Lomba Penjor Semarakkan Kemeriahkan HUT Kota Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM – Kemeriahan peringatan HUT ke-229 Kota Denpasar, tampak diberbagai sudut Kota Denpasar. Selain umbul-umbul serta spanduk peringatan bertulisan tematik peringatan HUT yakni “Peningkatan Daya Saing Lokal Guna Memperkuat Denpasar Kota Cerdas Menuju Masyarakat Sejahtera dan Bahagia’’, berbagai lomba budaya untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal juga digelar.

Salah satunya adalah lomba membuat penjor kreasi antar-organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta desa dan lurah yang digelar, Minggu (26/2/2017). Tercatat 91 peserta turut ambil bagian pada lomba penjor kreasi yang rutin digelar Pemkot Denpasar melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar ini.

Ke-91 penjor kreasi dipancangkan di seputaran depan kantor Walikota Denpasar Jalan Gajah Mada, Jalan Udayana, areal Lapangan Lumintang dan Art Centre Taman Budaya Denpasar. Lomba penjor kreasi ini melibatkan tim juri dari akademisi dan seniman, yakni Drs. I Wayan Sumantra, Drs. I Wayan Butuantara, M.Si., dan Drs. Gusti Ketut Widana, M.Si.

Dari hasil penilaian juri, tampil sebagai juara I adalah Inspektorat Kota Denpasar dengan nilai 285. Juara II – harapan III masing-masing PDAM (279), PD Pasar (270), Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar (258), Dinas Kebudayaan (249) dan Perbekel Desa Sumerta Klod (240).

Kabid Pendidikan Luar Sekolah Disdikpora Kota Denpasar, Drs. Made Merta, M.Si., mengatakan, penjor kreasi yang dilombakan ini hanya diperbolehkan menggunakan bahan tradisional/bersifat alami, seperti busung (janur). Pada penjor kreasi ini, antara tinggi bambu, besar bambu dan hiasannya juga harus seimbang (serasi). ‘’Tim juri dalam melakukan penilaian berdasarkan pedoman pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh panitia. Termasuk pula proses pembuatan dari awal penjor itu dibuat sampai dipancangkan,’’ terangnya.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Drs. Wayan Sukana, mengatakan, lomba penjor kreasi ini selain untuk memeriahkan hari jadi Kota Denpasar, sekaligus memberi ruang berkreativitas serta membangun kebersamaan. Terbukti, keakraban antarpegawai tampak sangat kental dan nyaris tanpa jarak. Semua menyatu dalam kegiatan ini.

Semangat kebersamaan inilah diharapkan Sukana agar terus dipelihara dan dipertahankan dalam hal membangun Kota Denpasar kedepan dalam balutan harmoni masyarakat menuju kota kreatif dan kota cerdas. Tentunya bermuara pada tingkat kebahagian masyarakat Kota Denpasar.

Tak berlebihan, dari lomba penjor kreasi ini muncul kreativitas baru sesuai dengan visi misi ‘’Padmaksara’’ yang merupakan langkah baru Dharma Negara demi Denpasar menuju jalur dimensi kehidupan. Program tersebut di antaranya, menciptakan pemerintahan bersih menuju kota cerdas, maupun pelatihan sumber daya manusia menuju kota kompeten. (tis/bpn)

Lomba Ngelawar di SMP PGRI 2 Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Jika bicara soal pendidikan karakter, SMP PGRI 2 Denpasar atau beken dengan sebutan Grisda adalah gudangnya. Para siswa SMP PGRI 2 Denpasar disiapkan menjadi SDM Bali yang andal dan berkarakter. Dua ribu lebih siswa sekolah ini, Jumat (18/8/2017) terlibat dalam Gebyar Budaya.

Gebyar budaya menjadi trade mark (program unggulan) SMP PGRI 2 Denpasar, selain Grisda Computer Competition (GCC) dan Grisda Nawa Natya. Salah satu mata lomba yang paling meriah dalam Gebyar Budaya adalah lomba ngelawar dan sate lilit.

Lomba ngelawar juga dipantau Lurah Sumerta, I Made Tirana. Ia tampak serius mengamati siswa ngelawar didampingi Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. I Gede Wenten Aryasudha, M.Pd.

Lurah I Made Tirana, mengacungkan jempol dengan kegiatan anak-anak SMP PGRI 2 Denpasar yang juga warga Kota Denpasar. Mereka ini diarahkan secara benar menjadi SDM yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial dan spiritual.

Ke depan, ia berharap kegiatannya bisa lebih diperluas, bila perlu siswa diajarkan membuat banten piodalan sendiri. Caranya, dengan memberi tugas secara parsial kemudian digabung per kelas hingga menjadi banten piodalan. Kedua, semua keterampilan itu bisa digunakan di masyarakat dalam kehidupan beragama. ‘’Saya yakin, kalau kita serius pasti bisa,’’ pungkasnya.

Gebyar budaya ini dikatakan Gede Wenten Aryasudha sebagai implementasi dari visi sekolah sebagai sekolah unggulan berbasis agama Hindu dan budaya Bali. Ini pas juga dengan visi Denpasar sebagai kota berwawasan budaya.

Dengan kegiatan ini Aryasudha ingin menguatkan pendidikan karakter di kalangan siswa di antaranya terbangunnya rasa persaudaraan dan kebersamaan siswa, guru dan karyawan. Khusus untuk lomba ngelawar SMP PGRI 2 Denpasar menggelar dua kali dalam setahun yakni  menjelang HUT Kota Denpasar dan hari Saraswati.

Lomba ngelawar juga dimaksud untuk membekali keterampilan siswa dalam membuat masakan Bali. Lawar ini, bukan saja kini untuk dikomsumsi sehari-hari dan dipakai untuk sarana banten, namun bisa dijadikan usaha produktif menjadi pengusaha muda di bidang lawar.

Lomba ngelawar juga dalam rangka menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan siswa.  Lomba ini juga sarat dengan latihan yoga, karena saat ngelawar mulai dari ngeracik bumbu hingga menyajikan memerlukan konsentrasi, kecerdasan dan kecekatan.

Konsentrasi ini, kata dia, diperlukan dalam dunia pendidikan. Bahkan di ajang ngelawar dia menemukan persamaan gender antara laki dan wanita. Saat lomba siswi dan siswa berbagi tugas, mereka belajar ngilit sate, ngeramas dan menyajikan secara apik.

Dengan gebyar budaya ini, sekolah, kata dia, ikut melestarikan budaya ngelawar di kalangan siswa. Kedua, semua keterampilan yang dilombakan merupakan bekal hidup bagi siswa. Mereka diharapkan menjadi panutan nanti di keluarga dan di masyarakat. Ketiga, sarana yang dilombakan langsung dijadikan banten persembahan untuk nyanggra hari raya Saraswati, Sabtu ini.

Ia menekankan kepada siswa bahwa ada tiga hal yang perlu dipakai sesuluh. Pertama, agama dipakai sebagai media yang membuat makna hidup lebih terarah. Kedua, budaya yang menghaluskan kehidupan dengan polesan emosional dan intelektual, dan ketiga, teknologi dipakai untuk mempermudah hidup manusia. Hanya semua itu harus dijalankan di jalan dharma. (tis/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Geguritan Jayaprana Dibaca Sehari Penuh di Pedawa

BALIPORTALNEWS.COM – Minggu (12/2/2017) diadakan kegiatan membaca geguritan Jayaprana di Pasraman Pasir Ukir, Desa Pakraman Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Kegiatan ini bisa-bisa dibilang spektakuler. Pasalnya, membaca geguritan Jayaprana digelar satu hari penuh yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Bali bahkan di Indonesia.

I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H, penggagas Membaca Geguritan Jayaprana Satu Hari Penuh yang juga pendiri Pasraman Pasir Ukir, mengungkapkan, acara ini digagas atas inisiatif untuk pelestarian budaya, agar tradisi mebebasan itu hidup lagi.

“Selain sebagai pelestarian tradisi mebebasan, kegiatan ini juga digelar untuk menteladani dan memakanai kisah Jayaprana yang di dalamnya termuat ajaran tentang subakarma (perbuatan baik) dan Asubhakarma (perbuatan baik),” ungkapnya.

Ajaran tersebut mengajarkan pelaksanaan perilaku baik yang akan memperoleh penyatuan (moksa) dengan Tuhan, sementara jika melalukan perbuatan buruk akan memperoleh kelahiran kembali secara berulang-ulang sebagai proses reinkarnasi.

Kisah Jayaprana bagi masyarakat Buleleng juga sudah melekat dan telah menjadi bagian dari masyarakat Buleleng. “Jayaprana memiliki cerita dan mitologi yang sangat lekat di hati masyarakat Buleleng, kisah ini setara dengan kisah Romeo dan Juliet di Eropa,” kata pria yang juga akademisi UNHI Denpasar.

Geguritan Jayaprana yang bersumber dari lontar Jayaprana dibaca dan dinyanyikan sekaa Santi Jati Luwih beranggotakan generasi muda yang merupakan salah satu kegiatan binaan Pasraman Pasir Ukir.  “Ini juga menarik, sebagaian besar penyanyi merupakan generasi muda,” kata Satria.

Adapun geguritaan Jayaprana yang dibaca terdiri atas 179 bait. Semua bait geguritan dilantunkan dengan tembang pupuh Ginada Jayaprana.

Kegiatan yang belum pernah digelar di Buleleng ini juga mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten Buleleng. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Putu Tastra Wijaya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Buleleng. (tis/bpn)

Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot Dipadati Pemedek

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot, dimulai pada Budha Wage Langkir, 15 November 2017, dan akan nyejer sampai 18 November 2017.

Saat pujawali, umat Hindu yang berasal dari berbagai daerah di Bali mulai berdatangan memadati pura di tengah laut ini. Piodalan di Tanah Lot ini juga bersamaan dengan di Pura Batu Bolong dan Pura Penataran di kawasan Tanah Lot.

Menurut Manajer Operasional DTW Tanah Lot, Ketut Toya Adnyana, upacara piodalan ini menambah daya tarik bagi wisatawan. “Banyak wisatawan yang menunggu upacara ini untuk menikmati kawasan wisata Tanah Lot. Mereka rela menunggu seharian untuk bisa mengabadikan momen yang paling digemari wisatawan asing ini,” ujarnya.

Untuk upacara ngaturang pujawali di Pura Luhur Tanah Lot akan dilaksanakan mulai pukul 01.00 sampai pukul 23.00, dipuput Pemangku Gede Pura Luhur Tanah Lot “Mangku Semudra”.

“Di sini kita juga dibantu teruna-teruni dari Desa Pakraman Beraban, yang ngaturang ayah secara bergilir. Mereka sudah mulai ngayah sejak Minggu (12/11/2017). Jadi, dari masing-masing banjar adat di Desa Pakraman Beraban, secara bergiliran sekaa teruna-teruni ngaturang ayah di Pura Luhur Tanah Lot,” ujar Toya Adnyana.

Sementara sehari sebelumnya, Selasa, 14 November 2017, dilaksanakan upacara ngebejian di Beji Kaler Pura Luhur Tanah Lot. Upacara itu dilaksanakan pukul 15.00, untuk menyucikan atau membersihkan semua pratima (benda sakral) yang akan dipakai dalam piodalan, dengan air suci dari beji (sumber air suci) di Pura Luhur Tanah Lot. (ita/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Sambut Nyepi, 60 Ogoh-Ogoh PAUD Menari di Taman Kota Lumintang

BALIPORTALNEWS.COM – Dalam rangka menyambut dan merayakan hari suci Nyepi Tahun Baru Caka 1939, Pemerintah Kota Denpasar melalui Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) PGRI Kota Denpasar menggelar pawai ogoh-ogoh PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) se-Kota Denpasar.

Dikarenakan para siswa PAUD di Kota Denpasar tidak saja melakukan kegiatan belajar mengajar  dan bermain disekolah, melainkan sejak usia dini telah diarahkan dalam program Pemkot Denpasar untuk berinteraksi sosial dan budaya di masyarakat.

Dimana terlihat sebanyak 300 anak-anak dengan 60 ogoh-ogoh berbagai bentuk dan ukuran ikut serta dalam pawai ini, ogoh-ogoh ini diusung oleh siswa-siswa PAUD se-Kota Denpasar dengan berbalut pakaian adat Bali, anak-anak ini sangat antusias mengikuti parade ogoh-ogoh yang di buka dan dilepas langsung oleh Wakil Walikota Denpasar I.G.N Jaya Negara, Sabtu (18/3/2017) di Taman Kota Lumintang.

Suasana parade semakin semarak setelah parade ogoh-ogoh di lepas, tidak saja mengusung ogoh-ogoh, namun anak-anak dari usia kisaran 4-6 tahun ini juga memainkan alunan gambelan Bali sebagai pengiring ogoh-ogoh yang dibawakan, yang diikuti dengan sorakan penyemangat dari para guru-guru pendamping dan orang tua mereka masing-masing.

Ogoh-Ogoh kecil ini pun terlihat menari di antara krumunan anak-anak PAUD yang sedang beratraksi. Dengan mengambil start di Taman Kota Lumintang, barisan parade ogoh-ogoh ini melintasi rute Jalan Mulawarman menuju Jalan Majapahit yang menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang melintasi jalan tersebut maupun masyarakay yang sedang berolahraga di taman kota.

“Kegiatan pawai ogoh-ogoh ini memang di adakan setiap tahunya, guna menanamkan nilai mencintai budaya kepada anak-anak dan mengembangkan kreatifitas sejak dini serta bisa bersosialisasi dengan anak-anak sebaya mereka, sehingga mereka memiliki kepribadian melalui pengenalan budaya sedini mungkin,” ujar Wakil Walikota Denpasar I.G.N Jaya Negara di sela-sela pawai ogoh-ogoh.

Dengan memperkenalkan budaya sejak dini diharapkan anak-anak memiliki karakter dan memahami tentang makna budaya Bali salah satunya melalui perayaan Hari Suci Nyepi lewat gelaran parade ogoh-ogoh setiap tahunnya, serta diharapkan parade ini dapat memupuk rasa kebersamaan sejak dini .

Sementara Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia  (IGTKI) Kota Denpasar, Ni Made Aryaningsih mengatakan tujuan dari parade ogoh-ogoh yang dilaksanakan setiap tahunnya untuk memupuk rasa cinta seni budaya sejak dini, serta memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang makna perayaan Hari Suci Nyepi.

Peserta yang mengikuti parade ogoh-ogoh kali ini dari beberapa gugus yang tersebar diempat kecamatan se-Kota Denpasar, sebanyak 60 ogoh-ogoh yang terdiri dari 48 ogoh-ogoh perwakilan gugus, dan 12 ogoh-ogoh dari partisipasi lembagai pendidikan anak usia dini di Kota Denpasar.

Disamping itu kegiatan ini juga untuk mendukung Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya yang dilakukan dengan melibatkan seluruh anak-anak melalui kegiatan seni dan budaya, serta memberikan ruang kreativitas kepada anak-anak usia dini.

“Kami memberikan mereka kesempatan untuk mengenal budaya Bali sejak dini, baik dalam kegiatan perayaan Hari Suci Nyepi, maupun memberikan ruang kreativitas lewat kegiatan budaya lainnya,” ujar Aryaningsih. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Desa Dangin Puri Kauh Gelar Lomba Baleganjur Antar Banjar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Untuk meningkatkan motivasi masyarakat khususnya dikalangan remaja dalam mengisi pembangunan dan memperkuat rasa persatuan antara warga masyarakat, Desa Dangin Puri Kauh menggelar sebuah lomba Baleganjur antar Banjar se-Desa Dangin Puri Kauh, Minggu malam (17/9/2017) di Depan Balai Banjar Belaluan Denpasar. Dimana kegiatan ini di buka langsung Walikota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra di dampingi Camat Denpasar Utara, Nyoman Lodra dan Perbekel Desa Dangin Puri Kauh I.B. Ary Wibawa, ditandai dengan pemukulan gong.

Kegiatan lomba Baleganjur ini merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Desa Dangin Puri Kauh guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta lomba khususnya generasi muda untuk lebih mencintai budaya, demikian disampaikan Perbekel Desa Dangin Puri Kauh I.B. Ary Wibawa. Dimana ada lima Banjar yang bersaing di dalam lomba baleganjur kali ini, yakni Banjar Belaluan, Banjar Belaluan Sadmerta, Banjar Tampakgangsul, Banjar Tengah dan Banjar Pucak Sari yang menampilkan kebolehan dan keterampilan mereka dalam memainkan alat-alat music baleganjur.

Seperti Sekaa Cakra Yowana Banjar Belaluan, dalam penampilan pertamanya sebagai tuan rumah menampiklan cerita “Perang Tanding”, dengan menggunakan pakian putih dibalut dengan kain endek hitam bercorak bunga cokelat, para penari dan penabuh memainkan irama baleganjur yang sangat membuat andrenalin terpicu untuk ikut bergerak dan menari.

Dimana sekaa baleganjur Cakra Yowana memainkan baleganjur dengan kisah Perang Tanding yang menceritakan tentang perang antara Arjuna dan Karna yang tidak terelakan lagi, yang akhirnya kedua kesatria ini berperang di Kurusetra. Sang Arjuna dengan gagahnya maju ke medan perang menaiki kereta yang dikusiri oleh Prabu Kresna, begitu juga Sang Karna menaiki kereta yang di kusiri Prabu Salya. Singakt cerita kedua kesatria ini bertempur habis-habisan dan akhirnya Arjuna membentangkan busurnya untk melepaskan panah pasupati anugrah dari Batara Siwa, yang pada akhirnya menewaskan Sang Karna. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Isi Libur Panjang, SMP PGRI 2 Denpasar Gelar Pasraman

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – SMP PGRI 2 Denpasar secara rutin mengadakan pasraman bagi siswa kelas VII dan VIII guna mengisi libur panjang. Pasraman SMP PGRI 2 Denpasar, dibuka Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, didampingi Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. Gede Wenten Aryasuda, M.Pd., dan Ketua Panitia, Drs. I Wayan Nendra, Rabu (14/6/2017).

Wayan Nendra melaporkan, pasraman selama empat hari ini diikuti 200 siswa diisi dengan berbagai materi. Di antaranya etika dan moralitas Hindu, dharma agama dan dharma negara sebagai landasan membangun karakter siswa. Selain itu soal swadarma siswa dalam kehidupan sehari-hari,  praktik majejahitan, yoga, praktik membuat klakat dan jaja cacalan, serta dharma gita.

Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Gede Wenten Aryasuda menegaskan, pasraman ini diharapkan mampu melahirkan siswa yang inspiratif, kreatif, inovatif, berkarakter, dan berbudaya yang berlandaskan agama.  Melalui pasraman ini ia berharap, siswanya mampu menjawab masa depan.

Aryasuda menginginkan di sekolah siswa menghormati gurunya, bukan sebaliknya guru gila hormat. Perilaku positif ini perlu dikembangkan di sekolah mengingat nilai-nilai spiritual ini semakin terkikis di era global.
Karenanya, ia mengharapkan siswa bijak memanfaatkan media sosial sebagai penerangan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan untuk mempermudah hidup. Inilah yang disebut Aryasuda agama tanpa ilmu menyebabkan lumpuh, ilmu tanpa agama menyebabkan buta. Serta ilmu pengetahuan yang dilandasi agama untuk mempermudah hidup.

Aryasuda mengatakan, selama diselenggarakan pasraman ini sangat bermanfaat positif dan memberi dampak disiplin pada siswanya. Bahkan, lulusan SMP PGRI 2 Denpasar saat di SMA/SMK banyak menjadi pengurus OSIS dan berprestasi karena disiplin.

Usai pasraman, peserta diajak matirtayatra ke Pura Rambut Siwi, Pulaki, Pura Kertha Kawat dan Pura Melanting. Pura ini sangat pas untuk memohon taksu calon pemimpin dan siswa yang baik, disiplin dan tertib serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Ketua PHDI Bali Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, mengaku bangga SMP PGRI 2 Denpasar secara kontiyu menyelenggarakan pasraman. Menurut Sudiana, pasraman ini sangat penting bagi siswa ditengah godaan zaman.

Ia mengajak para siswa bangga menjadi warga SMP PGRI 2 Denpasar yang secara serius mendapat pendidikan karakter. Sudiana menegaskan, hanya orang yang dididik disiplin akan menjadi orang sukses, sementara mereka yang manja akan menjadi orang yang egois dan sombong.

Karena itu, ia mengajak siswa memiliki karakter Pandawa yakni polos, menghormati leluhur, kuat pendirian dan pintar. Dan, jangan meniru sifat Duryodana yang egois. Maka melalui pasraman ini diharapkan lahir orang pintar dan waskita yang merupakan kristalisasi dari pembelajaran yang mampu mengarahkan masa depan.
Sudiana mengatakan, mereka yang pengetahuan rohaninya telah terbuka dikatakan sebagai orang waskita atau orang yang sangat mengetahui, telah mencapai kesadaran, telah mencapai pencerahan. Orang yang waskita susah kena pengaruh. Karenanya, ia mengajak siswa untuk hidup disiplin. Secara niskala, taat pada aturan, tidak main HP saat berkendara, tidak main HP di kelas. Selain, rajin sembahyang, hormat pada leluhur dan orangtua serta guru di sekolah. (tis/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Bupati Tabanan: Rayakan Nyepi Dengan Tulus Ikhlas

BALIPORTALNEWS.COM – Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengajak jajarannya dan umat Hindu di Kabupaten Tabanan agar merayakan hari suci Nyepi, Galungan, dan Kuningan, dengan memaknai secara tulus ikhlas dan khidmat.

“Yang utama adalah momen keagamaan harus dijadikan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Lakukan yadnya dengan tulus, ikhlas, dan semampunya. Beliau tidak pernah menuntut lebih kepada umatnya,” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini perayaan hari-hari besar agama di Tabanan sudah berjalan dengan baik dan lancar. Itu membuktikan bahwa masyarakat di Tabanan bisa menjaga kondusivitas dan menjalin hubungan baik dengan warga lainnya, meskipun berbeda agama.

“Izinkan kami dalam kesempatan ini mengucapkan selamat merayakan hari raya Nyepi, Galungan, dan Kuningan, bagi seluruh umat Hindu di manapun berada. Semoga momen ini bisa dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri, melakukan srada bakti, dan tetap membangun Tabanan dengan pikiran positif,” tegasnya. (ita/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Kapolda Bali Berperan Sebagai Rahwana, Dewi Sinta Tak Berdaya

BALIPORTALNEWS.COM – Penampilan acara hiburan saat perayaan syukuran Hari Bhayangkara ke-71 yang diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) pada Senin (3/7/2017) sangat memukau para undangan yang hadir. Kekreatifan panitia dalam mengemas acara hiburan yang ditampilkan di panggung kehormatan patut diancungi jempol.

Salah satu acara hiburan yang mendapat perhatian para undangan yaitu ketika panitia menampilkan Tari Janger Inovatif Promoter dengan mengambil lakon Janger Ramayana. Penampilan tarian ini dikemas layaknya Opera Van Java yang merupakan salah satu program acara ditayangkan televisi swasta Indonesia. Keistimewaan dari tarian ini, semua penarinya adalah anggota Polri.

Riuh tawa para undangan terdengar ketika tampilnya sosok Rahwana yang diperankan langsung oleh Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose dengan dikawal oleh tiga prajuritnya. Ketiga prajurit ini diperankan oleh Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Hengky Widjaja, S.I.K., M.Si., Kasat Brimob Polda Bali Kombes Pol. Laksana, S.I.K. dan Kepala Sekolah Polisi Negara (Ka SPN) Singaraja Kombes Pol. Jefri Yanus Endolemba Torunde, S.I.K.

Meskipun terlihat kaku pada saat memainkan peran tersebut, namun setiap langkah, gerak dan dialog yang diucapkan Rahwana dan ketiga pengawalnya membuat para undangan tertawa dan sangat terhibur. “Ini sangat luar biasa, tidak menyangka kalau Kapolda Bali akan ikut menari dalam acara ini. Rahwana (Kapolda Bali) sangat lucu saat merayu Dewi Sinta,” ungkap AKBP I Made Sukendra usai menyaksikan penampilan Tari Janger Inovatif Promoter.

Saat dikonfirmasi terkait penampilannya saat acara syukuran Hari Bhayangkara ke-71, Kombes Pol. Hengky Widjaja, S.I.K., M.Si. mengatakan, terbentuknya tarian ini berawal dari perlombaan tari yang disaksikan langsung oleh Kapolda Bali, dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-71 yang diselenggarakan pada Senin (5/6) lalu. Saat itu, Kapolda Bali langsung menyampaikan ide kreatifnya, agar para peserta lomba tari dilatih kembali untuk ditampilkan pada saat acara syukuran Hari Bhayangkara dan Kapolda Bali akan ikut serta sebagai penari.

“Kapolda Bali ingin menunjukan sekaligus membuktikan kepada masyarakat Bali tentang kecintaannya terhadap Pulau Bali dengan cara ikut serta melestarikan budaya Bali dan menjaga keamanan wilayah Bali,” ujar Kabid Humas Polda Bali saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/7).

Dalam tarian tersebut, melibatkan 42 penari janger yang merupakan perwakilan Polwan bertugas diseluruh satuan kerja Polda Bali. Untuk mengolah gerak tubuh agar kelihatan indah saat menari, panitia mendatangkan pelatih dari ISI Denpasar. “Bapak Kapolda ikut latihan hanya satu kali, saat melaksanakan geladi kotor di Nusa Dua,” terang mantan Kasat Reskrim Polres Gianyar ini.

Kabid Humas Polda Bali menambahkan bahwa lakon tarian ini diambil dari cerita pewayangan Ramayana. Namun, karena terbatas oleh waktu saat pentas sehingga ceritanya hanya diambil sepenggal saja. Tarian ini dikisahkan berawal dari pertemuan Rahwana dengan Dewi Sinta, melihat kecantikan Dewi Sinta, Rahwana pun berniat ingin memilikinya.  Kemudian Rahwana mengeluarkan segala cara untuk merayu dan menghibur Dewi Sinta agar bersedia hidup bersama. Namun usahanya gagal karena Dewi Sinta sangat setia pada Rama. Akhirnya Rahwana marah dan ingin membunuh Dewi Sinta.

“Bali sangat indah dengan panorama alamnya dan Bali sangat unik karena memiliki adat, budaya dan masyarakat yang memiliki rasa toleransi tinggi. Dengan adanya hal ini, Bali menjadi destinasi pariwisata terbaik di dunia saat ini. Mari bersama-sama menjaga Pulau Bali yang kita cintai ini,” imbuh perwira lulusan Akpol tahun 1993 ini. (binaw/humas-poldabali/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :