Walikota Rai Mantra Hadiri Munas Ke-V APEKSI Kota Jambi

BALI-PORTAL-NEWS.COMWalikota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra yang didampingi Ketua PKK Kota Denpasar, Ny. I.A. Selly Dharmawijaya Mantra, Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Kota Denpasar, I Ketut Mister,  Asisten Administrasi Umum, IGN Eddy Mulya dan beberapa pimpinan SKPDdilingkungan Pemkot Denpasar menghadiri pembukaan Munas APEKSI (Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) ke-5 Tahun 2016.

Pembukaan ini dibuka secara langsung oleh Dirjen Otonomi Daerah Commentarial 7 Dalam Negeri RI, DR. Soni Sumarsono didampingi oleh Gubernur Jambi, Zumi Zola Sulkifli, Walikota Jambi, H. Syarif Fasha, Rabu (27/7/2016) di Abadi Convention Centre, Kota Jambi. Kegiatan Munas APEKSI ini juga dihadiri oleh 98 Walikota se-Indonesia yang berlangsung dari tanggal 26 sampai 28 Juli mendatang. Sebelumnya, pada Selasa malam (26/7/2016) bertempat di Hotel Ratu Convention Centre, Walikota Rai Mantra juga menghadiri acara gala diner.

Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, DR. Soni Sumarsono dalam sambutannya mengatakan, misi kitahanya satu yakni menyelesaikan kepemerintahan dengan baik, apa yang belum sempurna hendaknyalah disempurnakan. Selain itu, konsep kenegaraan harus bisa hadir dalam kepemerintahan pada layanan publik, berikanlah pelayanan yang luar biasa kepada rakyat sesuai dengan konsep nawacita yang dicanangkan oleh Bapak Presiden.

Dengan adanya pengembangan smart city atau kota cerdas yang berbasis teknklogi, rakyat tidak perlu datang ke kantor, cukup dengan handphone semua jenis pelayanan bagi publik di pemerintahan bisa diakses.

Menurut Somarsono semua kekuranggan dipelayanan publik tidak boleh dihentikan, namun harus tetap dijalankan dan menjadi komitmen kita bersama. Pada bulan Agustus mendatang, Sumarsono mengharapkan semua Kabupaten/Kota telah menyelesaikan Perda tentang Organisasi Perangkat Daerah yang merupakan tindak lanjut dari PP Nomor 18 tahun 2016. “Apapun rekomendasi dari Munas ini kami akan menindaklanjutinya, dan bagi daerah-daerah yang menyelenggarakan program inovasidaerah , Pemerintah Pusat akan memberikan reward kepada Bupati/Walikota terbaik,” kata Sumarsono.

 Ketua Dewan Pengurus APEKSI yang juga Walikota Manado, Vicky Lumentut mengatakan Munas ini merupakan sebuah forum untuk menyamakan gerak dan langkah dalam menghadapi perubahan paradigma dalam tata pemerintahan serta mengevaluasi kebijakan empat tahunyang sekaligus menentukan kebijakan empat tahun yang akan datang. “Forum ini merupakan forum yang sangat strategis bagi seluruh anggota APEKSI, selain itu forum ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan tupoksi organisasi  dan menyusun rekomendasi terhadap pemerintah dan keputusan lain sesuai dengan AD/ART APEKSI,” jelasnya.

Sementara Walikota Rai Mantra didampingi Kabag Pemerintahan Setda Kota Denpasar, Dewa Gede Juli Artabrata yang di temui di sela-sela pembukaan APEKSI mengatakan bahwa  APEKSI ini diharapkan dapat sebagai media untukberkomunikasi antar kota dalam melaksanakan program pembangunan daerah.

Demikian juga masalah-masalah yang dialami pada masing-masing pemerintah kota bisa di diskusikan melalui forum APEKSI ini yang mana nantinya bisa dijadikan rekomendasi untuk kemudian disampaikan kepada pemerintahpusat. “Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar dan dapat menciptakan kerjasama yang baik antar daerah yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta dapat mempercepat pelaksanaan otonomi daerah.” pungkas Rai Mantra.

Sumber : Ngurah Humas Dps
Editor : Putu Tistha

Ayu Pastika Ajak Bangun Kesadaran Tangani Sampah dengan Tindakn Nyata

BALI-PORTAL-NEWS.COMPermasalahan sampah dewasa ini menjadi momok yang sering kali meresahkan dan akan menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan hidup, kesehatan masyarakat serta kelangsungan kepariwisataan Bali. keprihatinan ini disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Peduli Lingkungan Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika, disela-sela pembukaan acara Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat bertempat di UPT. Balai Pengembangan Ketrampilan Khusus Tenaga Kesehatan (BPKKTK), Biaung, Denpasar pada Senin (25/07/2016).

Menurutnya diperlukan penanganan yang komprehensif dengan melibatkan semua komponen termasuk masyarakat agar permasalahan ini tidak berlarut larut. Dimulai dari kesadaran yang dilanjutkan dengan tindakan nyata ia yakin persoalan sampah ini akan bisa ditangani. “Semua orang harus terlibat dimulai dengan kesadaran dari masing masing individu. Sudah saatnya kita menjadikan sampah tidak lagi sebagai limbah namun sebagai berkah yang mendatangkan rupiah,”cetusnya.

Pada kesempatan itu Ia juga menyambut baik kegiatan Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat yang menyasar para pelaku pengelolaan sampah di 9 Kabupaten /Kota di Bali. “ ilmu  pengolahan dan pemanfaatan sampah ini saya harapkan bisa juga diketoktularkan kepada yang lain. “Kegiatan ini sangat sejalan dengan upaya Pemprov Bali yang tengah berupaya menjadikan Bali sebagai Provinsi  Hijau (Bali Green Province) dan salah satunya dijabarkan dalam program Bali Clean and Green,” ujarnya.

Guna menyukseskan program tersebut, TP PKK sebagai organisasi kewanitaan yang bertujuan memberdayakan keluarga diharapkan mengambil peran dalam upaya pelestarian lingkungan. “Saya berharap seluruh anggota PKK memberi perhatian penuh dan peduli terhadap lingkungan, ini merupakan aksi nyata dalam melestarikan lingkungan dan merupakan bagian dari yadnya. Kita berkewajiban mewariskan lingkungan yang bersih dan lestari bagi anak dan cucu kita mendatang,. Terkait pengolahan sampah, Saya yakin jika sampah dipilah dengan tepat dapat memberikan manfaat dan nilai ekonomis bagi kita,” pungkasnya.

Dengan pengelolaan sampah secara benar, ia yakin upaya-upaya penanganan sampah secara terpadu yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat akan mendukung pelaksanaan program Bali Mandara, khususnya terkait dengan upaya mewujudkan Bali sebagai Green Province.

Senada dengan Ayu Pastika,  Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Gede Suarjana, menyampaikan bahwa sudah selayaknya penanganan sampah yang ada di Bali dilakukan secara terpadu dari hulu sampai hilir dengan menyiapkan rencana pengurangan dan penanganan sampah agar dapat diwujudkan lingkungan yang sehat dan bersih dari sampah. Menurutnya, kendala tersbeut dapat disikapi dengan mengupayakan hal-hal seperti membangun kesadaran masyarakat untuk dapat mengelola sampah dari sumber, dimana rumah tangga wajib dikelola dengan prinsip reuse, reduce dan recycle (3R). Kedua, perlu diupayakan secara bertahap penyiapan sarana dan prasarana serta pengurangan sampah sehingga jumlahnya memadai dengan timbunan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Ketiga, harus dikembangkan kerjasama kemitraan dan partisipasi masyarakat di penglolaan sampah dengan menumbuhkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) terpadu dan bank sampah sehingga residu sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir TPA dapat dikurangi. “Melalui upaya-upaya tersbeut saya yakin kedepan permasalahan sampah dapat dikurangi”, ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Acara Wayan Sarjana melaporkan bahwa tujuan dari penyelenggaraan kegiatan tersbeut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih ketrampilan tenaga pengelola persaampahan di amsing-masing Kab/Kota se-Bali, agar dapat melaksanakan 3R dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan menyalurkan sampah non organik ke bank sampah serta mendaur ulang menjadi barang ekonomi kreatif. Peserta pelaithan berjumlah 30 orang, yang berasal dari perwakilan pengelolaan sampah masing-masing Kab/Kota, akan mengikuti pelatihan selama tiga hari yaitu 25-27 Juli 2016.

Para peserta akan mendapatkan pelatihan teori sebanyak 40%, studi lapangan 10% dan praktek sebanyak 50% dengan materi praktek seperti, Kebijakan penglolaan lingkungan, Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan implementasi pengelolaan sampah metode 3R, Partisipasi Lembaga Adat sebagai model penyelamatan lingkungan dan 8 materi lainnya.

Disamping itu, studi lapangan akan dilaksanakan kebeberapa lokasi diantaranya TPS terpadu 3R Desa Kesiman Kertalangu, Bengkel Kretaif Pangan Asri, Bank Sampah Takmung dan lainnya. Sedangkan narasumber yang akan menyampaikan materi tersbeut berasal dari kalangan pemerintah dan praktisi yang ebrgerak dalam bidang pengelolaan sampah.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

Kewenangan Tower Bukan Kewengan Provinsi, Melainkan Kabupaten dan Kota

BALI-PORTAL-NEWS.COMAjang Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS)  yang digelar pada minggu (24/7/2016) di manfaatkan oleh I Nengah Dawan Arya kepala bidang perhubungan darat, Dinas perhubungan, informasi dan komunikasi provinsi bali, yang menanggapi pemberitaan media mengenai maraknya tower ilegal yang disinyalir  merugikan negara di kota Denpasar. Ia menjelaskan sesuai dasar hukum Permen Kominfo Nomor 18 Tahun 2009 tentang pedoman pembangunan dan penggunaan bersama menara telekomunikasi, kewenangan masalah tower sepadan jalan adalah kewenangan dari Pemerintah Kota Denpasar dan masing masing Kabupaten. Dan setelah pihaknya  melakukan konfirmasi keberadaan tower tersebut merupakan bagian pendukung komunikasi yang berhubungan dengan alat komunikasi berupa telepon atau hand phone yang membutuhkan signal. “Keberadaan tower tower tersebut berfungsi untuk memperkuat signal jaringan telpon. Dan masing masing dari pengelolan dan pemilik tower secara jelas sudah memberikan kontribusi sebesar Rp 2.000.000 per tahun/ tiang sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah kota Denpasar,”.

Orasi selanjutnya  datang dari Kabid pengkajian dan pengembangan, dinas pariwisata provinsi bali I Ketut Astra yang menjelaskan bahwa pengembangan destinasi pariwisata wajib terus diupayakan karena  Bali merupakan destinasi terbaik nomor 1 di Asia dan destinasi terbaik nomor 2 didunia. Kedatangan wisatawan hingga saat ini karena mereka masih melihat Bali memiliki hal istimewa, yakni Budaya dan Adat sebagai Icon pariwisata dengan keramahan masyarakatnya, serta kemanan yang dijamin.

Dalam upaya membuka desitinasi baru ini, maka sesuai UU Nomor 10 tahun 2009 sebagai daerah destinasi pariwisata, pemerintah dan masyarakat sama sama memiliki kewenangan untuk menjaga Bali dalam mengembangkan destinasi dengan kriteria memiliki atraksi sebagai ciri khas daerah yg bersangkutan, memiliki aksebilitas jalan dan infrastruktur terkait jarak dan waktu tempuh menuju sebuah tempat atau daerah pariwisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan, serta sarana akomodasi sebagai pendukung pariwisata, seperti hotel, penginapan, restourant serta transportasi yang nantinya secara serta merta melibatkan  pemberdayaan masyarakat yang wajib menjadi sejahtera dan dijamin oleh UU.  “Sehingga hal ini diharapkan dapat membantu menurunnya angka kemiskinan  di Bali,” ujarnya.

Sementara Wenten ariawan dari warga kota denpasar menyampaikan sarannya agar pembangunan Dermaga Sandingan Gunaksa-dermaga nusa penida yang dikerjakan sejak 2005 lalu kembali dilanjutkan. Termasuk membuat kolam labuh sepanjang 200 meter dari dermaga agar kapal roro dapat berlabuh langsung di dermaga setempat, sehingga kapal dapat terlindung dari hantaman ombak besar.

Wayan suweta seorang wiraswasta asal badung menyampaikan sarannya agar pemerintah menyisihkan APBD untuk Pembinaan Anak Usia Dini (PAUD) sehingga bermanfaat untuk memupuk minat anak sejak kecil terutama yang berkaitan dengan olah raga.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

Tidak Sebatas Penampilan Luar, Jegeg Bagus Diminta jadi Cerminan Remaja Bali

BALI-PORTAL-NEWS.COMAjang pemilihan muda mudi berbakat yang terangkum dalam kegiatan Jegeg Bagus Bali 2016, merupakan media untuk melahirkan insan Bali yang memiliki intelektualitas dalam berperan serta membangun daerah Bali, untuk itu para penyandang predikat Jegeg dan Bagus diharapkan tidak hanya menitikberatkan pada penampilan luar semata dan sekedar untuk meraih juara saja. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya saat membuka acara Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Bali Tahun 2016, bertempat di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (23/7/2016).

Pastika mengharapkan Jegeg Bagus Bali mampu menjadi duta Bali di tingkat Nasional bahkan Internasional, karena Jegeg Bagus Bali merupakan cerminan masyarakat khususnya bagi remaja Bali ke depan. Menurutnya kegiatan ini juga sangat baik sebagai salah satu wahana untuk membina generasi muda yang nantinya akan mewarisi serta bertanggung jawab untuk melestarikan nilai-nilai hakiki dan luhur ajaran agama, adat istiadat, seni dan budaya bangsa.

Pastika mengajak, para peserta Grand Final dan para generasi muda lainnya, untuk memulai menjaga dan melestarikan Bali dari aspek kebersihan dan kehijauannya, mengingat kehidupan perekonomian masyarakat Bali bergerak dari sektor pariwisata.

Sementara itu Ketua Panitia Acara Pemilihan Jegeg Bagus Bali 2016 yang juga selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Yuniarta dalam laporannya, menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini selain menyiapkan generasi muda yang memiliki intelektualitas, juga sebagai jembatan pemerintah untuk menyebarluaskan program-program Bali Mandara, khususnya pada bidang pembangunan kepariwisataan. Para peserta yang lolos dalam Grand Final ini berasal dari seluruh Kabupaten/Kota di Bali, berjumlah 9 pasang yang telah mengikuti proses seleksi sangat ketat di tingkat Kabupatennya masing-masing.

Selanjutnya, peserta Grand Final dikarantina untuk mendapatkan pembekalan ilmu pengetahuan dan keterampilan selama empat hari yaitu dari tanggal 21 -27 Juli bertempat di Hotel Puri Ayu Denpasar. Proses penilaian pada para peserta ini telah dilakukan mulai dari proses karantina sampai pada acara puncak hari ini. Tim juri dalam ajang ini berasal dari berbagai kalangan, seperti akademisi yang kompeten dalam bidang kebudayaan, bahasa, pengetahuan lingkungan hidup, kepariwisataan dan psikologi, serta para juri yang kompeten dalam etika dan perilaku serta penguasaan panggung, tata rias dan busana. Nantinya juara pada pemilihan ini, akan ditunjuk menjadi Duta Wisata dan Duta Budaya dalam mengikuti berbagai event di tingkat regional, nasional dan internasional.

Pada momentum tersebut, Ia juga menyampaikan bahwa pada malam puncak Grand Final tersebut juga dihadiri oleh Duta Wisata luar daerah Bali seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, guna mempererat tali persaudaraan antar Duta Wisata.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ny Ayu Pastika berkesempatan memberikan pertanyaan  bagi 3 besar finalis.

Dan akhirnya dari 9 pasang finalis Jegeg dan Bagus Bali 2016, terpilihlah Jegeg Gianyar Putu Ratih Aristia Dewi dan Bagus Badung Gede Bagus Taruna Satria Arimbawa sebagai predikat pertama yaitu Jegeg Bagus Bali 2016 yang dalam kesempatan tersebut penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika beserta Ny. Ayu Pastika yang kemudian dilanjutkan dengan penasangan Mahkota kepada Jegeg Bali 2016 oleh Ny. Ayu Pastika dan penyematan bros Bagus Bali 2016 oleh Gubernur Pastika. Sedangkan Runner Up I Jegeg Bagus Bali 2015 adalah Jegeg Badung A A Istri Argyanti Nariswari dan Bagus Gianyar Pande Putu Dwi Novigga Artha. Terakhir posisi Runner Up II diraih oleh Jegeg Klungkung Dewa Ayu Agung Mas Berliana Rahita dan Bagus Jembrana Nyoman Ananta Lastiyasa.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

Bantuan Bedah Rumah Diharapkan Jadi Motivasi Sanjaya untuk Bekerja

BALI-PORTAL-NEWS.COMBantuan bedah rumah yang diberikan pemerintah tidak boleh menjadikan penerimanya semakin malas , namun sebaliknya harus dijadikan motivasi untuk terus berusaha dan bekerja. Demikian harapan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat meninjau lokasi pembangunan bantuan bedah rumah untuk keluarga Dewa Made Sanjaya warga Dusun Kawan, Ds. Manggis, Manggis, Karangasem, Minggu (24/7/2016). “Setelah dapat fasilitas jangan jadi malas, jangan berpikir baru miskin akan terus dibantu pemerintah sehingga jadi manja. Bantuan ini harus dipakai sebagai penyemangat  untuk terus bekerja membangun keluarga,” cetus Gubernur yang sangat peduli terhadap kemiskinan tersebut.

Keluarga Dewa Made Sanjaya sendiri hidup dalam kesederhanaan, dimana Sanjaya  sehari-harinya  bekeja sebagai kuli bangunan, dan istrinya Desak Putu Merti pun membantu mencari nafkah sebagai tukang angkut pasir. Penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk makan sehari-hari, beban hidup pun dirasa bertambah berat manakala penghasilan yang minim itu juga harus dibagi lagi untuk membiayai sekolah 3 orang anaknya. “Untuk belanja sembako biasanya tiang ngebon dulu sama tetangga tiang, kalau sudah dapat upah kerja baru tiang bayar, apa lagi tiang harus menyekolahkan 3 anak, tiang merasa beban tiang semakin berat,” ujar Sanjaya.

Keluarga itu terpaksa  tinggal berdesak-desakan dalam satu gubuk yang dimanfaatkan untuk seluruh aktifitas sehari-hari, sebagai tempat tdur sekaligus dapur yang hanya dibatasi dinding gedeg. Anak kedua dari pasangan itu, Dewa Ayu Made Yuniantari (13), pun tidak mau tinggal diam, ia membantu meringankan beban orang tuanya untuk mencari bekal sendiri dengan menjadi penari lepas ke hotel-hotel bersama sanggar yang ada didusun setempat, dengan upah Rp 25.000,- per sekali menari.

Pastika yang prihatin mendengar penuturan Sanjaya,  kemudian  menawari Yuniantari yang saat ini duduk di kelas 3 SMP untuk melanjutkan sekolahnya di SMA atau SMK Bali Mandara. “Kenapa harus melanjutkan ke sekolah umum, kenapa tidak ke SMA/SMK Bali Mandara. Kamu sudah masuk kriteria, karena yang bisa sekolah disana kriteria utamanya adalah miskin. Jadi jangan salah persepsi, untuk masuk disana tidak harus berprestasi. Dibiayai pemerintah juga, jadi tidak perlu keluar uang,  tahun depan kamu daftar disana saja,” ujar Pastika.

Kondisi yang dialami penari seperti Yuiatari diharapkan dapat membuka mata para pelaku wisata agar bisa memberikan upah yang layak. Karena tidak semua pelaku seni itu berasal dari kalangan mampu, sehingga dengan penghasilan yang sesuai bisa membuat seni yang digeluti memberikan penghidupan. Lebih jauh, Pastika pun mengharapkan peran serta pemerintah daerah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di Bali, karena sesuai kewenangan setiap kk kurang mampu juga merupakan kewajiban masing-masing daerahnya. “Bagaimanapun juga kk miskin itu tetap tanggung jawab Kabupaten/Kota yang mewilayahi, seharusnya mereka juga berperan aktif. Jangan semua dilimpahkan ke Pemprov. Dan ini untungnya kita mau menangani, seharuanya kita cuma membantu,” cetusnya.

Tak hanya itu, Gubernur Pastika yang pada kesempatan itu turut didampingi Inspektur Provinsi Bali Ketut Teneng,Kadis Sosial  I Nyoman Wenten  dan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra, SH.,MH,  pun meminta peran aktif Kepala Desa untuk mendata setiap warganya secara detail, baik mengenai kk kurang mampu, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Karena aparat desa sebagai ujung tombak pemerintahan yang bisa mengetahui kondisi warganya secara pasti untuk membantu memediasi hal-hal yang dialami oleh masyarakat untuk penanganan lebih lanjut. Seperti halnya kesehatan terutama mata, tiap kepala desa diharapkan bisa mendata warganya yang menderita katarak, kebutaan, atau gangguan penglihatan lainnya, untuk dilaporkan ke RS Mata Bali Mandara. “Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, dalam satu desa terdapat lebih dari 10 penderita katarak, maka pihak RS Mata Bali Mandara yang akan mendatangi saudara-saudara untuk melakukan operasi yang diderita di puskesmas terdekat,” pungkas orang nomor satu di Bali itu.

Ditambahkan Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, Wayan Wenten, banyak masyarakat yang belum memahami alur pemberian bantuan bedah rumah. Data yang disampaikan tahun berjalan merupakan pengajuan data sebelumnya, jadi jika ada warga yang belum masuk data tidak serta merta bisa dibantu, karena sudah ada penerima yang masuk data sebelumnya. Sehingga pemberian bantuan pun harus menunggu penuntasan yang masuk sebelumnya, baru selanjutnya diberikan kepada calon penerima baru. Pengajuan oleh kepala desa pun diharapkan sudah masuk tahun sebelumnya, dan ini menurutnya juga berlaku bagi bantuan-bantuan pemerintah lainnya yang terpaku pada sistem penganggaran.

Sementara itu, Kepala Desa Manggis, Wayan Partika Suyasa sangat berterima kasih atas bantuan yang diterima warganya. Dari 18 kk miskin yang diajukan tahun ini 8 kk sudah dibantu oleh Pemprov.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

Pastika Tanamkan Sikap Anti Narkotika pada Remaja dan Anak-Anak

BALI-PORTAL-NEWS.COMHanya ada dua pilihan bagi mereka yang coba-coba menggunakan narkotika yaitu penjara atau kuburan. Pesan itu disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika kepada remaja dan anak-anak yang hadir pada acaraDeklarasi dan Pengukuhan Pengurus Yayasan Barisan Anti Narkotika Indonesia (BANNI) Bali di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Sabtu (23/7/2016).

“Pilihannya hanya dua, kalau tidak penjara ya kuburan. Tak ada yang lain,” tandasnya. Agar pesan itu makin tertanam di kalangan remaja dan anak-anak, Pastika pun menuliskannya pada sejumlah lukisan karya peserta lomba yang digelar di sela-sela acara pengukuhan dan deklarasi tersebut.
Pastika pun tak segan-segan menyebut narkotika sebagai bahaya jahanam yang mengancam berbagai sendi kehidupan. Selain merugikan secara ekonomi, narkotika juga memicu berbagai penyakit, menurunkan produktifitas, menghancurkan rumah tangga  hingga merenggut nyawa para pecandunya. Karenanya, Pastika menyebut upaya pencegahan jauh lebih penting dibanding penangkapan dan penindakan. Untuk itu, dia wanti-wanti agar segenap masyarakat, khususnya kalangan remaja dan anak-anak tidak pernah mencoba yang namanya narkotika. “Jangan pernah menerima tawaran dari siapapun, karena dia akan membunuhmu,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu Pastika juga menggugah kepekaan kalangan orang tua terhadap perubahan yang terjadi pada putra atau putri mereka. “Harus curiga kalau anak kita tiba-tiba bengong dan malas mandi, demikian pula sebaliknya kalau mendadak rajin hingga melakukan aktifitas di luar kebiasaan seperti mencuci mobil malam-malam. Bisa jadi itu efek ekstasi,” bebernya.

Mantan Kalakhar BNN ini menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran para siswa, mahasiswa dan masyarakat luas dalam deklalasi BANNI yang digelar bertepatan dengan momentum hari anak nasional. “Paling tidak seribu orang yang hadir di sini selamat dan tidak akan pernah mencoba narkoba,” tambahnya. Selanjutnya, mereka yang hadir dalam acara deklarasi diharapkan dapat mempengaruhi teman atau anggota keluarga masing-masing untuk menjauhi narkoba.

Harapan serupa juga diutarakan Deputi Rehabilitasi BNN Pusat DR. Diah Setia Utami. Menurutnya, upaya memerangi narkoba telah menjadi agenda nasional karena belakangan ancamannya kian serius. Selain korbannya yang terus bertambah, modus operandinya juga makin canggih dan beragam. Saat ini, kata dia, tak kurang dari 246 juta orang di seluruh dunia pernah menyalahgunakan narkotika. “Jenis narkotika yang beredar di pasaran juga makin beragam dan saat ini telah mencapai 643 jenis,” paparnya.

Mengingat besarnya ancaman tersebut, BNN Pusat menaruh apresiasi terhadap kehadiran BANNI Bali. Dia berharap yayasan ini bersatu dengan gerakan lainnya dalam memerangi narkotika bersama dengan BNN dan lembaga penegak hukum.

Sementara itu, Ketua BANNI Bali I Nyoman Baskara mengungkapkan bahwa narkotika telah menjadi isu yang mengancam dunia dalam dua dasa warsa terakhir. Bahkan, Indonesia telah menjadi salah satu pasar dalam perdagangan gelap narkotika. “Mengingat begitu masifnya ancaman tersebut, kita tak bisa lagi hanya berwacana, berdiskusi dan seminar. Semangat dan kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan untuk menangkal ancaman narkotika,” ujarnya.

Menurut Baskara, fakta itulah yang menjadi spirit lahirnya BANNI. “Kami akan menjadi bagian dalam upaya memerangi narkotika karena kita tak dapat menyerahkan tugas ini hanya pada pemerintah,” imbuhnya seraya menambahkan bahwa BANNI akan bergerak dalam upaya pencegahan, advokasi dan rehabilitasi. Pasca dikukuhkan dan deklarasi, langkah pertama yang akan dilaksanakan BANNI adalah melakukanroad show ke lembaga pemerintah, perguruan tinggi, sekolah dan lembaga adat.

Acara pengukuhan diwarnai penyerahan pataka dari Deputi Rehabilitasi BNN Pusat dr.Diah Setia Utami kepada Ketua Yayasan BANNI Nyoman Baskara. Selain itu juga dilakukan penandatanganan deklarasi oleh Gubernur Pastika, Wagub Ketut Sudikerta dan Deputi Rehabilitasi BNN Pusat. Acara yang dihadiri oleh Kapolda Bali Irjen Pol. Sugeng Priyanto dan Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol. Putu Gede Suastawa tersebut juga diiisi penyampaian testimoni oleh dua mantan pecandu narkotika yaitu Gede dan Belki. Keduanya dengan lantang mengajak seluruh masyarakat untuk berani mengatakan tidak pada narkoba karena dampaknya yang sangat merugikan.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

TP PKK Diminta Responsif dan Miliki Kepekaan Sosial Terhadap Situasi Lingkungan

BALI-PORTAL-NEWS.COMTim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga diminta selalu bersifat responsif dan memiliki kepekaan sosial terjadap lingkungan khususnya kepada yang memerlukan bantuan. Karena sejatinya TP PKK  mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat sebagai bagian dari perannya yang merupakan mitra pemerintah  dalam melaksankan pembangunan. Demikian disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Ayu Pastika saat memberikan sambutan penutup pada acara Workshop Nasional PKK yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI di Kerta Gosa Room, Bali Dynasty Resort – Kuta pada Jumat (22/7/2016).

Gerakan PKK bertujuan memberdayakankeluarga untuk meningkatkan kesejahteraannya,  jadi setiap kader harus responsif, peduli dan peka terhadap setiap yang terjadi di sekitarnya . Khususnya terhadap yang memang memerlukan bantuan,” cetusnya.

Dinamika yang terjadi saat ini, menurut Ayu Pastka,  menuntut kader PKK untuk proaktif, tanggap terhadap setiap perubahan  dan selalu mengisi diri dengan wawasan dan pengetahuan. “Saat ini kemajuan begitu pesat terjadi, mau tidak mau para kader PKK juga harus menyesuaikan dengan mengisi dirinya, sehingga wawasan dan pengetahuannya menjadi luas, dan otomatis akan semakin banyak inovasi yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Dalam mengembangkan inovasi program Ayu Pastika mengingatkan  agar TP PKK lebih memfokuskan pada kebutuhan yang mendesak, seperti kemiskinan, rawan pangan, pendidikan, kesehatan, KDRT dan sebagainya.

Pada kesempatan itu, sebagai tuan rumah , Ayu Pastika  berharap kegiatan  workshop yang telah berlangsung selama 3 hari tersebut dapat menghasilkan  hal hal yang  bermanfaat dan dapat diimplementasikan di daerah masing masing sesuai dengan 10 program PKK.
“Saya yakin apa yang telah diperoleh selama workshop ini bisa diimplementasikan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saya juga berharap kegiatan ini dapat menghasilkan rumusan yang komprehensif sehingga mampu memecahkan permasalahan – permasalahan yang semakin berat kedepannya,” ucap Ayu pastika.

Acara yang diikuti oleh perwakilan TP PKK se Indonesiaitu juga dihadiri oleh, Kasubdit Penyehatan Udara Tanah dan Kawasan (PUTK) Direktorat Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes, Dra. Cucu Cakrawati dalam laporannya menyampaikan rasa terimakasihnya atas sambutan Bali dalam pelaksanaan Workshop Nasional PKK yang telah diselenggarakan sejak tanggal 20 Juli tersebut. Menurutnya, banyak hal yang telah diperoleh selama berlangsungnya kegiatan.

“Workshop Nasional PKK telah kita laksanakan dari tangal 20 sampai 23 juli, semua agenda selama di Bali sudah berjalan lancar. Proses pelaksanaan sudah dilalui mulai pemaparan para sumber, sudah melaksanakan diskusi kelompok dan telah menghasilkan poin-poin rencana tindak lanjut. Kita juga sudah melakukan kunjungan lapangan, sudah melihat beberapa hasil dari produk kerajinan PKK. Tak lupa saya mengucapkan rasa terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Bali yang telah menerima kami sangat baik selama berlangsungnya Workshop Nasional PKK ini, semoga apa yang telah kita dapatkan disini bisa diimplementasikan dengan baik kedepannya,” ucap Cucu Cakrawati.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha

Wagub Minta Tim Porwanas PWI Bali Jaga Sportivitas dan Solidaritas

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Tim Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali yang akan berlaga  di ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional ( Porwanas ) ke XII yang digelar di Bandung Jawa Barat  diminta  tetap menjunjung tinggi sportifitas dan menjaga solidaritas yang terbentuk antar tim. Ajang Porwanas diharapkan akan dapat memupuk rasa silaturahmi antar anggota PWI disamping sebagai ajang unjuk kebolehan  jurnalis dalam bidang olahraga khususnya.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta saat menerima audensi tim Porwanas PWI Bali di rumah Jabatan  Wakil Gubernur Bali Renon Denpasar Jumat (22/7/2016).

Lebih lanjut Sudikerta juga berharap agar tim PWI Bali selalu menjaga kesehatan dan stamina selama mengikuti kegiatan Porwanas tersebut. “ Saya sangat mendukung pelaksanaan Porwanas ini, saya minta tim PWI Bali selalu menjaga kesehatan, solidaritas dan tetap menjungjung sportifitas, selamat berlomba dan harumkan nama  Bali di kancah nasional tersebut,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra dimana dalam sebuah ajang kompetisi selain adanya semangat tinggi memenangkan pertandingan, sikap sportif harus tetap dijunjung dan rasa persaudaraan hendaknya tetap harus terjaga.

Sementara itu Ketua PWI Bali Dwikora Putra melaporkan bahwasannya tim PWI Bali yang akan berlaga di ajang Porwanas yang akan diselenggarkan dari tanggal 26-29 Juli 2016 di kota Bandung ini  berjumlah sebanyak 30 orang yang terdiri dari 22 atlet dan 8 orang official. Dalam ajang Porwanas sendiri tim PWI Bali akan mengikuti 5 cabang olahraga dari 9 cabang olah raga yang dipertandingkan yaitu cabang olahraga atletik, tenis meja, bilyard, catur dan bulu tangkis.

Dwikora menambahkan selain cabang olah raga tersebut , tim PWI Bali juga akan mengikuti  3 lomba jurnalistik yaitu lomba reportase, jurnalis dan lomba karya tulis. Dwikora yang saat itu didampingi sejumlah pengurus PWI Bali juga menambahkan bahwasannya pelaksanaan Porwanas lebih pada silaturahmi antar wartawan  yang tergabung dalam PWI  namun tidak dapat dipungkiri  tentu saja persaingan akan tetap terjadi dalam setiap pertandingan untuk itu solidaritas harus selalu dipupuk.

Disamping hal tersebut, tim yang akan berlaga di ajang Porwanas kali ini  haruslah benar benar seorang wartawan dan bukan seorang atlit yang dijadikan wartawan. “ Verifikasi  tim Porwanas kali ini sangat ketat, kami akan berupaya tampil semaksimal mungkin dalam membawa nama Bali di kancah nasional dan  kami meminta dukungan dari Pemprov Bali agar tim PWI Bali bisa berjaya di Porwanas kali ini, “ imbuhnya.

Sumber : Humas Pemprov Bali

Gubernur Pastika Dorong Gerakan Masif Perangi Narkoba

BALI-PORTAL-NEWS.COMGubernur Bali Made Mangku Pastika mendorong gerakan masif untuk memerangi bahaya narkotika yang belakangan kian mengkhawatirkan. Hal tersebut diutarakannya pada saat diskusi tentang bahaya narkotika yang digelar Yayasan Barisan Anti Narkotika (BANI) di Warung Tresni, Denpasar, Jumat (22/7/2016).

Bicara di hadapan peserta diskusi, Pastika kembali mengingatkan betapa mengerikannya ancaman yang ditimbulkan dari tindakan penyalahgunaan narkotika. “Dalam 2,5 jam, 7 hingga 8 orang mati karena narkotika,” ujarnya. Bertolak dari fakta tersebut, Mantan Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN) ini wanti-wanti agar masyarakat jangan pernah main-main dengan narkotika.

Lebih jauh, dia juga mendorong gerakan yang lebih masif dalam upaya menangkal bahaya narkotika. Gerakan ini, ujar dia, dapat dimulai dari diri masing-masing. “Selamatkan diri sendiri dulu, baru menyelamatkan kakak, adik dan keluarga terdekat hingga lingkungan sekitar. Ingat, menyelamatkan satu nyawa manusia lebih mulia dibandingkan membuat meru tumpang solas,” ujarnya. Dalam kesempatan itu dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak apatis terhadap perkembangan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Pada bagian lain, Pastika mengapresiasi kebangkitan kembali BANI, sebuah yayasan yang konsen dalam upaya penanganan penyalahgunaan narkotika di Pulau Dewata. Yayasan BANI, ujar Pastika, bukanlah organisasi baru dalam penanganan penyalahgunaan narkotika. Yayasan ini adalah rintisan Gubernur Pastika saat dia menjabat sebagai Kalakhar BNN. “Saya senang kalau sekarang yayasan ini bangkit kembali,” ujar Pastika seraya berharap agar BANI mampu bersinergi dengan BNN dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkotika. “Tak cukup hanya mengandalkan BNN karena anggarannya juga terbatas,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol. Putu Gede Suastawa membeber fakta makin seriusnya ancaman narkotika. Kata Suastawa, jumlah penyalahguna narkotika di wilayah Bali saat ini telah mencapai 61.353 orang atau 2,01 persen dari total jumlah penduduk Bali. Karena tingkat prevalansinya di atas 2 persen, Bali menempati peringkat 11 dalam penyalahgunaan narkotika dan mendapat prioritas dalam penanganan secara nasional. “Salah satu program yang belakangan gencar dilaksanakan adalah rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba,” imbuhnya. Hanya saja, program yang dicanangkan secara nasional mulai tahun 2015 itu belum optimal dalam pelaksanaannya.

Pada tahun 2015, BNN Provinsi Bali hanya berhasil merehabilitasi 970 korban penyalahgunaan narkotika. “Padahal kita memperoleh kuota 2.900 orang,” tambahnya. Sementara tahun 2016, Bali mendapat kuota untuk merehabilitasi 1.025 korban penyalahguna narkoba dan hingga saat ini baru terealisasi 123 orang. “Artinya kesadaran para korban untuk berobat masih sangat rendah, padahal kita sudah bekerjasama dengan 20 yayasan yang siap mensukseskan program rehabilitasi,” bebernya. Selain itu, RSJ Bangli juga mengembangkan bidang pelayanan penanganan korban penyalahgunaan narkotika. “Kita juga memiliki Lapas Narkotika berkapasitas 30 orang yang belakangan juga dimanfaatkan untuk rawat inap korban narkotika,” cetusnya. Untuk itu, Kepala BNN berharap dukungan dan kerjasama masyarakat untuk melapor jika mengetahui ada pecandu narkotika di lingkungannya.

Sejalan dengan upaya tersebut, BNN Provinsi Bali mengapresiasi kebangkitan kembali Yayasan BANI yang sebelumnya sempat vakum. Dia berharap, keberadaan BANI dapat mengoptimalkan upaya BNN dalam memerangi penyalahgunaan narkotika.

Dalam diskusi yang dipandu moderator Iwan Dharmawan tersebut mengemuka sejumlah pendapat dari para peserta. I Made Gede Ray Misno yang merupakan tokoh masyarakat dari Denpasar mengatakan bahwa penyalahgunaan narkotika sudah merambah hingga ke daerah pedesaan. “Korban narkotika pun tak memandang status sosial,” ujarnya. Untuk itu dia berharap adanya langkah penanganan yang lebih baik terhadap persoalan yang menjadi kekhawatiran sebagian besar orang tua ini. Kekhawatiran senada disampaikan kalangan pelajar dan mahasiswa yang hadir dalam diskusi tersebut. “Kalau mau menghancurkan sebuah negara, maka alat yang paling efektif adalah narkotika,” ujar Aris seorang mahasiswa sosiologi mengibaratkan besarnya ancaman narkotika.

Sementara itu Ketua Yayasan BANI Nyoman Bhaskara menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan lebih banyak bergerak dalam upaya pencegahan. BANI akan melakukan relaunching pada Sabtu (23/7/2016) yang masih dalam suasana peringatan Hari Anak Nasional. “Kami ingin BANI menjadi generator untuk menstimulan gerakan masyarakat anti narkotika,” pungkasnya.

Sumber : Humas Pemprov Bali