21 C
Denpasar
Minggu, 21 Oktober 2018

Komunitas Suarshima Usung Spirit Arti Foundation

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Penampilan komunitas Suarshima dalam tari dan tabuh di Jaba Pura Puri Agung Denpasar, Minggu malam (7/10/2018) memberikan sebuah gambaran bahwa gairah berjesenian tetap tampak dalam membangun negeri. Menampilan karya-karya seni yang bersifat pembaruan yakni I Made Artya Talava, I Gusti Ngurah Gede Agung Mariswara dan Anak Agung Putu Atmaja disaksikan Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra. Tampak juga dalam pementasan malam itu, komunitas Suarshima yang baru terbentuk dengan mengusung spirit Arti Foundation ini tampak juga disaksikan penglingsir Puri Agung Denpasar Cok Ratmadi, tokoh seniman Bali, Prof. I Wayan Dibia dan beberapa seniman Bali.

“Saya berharap komunitas Suarshima dapat bergerak lincah, mantap dan melahirkan karya-karya yang menginspirasi masyarakat luas,” ujar Walikota Rai Mantra. Lebih lanjut Rai Mantra menuturkan bahwa pernah ditemui Artya Talava anak dari Kadek Suardhana pendiri ARTI Foundation yang berkeinginan membentuk komunitas Suarshima. Dalam pertemuan tersebut Rai Mantra memiliki pemikiran bahwa Kadek Suardana seakan hidup kembali. “Pertemuan dengan Artya Talava seakan terlintas kalau Kadek Suardana hidup kembali,” ujarnya.

Rai Mantra juga mengaku menyambut baik keinginan Made Lolink sapaan akrab Artya Talava ini untuk meneruskan yayasan ARTI Foundation yang didirikan ayahnya yang sangat saya kenal sebagai seniman dan tokoh penting kesenian Bali modern. Menurut Rai Mantra tak pernah ada upaya menjalankan niat yang luput dari hambatan. Itulah ujian dari kesungguhan kita mengupayakan niat itu. Terkadang semakin besar niat, semakin besar pula tantangannya.

“Saya berharap komunitas ini dapat mendorong lahirnya generasi baru yang berkrakter Bali, yang gandrung perdamaian, mengutamakan kejujuran dan kebersihan hari, kreatif, adaktif dan selalu menemukan cara untuk menjawab tantangan jamannya melalui inovasi-inovasi, serta bersemangat meraih masa depan dengan tetap berpijak pada akar tradisi dan kearifn masa lalu,” ujar Rai Mantra.

Sementara Made Lolink mengatakan pada tahun 2018 ini tepat pada peringatan lima tahun kepergian sang ayah, serta saya bersama rekan-rekan membentuk Suarshima sebagai wadah berekspresi, berkarya, dan berinovasi. Dijelaskan Suarshima secara etimologi berasal dari penggalan kata yakni Suar dan Shima. Dimana penggalan kata ini diambil dari kedua seniman yakni Kadek Suardana dan Mari Nabeshima.

Keberadaan Suarshima saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari Yayasan ARTI Foundation yang diasuh ayah saya Kadek Suardana ada periode 1998 hingga beliau meninggal di tahun 2013. “Sehingga kami memutuskan bersama rekan-rekan untuk ikut bergabung dan bisa melahirkan sebuah komunitas baru namun sejalan dengan visi misi kebudayaan yang selama ini dijalankan oleh ARTI Foundation,” ujarnya. Suarshima dibentuk demi memuaskan hasrat berkesenian para senimannya. Bukan semata-mata komunitas seni yang bersifat konvensional atau ekonomis. Namun menurut Lolink Suarshima memiliki tujuan menjadi sebuah komunitas yang berkarya dengan profesional, baik dalam menghargai sebuah karya maupun senimannya.

Dalam penampilan kali ini, sebuah garapan tari Legong dengan iringan musik Saron, yang juga menampilkan karya Anak Agung Putu Atmaja dengan garpan menggunakan instrumen selonding yang berjudul Rasa. Disamping itu juga menampilkan karya I Gusti Ngurah Gede Agung Mariswara berjudul Sedulur yang berpijak pada pola-pola leluang dari instrumen Saron yang dimodifikasi bersama aksen gending-gending sanghyang yang kental dengan aroma tradisi. (pur/humas-dps/bpn)

PC KMHDI Badung Laksanakan MPAB Ke-20

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Badung (PC KMHDI Badung) melaksanakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) ke-20 di Pura Sakenan, Denpasar, kegiatan MPAB ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu dari hari Jumat tanggal 5 Oktober sampai Minggu tanggal 7 Oktober.

Pada tahun ini MPAB PC KMHDI Badung mengangkat tema “Mencetak Generasi Muda Pemikir, Penggagas dan Penggerak Demi Kemajuan Bangsa”, kegiatan diawali dengan memberikan pengenalan mengenai sejarah, struktur, visi dan misi oragnisasi kepada para para peserta dan diakhiri dengan pelantikan anggota baru. Peserta merupakan mahasiswa hindu akftifyang berasal dari berbagai perguruan tinggi di daerah Badung, diantaranya berasal dari Politeknik Negeri Bali, Universitas Udayana, Universitas Dhyana Pura dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.

MPAB kali ini juga sempat dihadiri oleh beberapa alumni KMHDI yang membagikan pengalaman serta menyampaikan beberapa pesan yang memotivasi para peserta untuk bersemangat dalam berorganisasi.

Dalam sambutan penutupan, Ketua PC KMHDI Badung, Lanang Astawa, mengharapkan agar para anggota baru yang dilantik bisa tetap berkomitmen untuk bergerak bersama PC KMHDI Badung dan mampu memberikan sumbangsih pemikiran-pemikiran baru yang progresif untuk kemajuan organisasi.

Salah satu peserta MPAB, Agus Adi yang merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana memberikan kesan mengenai kegiatan ini, dirinya mengatakan bahwa pelaksanaan MPAB kali ini sangat menarik karena tidak hanya mendapat pengetahuan dan pengalaman baru tetapi juga teman-teman baru yang bisa diajak bertukar pikiran sehingga mengubah pola pikirnya mengenai KMHDI.

Organisasi yang merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa hindu tingkat nasional ini sudah mulai lebih dikenal oleh masyarakat, terbukti bahwa pada tahun ini jumlah peserta MPAB PC KMHDI Badung mengalami peningkatan dibandingkan peserta MPAB tahun lalu.

Dengan kehadiran anggota baru di PC KMHDI Badung maka diharapkan dapat memberikan udara segar bagi organisasi agar kedepannya tetap mampu melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan senantiasa menjadi mitra kritis pemerintah.  (humas-kmhdi/bpn)

5 Oktober, Pergub Aksara Bali Resmi Diberlakukan

BALIPORTALNEWS.COM – Gubernur Bali Wayan Koster memimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Peraturan Gubernur Bali No. 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Peraturan Gubernur Bali No. 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali di Ruang Rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Selasa (2/10/2018).

Rapat yang dihadiri Wakil Gubernur, Bupati/Walikota se-Bali dan PHDI Bali ini menyepakati peresmian pelaksanaan penggunaan aksara Bali secara serentak di seluruh Bali pada tanggal 5 Oktober 2018. Sesuai Pergub, papan nama kantor dan fasilitas publik di Bali akan menggunakan aksara Bali di atas huruf latin. Beberapa lokasi kantor dan fasilitas publik di tingkat Provinsi hingga tingkat Desa sudah ditentukan sebagai tempat peresmian. Untuk tingkat provinsi akan dipusatkan di Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Kantor Gubernur Bali.

“Bandara I Gusti Ngurah Rai sudah menyiapkan dua titik (papan nama) strategis,” kata Koster.

Beberapa lokasi lain di tingkat Provinsi yang akan mulai memasang papan nama aksara Bali pada tanggal tersebut adalah Kantor DPRD Provinsi Bali, Kantor Parisada Provinsi Bali, Jalan Nasional I Gusti Ngurah Rai, Petunjuk jalan di wilayah Simpang Dewa Ruci dan Rumah Sakit Bali Mandara.

Sedangkan penggunaan bahasa dan busana adat Bali akan mulai diberlakukan pada hari Kamis, 11 Oktober 2018. Mulai tanggal tersebut bahasa dan busana adat Bali digunakan setiap hari Kamis, hari Purnama, hari Tilem dan hari jadi Provinsi Bali dan hari jadi Kabupaten/kota. Bahasa Bali dikecualikan pada penyelenggaraan apel/upacara bendera, kegiatan yang bersifat nasional dan internasional, kegiatan yang melibatkan instansi tingkat pusat, kegiatan yang bersifat lintas provinsi dan lembaga serta masyarakat adat lainnya.

Gubernur Koster mengatakan pihaknya ke depan juga akan membuat bulan bahasa Bali untuk lebih melestarikan bahasa Bali. (humas-bali/bpn)

Mohon Kelancaran Annual Meeting IMF-WB, Gubernur Bali dan Wakil Gubernur Bali Sembahyang Di Pura Besakih

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gubernur Bali Wayan Koster, Wagub Cokorda Ardhana Sukawati, dan Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra yang masing-masing didampingi istri serta para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemprov Bali melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian upacara Aci Purnama Kapat di Penataran Agung Pura Besakih, Karangasem, Senin (24/9/2018).

Dalam upacara yang digelar rutin setiap tahun saat purnama Kapat tersebut, Gubernur Koster membaur bersama pemedek masyarakat umum, melaksanakan persembahyangan dengan khusuk guna memohon kerahayuan jagat Bali. Bertepatan dengan momen itu pula persembahyangan bersama juga dimaksudkan untuk memohon kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan Annual Meeting IMF-WB yang akan digelar di Bali pada bulan Oktober depan.

Seusai menggelar persembahyangan, Gubernur Koster melaksanakan ramah tamah dengan para Pemangku setempat sambil bersantap siang di area Perantenan Pura Besakih.

Upacara Aci Purnama Kapat kali ini dipimpin oleh tiga orang sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Manu Singaraga, Ida Pedanda Budha Singakerta, dan Bagawan Sri Natha Nawa Wangsa. (humas-bali/bpn)

Rai Mantra Dukung “Gambelan” Sebagai Warisan Tak Benda ke UNESCO

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mendukung gambelan sebagai salah satu warisan tak benda budaya yang dimiliki Indonesia yang telah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di Kota Denpasar dan Bali pada umumnya.

“Kami mendukung nominasi gambelan untuk diinskripsi pada daftar warisan budaya tak benda oleh Komite UNESCO, mengingat gambelan adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang adhiluhung,” kata Rai Mantra saat menerima kedatangan Ketua Tim Badan Penelitian dan Pengembangan Kementeerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Ihya Ulumuddin di kawasan Tukad Bindu Kecamatan Denpasar Timur, Minggu (23/9/2018).

Rai Mantra mengatakan, kalau gambelan Bali memang memiliki ciri khas tersendiri. Dimana, sebagai pengiring upacara adat dan keagamaan di Bali dan keberadaan gambelan sebagai bagian dari Panca Gita yang harus tetap dilestarikan.

Lebih lanjut Walikota Rai Mantra yang didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I.G.N  Bagus Mataram, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi dan berterimakasih kepada pihak Kementerian karena telah mengajukan gamelan sebagai salah satu warisan tak benda ke UNESCO. Selain itu, UNESCO sebelumnya juga sudah menetapkan Subak, Tari Baris Cina (Desa Renon dan Sanur), Tari Baris Wayang (Banjar Lumintang), Tari Legong Keraton, Basmerah dan Tradisi Ngerebong (Desa Kesiman) sebagai  warisan dunia.

“Kedepan kami berharap Tim dari Kementerian bisa meninjau kembali karena kami di Bali dan Denpasar pada khususnya memiliki berbagai macam tradisi dan budaya yang mungkin nantinya bisa diusulkan ke UNESCO agar bisa ditetapkan juga sebagai warisan budaya dunia sebagai penyemangat bagi pelaku seni, masyarakat dan penggiatnya,”pungkas Rai Mantra.

Sementara Ketua Tim Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Ihya Ulumuddin mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah menyepakati apa yang disampaikan oleh Dewan Pakar dan Pak Menteri terkait dengan gambelan yang akan di ajukan ke UNESCO menjadi salah satu warisan budaya dunia selain Reog Ponorogo dan Kulintang. Dan telah disepakati bersama Tim Ahli bahwa gambelan yang akan diusulkan. Sehingga pihaknya lalu melakukan beberapa pengujian seperti Bali, Jawa, Sunda, Sumatera dan Kalimantan. Salah satu indikator yang menjadi penilaiannya yakni karakteristik tertentu yang menjadi sebuah kekuatan dari sebuah komunitas untuk bisa mewariskan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Kami berharap tidak hanya sebatas warisan budaya dunia yang akan diajukan ke UNESCO semata, namun warisan budaya yang patut menjadi perhatian di masyarakat lokal, nasional hingga dunia untuk terus berkembang secara baik dan diperaktekan pada masyarakat luas,” pungkas Ulumuddin sebarai mengatakan kegiatan ini juga bertujuan untuk menggali data dan mengambil gambar secara visual. (ngurah/humas-dps/bpn)

Peletakan Batu Pertama Pasraman Satyam Eva Jayate, Pastika Ingatkan Modal SDM Bali

BALIPORTALNEWS.COM – Ancaman bencana yang ada di Bali maupun daerah di sekitarnya menjadi salah satu alasan mengapa Bali harus memperkuat sumber daya manusianya dan tak tergantung pada satu sektor saja. Hal ini disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat menghadiri dan melakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pasraman Satyam Eva Jayate di Jl. Trengguli, Denpasar, Senin (20/8/2018).

Saat memberikan sambutan, Gubernur Pastika menyambut gembira atas prakarsa Forum Alumni Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (FA KMHDI) untuk membangun pasraman yang dinilainya sejalan dengan apa yang menjadi cita-cita dan program prioritas Pemerintah Provinsi Bali. Pastika mengingatkan kembali bahwa Bali tidak memiliki modal sumber daya alam yang kaya seperti daerah lain.

“Saya sering mengatakan kita tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang kita punya hanya manusia Bali yang terkenal gigih, jujur, pandai membawa diri,” kata Pastika. Menurutnya negara seperti Singapura dan Swiss juga tidak memiliki sumber daya alam namun bisa maju karena memiliki sumber daya manusia yang  baik.

Gubernur Pastika mengatakan selama ini Bali masih bertumpu pada sektor pariwisata yang sangat rentan dengan gangguan alam maupun gangguan manusia yang bisa berdampak luar biasa terhadap sektor tersebut. Itu sebabnya Ia mengajak untuk menyiapkan diri agar menjadi manusia yang tidak bergantung pada satu sektor saja.

“Kalau semua manusia di Bali berkualitas, kita tidak perlu takut dengan apapun,” kata Pastika.

Ketua Umum Forum Alumni KMHDI Ketut Udi Prayudi mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Bali yang memperkenankan FA KMHDI mempergunakan 13,9 are lahan milik Pemprov Bali untuk kepentingan generasi muda Hindu nusantara.

“Harapan kami, pasraman ini tidak hanya digunakan umat Hindu etnis Bali tapi juga mahasiswa Hindu asli Jawa, Dayak, Kaharingan, Toraja atau Ambon yang menuntut ilmu di Bali,” kata Udi.

Menurut Udi, selain pasraman di lokasi tersebut akan dibangun tempat suci, lapangan bulutangkis yang bisa digunakan warga sekitar dan wantilan serbaguna berlantai tiga yang akan digunakan untuk tempat pelatihan, perpustakaan dan inkubator bisnis. Dalam acara ini Udi juga mengundang organisasi mahasiswa lain sebagai bagian dari semangat kebhinekaan.

Tampak hadir Wakil Walikota Denpasar Jaya Negara, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kepala Dinas PU Provinsi Bali dan tokoh alumni KMHDI. (humas-bali/bpn)

Walikota Rai Mantra Buka Denpasar Kite Festival 2018

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Persatuan Layang-Layang Indonesia (Pelangi) Denpasar kembali menggelar Denpasar Kite Festival 2018 yang tahun ini telah memasuki tahun pelaksanaan keempat. Event yang melombakan ratusan layang-layang tradisional bali dan kreasi ini pada Minggu (12/8/2018) dibuka secara langsung Walikota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur. Walikota Rai Mantra hadir didampingi sejumlah OPD dilingkungan Pemkot Denpasar dan tokoh masyarakat setempat.

Walikota Rai Mantra saat diwawancarai disela kegiatan mengatakan bahwa layang-layang merupakan tradisi warisan leluhur masyarakat Bali. Hal ini dibuktikan dengan adanya bhatara Rare Angon sebagai pengembala sawah yang menjaga stabilitas panen petani. “Melayangan biasanya menjadi tradisi saat panen tiba, ini salah satu kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan budaya pertanian di Bali,l sebagai impelementasi Tri Hita Karana,” jelasnya

Ketua Pelangi Denpasar selaku ketua panitia acara, I Wayan Mariyana Wandhira saat ditemui mengatakan Denpasar Kite Festival ke-4 Tahun 2018 ini merupakan  upaya Pelangi Denpasar dalam melestarikan tradisi melayangan. “Layang-layang tradisional Bali sudah diakui publik internasional memiliki ciri khas keunikan baik bentuk, proses pembuatan maupun filosofi  yang terkandung didalamnya. Perbedaan yang juga kentara antara layangan tradisional Bali dengan jenis layangan di tempat lain adalah saat menerbangkannya. Untuk menerbangkan layang-layang tradisional Bali dibutuhkan kerjasama tim atau istilah balinya “menyama braya”.Hal ini tidak terlihat pada jenis layangan di tempat lain yang biasanya bisa terbang walaupun hanya dimainkan satu orang individu saja. Hal ini tentu hal yang luar biasa telah diterapkan oleh leluhur kita yang berakar pada filosofi gotong royong,” ujarnya.

“Selain itu Pelangi Denpasar juga mewadahi para Undagi atau kreator layang-layang tradisional Bali melalui pelatihan dan workshop rutin. Makin tingginya minat masyarakat memainkan Layang-Layang Tradisional tentu meningkatkan permintaan kepada para Undagi untuk mengerjakan  Layang-Layang Tradisonal Bali. Pada akhirnya pembuatan Layang-layang tradisional Bali ini dapat menjadi mata pencaharian dan dapat menggerakkan sektor UMKM. Pelangi Denpasar juga merasa memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan layang-layang tradisional kepada anak-anak usia dini.

Untuk itulah Pelangi Denpasar mengadakan workshop bagi anak-anak usia dini tentang bagaimana proses dasar mengerjakan satu layang-layang trdisional Bali yang baik dan benar. Tentu ini menjadi pengalaman baru yang menyenangkan bagi anak-anak tersebut, yang kami harapkan agar mereka lebih mengenal permainan tradisional dan mengurangi bermain video game dan internet secara berlebihan,” ujar pria yang juga merupakan Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar ini.

Lebih lanjut Mariyana Wandhira mengatakan Denpasar Kite Festival Tahun 2018 Ini diikuti oleh 700 sekehe layang-layang tradisional dari seluruh penjuru Bali. “Sistem lombanya para peserta mendaftar dimana registrasinya telah dimulai sejak bulan Juli lalu. Peserta  mendapat nomor lomba dan jadwal menerbangkan layangan. Di hari perlombaan, layangan para peserta diukur terlebih dahulu sebelum diterbangkan, setelah dipanggil nomor seri bersangkutan oleh juri, maka para peserta bersiap menerbangkan layangan berdasarkan jenis layangannya. Masing-masing peserta diberikan waktu menerbangkan layangan 10 hingga 15 menit dan dalam rentang waktu itulah dinilai tim juri. Peserta dinyatakan didiskualifikasi apabila tidak mengukur layangan sebelum terbang, layangannya jatuh ataumekorod (bergesekan) dengan layangan peserta lainJenis-jenis layangan yang dilombakan adalah Janggan plastik dengan ukuran maksimal  dua meter, Bebean dengan ukuran maksimal lima meter,Pecukan dengan ukuran maksimal lima meter, Janggan Buntut (ekor pendek) dengan ukuran min 3,5 meter, Janggan ekor panjang dengan ukuran minimal 3,5 meter dan maksimalny lima meter, layangan Kreasi serta layangan ukuran Big Size. Kriteria penilaian antara lain dari segi Guangan, Kombinasi Warna, Jejer (pembawaan tali), bentuk dan Keharmonisan saat diudara,” ungkap Mariyana Wandhira.

Salah satu peserta, Alit Wijaya dari Sekaa Layangan Gamang Langit Banjar Tampak Gangsul, Denpasar melombakan layang-layang kreasi berjudul “Calonarang”. “Proses pembuatannya layang-layang Kreasi Calonarang ini mengahbiskan waktu sekitar dua minggu dan memang sejak awal sekaa kami memfokuskan pada jenis layang-layang tradisi. “Tentu kami sangat antusias mengikuti event Denpasar Kite Festival 208 ini dan senang dapat menjadi bagiaN pelestarian layang-layang tradsional di Kota Denpasar,” ujar seniman alumnus ISI Denpasar ini. (esa/humas-dps/bpn)

Tinjau Latihan, Bupati Eka Pastikan Kesiapan Penari

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti, Senin (6/8/2018) lalu meninjau latihan penari Rejang Sandat Ratu Segara di SMA Negeri 1 Kediri. Kehadiran dirinya guna mengetahui dan memastikan kesiapan  para penari  yang akan pentas secara kolosal di Festival Tanah Lot 18 Agustus mendatang. Di kesempatan itu, Bupati Eka berharap pegelaran tarian kolosal rejang sandat ratu segara yang melibatkan sekitar 1.800 penari itu dapat berjalan maksimal.

“Pegelaran yang akan ditampilkan pada tanggal 18 Agustus di festival Tanah Lot, saya harap dapat berjalan maksimal. Hari ini saya melihat langsung mereka latihan, untuk mengetahui  kesiapan mereka menjelang  pentas nanti,”ujarnya.

Usai melihat latihan tersebut, Bupati Eka mengucapkan terima kasih kepada para penari, karena sudah menunjukan kedisiplinan, kesungguhannya  untuk tampil maksimal dalam pementasan nanti.

“ Terima kasih dan apresiasi kepada para penari, khususnya siswi SMA Negeri 1 Kediri ini, karena dari latihan tadi  saya melihat adanya kedisiplinan dan kesungguhan dalam latihan sehingga nantinya yakin dapat tampil maksimal,”ucapnya.

“Saya juga pesan kepada para penari  agar tetap semangat, jaga kesehatan sehingga pada hari H nanti dapat tampil maksimal,”imbuhnya.

Disamping itu Bupati Eka juga memberikan motivasi kepada para penari  untuk selalu dan tetap semangat dalam upaya pelestarian tarian Bali. Karena para siswi inilah selaku generasi muda  yang akan meneruskan budaya Bali yang adi luhung.

“Tetaplah semangat untuk menekuni tarian Bali, karena adik-adiklah selaku generasi muda yang akan meneruskan pelestarian budaya bali yang adi luhung ini,”kata Bupati Eka.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan I Gusti Ngurah Supanji mengatakan latihan Tarian Rejang Sandat Ratu Segara kemarin difokuskan di SMA Negeri 1 Kediri, dengan melibatkan sekitar 220 siswi sekolah setempat.

“Untuk latihan ini, kita hanya libatkan 220 siswi SMA Negeri 1 Kediri,”jelasnya.

Supanji  juga mengaku bangga saat melihat penampilan para penari tersebut. Para penari, dikatakan sudah  benar-benar siap untuk tampil kolosal.

“Kami merasa bangga dan bersyukur dalam waktu yang singkat, sejak diciptakan oleh Ibu Bupati, tarian rejang ratu segara sudah bisa dan siap ditampilkan secara kolosal. Ini tergolong istimewa,”ucapnya.

Selain disaksikan langsung oleh Bupati Eka Wiryastuti, sesi latihan itu menjadi lebih istimewa karena disaksikan dan diliput oleh wartawan Jerman. Dimana dirinya memang secara khusus meliput aktivitas Bupati Eka dalam menjalankan roda Pemerintahan Kabupaten Tabanan.

Saat meninjau latihan itu, Bupati Eka didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Tabanan I Wayan Miarsana, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan I Gusti Ngurah Supanji, dan Camat Kediri I Made Murdika. (humas-tabanan/bpn)

Lomba Tari Antar Sanggar di Badung

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Dalam rangka pelestarian kebudayaan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung menyelenggarakan Lomba tari antar sanggar se-Kabupaten Badung di Wantilan DPRD Badung, Selasa (7/8/2018). Lomba ini dibuka langsung Kepala Dinas Kebudayaan IB. Anom Bhasma dan dihadiri jajaran OPD di Kabupaten Badung serta Listibiya jagat Badung.

Pada Kesempatan itu Ketua panitia Sandra Widadi menyampaikan, dilaksanakan lomba tari antar sanggar se-Kabupaten Badung bertujuan untuk melestarikan kesenian yang ada di Bali khususnya seni tari.  Pelaksanaan lomba tari di mulai dari tanggal 7-9 Agustus 2018 di Wantilan DPRD Kabupaten Badung. “Untuk melestarikan kesenian yang ada di Bali, khususnya di kabupaten Badung kami dari dinas kebudayaan Kabupaten Badung mengadakan Lomba tari antar sanggar se-kabupaten badung yang di selenggarakan dari tanggal 7-9 Agustus 2019 di Wantilan DPRD Kabupaten Badung. Lomba yang dilaksanakan meliputi lomba tari Sekar Jepun, Baris Tunggal, dan Kebyar Duduk. Peserta lomba diikuti oleh dari sanggar-sanggar di Kabupaten Badung yang banyaknya 60 sanggar tari”, Ungkapnya.

Sambutan Bupati Badung yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung I.B Anom Bhasma, menyampaikan apresiasi dan menyambut dengan baik dengan diselenggarakannya lomba tari antar sanggar se-Kabupaten Badung ini. I.B Anom Bhasma juga menyampaikan setiap tahunnya di Kabupaten Badung selalu melahirkan sanggar-sanggar dari tiap banjar, desa atau setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Badung. “Semakin banyaknya sanggar di Kabupaten Badung agar dapat digunakan untuk membuat tempat kumpul anak-anak untuk melestarikkan seni budaya Bali khususnya seni Tari”, Pesannya.

Harapan Bupati Badung juga agar sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Badung selalu menjaga kualitas anak didiknya agar bisa menampilkan yang baik dan selalu menciptakan atau melahirkan penari atau pregina yang berkualitas setiap tampil (mesolah). (humas-badung/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
6PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
79PengikutMengikuti
16PelangganBerlangganan