Sabtu, 18 Agustus 2018

Avanza Seruduk Empat Motor di Abang, Begini Kronologisnya

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Mobil Avansa DK 1313 SU yang dikemudikan I Made Surata menabrak motor yang sedang parkir di pinggir jalan yang ada di depannya secara beruntun. Kejadiannya di Jalan Culik – Amed, depan Dillons Bungalow, Dusun Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali, Kamis (1/6/2017) sekitar pukul 16.15 Wita.

Keempat sepeda motor yang seruduk itu masing-masing sepeda motor Supra warna hitam DK 5413 SF dan sepeda motor Shogun warna hitam DK 3271 FV, milik I Nyoman Rodi (40), sepeda motor Vario warna hitam DK 8599  SS dan Vario Warna Merah Dk 5836 SS milik I Wayan Jaga (45).

“Kita datang dari arah Amed menuju Culik sehabis mengikuti acara keluarga di Dusun Lean Bunutan, mendadak mobil oleng ke kiri dan lepas kendali  kemudian menabrak empat sepeda motor yang sedang parkir di pinggir jalan,” ucap I made Surata sesuai keterangannya pada polisi di TKP.

Aiptu Nyoman Sukarta yang mendatangi TKP mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun mobil yang menabrak penyok bagian kiri serta empat SPM yang mengalami kerusakan. “Pengemudi mobil I Made Surata bersedia mengganti kerugian perbaikan sepenuhnya kepada pemilik sepeda motor yang ditabraknya,” imbuhnya.

“Kejadian ini tidak dilaporkan ke Satlantas Polres mengingat sudah terjadi kesepakatan  akan mengganti rugi kerusakan dan dibawa ke bengkel di Amed,” ucap Kapolsek Abang AKP Nyoman Sugita Yasa, SH. (humas-polsekabang/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Pastika Bantu Bocah Penderita Meningitis Bakteri di Tianyar

BALIPORTALNEWS.COM – Keberadaan Komang Aldi Prasetya, bocah tujuh tahun penderita meningitis bakteri yang tinggal di Banjar Dinas Dharma Winangun, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem mengundang keprihatinan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Selasa (7/2/2017), Gubernur Pastika mengutus staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk menyambangi kediaman Komang Aldi.

Nyoman Suasta, Ayah dari Nyoman Aldi yang ditemui di rumahnya menuturkan kondisi keluarganya yang hidup dalam keprihatinan. Dia dan sang istri Nyoman Siri tak berdaya menghadapi himpitan hidup di tengah keterbatasan. Nyoman Suasta yang hanya seorang tenaga serabutan tak memiliki pendapatan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, sementara sang istri hanya sebagai ibu rumah tangga.

Masalah yang dihadapi keluarga ini makin berat karena Komang Aldi yang merupakan putra ketiga mereka menderita penyakit meningitis bakteri (gangguan pada selaput otak,red). Karena keterbatasan biaya, bacah malang tersebut tidak memperoleh penanganan medis yang memadai sejak usia 8 bulan dan hanya dirawat seadanya di rumah.

Selain itu, keluarga ini juga tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni. Mereka hanya menempati bedeng dan terkadang terpaksa menumpang tidur di rumah kerabat saat musim hujan. Dalam kunjungan kali ini, tim Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali menyerahkan bantuan Gubernur Pastika berupa uang tunai sejumlah Rp.500.000, dan 50 kg beras.

Bantuan respon cepat ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka beberapa hari ke depan. Sementara untuk tempat tinggal, Kepala Desa Tianyar Ketut Wija sudah mengajukan ke dinas terkait agar keluarga ini memperoleh bantuan bedah rumah. Pada hari yang sama, bantuan berupa bingkisan sembako dan uang tunai sejumlah Rp 500.000 juga diberikan oleh Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Bali. (humasbali/bpn)

Warga Miskin Asal Manggis Terima Bantuan Gubernur

BALIPORTALNEWS.COM – Pemberitaan warga miskin tiga saudara kandung  yatim yakni Putu Irmayanti (13), Kadek Shinta Dewi (8) dan Komang Agus Laksamana Putra (4),  asal Br. Pegubungan, Ds. Manggis, Karangasem, yang sempat menjadi viral di  media sosial mendapat perhatian dari  Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Gubernur mengutus tim Humas Pemprov mengunjungi ke lokasi. Ketiga saudara kandung ini terpaksa kehilangan kasih sayang orang tuanya karena perceraian yang terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, saat ini ketiga bocah malang itu mesti diasuh oleh kakek-neneknya. Pasca perceraian si ibu kembali ke rumah asal semasih lajang, dan si bapak diberitakan merantau dan belum pernah pulang.

Tim saat berkunjung ke lokasi mendapati Komang Ari (35), ayah ketiga bocah itu sudah berkumpul kembali bersama buah hatinya. Ia menceritakan selama 3,5 tahun ini memang merantau ke Jembrana sebagai tukang petik buah cengkeh, dan kembali ke kampung halaman saat hari raya Galungan lalu.

Minimnya upah yang didapat membuatnya tidak bisa pulang setiap saat, sehingga Ia mempercayakan perawatan ketiga anaknya kepada orang tuanya. Saat ini Ia mengaku masih bingung untuk kembali pergi mencari kerja dan harus meninggalkan anak-anaknya, sedangkan jika diam di rumah Ia mengaku tidak ada pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya.

Ia pun berharap ada uluran tangan dari Pemerintah, kelak saat anaknya mengikuti jenjang pendidikan lebih tinggi bisa mendapat beasiswa. Tak hanya itu, Ia pun berharap mendapat bantuan bedah rumah, karena rumah yang ditempatinya saat ini masih status milik kedua orang tuanya.

Kepala Dusun Pegubungan, Kadek Sumarda, yang kala itu mendampingi tim tidak menampik keadaan warganya tersebut. Namun Ia merasa sedikit kecewa, keluarga Komang Ari yang sebelumnya masuk dalam data RTM, beberapa tahun ini tidak lagi bisa menikmati fasilitas bantuan-bantuan karena datanya tidak masuk RTM.

Dalam pengajuan usulan RTM tiap tahunnya pun sudah tetap dimasukan, namun tetap tidak muncul lagi. Ia pun berterimakasih atas kepedulian Gubernur Pastika kepada warganya.

Lebih jauh, Ia berharap ada kepedulian dan kebijaksanaan dari SKPD terkait di Kabupaten Karangasem terhadap pengurusan akta lahir ketiga bocah tersebut yang terkendala akta nikah dan surat perceraian arang tuanya, karena sangat dibutuhkan sebagai syarat di bangku sekolah.

Tak hanya keluarga Komang Ari, Tim juga berkesempatan meninjau keadaan warga Kecamatan Manggis lainnya, yakni Wayan Wenten (58) asal Br. Anyar, Ds. Selumbung, yang menderita kanker payudara stadium lanjut.

Wenten saat ini hanya bisa berbaring ditempat tidur sambil menahan sakit.

Perbekel Ds Selumbung, Wayan Sudiarka menjelaskan yang bersangkutan sebelumnya sudah dirawat di RSU Karangasem dengan tanggungan JKBM, saat tim dokter akan mengambil tindakan berupa amputasi bagian tangan untuk menghilangkan jaringan kanker yang sudah semakin menjalar, yang bersangkutan mengaku trauma dan masih pikir-pikir, sehingga dipulangkan kembali.

Keadaan tersebut menurutnya diperparah dengan kondisi ekonomi yang hanya mengandalkan dua saudarinya yang juga mengalami keterbelakangan mental dengan berjualan alat banten berupa porosan.

Untuk selanjutnya, Ia masih menunggu kesiapan yang bersangkutan untuk diambil tindakan medis yang diperlukan.

Untuk meringankan beban keluarga Komang Ari dan Wayan Wenten, Gubernur Bali melalui Tim Humas menyerahkan batuan sementara berupa sejumlah uang tunai. Untuk bantuan selanjutnya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan instansi terkait. Tindakan responsif ini juga diharapkan menggugah kepedulian masyarakat terhadap sesama yang membutuhkan. (r/humas pemprov bali/bpn)

Pastikan KRB Steril, Kapolda Bali Berada 3,5 Km dari Kawah Gunung Agung

BALIPORTALNEWS.COM – Hujan lebat dan banjir lahar dingin, tak menyurutkan niat Kapolda Bali, Irjen Pol Dr. Petrus Reihard Golose menuju lokasi KRB (Kawasan Rawan Bencana). Kapolda nekat menerobos masuk KRB, guna memastikan wilayah ini sudah steril dari penduduk sekaligus ingin melihat langsung penomena banjir lahar dingin.

Bahkan, Kapolda bersama Pejabat Utama Polda Bali maupun Polres Karangasem, langsung naik gunung hingga hanya berjarak 3,5 km dari puncak Gunung Agung, sekitar pukul 10.00 wita.

Kapolda Bali didampingi Karo Ops Polda Bali, Kasat Brimob, Dir. Sabhara, Kabid TI, Dir. Intel, Dir. Lantas, Koorspripim Polda Bali dan Kapolres Karangasem AKBP I Wayan Gede Ardana, S.I.K., M.Si. Saat tiba di KRB III, Kapolda langsung menuju Banjar Dinas Untalan, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem.

Di sana, Kapolda Bali melihat langsung aliran banjir lumpur atau banjir lahar dingin di Tukad Krekuk. Tukad ini memotong wilayah Banjar Dinas Untalan dengan Banjar Dinas Galih, Desa Jungutan.

Bhabinkamtibmas Desa Jungutan Aiptu I Made Sudani dihadapan Kapolda Bali, menyampaikan banjir lahar dingin di tukad itu sudah terjadi 27 November lalu. Sebelum terjadi banjir, sehari sebelumnya juga turun hujan abu.

Setelah turun hujan lebat, banjir lahar dingin kembali terjadi di tempat ini dengan debit air bercampur lumpur cukup besar, Kamis (30/11/2017) siang. Beberapa anak sungai lainnya juga dialiri lahar dingin, seperti di Tukad Yeh Sah, Desa Muncan, Tukad Bambangbiaung dan Tukad di Geriana Kangin, Kecamatan Selat.

Pada kesempatan tersebut, Kapolda memperingatkan warga agar tidak berada terlalu dekat sungai yang teraliri banjir lahar dingin. Sebab, volume banjir seketika bisa membesar dan menghanyutkan benda di sekitarnya, karena tekanannya cukup besar.

Setelah dari Untalan, rombongan Kapolda Bali menyusuri kaki Gunung Agung menuju Pura Pasar Agung dan Pura Tirta di Banjar Yeh Kori, Desa Sibetan. Wilayah ini masuk kategori KRB III. Dalam perjalanan itu, rombongan Kapolda Bali melihat langsung tebalnya lumpur yang menutupi jalan dan keringnya padang gajah milik petani, akibat abu vulkanik Gunung Agung. “Ini sangat berbahaya, karena jaraknya hanya 3,5 km dari kawah Gunung Agung,” ujarnya.

Kapolres Karangasem AKBP I Wayan Gede Ardana, S.I.K., M.Si. menegaskan kegiatan turun langsung ke lokasi KRB III ini untuk memastikan langkah-langkah yang dilakukan jajaran kepolisian sudah berjalan dengan baik. “Warga semua sementara harus mengungsi. Kami turun ingin memastikannya. Selain itu, juga untuk menentukan langkah-langkah berikutnya dengan berkoordinasi dengan pihak terkait,” tegasnya. (binaw/humas-polda.bali/bpn)

Genjek  Diharapkan Jadi Kesenian Rakyat Yang Mendunia

BALIPORTALNEWS.COMKeberadaan kesenian rakyat khas Kabupaten Karangasem yakni Genjek diharapkan tidak saja mampu menjadi kesenian rakyat yang diminati di Bali khususnya Kabupaten Karangasem  namun juga   mampu menjadi salah satu warisan budaya yang mendunia. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta saat mengahadiri acara Genjek Kolosal 2016 yang dilaksanakan di Taman Sukasada Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016).

“Saat ini Genjek tidak hanya dimainkan oleh masyarakat pedesaan saja namun juga sudah berkembang ke wilayah perkotaan dengan berbagai inovasi dan kreatifitas yang kedepannya saya harapkan mampu menjadi sebuah kesenian rakyat yang mendunia,”jelas Pastika yang menurutnya saat ini perkembangan kesenian Genjek sudah berkembang dengan sangat pesat dan bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat bukan lagi hanya sekedar sebagai hiburan pribadi di pedesaan. “Genjek saat ini sudah sangat layak untuk dijadikan sebuah seni peryunjukkan yang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pelestarian kesenian Genjek tersebut itdak hanya menjadi tanggunga jawab Kabupaten Karangasem sebagai daerah asal kesenian Genjek tersebut melainkan sudah menjadi tanggung jawab Pemprov Bali sehingga kedepannya kesenian Genjek tersebut mampu berkembang dan tidak punah di era globalisasi saat ini. “Kami akan memberikan ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan kesenian Genjek tersebut, dalam pagelaran Pesta Kesenian Bali yang setiap tahun kita laksanakan,” tegas Pastika yang mengharapkan kesenian Genjek tersebut nantinya dapat dinikmati oleh siapa saja.

Lebih lanjut disampaikan Pastika, kesenian Genjek juga merupakan kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh para generasi muda untuk bersosialisasi dan juga mempererat tali persaudaraan sehingga para generasi muda tersebut mampu menjadi sosok yang berjiwa sosial, kreatif dan juga menjaga rasa persatuan dan kesatuan dalam upaya turut serta mengakselerasi pembangunan di daerah Bali.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Ida Made Alit menyatakan pelaksanaan kegiatan Genjek Kolosal 2016 tersebut dilatar belakangi oleh adanya potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Karangasem yang tidak hanya berupa wisata alam namuan juga keseniannya yang salah satunya adalah Genjek tersebut.

Selain itu, kesenian Genjek tersebut merupakan pusaka warisan leluhur yang memiliki fungsi salah satunya untuk menjalin persaudaraan dan kebersamaan dalam membangun persatuan sehingga sangat sesuai dan bertepatan dengan pelaksanaan HUT Proklamasi Republik Indonesia yang ke 71 yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari kedepan. Ia juga menjelasakan kegiatan yang diprakarsai oleh I Gusti Made Tusan tersebut juga merupakan salah satu upaya nyata yang dilakukan oleh masayarakat bersama – sama dengan pemerintah dalam melestarikan pusaka warisan leluhur sehingga tidak tergerus oleh era globalisasi saat ini.

Lebih lanjut ia menyampaikan, dalam Genjek kolosal tersebut peserta berjumlah 15.361 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kabupaten Karangasem yang menurutnya hal tersebut adalah wujud partisipasi dari masyarakat karangasem yang sangat ingin membangun Karangasem agar lebih maju.

Senada dengan Made Alit, Bupati Karangasem I G A Mas Sumantri juga menyatakan pelaksanaan Genjek Kolosal tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia ke 71 mengingat Genjek tersebut merupakan salah satu pusaka warisan leluhur yang didalamnya memiliki makna mempersatukan untuk membangun.

Sehingga menurutnya Genjek tersebut dapat dikatakan sebagai representasi dari Bhineka Tunggal Ika. Lebih lanjut ia menyampaikan, kegiatan Genjek Kolosal tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan salah satu kesenian khas Karangasem yang sampai saat ini masih sangat populer di masyarakat sehingga layak untuk dipromosikan dan dilestarikan.

Dalam acara yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, tampak hadir sebagai tamu kehormatan Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ny. Ani Yudhoyono.

Selain itu juga hadir Anggota DPR RI Setya Novanto, Anggota DPD Dapil Provinsi Bali A A Oka Ratmadi dan Arya Wedakarna, Anggota DPRD Provinsi Bali serta Bupati/Walikota se-Provinsi Bali. Dalam acara tersebut juga dilakukan pemecahan rekor MURI dengan rekor pelaksanaan Genjek dengan peserta terbanyak.

Sumber : Humas Pemprov Bali

Daerah Berbahaya Gunung Agung Diturunkan Menjadi 6 Km, Ribuan Pengungsi Akan Dipulangkan

BALIPORTALNEWS.COM – Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih cukup tinggi dan fluktuatif. Hasil analisis data visual dan instrumental meliputi seismik, deformasi dan geokimia, menunjukkan bahwa saat ini Gunung Agung masih berada dalam fase erupsi. Material erupsi berupa lava yang mengisi kawah, hembusan/letusan abu, dan lontaran batuan di sekitar kawah masih berpotensi terjadi. Data deformasi dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan trend yang stagnan yang mengindikasikan belum ada peningkatan pada sumber tekanan yang signifikan. Perkiraan potensi bahaya saat ini berupa lontaran batu pijar, pasir, kerikil, dan hujan abu pekat juga lahar hujan diperkirakan melanda area di dalam radius 6 kilometer dari kawah.

Mendasarkan pada analisis terkini tersebut maka PVMBG masih menetapkan status Awas (level 4). Namun daerah berbahaya diturunkan yang sebelumnya daerah berbahaya adalah daerah di dalam radius 8-10 kilometer menjadi 6 kilometer. Artinya masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. Penurunan daerah berbahaya ini terhitung mulai Kamis (4/1/2018).

Kepala PVMBG telah melaporkan kepada BNPB untuk mengambil langkah-langkah penanganan pengungsi. Dengan penurunan daerah berbahaya yaitu menjadi di dalam radius 6 kilometer maka ribuan masyarakat yang mengungsi yang berasal dari desa yang aman boleh pulang ke rumahnya masing-masing.

Berdasarkan analisis peta kawasan rawan bencana, terdapat 12 desa di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. 12 desa tersebut harus dikosongkan dan warganya harus mengungsi. Dari 12 desa tersebut terdapat 7 desa yang ada penduduknya dan 5 desa yang tidak ada penduduknya di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah.

7 desa dengan 20 Banjar yang penduduknya masih harus mengungsi adalah:

  1.      Desa Jungutan (Br. Dinas Yeh Kori, Br. Desa Galih),
  2.      Desa Buana Giri (Br. Dinas Tanah Aron, Br. Dinas Bhuana Kerta, Br. Dinas Kemoning, Br. Desa Nangka),
  3.      Desa Sebudi (Br. Dinas Sogra, Br. Dinas Lebih, Br. Dinas Badeg Dukuh, Br. Dinas Telung Buana),
  4.      Desa Besakih (Br. Dinas Temukus),
  5.      Desa Datah (Br. Dinas Kedampel),
  6.      Desa Baturinggit (Br. Dinas Bantas),
  7.      Desa Ban (Br. Dinas Pengalusan, Br. Dinas Cegi, Br. Dinas Daya, Br. Dinas Pucang, Br. Dinas Belong, Br. Dinas Bonyoh, Br. Dinas Cutcut).

Diperkirakan terdapat 17.115 jiwa masyarakat yang tinggal di 7 desa (20 banjar) yang berada di dalam radius 6 kilometer dan masih harus mengungsi. Di luar radius 6 kilometer tersebut kondisinya aman, normal dan masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing. Saat ini sebagian pengungsi telah kembali ke rumahnya masing-masing setelah mendapat informasi desanya aman.

Hingga Kamis (4/1/2018) pagi jumlah pengungsi 70.610 jiwa yang tersebar di 240 titik pengungsian. Pengungsi ini berada di tempat yang jauh dari desa asalnya dan terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Buleleng (9.983 jiwa), Klungkung (10.964 jiwa), Karangasem (42.908 jiwa), Bangli (1.017 jiwa), Tabanan (733 jiwa), Kota Denpasar (748 jiwa), Gianyar (3.507 jiwa), Badung (590 jiwa), dan Jembrana 9205 jiwa).

Agar pemulangan pengungsi dapat berjalan dengan tertib, maka BNPB bersama Satgas Tanggap Darurat Penanganan Erupsi Gunung Agung terus melakukan koordinasi. Pendataan diperlukan untuk pemulangan pengungsi. Kendaraan disiapkan untuk memfasilitasi para pengungsi yang akan pulang. Pasebaya juga terus menginformasikan kepada masyarakat terkait penurunan radius berbahaya Gunung Agung. Bukan hanya pemulangan pengungsi saja yang dilakukan, tapi juga terkait dukungan logistik, pemindahan pengungsi ke titik yang dekat dan lainnya.

Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Gunakan aplikasi Cek Posisi Anda. Pemerintah dan Pemda dibantu unsur lainnya masih berkoordinasi untuk proses pemulangan dan penanganan pengungsi. (humas-bnpb/bpn)

Mas Sumatri-Artha Dipa Turun Langsung Kunjungi Pengungsi Warga Tihing Seka

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Minggu malam  (26/11/2017) sekitar pukul 19.30 Wita, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri bersama Wabup Artha Dipa didampingi Sekda Adnya Mulyadi, Camat Bebandem dan Kabag Humas turun langsung kunjungi 35 KK warga Banjar Dinas Tihing Seka Desa Bebandem Karangasem yang medunungan (mengungsi) di Balai Masyarakat Desa Bebandem, Karangasem.

Mengungsinya 35 KK warga Tihing Seka  Desa Bebandem itu  akibat kembali meletusnya Gunung Agung pada Sabtu malam (25/11) pukul 21.00 Wita, kemarin, yang mana sebelumnya Gunung Agung mengawali letusan pada Selasa 21 Nopember 2017, pukul 17:05 Wita.

Dalam kesempatan itu, Bupati Mas Sumatri menyampaikan pada warga Tihing Seka Desa Bebandem untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah beserta aparatur terkait lainnya untuk mengikuti arahan dan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi agar warga di Zona Siaga tetap untuk mengungsi. (humas-karangasem/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Nengah Meiyani Penderita Polio Selama 15 Tahun

BALIPORTALNEWS.COM – Hidup dalam situasi ekonomi keluarga yang terbatas membuat keluarga pasangan Nengah Tunas (47) dan Nyoman Wati (46) harus pasrah akan kondisi anak keduanya Nengah Meiyani (23), yang terbaring lemas akibat terserang penyakit polio sejak 15 tahun silam.

Kondisi Nengah Meiyani yang dimuat sebuah media sosial ini mendapat respon cepat dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan langsung menugaskan staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk berkunjung ke rumah yang bersangkutan di Banjar Dinas Kelakah, Desa Pidpid, Abang, Karangasem.

Saat ditemui di rumahnya, Nyoman Wati Ibu kandung Meiyani menuturkan, karena keterbatasan ekonomi Nengah Meiyani yang merupakan putri bungsu dari 2 bersaudara, hanya mengenyam pendidikan selama 6 bulan saja, selanjutnya ia termasuk anak yang putus sekolah, dan akhirnya mengalami polio.

Sebagai tempat berlindung,  keluarga ini menempati rumah milik adiknya yang sedang merantau ke luar Bali.

Karena sakitnya yang tidak kunjung sembuh bahkan semakin memburuk, Nengah Meiyani saat dikunjungi terlihat mengenakan selang katetar sebagai alat bantu buang air kecil.

Untuk kesehatannya, Nengah Meiyani Sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang digunakan berobat di RSUD Karangasem.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka hanya mengandalkan pendapatan dari Nengah Tunas yang bekerja sebagai supir ditoko bangunan, yang hanya berpenghasilan sebesar 47 ribu perhari.

Untuk meringankan beban hidup sehari-hari keluarga yang bersangkutan, Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberikan bantuan berupaya sejumlah uang, yang nantinya diharapkan dapat meringankan beban keluarga Nengah Meiyani dan dapat digunakan untuk keperluan pengobatannya. (humas-bali/bpn)

Gunung Agung Kembali Erupsi, 53.207 Jiwa Masih Mengungsi

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gunung Agung kembali erupsi mengeluarkan asap berwarna kelabu kehitaman dengan intensitas tebal bertekanan sedang dengan tinggi kolom 2.500 meter dari puncak kawah pada 11/1/2018 pukul 17.54 WITA. Erupsi dengan amplitudo 27 milimeter dengan lama gempa 130 detik. Asap condong ke arah utara hingga timur laut.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam siaran pers menjelaskan,

aktivitas vulkanik masih cukup tinggi yang ditandai dengan tremor menerus dengan amplitudo 1-13 milimeter (dominan 1 milimeter). Hembusan, gempa vulkanik dalam dan gempa tektonik jauh masih sering terdeteksi oleh Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG di Rendang. Status masih Awas (level 4). Daerah berbahaya hanya berada di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. Di luar radius 6 kilometer kondisinya aman dan normal.

Hujan abu vukanik diperkirakan jatuh di beberapa daerah di sebelah utara hingga timur laut dari Gunung Agung. Sebaran hujan abu tidak jauh dari Gunung Agung karena tinggi kolom erupsi hanya 2.500 meter. Selain itu juga sebagian lereng Gunung Agung cuaca mendung hingga hujan. Informasi dari Pasebaya hujan abu vulkanik tipis telah terjadi di Tulamben, Rubaya, dan Dukuh Kubu. Aktivitas masyarakat normal. Tidak ada kepanikan di masyarakat

Hingga saat ini sebanyak 53.207 jiwa masyarakat masih mengungsi yang tersebar di 233 titik pengungsi. Sementara itu kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap aman dan normal beroperasi. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung tidak menyebar hingga Kota Denpasar.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. Aktivitas vulkanik Gunung Agung memang masih cukup tinggi dan berstatus Awas sehingga masih dimungkinkan terjadi erupsi dan hembusan. Masyarakat dihimbau tetap mentaati rekomendasi pemerintah bahwa tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. Jangan melakukan pendakian, apalagi berada di sekitar puncak kawah karena sangat berbahaya. Di luar radius 6 kilometer, kondisinya aman dan normal. (r/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
4PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
12PelangganBerlangganan