanjutnya usai pelaksaaan upacara ini diharapkan kepada bendesa adat, pekaseh dan kelian subak serta masyarakat petani agar melanjutkan upacara seperti ini di masing-masing desa adat dan subak,” imbuhnya

Sementara itu Bendesa Adat Kerobokan A.A. Putu Sutarja dalam kesempatan tersebut mengatakan, upacara nangluk merana lan mepekelem ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya menjelang tawur Kesange Penyepian. “Nangluk merana ini bertujuan guna mohon keselamatan dan kerahajengan, kesejahteraan dan dijauhkan dari segala bahaya dan malapetaka khususnya serangan hama (merana) agar tidak menganggu tanaman di persawahan dan tegalan, sehingga petani mampu meningkatkan hasil-hasil pertaniannya, juga diharapkan dapat menjalankan Ngusaba Desa Lan Ngusaba Nini di setiap Desa dan Subak se-Badung” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Pemerintah Kabupaten Badung menyerahkan Aci-aci sebesar Rp. 175 Juta. (humas-badung/bpn)

Warga Banjar Saba Penatih Gelar Upacara Melaspas

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Prosesi upacara pemelaspasan yang juga dirangakian dengan upacara tawur dan mupuk pedagingan Banjar Saba Penatih, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur sejak pagi sudah tampak berlangsung, Jumat (23/2/2018). Plt. Walikota Denpasar I GN Jaya Negara yang juga sebagai warga banjar setempat, tampak turut serta dalam rangakain prosesi mecaru yang dipuput tiga sulinggih.

Beberapa tamu undangan juga tampak menghadiri upacara pemelapasan banjar setempat yakni Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar Raka Purwantara, dan dari anggota DPRD Provinsi Bali. Rentetan upacara juga dipersembahkan Tarian Wali meliputi Topeng Wali, Tari Rejang Dewa, Tari Rejang Renteng dari ibu-ibu PKK Banjar setempat serta Tari Baris Gede.

Jaya Negara dalam kesempatan tersebut mengharapkan pelaksanaan upacara pemelaspasan, tawur dan mupuk pedagaingan Banjar Saba dari telah rampungnya renovasi banjar dan pelinggih Ratu Penyarikan dapat meningkatkan srada bakthi warga. Seperti pada pelaksanaan renovasi dan upacara ini warga secara gotong royong melaksanakan. Sehingga diharapkan ini dapat terus berlangsung yang nantinya dapat berimbas pada peningkatan srada dan bakthi tersebut.

Sementara manggala karya, Ketut Adnyana mengatakan pelaksanaan upacara pemelaspasan, tawur dan mupuk pedagingan telah juga diawali sejak Rabu (14/2) lalu dari nunas tirta di Pura Sad Khayangan. DIlanjutkan Upacara Pakeling, Nuwasen Karya, Negtegang Beras, Memban Pengalang Sasih, Ngadegang Sunari, Makiis, Mepapada dan pada puncak karya akan dilaksnakan pada Sabtu (24/2) yang bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Wayang. Upacara Melaspas, Tawur dan Mupuk Pedagingan dipuput tiga sulinggih yang juga dirangkaikan dengan beberapa Tarian Wali. (pur/humasd-ps/bpn)

Bupati Serahkan Dana Ogoh-Ogoh Kepada 536 Sekaa Teruna se-Badung

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pemerintah Kabupaten Badung menyerahkan dana Kreativitas bagi Sekaa Teruna (ST) se-Badung untuk pembuatan ogoh-ogoh menyambut hari Nyepi tahun saka 1940 tahun 2018.

Dana ogoh-ogoh diserahkan secara langsung oleh Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta bersama Wabup. I Ketut Suiasa kepada 536 Sekaa Teruna Se-Kabupaten Badung di Ruang Uttama Gosana, Kantor DPRD, Puspem Badung, Sabtu (17/2/2018) lalu.

Masing-masing Sekaa Teruna menerima dana sebesar Rp. 23 juta. Kegiatan tersebut dihadiri pula, Wakil Ketua DPRD Badung I Made Sunarta, Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa, serta Kadis Kebudayan I.B. Anom Bhasma.

Kadis Kebudayaan Badung IB Anom Bhasma menyampaikan, total dana yang diserahkan oleh Pemerintah Badung sebesar Rp. 12.300.000.000. Diharapkan dengan adanya bantuan dari pemerintah ini, setiap Sekaa Teruna dapat melakukan kreativitasnya dalam pembuatan ogoh-ogoh menyambut perayaan Nyepi tahun ini. “Sekaa Teruna tidak usah bingung mencari dana dalam lomba ogoh-ogoh ini karena sudah disuport oleh Pemerintah Kabupaten Badung,” terangnya.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta dalam kesempatan tersebut menyampaikan, bahwa dana bantuan yang diserahkan ini sebagai bentuk komitmen Pemkab Badung dalam mendukung kegiatan kreativitas dari Sekaa Teruna di Badung terutamanya dalam pembuatan ogoh-ogoh, sebagai salah satu upaya pengembangan dan pelestarian seni budaya di Badung.

Bupati Giri Prasta juga mengimbau kepada masyarakat khususnya sekaa teruna pada saat pengerupukan dan penyepian agar tetap menjaga kondusifitas wilayah masing-masing sehingga perayaan hari suci dapat dilaksanakan dengan baik. “Kami minta Sekaa Teruna jangan minum-minuman keras pada saat pengerupukan, apalagi sampai merugikan orang lain, terlebih hingga membuat rusuh, kami akan turun tangan dan tindak tegas,” ungkapnya.

Bupati Badung juga menyampaikan telah sepakat dengan Sekaa Teruna Se-Kabupaten Badung untuk meniadakan bazzar duduk, karena ada beberapa hal yang jadi pemikiran dari Bupati. “Tidak ada yang menjamin bahwa setiap bazzar duduk tidak adanya minuman beralkohol, anak yang masih duduk di bangku SMP sudah menjadi waitris di banjar sampai pagi, dan tidak adanya yang menjamin bilamana ada terjadi masalah pada saat bazzar duduk,” tegasnya, seraya nemabahkan bazzar duduk bisa diganti dengan kegiatan yang lain, contohnya buat tournament volley, lomba mancing, lomba layang-layang, dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. (humas-badung/bpn)