Gubernur Pastika Bantu Dua Bocah Yatim Piatu di Muncan Karangasem

0

BALIPORTALNEWS.COMMerespon informasi netizen yang disampaikan melalui akun media sosial, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengutus sejumlah staf untuk melihat langsung kondisi dua bocah yatim piatu yang tinggal di Banjar Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem, Selasa (11/10/2016).

Mereka adalah kakak beradik I Wayan Putra Darma Yoga (11) dan Ni Kadek Novita Dharmayanti (5). Dalam kesehariannya, dua bocah malang itu hanya dirawat oleh neneknya Ni Wayan Suantra (65). Karena tidak punya penghasilan tetap, untuk kebutuhan sehari-hari, wanita lanjut usia itu lebih banyak mengandalkan bantuan keluarga yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah mereka. Wanita yang juga biasa dipanggil Dadong Polos itu menuturkan, dua bocah itu buah hati dari putranya Nyoman Berata (38). Sementara sang ibu, Putu Sri Adnyani (35) memilih bercerai dan meninggalkan suaminya sekitar empat bulan yang lalu.

Ironisnya lagi, enam hari yang lalu bocah ini harus kehilangan sang ayah yang meninggal karena sakit menahun dan mengalami kelumpuhan sejak enam tahun terakhir. Dadong Polos menyampaikan terima kasih atas perhatian Gubernur Pastika terhadap cucunya. Dia juga sangat berharap uluran tangan agar kedua cucunya tetap dapat melanjutkan pendidikannya.

Untuk meringankan bebah kedua bocah tersebut, Gubernur Pastika memberikan bantuan respon cepat berupa beras dan sejumlah yang tunai. Sementara untuk kelanjutan pendidikan kedua bocah malang tersebut, staf dari Biro Humas akan berkoordinasi dengan SKPD terkait. Sedangkan untuk bantuan lain seperti bedah rumah, kediaman yang saat ini ditempati dua bocah itu dinilai tak memenuhi syarat mendapat bantuan bedah rumah.

Sementara itu, Perbekel Banjar Susut Drs. I Gusti Lanang Ngurah menerangkan bahwa keluarga itu tak masuk daftar Rumah Tangga Sasaran (RTS). Namun melihat kondisi kedua bocah yang saat ini sudah yatim piatu, pihaknya akan berkoordinasi agar mereka bisa masuk dalam daftar RTS sehingga berhak atas sejumlah bantuan sosial. Penyerahan bantuan juga disaksikan Kepala Desa Muncan Wayan Nemu Antara. (hms prov bali/bpn)

Warga Miskin Asal Manggis Terima Bantuan Gubernur

0

BALIPORTALNEWS.COM – Pemberitaan warga miskin tiga saudara kandung  yatim yakni Putu Irmayanti (13), Kadek Shinta Dewi (8) dan Komang Agus Laksamana Putra (4),  asal Br. Pegubungan, Ds. Manggis, Karangasem, yang sempat menjadi viral di  media sosial mendapat perhatian dari  Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Gubernur mengutus tim Humas Pemprov mengunjungi ke lokasi. Ketiga saudara kandung ini terpaksa kehilangan kasih sayang orang tuanya karena perceraian yang terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, saat ini ketiga bocah malang itu mesti diasuh oleh kakek-neneknya. Pasca perceraian si ibu kembali ke rumah asal semasih lajang, dan si bapak diberitakan merantau dan belum pernah pulang.

Tim saat berkunjung ke lokasi mendapati Komang Ari (35), ayah ketiga bocah itu sudah berkumpul kembali bersama buah hatinya. Ia menceritakan selama 3,5 tahun ini memang merantau ke Jembrana sebagai tukang petik buah cengkeh, dan kembali ke kampung halaman saat hari raya Galungan lalu.

Minimnya upah yang didapat membuatnya tidak bisa pulang setiap saat, sehingga Ia mempercayakan perawatan ketiga anaknya kepada orang tuanya. Saat ini Ia mengaku masih bingung untuk kembali pergi mencari kerja dan harus meninggalkan anak-anaknya, sedangkan jika diam di rumah Ia mengaku tidak ada pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya.

Ia pun berharap ada uluran tangan dari Pemerintah, kelak saat anaknya mengikuti jenjang pendidikan lebih tinggi bisa mendapat beasiswa. Tak hanya itu, Ia pun berharap mendapat bantuan bedah rumah, karena rumah yang ditempatinya saat ini masih status milik kedua orang tuanya.

Kepala Dusun Pegubungan, Kadek Sumarda, yang kala itu mendampingi tim tidak menampik keadaan warganya tersebut. Namun Ia merasa sedikit kecewa, keluarga Komang Ari yang sebelumnya masuk dalam data RTM, beberapa tahun ini tidak lagi bisa menikmati fasilitas bantuan-bantuan karena datanya tidak masuk RTM.

Dalam pengajuan usulan RTM tiap tahunnya pun sudah tetap dimasukan, namun tetap tidak muncul lagi. Ia pun berterimakasih atas kepedulian Gubernur Pastika kepada warganya.

Lebih jauh, Ia berharap ada kepedulian dan kebijaksanaan dari SKPD terkait di Kabupaten Karangasem terhadap pengurusan akta lahir ketiga bocah tersebut yang terkendala akta nikah dan surat perceraian arang tuanya, karena sangat dibutuhkan sebagai syarat di bangku sekolah.

Tak hanya keluarga Komang Ari, Tim juga berkesempatan meninjau keadaan warga Kecamatan Manggis lainnya, yakni Wayan Wenten (58) asal Br. Anyar, Ds. Selumbung, yang menderita kanker payudara stadium lanjut.

Wenten saat ini hanya bisa berbaring ditempat tidur sambil menahan sakit.

Perbekel Ds Selumbung, Wayan Sudiarka menjelaskan yang bersangkutan sebelumnya sudah dirawat di RSU Karangasem dengan tanggungan JKBM, saat tim dokter akan mengambil tindakan berupa amputasi bagian tangan untuk menghilangkan jaringan kanker yang sudah semakin menjalar, yang bersangkutan mengaku trauma dan masih pikir-pikir, sehingga dipulangkan kembali.

Keadaan tersebut menurutnya diperparah dengan kondisi ekonomi yang hanya mengandalkan dua saudarinya yang juga mengalami keterbelakangan mental dengan berjualan alat banten berupa porosan.

Untuk selanjutnya, Ia masih menunggu kesiapan yang bersangkutan untuk diambil tindakan medis yang diperlukan.

Untuk meringankan beban keluarga Komang Ari dan Wayan Wenten, Gubernur Bali melalui Tim Humas menyerahkan batuan sementara berupa sejumlah uang tunai. Untuk bantuan selanjutnya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan instansi terkait. Tindakan responsif ini juga diharapkan menggugah kepedulian masyarakat terhadap sesama yang membutuhkan. (r/humas pemprov bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Nengah Murma, Penderita Tumor  Asal Rendang

0

BALIPORTALNEWS.COMTim Humas Pemprov turun langsung meninjau Nengah Murna (42), warga asal Rendang Karangasem yang menderita tumor mata seperti yang ramai diberitakan sejumlah media, Senin (19/9/2016).

Tim yang diutus Gubernur Bali Made mangku pastika tersebut mengunjungi rumah Murna di Rendang Karangem, namun sesampainya di lokasi Tim mendapat berita bahwa yang  bersangkutan tengah melakukan  pemeriksaan di RSUP Sanglah, Denpasar. Timpun segera menyusul ke rumah sakit dan bertemu dengan yang Murma didampingi oleh sang istri Wayan Sugita (43) dan adik bungsunya Nyoman Putra (31).

Kondisi Murma sangat memprihatinkan karena tumor yang menyerangnya sejak 4 bulan lalu. Menurut Murma, awalnya hanya seukuran biji jagung, namun hanya dalam waktu 4 bulan, tumor ganas itu sudah menghilangkan pengelihatan mata bagian kanannya.

"Sudah 4 bulan ini saya tidak pernah bisa tidur menahan rasa sakit yang luar biasa. Awalnya ukurannya masih kecil, tapi sekarang ukurannya semakin membesar,” ungkap Murma sambil menahan sakit ketika tim ketemui di ruang tunggu Poliklinik Bedah RSUP Sanglah.

Ditambahkan Murma, pada tanggal 21 juli 2016 yang lalu dirinya dijadwalkan untuk dioperasi pengangkatan tumor namun tertunda karena terkendala ruangan. Kemudian tanggal 25 juli dijadwalkan kembali untuk operasi namun keterangan dokter berbeda dari keterangan diawal.

“Diawal pada 21 juli bilangnya tidak sampai angkat bola mata, namun karena kendala kamar jadi ditunda. Kemudian 25 juli kembali dijadwalkan tapi saat itu keterangan dokter berbeda, dokter mengatakan jika bola mata harus ikut diangkat. Sehingga hal itu membuat saya syok dan menundanya,” pungkas Murma.

Setelah itu Murma mengaku hanya rawat jalan sembari memikirkan tindak lanjut kedepannya. Namun kini, dirinya sudah pasrah seperti apa tindakan yang harus diambil demi kebaikannya kedepan.

“Sekarang saya pasrah, kalau memang dioperasi harus mengangkat tumor dan bola matanya juga ya saya terima asal demi kebaikan saya kedepannya,” ujarnya.

Selama ini biaya pengobatan Murma menggunakan JKBM, dan terakhir menjalani pemeriksaan jalan pada 27 agustus yang lalu. Tim Humas yang mendampingi pemeriksaan menyerahkan bantuan berupa uang tunai serta berkoordinasi dengan pihak RSUP Sanglah untuk dibantu penanganan lebih lanjutnya demi kebaikan Murma kedepannya.

Pada kesempatan itu tim menyampaikan bantuan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika berupa uang tunai yang diharapkan bisa digunakan  meringankan beban Murna. (r/humas pemprov bali/bpn)

Ngusaba Dangsil di Desa Adat Bungaya, Bebendem, Karangasem

0

BALIPORTALNEWS.COM – Puncak Karya Ngusaba Dangsil di Desa Adat Bungaya, Bebandem, Karangasem, diselenggarakan, Senin (29/8/2016). Gubernur Bali Made Mangku Pastika berkesempatan tangkil (hadir) pada upacara sakral terbesar di Bungaya, bahkan upacara ini disebut sebagai tradisi ngusaba tertua di Bali.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana Ngusaba Dangsil, IB Jungutan, mengatakan, Ngusaba Dangsil atau Ngusaba Aya salah satu ciri utamanya selain adanya dangsil (sarana upacara yang dibuat bertingkat tingkat) yang paling tertinggi hampir mencapai 18 meter, juga ada pelantikan deha-teruna (pemudi dan pemuda) baru.

“Ngusaba Dangsil itu digelar ketika anak muda-mudi mulai berkurang karena sudah menikah atau hal lainnya. Sebab muda-mudi tidak boleh sampai habis karena para deha-teruna (pemudi dan pemuda) di Desa Bungaya punya ayah-ayah (tanggung jawab) yang sangat penting di Desa adat Bungaya,” ungkap IB Jungutan saat memberikan laporan dihadapan Gubernur Pastika beserta rombongan yang juga dihadiri Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri.

Ditambahkan IB Jungutan, untuk itu keberadaan deha teruna tersebut sangat penting dan vital sehingga Ngusaba Dangsil sendiri adalah sarana untuk pelantikan deha teruna baru. Dalam Ngusaba Dangsil terdapat lima buah Dangsil, dimana di antaranya Dangsil dalem yang akan dinaiki keturunan raja atau Dalem Klungkung dan Dangsil desa dinaiki oleh Raja Karangasem dari Puri Kelodan yang merupakan pusat Kerajaan Karangasem.

Lebih lanjut, Ngusaba Dangsil diakui sangat sakral karena pergelaran ngusaba tersebut tidak bisa dibatasi waktu kapan dimulai dan kapan akan selesianya karena semua tergantung kehendak atau Pekayunan Sang Ida Batara. Meskipun sudah di rencanakan sebelumnya, namun jika belum atas kehendak Ida Betara Ngusaba maka Karya  tidak akan digelar.

Sebelumnya, telah dilaksanakan melasti. Dimana para pengiring melasti Ngusaba Dangsil di Desa Adat Bungaya, Bebandem, Karangasem, Bali, tidak diperkenankan makan dan minum. Melasti dilakukan ke Segara Bugbug di belakang Bukit Asah. Para pengiring Melasti baik laki-laki maupun perempuan dilarang menggunakan baju dan ikat kepala atau udeng. Mereka hanya menggunakan kain atau kemben dengan saput warna warni. Ini merupakan pakaian khas warga Bungaya.

Gubernur Pastika yang hadir didampingi Karo Humas Setda Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra dan Karo Umum Setda Provinsi Bali I Gede Darmawa menyempatkan untuk melaksanakan persembahyangan di Pura Penataran. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Pastika mengungkapkan dengan semangat krama dalam melaksanakan karya Ngusaba Dangsil.

Pastika juga mengatakan merasa berada di rumah sendiri dengan antusias masyarakat yang hadir. “Saya sangat terharu dengan antusias krama di sini mengikuti karya ini, saya merasa ada dirumah sendiri melihat semangat-semangat mereka. Ini upacara yang sangat sakral dan tidak banyak ada, sehingga upacara ini jangan sampai terlewatkan,” ungkap Pastika yang dalam kesempatan tersebut juga menyerahkan punia yang diterima langsung Ketua Panitia Pelaksana Ngusaba Dangsil, IB Jungutan. (r/humas prov bali/bpn)

Sudikerta : Kembangkan Kepedulian Sesama Sejak Usia Dini

0

BALIPORTALNEWS.COM – Upaya dalam mengentaskan kemiskinan tidak bisa hanya diserahkan dan menjadi tanggung jawab pemerintah semata, diperlukan ada peran serta masyarakat terlebih lagi para generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa untuk tergugah mengembangkan kepedulian terhadap sesama, dan dibangun dari usia anak anak.

Demikian disampaikan Wagub Sudikerta dalam acara penyerahan bantuan  kepada masyarakat kurang mampu bekerja sama dengan SD Cipta Darma Denpasar  di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Banjar Dinas  Paleg, Desa Tianyar Kecamatan Kubu Karangasem Sabtu (27/8/2016).

Lebih jauh Wagub Sudikerta menyampaikan, upaya pengentasan kemiskinan merupakan prioritas utama dari berbagai program yang dilakukan oleh Pemprov Bali baik itu melalui JKBM, Bedah rumah, Simantri, Gerbangsadu serta program unggulan lainnya yang bersinergi satu dengan lainnya.

Ia juga meminta masyarakat turut serta dalam mengevaluasi pelaksanaan program tersebut sehingga kedepannya pelaksanaan  program semakin membaik. ‘’Mari kita bahu membahu membantu sesama dan kita entaskan kemiskinan bersama sama, kita pupuk karakter peduli sesama khususnya pada generasi muda kita,’’ imbuhnya.

Wagub Sudikerta juga menyampaiakn apresiasinya atas langkah yang dilakukan oleh  SD Cipta Darma Denpasar yang telah membangun kepedulian pada sesama di kalangan para siswa dan berharap jejaknya  akan diikuti oleh sekolah-sekolah maupun lembaga lembaga lainnya.

‘’Saya sangat apresiasi kegiatan ini, dan saya harap hal ini akan menjadi contoh bagi kita semua untuk semakin memupuk rasa peduli terhadap sesama,’’ tuturnya.

Sementara itu, Ni Luh  Rinun selaku Kepala SD Cipta Darma menyampaikan bahwasannya kegiatan bakti sosial ini rutin dilakasanakan satu tahun sekali dengan tujuan untuk menumbuhkan karakter sosial dan rela berkorban bagi anak didiknya pada lingkungan sekitar.

Dengan turun langsung ke masyarakat, kata dia, anak-anak akan melihat sendiri kondisi dari masyarakat penerima bantuan, sehingga kedepannya mereka akan semakin terketuk hatinya untuk membantu mengingat di luar sana masih banyak yang perlu bantuan.

Dalam kesempatan tersebut diserahkan bantuan berupa sembako  kepada 300 KK  warga Banjar Dinas  Paleg dan diserahkan secara simbolis oleh Sudikerta, didampingi oleh Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali, Ketut Wija serta kepala Dinas Sosial Pemprov Bali, Nyoman Wenten.

Pemberian sumbangan ini serangkaian dengan HUT ke-55 Pramuka, Hari Jadi ke-58 Pemprov Bali serta HUTke-71 Proklamasi Republik Indonesia. (r/humas prov bali/bpn)

Genjek  Diharapkan Jadi Kesenian Rakyat Yang Mendunia

0

BALIPORTALNEWS.COMKeberadaan kesenian rakyat khas Kabupaten Karangasem yakni Genjek diharapkan tidak saja mampu menjadi kesenian rakyat yang diminati di Bali khususnya Kabupaten Karangasem  namun juga   mampu menjadi salah satu warisan budaya yang mendunia. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta saat mengahadiri acara Genjek Kolosal 2016 yang dilaksanakan di Taman Sukasada Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016).

“Saat ini Genjek tidak hanya dimainkan oleh masyarakat pedesaan saja namun juga sudah berkembang ke wilayah perkotaan dengan berbagai inovasi dan kreatifitas yang kedepannya saya harapkan mampu menjadi sebuah kesenian rakyat yang mendunia,”jelas Pastika yang menurutnya saat ini perkembangan kesenian Genjek sudah berkembang dengan sangat pesat dan bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat bukan lagi hanya sekedar sebagai hiburan pribadi di pedesaan. “Genjek saat ini sudah sangat layak untuk dijadikan sebuah seni peryunjukkan yang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pelestarian kesenian Genjek tersebut itdak hanya menjadi tanggunga jawab Kabupaten Karangasem sebagai daerah asal kesenian Genjek tersebut melainkan sudah menjadi tanggung jawab Pemprov Bali sehingga kedepannya kesenian Genjek tersebut mampu berkembang dan tidak punah di era globalisasi saat ini. “Kami akan memberikan ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan kesenian Genjek tersebut, dalam pagelaran Pesta Kesenian Bali yang setiap tahun kita laksanakan,” tegas Pastika yang mengharapkan kesenian Genjek tersebut nantinya dapat dinikmati oleh siapa saja.

Lebih lanjut disampaikan Pastika, kesenian Genjek juga merupakan kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh para generasi muda untuk bersosialisasi dan juga mempererat tali persaudaraan sehingga para generasi muda tersebut mampu menjadi sosok yang berjiwa sosial, kreatif dan juga menjaga rasa persatuan dan kesatuan dalam upaya turut serta mengakselerasi pembangunan di daerah Bali.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Ida Made Alit menyatakan pelaksanaan kegiatan Genjek Kolosal 2016 tersebut dilatar belakangi oleh adanya potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Karangasem yang tidak hanya berupa wisata alam namuan juga keseniannya yang salah satunya adalah Genjek tersebut.

Selain itu, kesenian Genjek tersebut merupakan pusaka warisan leluhur yang memiliki fungsi salah satunya untuk menjalin persaudaraan dan kebersamaan dalam membangun persatuan sehingga sangat sesuai dan bertepatan dengan pelaksanaan HUT Proklamasi Republik Indonesia yang ke 71 yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari kedepan. Ia juga menjelasakan kegiatan yang diprakarsai oleh I Gusti Made Tusan tersebut juga merupakan salah satu upaya nyata yang dilakukan oleh masayarakat bersama – sama dengan pemerintah dalam melestarikan pusaka warisan leluhur sehingga tidak tergerus oleh era globalisasi saat ini.

Lebih lanjut ia menyampaikan, dalam Genjek kolosal tersebut peserta berjumlah 15.361 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kabupaten Karangasem yang menurutnya hal tersebut adalah wujud partisipasi dari masyarakat karangasem yang sangat ingin membangun Karangasem agar lebih maju.

Senada dengan Made Alit, Bupati Karangasem I G A Mas Sumantri juga menyatakan pelaksanaan Genjek Kolosal tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia ke 71 mengingat Genjek tersebut merupakan salah satu pusaka warisan leluhur yang didalamnya memiliki makna mempersatukan untuk membangun.

Sehingga menurutnya Genjek tersebut dapat dikatakan sebagai representasi dari Bhineka Tunggal Ika. Lebih lanjut ia menyampaikan, kegiatan Genjek Kolosal tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan salah satu kesenian khas Karangasem yang sampai saat ini masih sangat populer di masyarakat sehingga layak untuk dipromosikan dan dilestarikan.

Dalam acara yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, tampak hadir sebagai tamu kehormatan Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ny. Ani Yudhoyono.

Selain itu juga hadir Anggota DPR RI Setya Novanto, Anggota DPD Dapil Provinsi Bali A A Oka Ratmadi dan Arya Wedakarna, Anggota DPRD Provinsi Bali serta Bupati/Walikota se-Provinsi Bali. Dalam acara tersebut juga dilakukan pemecahan rekor MURI dengan rekor pelaksanaan Genjek dengan peserta terbanyak.

Sumber : Humas Pemprov Bali

Paiketan Puri se-Bali Hadiri Pembukaan OWHC

0

BALIPORTALNEWS.COMPelaksanaan Konferensi Strategic Meeting Organitation World Heritage Cities (OWHC) Asia Pasifik dimana Kota Denpasar selaku tuan rumah agenda tahunan ini mendapat dukungan dari  Paiketan Puri-Puri se Bali.

Beberapa Raja atau Penglingsir Puri tampak hadir seperti Ida Dalem Semara Putra penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Agra Pemayun Puri Girinatha Payangan, AA Ngurah Putra Dharmanuraga Puri Pemecutan Badung, AA N Panji Astika Puri Anom Tabanan, AA Gde Eka Putra Puri Kilian Bangli, AA Gde Bharata puri Agung Gianyar, AA Ngurah Joko Pratidnya Puri Jro Kuta, Tjokorda Putra Sukawati Puri Ubud, Tjokorda Gede Putra Nindya Puri Peliatan dan Kanjeng Harri Djojonegoro Keraton Surakarta.

Kehadiran para penglingsir puri ini memberikan suatu nilai tambah terhadap pelaksanaan konfrensi OWHC ini yang baru pertama kali dilaksanakan di Bali, karena dengan dukungan dan kehadiran para penglingsir puri menandakan hubungan yang sangat harmonis antara pemerintah dengan puri. Sekretaris Paiketan Puri se Bali AAN Putra Dharmanuraga ditemui disela-sela konfrensi mengatakan pertemuan OWHC ini di Denpasar merupakan suatu kehormatan bahwa keberadaan puri puri masihdiakui keberadaaan.

“Ini tidak terlepas dari sejarah bahwa Puri-Puri yang ada di Bali masih sangat teguh memegang tradisi dan kebudayaan yang menjadi warisan pusaka yang adiluhung. Kami melihat betapa pentingnya pelestarian budaya dan pusaka masa lalu, dengan demikian generasi muda memahami bagaimana harmonisasi kehidupan masa lalu dan masa kini,” kata Dharmanuraga. Ia melihat komitmen dari walikota Denpasar untuk melestarikan warisan budaya dan pusaka ini sangat kuat.

“Walaupun merupakan daerah perkotaan yang cendrung dngan budaya modern namun dengan program yang jelas dan komitmen kuat dari Walikota menjadikan Denpasar mampu bertahan dengan identitas budya Bali yang kuat, ini hendakna dijadikan contoh bagi daerah lainnya bagaimana upaya untuk melestarikan budaya dan warasanpusaka,” katanya.

Sementara Walikota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra mengucapkan terima kasih dan apreasiasi dengan dukungan dari paiketan Puri se Bali. Rai Mantra mengakui bahwa perkembangan budaya dan pelestarian warisan pusaka di Kota Denpasar tidak bisa dilepaskan dari keberadaan puri. “Kedepan hubungan dan kerjasama yg harmonis antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Puri puri bisa lebih ditingkatkan dalam upaya untuk menjaga dan melestarikan warisa pusaka ini,” kata Rai Mantra.

Selebihnya putra mantan Gubernur Bali IB Mantra mengatakan upaya untuk menjaga dan melestarikan warisan pusaka akan senantiasa melibatkan puri serta kalangan generasi muda. Hal ini sejalan dengan tema konferensi OWHC tahun ini yakni memperkuat pelibatan dan membangun jaringan pemuda di kawasan asia pasific.

Sumber : Humas Pemkot Denpasar

Ni Kadek Sri Astiti, Balita Yang Nyaris Buta Dari Desa Tista Karangasem

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM Ni Kadek Sri Astiti, balita malang berusia 10 bulan yang  menjadi pemberitaan sejumlah media karena kondisinya yang nyaris buta mendapat perhatian serius dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Sri Astiti, putri pasangan suami istri Wayan Suparta (31) dan Ni Wayan Sariasih (25), nyaris tidak bisa melihat karena kedua matanya ditutup selaput putih. Tidak berhenti sampai disitu , kondisi Sri Astiti diperparah karena lengan dan kakinya yang juga mengalami keterbatasan, karena tidak berkembang dengan sempurna layaknya anak seusianya.  Demikian terungkap saat Tim Humas Pemprov yang ditugaskan oleh Gubernur Pastika mengunjungi  kediaman keluarganya di Dusun Batu Madeg, Desa Tista, Kecamatan Abang, Karangasem, Senin (1/8/2016).

Saat tim berkunjung ke lokasi, Sri Astiti terlihat aktif, ceria dan selalu tersenyum. Melihat putrinya yang memprihatinkan , orang tua Sri Astiti pun hanya bisa pasrah menerima cobaan itu. Walau pun merasa sedih dengan kondisi putri keduanya yang tidak seperti anak normal sebayanya, Suparta mengaku akan berusaha sekuat tenaga merawat dan membesarkannya.

Kondisi keluarga yang kurang mampu otomatis juga mempengaruhi upaya pengobatan Sri Astiti. Suparta menuturkan ia bersama istrinya hanya bekerja sebagai buruh tangkap babi. “Berangkat kerja subuh dan jam pulang tak pasti, ternyata tidak menjamin akan penghasilan yang besar,” ujarnya. Setiap bekerja kedua pasangan itu hanya mendapat upah 50 ribu, dan itu pun tidak rutin setiap hari, karena majikannya berjualan mengikuti pasar, yang rata-rata bekerja 2 kali dalam 3 hari. Upah sebesar itu diakuinya sudah sangat minim, apa lagi Suparta juga masih menanggung kedua orang tua dan neneknya yang tinggal dalam satu pekarangan. Kondisi tempat tinggal keluarga malang ini pun terbilang jauh dari kesan layak, sebuah gubuk berdinding gedeg dan tanah yang mereka tinggali pun bukan milik sendiri melainkan lahan pinjarnan milik sepupunya.

Kepala Dusun Batu Madeg, I Ketut Sukarena yang mendampingi tim dilokasi pun menjelaskan bahwa keadaan ekonomi keluarga Suparta yang terdaftar sebagai Rumah Tangga Sasaran (RTS) diantara 107 RTS lainnya didusun tersebut. Beberapa upaya pun menurutnya sudah dilakukan pihak desa untuk membantu keluarga malang itu, seperti mendatangkan bantuan pengobatan dari pihak posyandu sejak Sri Astiti lahir hingga saat ini. Bantuan raskin pun sudah diterima rutin setiap bulan, serta sudah dibantu untuk memiliki kartu JKBM. Satu hal menurutnya yang belum bisa dibantu, yang masih menjadi bebannya selaku perangkat desa yakni keluarga Suparta belum bisa mendapatkan bantuan bedah rumah. Kendala kepemilikan lahan yang menjadi syarat penerima bantuan bedah rumah pun menurutnya akan diusahakan dengan membuat surat keterangan diijinkan menempati yang disepakati oleh pemilik dan keluarga Suparta. “Tiang beserta perangkat desa lainnya sedang mengurus surat keterangan itu, kami harus mempertemukan kedua belah pihak agar ada kesepakatan, sehingga tidak timbul masalah dikemudian hari,” ujar Sukarena.

Tim  Humas Pemprov yang turut  mengajak serta tim kesehatan dari RS Mata Bali Mandara yang diwakili Dokter Dr. Ayu Setiowati, melakukan pemeriksaan kondisi Sri Astiti untuk menentukan  penanganan selanjutnya.

Setelah mengadakan pemeriksaan Ayu Setiowati menyatakan gangguan pada mata yang diderita oleh Sri Astiti disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh unggas, dan rentan menyerang kandungan saat memasuki usia 1 hingga 2 bulan. Virus tersebut menyerang mata yang menyebabkan kelainan anatomi mata berupa organ kornea tidak terbentuk secara sempurna. Jika kornea yang berfungsi penting sebagai organ masuknya cahaya tidak tumbuh, tentunya organ mata lain seperti retina tidak akan berfungsi juga.

Ia pun dengan berat hati menyatakan kondisi yang dialami Sri Astiti merupakan kondisi permanen yang tidak bisa diobati, karena menyerang saraf. Tindakan yang bisa dilakukan selanjutnya hanya pengobatan untuk mencegah melebarnya infeksi, serta pelatihan low vision untuk mengenali lingkungan agar bisa menjalani kehidupan sehar-hari dan bisa meningkatkan kualitas hidupnya yang nantinya diharapkan bisa mandiri. Ia pun menyerahkan bantuan obat-obatan untuk menanggulangi infeksi.

Selain bantuan dari Gubernur Patika berupa beras dan uang tunai, Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Bali, Ny. Ayu Pastika melalui perwakilan BK3S Provinsi Bali juga  menyerahkan bantuan sembako dan sejumlah uang tunai bagi keluarga Suparta.

Sementara Tim Humas Pemprov yang dipimpin Kepala Bagian Publikai Biro Humas Setda Provinsi Bali, Made Ady Mastika, menyampaikan bantuan yang diberikan merupakan bantuan awal yang bersifat responsif, sambil kemudian berkoordinasi untuk  menentukan bantuan selanjutnya yang tepat bagi keluarga malang ini sehingga bisa mengurangi beban berat keluarga malang ini.

Sumber : Humas Pemprov Bali

Bantuan Bedah Rumah Diharapkan Jadi Motivasi Sanjaya untuk Bekerja

0

BALI-PORTAL-NEWS.COMBantuan bedah rumah yang diberikan pemerintah tidak boleh menjadikan penerimanya semakin malas , namun sebaliknya harus dijadikan motivasi untuk terus berusaha dan bekerja. Demikian harapan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat meninjau lokasi pembangunan bantuan bedah rumah untuk keluarga Dewa Made Sanjaya warga Dusun Kawan, Ds. Manggis, Manggis, Karangasem, Minggu (24/7/2016). “Setelah dapat fasilitas jangan jadi malas, jangan berpikir baru miskin akan terus dibantu pemerintah sehingga jadi manja. Bantuan ini harus dipakai sebagai penyemangat  untuk terus bekerja membangun keluarga,” cetus Gubernur yang sangat peduli terhadap kemiskinan tersebut.

Keluarga Dewa Made Sanjaya sendiri hidup dalam kesederhanaan, dimana Sanjaya  sehari-harinya  bekeja sebagai kuli bangunan, dan istrinya Desak Putu Merti pun membantu mencari nafkah sebagai tukang angkut pasir. Penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk makan sehari-hari, beban hidup pun dirasa bertambah berat manakala penghasilan yang minim itu juga harus dibagi lagi untuk membiayai sekolah 3 orang anaknya. “Untuk belanja sembako biasanya tiang ngebon dulu sama tetangga tiang, kalau sudah dapat upah kerja baru tiang bayar, apa lagi tiang harus menyekolahkan 3 anak, tiang merasa beban tiang semakin berat,” ujar Sanjaya.

Keluarga itu terpaksa  tinggal berdesak-desakan dalam satu gubuk yang dimanfaatkan untuk seluruh aktifitas sehari-hari, sebagai tempat tdur sekaligus dapur yang hanya dibatasi dinding gedeg. Anak kedua dari pasangan itu, Dewa Ayu Made Yuniantari (13), pun tidak mau tinggal diam, ia membantu meringankan beban orang tuanya untuk mencari bekal sendiri dengan menjadi penari lepas ke hotel-hotel bersama sanggar yang ada didusun setempat, dengan upah Rp 25.000,- per sekali menari.

Pastika yang prihatin mendengar penuturan Sanjaya,  kemudian  menawari Yuniantari yang saat ini duduk di kelas 3 SMP untuk melanjutkan sekolahnya di SMA atau SMK Bali Mandara. “Kenapa harus melanjutkan ke sekolah umum, kenapa tidak ke SMA/SMK Bali Mandara. Kamu sudah masuk kriteria, karena yang bisa sekolah disana kriteria utamanya adalah miskin. Jadi jangan salah persepsi, untuk masuk disana tidak harus berprestasi. Dibiayai pemerintah juga, jadi tidak perlu keluar uang,  tahun depan kamu daftar disana saja,” ujar Pastika.

Kondisi yang dialami penari seperti Yuiatari diharapkan dapat membuka mata para pelaku wisata agar bisa memberikan upah yang layak. Karena tidak semua pelaku seni itu berasal dari kalangan mampu, sehingga dengan penghasilan yang sesuai bisa membuat seni yang digeluti memberikan penghidupan. Lebih jauh, Pastika pun mengharapkan peran serta pemerintah daerah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di Bali, karena sesuai kewenangan setiap kk kurang mampu juga merupakan kewajiban masing-masing daerahnya. “Bagaimanapun juga kk miskin itu tetap tanggung jawab Kabupaten/Kota yang mewilayahi, seharusnya mereka juga berperan aktif. Jangan semua dilimpahkan ke Pemprov. Dan ini untungnya kita mau menangani, seharuanya kita cuma membantu,” cetusnya.

Tak hanya itu, Gubernur Pastika yang pada kesempatan itu turut didampingi Inspektur Provinsi Bali Ketut Teneng,Kadis Sosial  I Nyoman Wenten  dan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra, SH.,MH,  pun meminta peran aktif Kepala Desa untuk mendata setiap warganya secara detail, baik mengenai kk kurang mampu, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Karena aparat desa sebagai ujung tombak pemerintahan yang bisa mengetahui kondisi warganya secara pasti untuk membantu memediasi hal-hal yang dialami oleh masyarakat untuk penanganan lebih lanjut. Seperti halnya kesehatan terutama mata, tiap kepala desa diharapkan bisa mendata warganya yang menderita katarak, kebutaan, atau gangguan penglihatan lainnya, untuk dilaporkan ke RS Mata Bali Mandara. “Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, dalam satu desa terdapat lebih dari 10 penderita katarak, maka pihak RS Mata Bali Mandara yang akan mendatangi saudara-saudara untuk melakukan operasi yang diderita di puskesmas terdekat,” pungkas orang nomor satu di Bali itu.

Ditambahkan Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, Wayan Wenten, banyak masyarakat yang belum memahami alur pemberian bantuan bedah rumah. Data yang disampaikan tahun berjalan merupakan pengajuan data sebelumnya, jadi jika ada warga yang belum masuk data tidak serta merta bisa dibantu, karena sudah ada penerima yang masuk data sebelumnya. Sehingga pemberian bantuan pun harus menunggu penuntasan yang masuk sebelumnya, baru selanjutnya diberikan kepada calon penerima baru. Pengajuan oleh kepala desa pun diharapkan sudah masuk tahun sebelumnya, dan ini menurutnya juga berlaku bagi bantuan-bantuan pemerintah lainnya yang terpaku pada sistem penganggaran.

Sementara itu, Kepala Desa Manggis, Wayan Partika Suyasa sangat berterima kasih atas bantuan yang diterima warganya. Dari 18 kk miskin yang diajukan tahun ini 8 kk sudah dibantu oleh Pemprov.

Sumber : Humas Pemprov Bali
Editor : Putu Tistha