Lomba Penjor Semarakkan Kemeriahkan HUT Kota Denpasar

BALIPORTALNEWS.COM – Kemeriahan peringatan HUT ke-229 Kota Denpasar, tampak diberbagai sudut Kota Denpasar. Selain umbul-umbul serta spanduk peringatan bertulisan tematik peringatan HUT yakni “Peningkatan Daya Saing Lokal Guna Memperkuat Denpasar Kota Cerdas Menuju Masyarakat Sejahtera dan Bahagia’’, berbagai lomba budaya untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal juga digelar.

Salah satunya adalah lomba membuat penjor kreasi antar-organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar serta desa dan lurah yang digelar, Minggu (26/2/2017). Tercatat 91 peserta turut ambil bagian pada lomba penjor kreasi yang rutin digelar Pemkot Denpasar melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar ini.

Ke-91 penjor kreasi dipancangkan di seputaran depan kantor Walikota Denpasar Jalan Gajah Mada, Jalan Udayana, areal Lapangan Lumintang dan Art Centre Taman Budaya Denpasar. Lomba penjor kreasi ini melibatkan tim juri dari akademisi dan seniman, yakni Drs. I Wayan Sumantra, Drs. I Wayan Butuantara, M.Si., dan Drs. Gusti Ketut Widana, M.Si.

Dari hasil penilaian juri, tampil sebagai juara I adalah Inspektorat Kota Denpasar dengan nilai 285. Juara II – harapan III masing-masing PDAM (279), PD Pasar (270), Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar (258), Dinas Kebudayaan (249) dan Perbekel Desa Sumerta Klod (240).

Kabid Pendidikan Luar Sekolah Disdikpora Kota Denpasar, Drs. Made Merta, M.Si., mengatakan, penjor kreasi yang dilombakan ini hanya diperbolehkan menggunakan bahan tradisional/bersifat alami, seperti busung (janur). Pada penjor kreasi ini, antara tinggi bambu, besar bambu dan hiasannya juga harus seimbang (serasi). ‘’Tim juri dalam melakukan penilaian berdasarkan pedoman pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh panitia. Termasuk pula proses pembuatan dari awal penjor itu dibuat sampai dipancangkan,’’ terangnya.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Drs. Wayan Sukana, mengatakan, lomba penjor kreasi ini selain untuk memeriahkan hari jadi Kota Denpasar, sekaligus memberi ruang berkreativitas serta membangun kebersamaan. Terbukti, keakraban antarpegawai tampak sangat kental dan nyaris tanpa jarak. Semua menyatu dalam kegiatan ini.

Semangat kebersamaan inilah diharapkan Sukana agar terus dipelihara dan dipertahankan dalam hal membangun Kota Denpasar kedepan dalam balutan harmoni masyarakat menuju kota kreatif dan kota cerdas. Tentunya bermuara pada tingkat kebahagian masyarakat Kota Denpasar.

Tak berlebihan, dari lomba penjor kreasi ini muncul kreativitas baru sesuai dengan visi misi ‘’Padmaksara’’ yang merupakan langkah baru Dharma Negara demi Denpasar menuju jalur dimensi kehidupan. Program tersebut di antaranya, menciptakan pemerintahan bersih menuju kota cerdas, maupun pelatihan sumber daya manusia menuju kota kompeten. (tis/bpn)

46 Ogoh-Ogoh di Denut dinilai Dinas Kebudayaan

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR   Tim Penilai Lomba Ogoh- Ogoh Kota Denpasar 2018 yang terdiri dari unsur Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan perwakilan Sekaa Teruna – Teruni  (STT) se-Kota Denpasar mulai mengadakan penilaian ogoh- ogoh hasil karya seluruh STT se-Kota Denpasar. Proses penilaian dimulai dari tanggal 6 Maret 2018 hingga tanggal 9 Maret 2018 dengan 182 ogoh-ogoh. Pada Selasa (6/3/2018) penilaian hari pertama diawali menilai sebanyak 46 Ogoh- ogoh di kecamatan Denpasar Utara.

Ogoh- ogoh karya STT di Kecamatan Denpasar Utara selain menggunakan bahan- bahan ramah lingkungan sesuai anjuran Pemerintah Kota, juga nampak beberapa STT mencoba berkreatifitas menggunakan bahan baku alternatif seperti kertas tisu, kulit telur ayam dan daun pisang kering. Bahkan beberapa STT ada juga yang telah menambahkan sentuhan teknologi kedalam karya ogoh- ogohnya. Salah satu Ogoh-ogoh karya STT Banjar Ambengan, Peguyangan Kangin bahkan menggunakan bahan kulit telur ayam.

Salah satu tim juri, I Ketut Sudita mengatakan penilaian yang dialkukan diantaranya dari segi kreatifitas berupa bentuk, ekspresi, komposisi dan penggunaan bahan pembuatan ogoh- ogoh.

Lebih lanjut dikatakan pada tahun ini kriteria hampir sama seperti ditahun sebelumnya. Peserta tidak diperkenankan menggunakan bahan seperti stereofoam dan diharapkan menggunakan bahan ramah lingkungan. “Bahkan berdasarkan hasil pengamatan kami, beberapa STT telah bereksperimen menggunakan bahan alternatif seperti tisu dan kulit telur ayam yang terlihat memberi efek khsusus pada ogoh- ogoh. “Tim penilai lomba ogoh- ogoh Kota Denpasar tahun ini terdiri dari pakar dari beberapa disiplin  ilmu seperti seni rupa, tari untuk menilai fragmen dan ada juga ahli dibidang cerita dan sinopsis. Tentu lomba ogoh- ogoh yang digagas Pemkot Denpasar ini bertujuan untuk terus melestarikan warisan seni budaya di Bali dan mengarahkan generasi muda Kota Denpasar melakukan hal- hal yang positif,” ungkapnya.

Wisnu Pramana, Ketua STT Yowana Dhika Karma, Banjar Batur, Peguyangan Kaja saat ditemui pada saat penilaian mengatakan pengerjaan ogoh- ogoh selama dua bulan dimulai awal januari dan rampung pada awal maret. Ogoh- ogoh ini bertema Atma Corah dan telah diberi sentuhan teknologi. Ogoh – ogoh digerakkan dengan memakai mesin degan satu poros dan tiga rotasi atau pergerakan yaitu memutar, kedua gerakan dileher dan gerakan di badan. “Kami sangat senang dan bangga dapat dinilai secara langsung oleh tim Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Semoga hasil yang kami terima dari karya kami memuaskan dan kami jadikan pembelajaran untuk dapat menghasilkan karya yang lebih baik kedepannya,” ujarnya. (esa/humas-dps/bpn)

Geguritan Jayaprana Dibaca Sehari Penuh di Pedawa

BALIPORTALNEWS.COM – Minggu (12/2/2017) diadakan kegiatan membaca geguritan Jayaprana di Pasraman Pasir Ukir, Desa Pakraman Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Kegiatan ini bisa-bisa dibilang spektakuler. Pasalnya, membaca geguritan Jayaprana digelar satu hari penuh yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Bali bahkan di Indonesia.

I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H, penggagas Membaca Geguritan Jayaprana Satu Hari Penuh yang juga pendiri Pasraman Pasir Ukir, mengungkapkan, acara ini digagas atas inisiatif untuk pelestarian budaya, agar tradisi mebebasan itu hidup lagi.

“Selain sebagai pelestarian tradisi mebebasan, kegiatan ini juga digelar untuk menteladani dan memakanai kisah Jayaprana yang di dalamnya termuat ajaran tentang subakarma (perbuatan baik) dan Asubhakarma (perbuatan baik),” ungkapnya.

Ajaran tersebut mengajarkan pelaksanaan perilaku baik yang akan memperoleh penyatuan (moksa) dengan Tuhan, sementara jika melalukan perbuatan buruk akan memperoleh kelahiran kembali secara berulang-ulang sebagai proses reinkarnasi.

Kisah Jayaprana bagi masyarakat Buleleng juga sudah melekat dan telah menjadi bagian dari masyarakat Buleleng. “Jayaprana memiliki cerita dan mitologi yang sangat lekat di hati masyarakat Buleleng, kisah ini setara dengan kisah Romeo dan Juliet di Eropa,” kata pria yang juga akademisi UNHI Denpasar.

Geguritan Jayaprana yang bersumber dari lontar Jayaprana dibaca dan dinyanyikan sekaa Santi Jati Luwih beranggotakan generasi muda yang merupakan salah satu kegiatan binaan Pasraman Pasir Ukir.  “Ini juga menarik, sebagaian besar penyanyi merupakan generasi muda,” kata Satria.

Adapun geguritaan Jayaprana yang dibaca terdiri atas 179 bait. Semua bait geguritan dilantunkan dengan tembang pupuh Ginada Jayaprana.

Kegiatan yang belum pernah digelar di Buleleng ini juga mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten Buleleng. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Putu Tastra Wijaya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Buleleng. (tis/bpn)

Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot Dipadati Pemedek

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Pujawali di Pura Luhur Tanah Lot, dimulai pada Budha Wage Langkir, 15 November 2017, dan akan nyejer sampai 18 November 2017.

Saat pujawali, umat Hindu yang berasal dari berbagai daerah di Bali mulai berdatangan memadati pura di tengah laut ini. Piodalan di Tanah Lot ini juga bersamaan dengan di Pura Batu Bolong dan Pura Penataran di kawasan Tanah Lot.

Menurut Manajer Operasional DTW Tanah Lot, Ketut Toya Adnyana, upacara piodalan ini menambah daya tarik bagi wisatawan. “Banyak wisatawan yang menunggu upacara ini untuk menikmati kawasan wisata Tanah Lot. Mereka rela menunggu seharian untuk bisa mengabadikan momen yang paling digemari wisatawan asing ini,” ujarnya.

Untuk upacara ngaturang pujawali di Pura Luhur Tanah Lot akan dilaksanakan mulai pukul 01.00 sampai pukul 23.00, dipuput Pemangku Gede Pura Luhur Tanah Lot “Mangku Semudra”.

“Di sini kita juga dibantu teruna-teruni dari Desa Pakraman Beraban, yang ngaturang ayah secara bergilir. Mereka sudah mulai ngayah sejak Minggu (12/11/2017). Jadi, dari masing-masing banjar adat di Desa Pakraman Beraban, secara bergiliran sekaa teruna-teruni ngaturang ayah di Pura Luhur Tanah Lot,” ujar Toya Adnyana.

Sementara sehari sebelumnya, Selasa, 14 November 2017, dilaksanakan upacara ngebejian di Beji Kaler Pura Luhur Tanah Lot. Upacara itu dilaksanakan pukul 15.00, untuk menyucikan atau membersihkan semua pratima (benda sakral) yang akan dipakai dalam piodalan, dengan air suci dari beji (sumber air suci) di Pura Luhur Tanah Lot. (ita/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Sambut Nyepi, 60 Ogoh-Ogoh PAUD Menari di Taman Kota Lumintang

BALIPORTALNEWS.COM – Dalam rangka menyambut dan merayakan hari suci Nyepi Tahun Baru Caka 1939, Pemerintah Kota Denpasar melalui Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) PGRI Kota Denpasar menggelar pawai ogoh-ogoh PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) se-Kota Denpasar.

Dikarenakan para siswa PAUD di Kota Denpasar tidak saja melakukan kegiatan belajar mengajar  dan bermain disekolah, melainkan sejak usia dini telah diarahkan dalam program Pemkot Denpasar untuk berinteraksi sosial dan budaya di masyarakat.

Dimana terlihat sebanyak 300 anak-anak dengan 60 ogoh-ogoh berbagai bentuk dan ukuran ikut serta dalam pawai ini, ogoh-ogoh ini diusung oleh siswa-siswa PAUD se-Kota Denpasar dengan berbalut pakaian adat Bali, anak-anak ini sangat antusias mengikuti parade ogoh-ogoh yang di buka dan dilepas langsung oleh Wakil Walikota Denpasar I.G.N Jaya Negara, Sabtu (18/3/2017) di Taman Kota Lumintang.

Suasana parade semakin semarak setelah parade ogoh-ogoh di lepas, tidak saja mengusung ogoh-ogoh, namun anak-anak dari usia kisaran 4-6 tahun ini juga memainkan alunan gambelan Bali sebagai pengiring ogoh-ogoh yang dibawakan, yang diikuti dengan sorakan penyemangat dari para guru-guru pendamping dan orang tua mereka masing-masing.

Ogoh-Ogoh kecil ini pun terlihat menari di antara krumunan anak-anak PAUD yang sedang beratraksi. Dengan mengambil start di Taman Kota Lumintang, barisan parade ogoh-ogoh ini melintasi rute Jalan Mulawarman menuju Jalan Majapahit yang menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang melintasi jalan tersebut maupun masyarakay yang sedang berolahraga di taman kota.

“Kegiatan pawai ogoh-ogoh ini memang di adakan setiap tahunya, guna menanamkan nilai mencintai budaya kepada anak-anak dan mengembangkan kreatifitas sejak dini serta bisa bersosialisasi dengan anak-anak sebaya mereka, sehingga mereka memiliki kepribadian melalui pengenalan budaya sedini mungkin,” ujar Wakil Walikota Denpasar I.G.N Jaya Negara di sela-sela pawai ogoh-ogoh.

Dengan memperkenalkan budaya sejak dini diharapkan anak-anak memiliki karakter dan memahami tentang makna budaya Bali salah satunya melalui perayaan Hari Suci Nyepi lewat gelaran parade ogoh-ogoh setiap tahunnya, serta diharapkan parade ini dapat memupuk rasa kebersamaan sejak dini .

Sementara Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia  (IGTKI) Kota Denpasar, Ni Made Aryaningsih mengatakan tujuan dari parade ogoh-ogoh yang dilaksanakan setiap tahunnya untuk memupuk rasa cinta seni budaya sejak dini, serta memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang makna perayaan Hari Suci Nyepi.

Peserta yang mengikuti parade ogoh-ogoh kali ini dari beberapa gugus yang tersebar diempat kecamatan se-Kota Denpasar, sebanyak 60 ogoh-ogoh yang terdiri dari 48 ogoh-ogoh perwakilan gugus, dan 12 ogoh-ogoh dari partisipasi lembagai pendidikan anak usia dini di Kota Denpasar.

Disamping itu kegiatan ini juga untuk mendukung Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya yang dilakukan dengan melibatkan seluruh anak-anak melalui kegiatan seni dan budaya, serta memberikan ruang kreativitas kepada anak-anak usia dini.

“Kami memberikan mereka kesempatan untuk mengenal budaya Bali sejak dini, baik dalam kegiatan perayaan Hari Suci Nyepi, maupun memberikan ruang kreativitas lewat kegiatan budaya lainnya,” ujar Aryaningsih. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Isi Libur Panjang, SMP PGRI 2 Denpasar Gelar Pasraman

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – SMP PGRI 2 Denpasar secara rutin mengadakan pasraman bagi siswa kelas VII dan VIII guna mengisi libur panjang. Pasraman SMP PGRI 2 Denpasar, dibuka Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, didampingi Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. Gede Wenten Aryasuda, M.Pd., dan Ketua Panitia, Drs. I Wayan Nendra, Rabu (14/6/2017).

Wayan Nendra melaporkan, pasraman selama empat hari ini diikuti 200 siswa diisi dengan berbagai materi. Di antaranya etika dan moralitas Hindu, dharma agama dan dharma negara sebagai landasan membangun karakter siswa. Selain itu soal swadarma siswa dalam kehidupan sehari-hari,  praktik majejahitan, yoga, praktik membuat klakat dan jaja cacalan, serta dharma gita.

Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Gede Wenten Aryasuda menegaskan, pasraman ini diharapkan mampu melahirkan siswa yang inspiratif, kreatif, inovatif, berkarakter, dan berbudaya yang berlandaskan agama.  Melalui pasraman ini ia berharap, siswanya mampu menjawab masa depan.

Aryasuda menginginkan di sekolah siswa menghormati gurunya, bukan sebaliknya guru gila hormat. Perilaku positif ini perlu dikembangkan di sekolah mengingat nilai-nilai spiritual ini semakin terkikis di era global.
Karenanya, ia mengharapkan siswa bijak memanfaatkan media sosial sebagai penerangan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan untuk mempermudah hidup. Inilah yang disebut Aryasuda agama tanpa ilmu menyebabkan lumpuh, ilmu tanpa agama menyebabkan buta. Serta ilmu pengetahuan yang dilandasi agama untuk mempermudah hidup.

Aryasuda mengatakan, selama diselenggarakan pasraman ini sangat bermanfaat positif dan memberi dampak disiplin pada siswanya. Bahkan, lulusan SMP PGRI 2 Denpasar saat di SMA/SMK banyak menjadi pengurus OSIS dan berprestasi karena disiplin.

Usai pasraman, peserta diajak matirtayatra ke Pura Rambut Siwi, Pulaki, Pura Kertha Kawat dan Pura Melanting. Pura ini sangat pas untuk memohon taksu calon pemimpin dan siswa yang baik, disiplin dan tertib serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Ketua PHDI Bali Prof. Dr. Gusti Ngurah Sudiana, mengaku bangga SMP PGRI 2 Denpasar secara kontiyu menyelenggarakan pasraman. Menurut Sudiana, pasraman ini sangat penting bagi siswa ditengah godaan zaman.

Ia mengajak para siswa bangga menjadi warga SMP PGRI 2 Denpasar yang secara serius mendapat pendidikan karakter. Sudiana menegaskan, hanya orang yang dididik disiplin akan menjadi orang sukses, sementara mereka yang manja akan menjadi orang yang egois dan sombong.

Karena itu, ia mengajak siswa memiliki karakter Pandawa yakni polos, menghormati leluhur, kuat pendirian dan pintar. Dan, jangan meniru sifat Duryodana yang egois. Maka melalui pasraman ini diharapkan lahir orang pintar dan waskita yang merupakan kristalisasi dari pembelajaran yang mampu mengarahkan masa depan.
Sudiana mengatakan, mereka yang pengetahuan rohaninya telah terbuka dikatakan sebagai orang waskita atau orang yang sangat mengetahui, telah mencapai kesadaran, telah mencapai pencerahan. Orang yang waskita susah kena pengaruh. Karenanya, ia mengajak siswa untuk hidup disiplin. Secara niskala, taat pada aturan, tidak main HP saat berkendara, tidak main HP di kelas. Selain, rajin sembahyang, hormat pada leluhur dan orangtua serta guru di sekolah. (tis/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Desa Dangin Puri Kauh Gelar Lomba Baleganjur Antar Banjar

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Untuk meningkatkan motivasi masyarakat khususnya dikalangan remaja dalam mengisi pembangunan dan memperkuat rasa persatuan antara warga masyarakat, Desa Dangin Puri Kauh menggelar sebuah lomba Baleganjur antar Banjar se-Desa Dangin Puri Kauh, Minggu malam (17/9/2017) di Depan Balai Banjar Belaluan Denpasar. Dimana kegiatan ini di buka langsung Walikota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra di dampingi Camat Denpasar Utara, Nyoman Lodra dan Perbekel Desa Dangin Puri Kauh I.B. Ary Wibawa, ditandai dengan pemukulan gong.

Kegiatan lomba Baleganjur ini merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Desa Dangin Puri Kauh guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta lomba khususnya generasi muda untuk lebih mencintai budaya, demikian disampaikan Perbekel Desa Dangin Puri Kauh I.B. Ary Wibawa. Dimana ada lima Banjar yang bersaing di dalam lomba baleganjur kali ini, yakni Banjar Belaluan, Banjar Belaluan Sadmerta, Banjar Tampakgangsul, Banjar Tengah dan Banjar Pucak Sari yang menampilkan kebolehan dan keterampilan mereka dalam memainkan alat-alat music baleganjur.

Seperti Sekaa Cakra Yowana Banjar Belaluan, dalam penampilan pertamanya sebagai tuan rumah menampiklan cerita “Perang Tanding”, dengan menggunakan pakian putih dibalut dengan kain endek hitam bercorak bunga cokelat, para penari dan penabuh memainkan irama baleganjur yang sangat membuat andrenalin terpicu untuk ikut bergerak dan menari.

Dimana sekaa baleganjur Cakra Yowana memainkan baleganjur dengan kisah Perang Tanding yang menceritakan tentang perang antara Arjuna dan Karna yang tidak terelakan lagi, yang akhirnya kedua kesatria ini berperang di Kurusetra. Sang Arjuna dengan gagahnya maju ke medan perang menaiki kereta yang dikusiri oleh Prabu Kresna, begitu juga Sang Karna menaiki kereta yang di kusiri Prabu Salya. Singakt cerita kedua kesatria ini bertempur habis-habisan dan akhirnya Arjuna membentangkan busurnya untk melepaskan panah pasupati anugrah dari Batara Siwa, yang pada akhirnya menewaskan Sang Karna. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Sebanyak 533 ST se-Kab Badung Ikuti Lomba Ogoh-Ogoh

BALIPORTALNEWS.COM – Bupati Badung betul-betul merealisasikan janjinya dalam mendukung kreativitas seni Sekaa teruna dalam membuat ogah-ogoh pada Perayaan Pengerupukan, dan Hari Nyepi tahun 2017 ini.

Bantuan yang diberikan kepada masing-masing Sekaa Teruna se-Badung sebesar Rp 15 juta dipotong pajak. Bahkan Pemkab Badung melalui Dinas Kebudayaan Badung akan melombakan hasil kreatifitas Sekaa Teruna dalam pembuatan ogoh-ogoh. Hal tersebut terungkap saat rapat yang difasilitasi Dinas Kebudayaan Badung yang diikuti sebanyak 533 Sekaa Teruna se-Badung, Senin (23/1/2017) di Wantilan DPRD Badung.

Acara tersebut diisi dengan pengarahan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung I B Anom Basma serta Penandatangan SPJ bantuan yang akan dicairkan melalui rekening Sekaa Teruna masing-masing. Turut hadir Majelis Madia Kabupaten Badung I B Anom yang juga selaku Ketua Tim Penilai  dan para tim penilai lomba.

Dihadapan Sekaa Teruna se-Badung, Kadis Kebudayaan Badung I B Anom Basma mengatakan, bahwa bantuan ini diberikan kepada Sekaa Teruna se-Badung yang mengikuti Lomba Ogoh- Ogoh  dalam rangka menyambut perayaan hari raya Nyepi di Kabupaten  Badung yang jatuh bulan Maret tahun 2017. Adapun penilaian akan dilakukan oleh Tim Juri yang menilai ke masing-masing Kecamatan sesuai dengan  nomor urut yang telah diundi.

“Tim ini sudah mulai menilai satu minggu sebelum pengerupukan,” kata IB Bhasma.

Lebih Lanjut dijelaskan, kriteria penilaian yang merupakan hasil rapat Tim Penilai adalah  Ogoh -ogoh yang berbentuk Buta Kala, Keutuhan Karya, Bahan Alami yang Ramah Lingkungan , Tingginya minimal 3 meter dan maksimal 5 meter, dan tidak bermuatan Politik, Tidak Porno dan mengandung SARA.

Juga dinilai mengenai estitika yang meliputi; ekpresi, kehindahan, keserasian dan inovatif. Bagi pemenang akan diberikan hadiah uang, dimana Juara I sebesar 20 juta, Juara II 15 juta dan Juara III sebesar 10 juta belum dipotong pajak.

Kehadiran Perwakilan ST ini adalah untuk menandatangani SPJ dengan membawa perlengkapan berupa stempel dan nomor rekening BPD atas nama Sekaa Teruna agar bantuan bisa ditransfer langsung ke rekening masing-masing Sekaa Teruna.

Tujuan diadakan lomba ini adalah untuk memupuk tali persaudaraan dan mempererat rasa persatuan dan kesatuan diantara Sekaa Teruna di kabupaten Badung. (humasbdg/bpn)

Gunakan Barong Landung, Duta Denpasar Angkat Ranu Bawa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ngelawang adalah sebuah tradisi pementasan sederhana di Bali. Namun, didalam kesederhanaan tersebut terbesit makna yang sangat mendalam. Yakni untuk menetralisir Bhuta Kala atau aura negatif di alam semesta dari pintu kepintu

Pada Gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 tahun 2017, konsep ngelawang dari pintu ke pintu tetap dipertahankan. Hal ini ditunjukan Sekaa Ngelawang Gita Winangun, Banjar Panti Gede, Desa Pemecutan Kaja, Kota Denpasar yang membawakan garapan Ngelawang berjudul Ranu Bawa di Area Taman Budaya Art Center, Selasa malam (27/6/2017).

Kordinator Sekaa, Komang Juni Antara, menjelaskan, walaupun sifatnya sebagai Parade, konsep ngelawang sebagaimana tradisi Hindu tetap dipertahankan. Salah satunya adalah dalam rangkaian pementasannya selalu disertai dengan pawai atau maped yang merupakan ciri khas ngelawang yang tidak dapat dilupakan.

Dengan mengangkat judul Ranu Bawa yang menceritakan sejarah adanya Tanah Badeng kini dikenal dengan sebutan Badung ini, penggarap ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa keberadaan air sangatlah penting. Hal ini terkait dengan cerita Arya Notor Wandhira yang berkeinginan untuk membangun Kerajaan Besar, namun dalam prosesnya harus memotong aliran sungai. Mendengar keinginan tersebut, Dewi Danu yang menguasai Danau Batur akhirnya mengalirkan air yang sangat besar. Akibatnya terjadilah banjir besar di Tanah Badung.

Melihat kondisi yang demikian, Arya Notor Wandhira langsung memohon petunjuk Sang Hyang Prama Kawi. Dari petunjuk tersebut akhirnya Notor Wandhira berjanji untuk merawat air, dan Dewi Danu pun menganugrahkan bulakan di sepanjang sungai. Dan di bulakan tersebutlah kini berdiri sebuah Pura bernama Pura Griya Beji, di Desa Pemecutan Kaja.

Selain mengangkat kearifan lokal, dalam persembahannya juga menggunakan Barong Landung yang merupakan salah satu jenis Barong di Bali. Konon barong ini merupakan penjelmaan Jaya Pangus dan Kang Cing Wi yang dikutuk oleh Dewi Danu karena menikah lagi.

Jadi, dalam pementasan ini sangat berkaitan dengan cerita Dewi Danu dan sejarah Pura Griya Beji. “Besar harapan dengan ini mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan,” pungkasnya. (ays’/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :