Piodalan Mepedudusan Agung lan Mapeselang di Pura Penataran Agung Pucak Mangu

0

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Bertepatan purnama sasih kelima, Jumat (3/11) akan dilaksankan puncak Piodalan Mepedudusan Agung lan Mapeselang di Pura Sad Khayangan Penataran Agung Pucak Mangu, Desa Adat Tinggan, Desa Plaga, Kecamatan Petang. Piodalan Mepedudusan Agung di-puput Ida Pedanda Putra Pemaron Gria Sidemen, Mengwi, Ida Pedanda  Gde Jelantik Giri dari Geria Gunung Sari. Sementara untuk upacara mapeselang  yang akan di-puput oleh Ida Pedanda Putra Kekeran Geria Sunia Denkayu, Ida Pedanda Gede  Jelantik Giri Santacita geria Jadi Tabanan.

Pangelingsir Puri  Ageng Mengwi , AA Gde Agung, Senin (30/10/2017) mengatakan, kegiatan piodalan ini rutin dilaksankan setiap Purnama ke lima. Dalam rangkaian upacara piodalan ini pihak pemerintah juga akan diundang sperti Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta, Wabup Suiasa, pimpinan organisasi perangkat daerah di Pemerintahan Kabupaten Badung, lembaga DPRD Badung, Asta Puri  dan krama dari delapan  Desa Adat di Petangselaku pengemong Pura Pucak Mangu.

Lebih lanjut Bupati Badung ke XI ini juga mengungkapkan, rangkaian piodalan mepedudusan agung dan mapeselang diawali dengan melaksanakan upacara di pesiraman, ngaturang piodalan di Pura Luhuring Pucak Mangu, selanjutnya pemendak ida bhatara tirta luhuring Pucak Mangu kairing ke Pura Penataran Agung Pucak Mangu. Setelah itu dilaksanakan piodalan mepedudusan agung, mapeselang dan mepasaran di Pura Penataran Agung Pucak Mangu.

“Pada piodalan tersebut dipentaskan tarian wali, rejang, baris gede, wayang lemah dan topeng sidakarya. Kami berterimakasih atas suport dari pemerintah Kabupaten Badung yang ikut mesukseskan karya di pura Sad Khayangan Jagat ini,” terangnya.

Setelah Puncak Karya, ida bhatara akan nyejer selama sembilan hari  yakni dari tanggal 5 November hingga 12 November 2017. Sebelum dilaksanakan upacara bhakti pengayar pada Selasa (7/11) dilakukukan kegiatan pengeremek leladan Desa Tiyingan yang di-puput oleh Ida Pedanda Gede Buruan Pesraman Manuaba Darmasaba.

“Ida Betara mesineb pada Senin, 13 November 2017 mendatang sekitar Pukul 13.00 wita. Selama nyejer, ida bhatara kaaturan penganyaran dari  masing-masing Kecamatan di Badung dan leladan dari delapan desa adat sebagai pengempon pura. Setelah mesineb, pada Sabtu (9/12) nanti dilaksanakan upacara tugtug bulan pitung dina,” ungkapnya. (humas-badung/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot Dipadati Pemedek

0

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot, dimulai pada Budha Wage Langkir, 15 November 2017, dan akan nyejer sampai 18 November 2017.

Saat pujawali, umat Hindu yang berasal dari berbagai daerah di Bali mulai berdatangan memadati pura di tengah laut ini. Piodalan di Tanah Lot ini juga bersamaan dengan di Pura Batu Bolong dan Pura Penataran di kawasan Tanah Lot.

Menurut Manajer Operasional DTW Tanah Lot, Ketut Toya Adnyana, upacara piodalan ini menambah daya tarik bagi wisatawan. “Banyak wisatawan yang menunggu upacara ini untuk menikmati kawasan wisata Tanah Lot. Mereka rela menunggu seharian untuk bisa mengabadikan momen yang paling digemari wisatawan asing ini,” ujarnya.

Untuk upacara ngaturang pujawali di Pura Luhur Tanah Lot akan dilaksanakan mulai pukul 01.00 sampai pukul 23.00, dipuput Pemangku Gede Pura Luhur Tanah Lot “Mangku Semudra”.

“Di sini kita juga dibantu teruna-teruni dari Desa Pakraman Beraban, yang ngaturang ayah secara bergilir. Mereka sudah mulai ngayah sejak Minggu (12/11/2017). Jadi, dari masing-masing banjar adat di Desa Pakraman Beraban, secara bergiliran sekaa teruna-teruni ngaturang ayah di Pura Luhur Tanah Lot,” ujar Toya Adnyana.

Sementara sehari sebelumnya, Selasa, 14 November 2017, dilaksanakan upacara ngebejian di Beji Kaler Pura Luhur Tanah Lot. Upacara itu dilaksanakan pukul 15.00, untuk menyucikan atau membersihkan semua pratima (benda sakral) yang akan dipakai dalam piodalan, dengan air suci dari beji (sumber air suci) di Pura Luhur Tanah Lot. (ita/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Pembinaan PKB ke-39, Sekaa Baleganjur Duta Kota Denpasar Ambil Judul “Suryak Enggung”

0

BALIPORTALNEWS.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menggelar latihan persiapan sekaligus pembinaan Sekaa Baleganjur Giri Praja Pasupati, Banjar Gunung, Desa Penatih Dangin Puri sebagai Duta Kota Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB)  ke-39 Tahun 2017, Jumat (5/5/2017) di Wantilan Pura Desa Pakraman Bekul.

Dalam  pembinaan yang dihadiri  langsung Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar IG. Ngurah Gede, Camat Denpasar Timur Dewa Made Puspawan, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Nyoman Sujati serta Tim Pembina Kesenian Provinsi Bali. Dalam kegiatan tersebut, tampak Duta Kota Denpasar dalam Lomba Baleganjur PKB Tahun 2017 akan mengambil judul “Suryak Enggung”.

Pengambilan judul  “Suryak Enggung” ini tidak lain merupakan gambaran suasana alam yang kian jarang dijumpai di era modern ini. Suryak yang berarti bersorak dan enggung merupakan kodok, jadi suryak enggung merupakan riah riuh suara kodok yang girang karena turunnya hujan yang membasahi pertiwi serta menjadi sumber kehidupan makhluk hidup di dunia. “Sesuai tema PKB Tahun ini yakni Ulun Danu, kami membuat inovasi garapan yang ada hubungannya dengan air yakni menggarap Suryak Enggung,” ujar Koordinator Sekaa Baleganjur Giri Praja Pasupati sebagai Duta Kota Denpasar dalam PKB Tahun 2017, I Nyoman Sukiarta.

Dikatakan Sukiarta didampingi pencipta tabuh I Wayan Arik Wirawan dan penata gerak Ngurah Krisna Murti, Penafsiran elemen-elemen musik seperti ritme, melodi, tempo dan dinamika dicurahkan penuh dari segala gambaran situasi, suasana dan fenomena rintikan hujan, aliran sungai, gemericik danau, deburan ombak dan disertai suara enggung yang bertalu-lau memunculkan ragam bunyi dan ritme alam yang menarik serta mengagumkan.

Kung Kek-Kung Kek merupakan bunyi sederhana yang merangsang indra pendengaran untuk bisa selalu bersyukur dianugrahi air sebagai sumber kehidupan. Sebagai manusia tidak boleh serakah akan air, karena hewan-hewan seperti enggung dan makhluk lain di bumi juga membutuhkan air.“ Fenomena ini kami jadikan inspirasi yang diimplementasikan pada komposisi baleganjur kreasi. Oleh karena itu, mari kita lestarikan air dengan tidak boros dan mencemarin anugerah dari Hyang Ulun Danu, ” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut juga diserahkan bantuan dana pembinaan yang diserahkan oleh Camat Denpasar Timur Dewa Made Puspawan kepada Koordinator Baleganjur Duta Kota Denpasar, I Nyoman Sukiarta yang disaksikan  Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara serta Ketua DPRD Kota Denpasar I G. Ngurah Gede. (eka/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Meriah, Lomba Beleganjur se-Bali di Puspem Badung

0

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Lomba Beleganjur tingkat SMP, SMA dan kelompok Umum se-Bali digelar Pemerintah Kabupaten Badung serangkaian Festival Seni Budaya (FSB) Kabupaten Badung ke-11 tahun 2017 yang dipusatkan di Jaba Sisi Pura Lingga Bhuwana, Puspem Badung. Lomba Beleganjur dimulai Senin (13/11/2017) dan berlangsung selama 3 hari kedepan.

Di hari pertama dilombakan beleganjur untuk tingkat SMP sebanyak 5 sekaa dan SMA sebanyak 7 sekaa. Hari kedua ditampilkan 15 sekaa dari kelompok Umum dan hari ketiga juga 15 sekaa umum. Meskipun kondisi hujan, kegiatan ini mendapat antusias dari masyarakat khususnya para pelajar yang mensuport sekaa beleganjurnya masing-masing.

Kadis Kebudayaan Badung Ida Bagus Anom Bhasma menjelaskan, lomba beleganjur memang secara rutin dilaksanakan setiap perhelatan Festival Seni Budaya Badung yang tahun ini sudah memasuki tahun ke-11. Kegiatan ini juga dalam rangka memeriahkan HUT Ibukota Badung Mangupura yang ke-8. Lomba ini sebagai salah satu upaya pemkab badung dalam memberikan ruang kepada generasi muda dalam berkreativitas seni beleganjur.

“Kami harapkan, dari badung membangun seni, budaya dan generasi muda,” tambahnya.

Ditambahkan, terkait dengan lomba beleganjur ini sendiri mengambil tema garapan yakni Heroik (Kepahlawanan). Bentuk garapan yang ditampilkan peserta agar tetap mempertahankan struktur tabuh beleganjur dan boleh dikembangkan dari tradisi (dikreasikan), variatif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Penabuh dibolehkan mengolah permainan instrumen diluar tradisi. Sementara waktu pementasan masing-masing peserta dengan durasi garapan 7-8 menit dan diwajibkan menampilkan tabuh secara utuh (kawitan sampai penyuwud).

Kreteria penilaian meliputi; ide/gagasan, bentuk/komposisi garapan, teknik gegebug dan tetekep, ornamentasi/pepayasan gending, suara gambelan, ekspresi penampilan dan keserasian kostum penabuh. Para peserta dinilai oleh pakar seni diantaranya; I Nyoman Sutama, S.Skar, I Wayan Darya, SSn, I Made Subandi, SSn, I Ketut Lanus, SSn, MSi, dan I Ketut Gde Rudita, SSn, MSi.

Peserta yang keluar sebagai juara akan mendapatkan piagam penghargaan dan hadiah uang. Untuk juara I masing-masing kelompok diberikan uang sebesar Rp. 25 juta, juara II Rp. 20 juta, juara III Rp. 18 juta, juara harapan I Rp. 16 juta, juara harapan II Rp. 14 juta dan juara harapan III Rp. 12 juta. Hadiah ini belum dipotong pajak. (humas-badung/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

WHDI dan DWP Denpasar Ngayah Rejang Renteng di Pura Agung Jagatnatha

0

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar dibawah binaan Ny. Antari Jaya Negara dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Denpasar dibawah binaan Ny Ida Ayu Kerthi Rai Iswara bersama istri pimpinan OPD di lingkungan Kota Denpasar serta Bagian Kesra Setda Kota Denpasar ngayah mesolah Rejang Renteng pada Puncak Karya Pedudusan Agung dan Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Agung Jagatnatha Denpasarpada Rahina Sukra Paing Dunggulan bertepatan dengan Purnama Kelima, Jumat (3/11/2017).

Dalam kesempatan tersebut tampak Penglingsir Puri Satria yang juga anggota DPD Dapil Bali, AAN Oka Ratmadi, Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar IG Ngurah Gede, Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara, Panglingsir Puri se-Kota Denpasar serta seluruh OPD di Lingkungan Pemerintah Kota Denpasar berbaur bersama masyarakat melaksanakan persembahyangan besama.

Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Antari Jaya Negara ditemui usai Ngerejang mengaku merasa senang dan bahagia bisa meyadnya dengan ngerejang bersama ibu ibu PKK, DWP, WHDI Kota Denpasar. Ia mengatakan jenis tarian yang ditampilkan merupakan jenis tari Rejang Renteng yang merupakan salah satu tarian sakral di Bali . “Sekitar 30an penari ini melaksanakan proses latihan yang cukup singkat di Kantor Walikota Denpasar, namun karena sebagian besar sudah mahir menari jadi proses pemahaman materi tariannya tidak memakan waktu yang lama,” ujarnya.

Lebih lanjut Ny. Antari Jaya Negara mengatakan Gerak-gerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang renteng ini diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan.

Tarian ini ditarikan oleh penari-penari penuh dengan rasa hidmat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi dan penuh penjiwaan. Para penarinya mengenakan pakaian upacara yang sederhana dan bernuansa putih kuning, menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang dilakukan dengan berpegang-pegangan tangan. “Pihaknya selalu melaksanakan program rutin ngayah tari – tarian disetiap pelaksaan karya serta piodalan di pura Sad Khayangan seperti misalnya di Pura Agung Jagatnatha Denpasar,” ungkap Ny. Antari Jaya Negara. (eka/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Wabup Suiasa Serahkan Dana Aci Sebesar Rp 950 Juta di Pura Kawitan Pande

0

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Krama pengempon Pura Penataran/Kawitan Pande, Padukuhan Pande Munggu, Br. Dukuh Pandean, Desa Adat Pande Munggu, Desa Munggu, Kec. Mengwi melaksanakan karya caru balik sumpah, melaspas dan mendem pedagingan, Kamis (16/11/2017) lalu yang dipuput 5 (lima) Sulinggih (Sri Mpu).

Karya ini digelar serangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mapeselang lan Mapedanan medasar Caru Balik Sumpah-Mayama Raja di Pura Kawitan Pande yang puncaknya dilaksanakan pada Anggara Kliwon Medangsia, Selasa 21 Nopember 2017 mendatang.

Rangkaian karya caru balik sumpah dihadiri oleh Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa didampingi anggota DPRD Badung I Nyoman Satria serta tokoh masyarakat Desa Munggu. Sebagai wujud dukungan pemerintah badung terhadap pelaksanaan karya tersebut, Wabup. Suiasa bersama DPRD Nyoman Satria menyerahkan dana aci sebesar Rp. 950 juta yang diterima Manggala Prawartaka Karya Made Anom Pande bersama Pengrajeg Karya/Pinandita Pura, Jro Mangku Pande Ketut Sunadra dan Penyarikan I Gede Putu Sukarwo. Wabup. Suiasa juga mendem pedagingan di pelinggih padmasana dan menandatangani prasati.

Wabup. Suiasa menyampaikan apresiasi dan dukungan pemerintah kabupaten badung kepada semeton pande munggu telah melaksanakan karya yang besar ini. Menurutnya karya/yadnya harus dilandasi dengan hati suci yang tulus iklas.

“Kehadiran kami selaku pemerintah, untuk ikut ngrastitiang semoga karya ini dapat berjalan baik seauai harapan krama,” katanya.

Diharapkan melalui karya ini pasemetonan, persatuan semeton pande akan dapat ditingkatkan. Suiasa juga mengharapkan krama pande agar ikut mendukung program yang dilaksanakan Pemkab Badung yang muaranya pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.

Menurut Manggala Prawartaka Karya, Made Anom Pande, karya ngenteg linggih ini dilaksanakan serangkaian telah selesainya penataan pembangunan pura penataran kawitan pande yang dimulai sejak tahun 2013 dan selesai 2015. Biaya yang dihabiskan untuk penataan pura mencapai Rp 1,2 M.

“Kami atas nama pasemetonan Pande menghaturkan terimakasih atas bantuan Bupati Badung yang difasilitasi oleh Bapak Nyoman Satria,” katanya.

Sementara untuk karya telah dimulai ngayah sejak tiga bulan lalu yang disanggra oleh semeton pande di dukuh pandean sebanyak 85 KK dengan keseluruhan penyungsung termasuk diluar sebanyak 200 KK.

Ditambahkan, dudonan karya yang mengambil tingkatan cukup besar ini telah dimulai sejak 17 Oktober lalu diawali dengan matur piuning, mapejati, maguru piduhka lan bendu piduhka, nancep tetaring-sanggar tawang.

Dilanjutkan pada 20 Oktober dengan upacara mabumi suda dan negtegang karya, 23 Oktober ngingsah lan memineh empehan lan nyamuh, 14 Nopember nuur ida bhatara tirta, mendak bagia pulakerti ke Pura Dalem, mepepada wewalungan dan melaspas bagia pulakerti. P

ada 16 Nopember dilaksanakan Caru balik sumpah-mayama raja, gelar solas-rsi gana, melaspas, lan mendem pedagingan serta pecaruan amanca ring Pura Beji Taman Tiga. Pada 18 Nopember dilaksanakan melasti lan pekelem ring Segara, lan Mendak Siwi. Puncak karya/adhining karya pada 21 Nopember dengan upacara Nyanggar tawang, mapeselang, mapedhanan-memasar lan maican-ican.

Pada 23 Nopember dilaksanakan upacara mepetik, ngeraja sewala lan metatah, mekebat daun mebangun ayu lan ngebekin, mejaya-jaya-nyurud ayu. Pada 2 Desember (11 rahina) upacara nyegara gunung ke Segara lan Pura Goa Lawah, dan pada 2 Januari 2018 (42 rahina) dilaksanakan pepranian lan ngelebar tapa yadnya lan kerthi, mesegeh agung tur mereresik (puput ikaning adhining karya). (humas-badung/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Gunakan Barong Landung, Duta Denpasar Angkat Ranu Bawa

0

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ngelawang adalah sebuah tradisi pementasan sederhana di Bali. Namun, didalam kesederhanaan tersebut terbesit makna yang sangat mendalam. Yakni untuk menetralisir Bhuta Kala atau aura negatif di alam semesta dari pintu kepintu

Pada Gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 tahun 2017, konsep ngelawang dari pintu ke pintu tetap dipertahankan. Hal ini ditunjukan Sekaa Ngelawang Gita Winangun, Banjar Panti Gede, Desa Pemecutan Kaja, Kota Denpasar yang membawakan garapan Ngelawang berjudul Ranu Bawa di Area Taman Budaya Art Center, Selasa malam (27/6/2017).

Kordinator Sekaa, Komang Juni Antara, menjelaskan, walaupun sifatnya sebagai Parade, konsep ngelawang sebagaimana tradisi Hindu tetap dipertahankan. Salah satunya adalah dalam rangkaian pementasannya selalu disertai dengan pawai atau maped yang merupakan ciri khas ngelawang yang tidak dapat dilupakan.

Dengan mengangkat judul Ranu Bawa yang menceritakan sejarah adanya Tanah Badeng kini dikenal dengan sebutan Badung ini, penggarap ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa keberadaan air sangatlah penting. Hal ini terkait dengan cerita Arya Notor Wandhira yang berkeinginan untuk membangun Kerajaan Besar, namun dalam prosesnya harus memotong aliran sungai. Mendengar keinginan tersebut, Dewi Danu yang menguasai Danau Batur akhirnya mengalirkan air yang sangat besar. Akibatnya terjadilah banjir besar di Tanah Badung.

Melihat kondisi yang demikian, Arya Notor Wandhira langsung memohon petunjuk Sang Hyang Prama Kawi. Dari petunjuk tersebut akhirnya Notor Wandhira berjanji untuk merawat air, dan Dewi Danu pun menganugrahkan bulakan di sepanjang sungai. Dan di bulakan tersebutlah kini berdiri sebuah Pura bernama Pura Griya Beji, di Desa Pemecutan Kaja.

Selain mengangkat kearifan lokal, dalam persembahannya juga menggunakan Barong Landung yang merupakan salah satu jenis Barong di Bali. Konon barong ini merupakan penjelmaan Jaya Pangus dan Kang Cing Wi yang dikutuk oleh Dewi Danu karena menikah lagi.

Jadi, dalam pementasan ini sangat berkaitan dengan cerita Dewi Danu dan sejarah Pura Griya Beji. “Besar harapan dengan ini mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan,” pungkasnya. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Isi Libur Panjang, SMP PGRI 2 Denpasar Gelar Pasraman

0

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – SMP PGRI 2 Denpasar secara rutin mengadakan pasraman bagi siswa kelas VII dan VIII guna mengisi libur panjang. Pasraman SMP PGRI 2 Denpasar, dibuka Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, didampingi Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. Gede Wenten Aryasuda, M.Pd., dan Ketua Panitia, Drs. I Wayan Nendra, Rabu (14/6/2017).

Wayan Nendra melaporkan, pasraman selama empat hari ini diikuti 200 siswa diisi dengan berbagai materi. Di antaranya etika dan moralitas Hindu, dharma agama dan dharma negara sebagai landasan membangun karakter siswa. Selain itu soal swadarma siswa dalam kehidupan sehari-hari,  praktik majejahitan, yoga, praktik membuat klakat dan jaja cacalan, serta dharma gita.

Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Gede Wenten Aryasuda menegaskan, pasraman ini diharapkan mampu melahirkan siswa yang inspiratif, kreatif, inovatif, berkarakter, dan berbudaya yang berlandaskan agama.  Melalui pasraman ini ia berharap, siswanya mampu menjawab masa depan.

Aryasuda menginginkan di sekolah siswa menghormati gurunya, bukan sebaliknya guru gila hormat. Perilaku positif ini perlu dikembangkan di sekolah mengingat nilai-nilai spiritual ini semakin terkikis di era global.
Karenanya, ia mengharapkan siswa bijak memanfaatkan media sosial sebagai penerangan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan untuk mempermudah hidup. Inilah yang disebut Aryasuda agama tanpa ilmu menyebabkan lumpuh, ilmu tanpa agama menyebabkan buta. Serta ilmu pengetahuan yang dilandasi agama untuk mempermudah hidup.

Aryasuda mengatakan, selama diselenggarakan pasraman ini sangat bermanfaat positif dan memberi dampak disiplin pada siswanya. Bahkan, lulusan SMP PGRI 2 Denpasar saat di SMA/SMK banyak menjadi pengurus OSIS dan berprestasi karena disiplin.

Usai pasraman, peserta diajak matirtayatra ke Pura Rambut Siwi, Pulaki, Pura Kertha Kawat dan Pura Melanting. Pura ini sangat pas untuk memohon taksu calon pemimpin dan siswa yang baik, disiplin dan tertib serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Ketua PHDI Bali Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, mengaku bangga SMP PGRI 2 Denpasar secara kontiyu menyelenggarakan pasraman. Menurut Sudiana, pasraman ini sangat penting bagi siswa ditengah godaan zaman.

Ia mengajak para siswa bangga menjadi warga SMP PGRI 2 Denpasar yang secara serius mendapat pendidikan karakter. Sudiana menegaskan, hanya orang yang dididik disiplin akan menjadi orang sukses, sementara mereka yang manja akan menjadi orang yang egois dan sombong.

Karena itu, ia mengajak siswa memiliki karakter Pandawa yakni polos, menghormati leluhur, kuat pendirian dan pintar. Dan, jangan meniru sifat Duryodana yang egois. Maka melalui pasraman ini diharapkan lahir orang pintar dan waskita yang merupakan kristalisasi dari pembelajaran yang mampu mengarahkan masa depan.
Sudiana mengatakan, mereka yang pengetahuan rohaninya telah terbuka dikatakan sebagai orang waskita atau orang yang sangat mengetahui, telah mencapai kesadaran, telah mencapai pencerahan. Orang yang waskita susah kena pengaruh. Karenanya, ia mengajak siswa untuk hidup disiplin. Secara niskala, taat pada aturan, tidak main HP saat berkendara, tidak main HP di kelas. Selain, rajin sembahyang, hormat pada leluhur dan orangtua serta guru di sekolah. (tis/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Ogoh-Ogoh Banjar Oongan Jadi Yang Terbesar

0

BALIPORTALNEWS.COM – Parade Ogoh-Ogoh serangkaian dalam upacara Tawur Kesanga merupakan sebuah ekspresi kreatif masyarakat Hindu di Bali, khususnya di Kota Denpasar, di dalam memaknai perayaan pergantian Tahun Caka, dimana biasanya pawai ogoh-ogoh dilaksanakan pada malam pangerupukan menjelang Hari Raya Nyepi.

Hari Suci Nyepi kali ini merupakan pergantian Tahun Caka 1938 menuju Tahun Baru Caka ke 1939. Setiap wilayah di Denpasar melaksanakan parade ogoh-ogoh, begitu juga Desa Pakraman Tonja dan Kelurahan Tonja, Senin (27/3/2017) malam lalu, terlihat sebanyak 9 ogoh-ogoh dari Desa Pakraman dan Kelurahan Tonja beradu kreatifitas dalam pergelaran parade ogoh-ogoh di Catus Pata (Perempatan) Tonja.

Dimana pelaksanaan parade ogoh-ogoh ini dibuka langsung Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara di dampingi Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra, Bendesa Pakraman Tonja dan Lurah Tonja.

Karena adanya parade di Tonja ini, masyarakat yang ingin menyaksikan parade ini pun tampak tumpah ruah di jalan dan sangat antusias, terlihat para masyarakat sudah duduk rapi di pinggir jalan untuk menyaksikan parade ini dari pukul 06.00 wita sore.

Yang mana ogoh-ogoh Desa Pakraman Tonja ini telah berjejer rapi, siap untuk melakukan atraksi selepas Wawali Jaya Negara memukul kentungan tanda parade ogoh-ogoh Desa Pakraman Tonja ini telah di mulai.

Disambut alunan gambelan Baleganjur dan obor, suasana semakin meriah ketika penampilan pembukaan dimulai dengan penampilan pertama ogoh-ogoh Sekaa Teruna  Yowana Santi Banjar Oongan yang menampilkan perwujudan Lord of Gamang, yakni raja dari seluruh bangsa gamang yang sangat besar dengan perawakan kepala botak dan badan berwarna abu-abu dan ini merupakan ogoh-ogoh terbesar di Desa Pakraman dan Kelurahan Tonja, sorak penonton pun semakin meriah ketika ogoh-ogoh ini di mainkan serta di dipadukan dengan fragmentari yang menggambarkan cerita tema dari ogoh-ogoh tersebut.

Tidak mau kalah, seusai Banjar Oongan, Banjar Tatasan Kelod dan Banjar Tegeh Sari pun ikut unjuk gigi dalam parade ini. Sekaa Teruna Banjar Tatasan Kelod menampilkan ogog-ogoh dengan cerita Watugunung Pralaya dan Banjar Tegeh Sari dengan penampilan ogoh-ogoh yang berwujud Patih Kebo Iwa.

Kemeriahan pun menyatu dalam malam parade  ini dan para penonton pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan atraksi ogoh-ogoh masing-masing Banjar di Desa Pakraman Tonja ini dengan kamera, handpone, tablet dan alat perekam sebagainya.

Sementara itu Bendesa Pakraman Tonja, I Made Sudarsana mengatakan, parade ogoh-ogoh di Desa Pakraman Tonja dan Kelurahan Tonja kali ini merupakan parade yang ke enam kalinya yang merupakan ajang untuk menggali kreatifitas seni generasi muda khususnya sekaa teruna di masing-masing Banjar se-Desa Pakraman dan Kelurahan Tonja.

Dimana dari Sembilan ogoh-ogoh ini nantinya akan di cari lima besar juara terbaik yang akan mendapatkan uang pembinaan sebesar 3 Juta Rupiah, dan sisnya juga akan mendapatkan uang pembinaan sebesar 1 Juta Rupiah.

Adapun kreteria peneilaian nantinya meliputi komposisi bentuk garapan bhuta kala, kreatifitas, ekspresi, kekompakan, kesesuaian tarian ogoh-ogoh dengan gambelannya dan tepat waktu saat membawakan ogoh-ogoh selama durasi 7 menit dalam satu penampilan. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :