29 C
Denpasar
Kamis, 18 Oktober 2018

Lomba Siskamling, Pos Kamling Batu Lompeh Tianyar Wakili Polres Karangasem

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Setelah mendatangi wilayah Buleleng, Bangli, Klungkung, Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar, Tim Penilai Lomba Siskamling dan Bhabinkamtibmas Polda Bali melakukan penilaian ke wilayah Karangasem. Tim yang dipimpin langsung Wadir Binmas Polda Bali, AKBP Dra. Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, S.I.K. mendatangi Pos Kamling Batu Lompeh di Banjar Darmawinangun, Desa Tianyar Timur, Kubu, Senin (18/6/2018).

Kedatangan tim penilai disambut ratusan warga diiringi Gambelan Baleganjur. Bahkan Camat Kubu, I Made Suartana, S.STP., Kasat Binmas Polres Karangasem AKP I Gede Sunjaya, S.H., Kapolsek Kubu AKP I Made Suadnyana, S.Sos., Danramil 1623-08 Kapten I Gede Taman juga turut menyambut kedatangan tim penilai yang berjumlah lima orang ini.

Dari sejumlah tempat yang sudah didatangi, Pos Kamling Batu Lompeh paling berbeda. Selain bangunannya yang bersih, luas dan kokoh serta penempatan peralatan yang tersusun rapi, anggota Pos Kamling Batu Lompeh juga memperagakan senam borgol, cara memadamkan api saat terjadi kebakaran dan penanganan kasus pencurian. Meskipun anggota pos kamling kebanyakan yang sudah tua, tetapi semangat mereka layak diancungi jempol.

Perbekel Desa Tianyar Timur, Drs. I Ketut Wija dalam mengucapkan terima kasih kepada Polres Karangasem yang sudah mempercayakan kepada Pos Kamling Batu Lompeh untuk mengikuti lomba Siskamling di tingkat Polda Bali. Ia berharap tim penilai dapat memberikan penilaian secara obyektif terkait kondisi pos kamling yang ada saat ini.

“Dengan adanya lomba pos kamling ini, mudah-mudahan bisa memacu pos kamling lain untuk berbuat yang lebih baik lagi,” ucapnya.

Drs. I Ketut Wija menjelaskan bahwa Pos Kamling Batu Lompeh sudah berdiri sejak tahun 1965 silam. Bangunan yang berukuran 7 x 5 meter itu dibangun diatas tanah swadaya dari masyarakat, tanpa ada bantuan dari pemerintah maupun desa.

Desa Tianyar Timur terdiri dari 4 Banjar, yaitu  Banjar Darmawinangun, Eka Adnyana, Palet dan Pulasari. Pihaknya mengaku mengalami kendala untuk memantau situasi keamanan lingkungan, karena faktor luas wilayah dengan penduduknya yang cukup padat. Untuk itu, keberadaan pos kamling sangat dibutuhkan untuk memudahkan pelayanan keamanan di masing-masing lingkungan.

“Kami ucapkan terima kasih kepada aparat kepolisian khususnya Bhabinkantibmas Polsek Kubu yang tidak henti-henti melakukan pembinan terhadap pos kamling yang ada di wilayah Desa Tianyar,” imbuhnya.

Sementara Wadir Binmas Polda Bali, AKBP Dra. Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, S.I.K. mengatakan, kegiatan Lomba Siskamling dan Bhabinkamtibmas digelar dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-72. Dari sembilan kabupaten/kota yang mengikuti lomba akan ditentukan Juara I, II,III dan Harapan I, II, III. Bagi yang terpilih sebagai Juara I akan mewakili Bali dalam Lomba Siskamling dan Bhabinkamtibmas di tingkat nasional (Mabes Polri).

Jumlah pos kamling yang ada mencapai puluhan unit di wilayah Tianyar membuktikan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan sudah sangat tinggi. “Saya melihat wilayah Batu Lompeh sangat baik dan bagus. Saya yakin di wilayah ini ada pemimpin desa yang hebat, yaitu perbekel Desa Tianyar Timur,” tegasnya.

Kemudian mantan Kapolres Klungkung ini mengajak seluruh masyarakat, untuk terus berdoa agar Gunung Agung tidak mengalami erupsi, karena wilayah ini masuk dalam KRB 3. Selain itu, Bali juga akan menjadi tempat digelarnya IMF-WB Annual Meeting 2018 yang akan dihadiri 18.000 delegasi dari 189 negara di dunia.

“Doa ini kita panjatkan dalam rangka  mewujudkan rasa aman dan nyaman di wilayah Bali. Event terbesar ini kita sambut dengan rasa suka cita sehingga membawa berkah bagi masyarakat Bali dan Indonesia umumnya. Oleh karena itu, keberadaan pos kamling harus dioptimalkan. Situasi keamanan harus tetap terpelihara mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga tingkat kabupaten,” harap AKBP Dra. Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, S.I.K.(bina/polda-bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Nengah Meiyani Penderita Polio Selama 15 Tahun

BALIPORTALNEWS.COM – Hidup dalam situasi ekonomi keluarga yang terbatas membuat keluarga pasangan Nengah Tunas (47) dan Nyoman Wati (46) harus pasrah akan kondisi anak keduanya Nengah Meiyani (23), yang terbaring lemas akibat terserang penyakit polio sejak 15 tahun silam.

Kondisi Nengah Meiyani yang dimuat sebuah media sosial ini mendapat respon cepat dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan langsung menugaskan staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk berkunjung ke rumah yang bersangkutan di Banjar Dinas Kelakah, Desa Pidpid, Abang, Karangasem.

Saat ditemui di rumahnya, Nyoman Wati Ibu kandung Meiyani menuturkan, karena keterbatasan ekonomi Nengah Meiyani yang merupakan putri bungsu dari 2 bersaudara, hanya mengenyam pendidikan selama 6 bulan saja, selanjutnya ia termasuk anak yang putus sekolah, dan akhirnya mengalami polio.

Sebagai tempat berlindung,  keluarga ini menempati rumah milik adiknya yang sedang merantau ke luar Bali.

Karena sakitnya yang tidak kunjung sembuh bahkan semakin memburuk, Nengah Meiyani saat dikunjungi terlihat mengenakan selang katetar sebagai alat bantu buang air kecil.

Untuk kesehatannya, Nengah Meiyani Sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang digunakan berobat di RSUD Karangasem.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka hanya mengandalkan pendapatan dari Nengah Tunas yang bekerja sebagai supir ditoko bangunan, yang hanya berpenghasilan sebesar 47 ribu perhari.

Untuk meringankan beban hidup sehari-hari keluarga yang bersangkutan, Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberikan bantuan berupaya sejumlah uang, yang nantinya diharapkan dapat meringankan beban keluarga Nengah Meiyani dan dapat digunakan untuk keperluan pengobatannya. (humas-bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Made Stiyawati Yang Mengalami Kelumpuhan 

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Informasi dimedia sosial terkait adanya warga yang menderita kelumpuhan direspon cepat Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan sekaligus mengutus tim Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, untuk mengecek kondisi Warga tersebut Selasa (13/3/2018).

Warga dimaksud yakni Ni Made Stiyawati (45), warga Banjar Dinas Padang Tunggal, Desa Duda, Selat, Karangasem, sejak kecil mengalami kelumpuhan dan nyaris tidak bisa berjalan. Dengan kondisi tidak bisa berjalan, Stiyawati juga sudah ditinggal mati oleh suami tercintanya beberapa tahun yang lalu, dan kini hanya tinggal bersama dua orang anaknya yakni  Wayan Sri Mertami dan Ni Made Rita Sandat Rahayu yang hidup serba kekurangan.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya walaupun dengan kondisi tidak bisa jalan, Stiyawati tetap semangat dan berusaha dengan gigih membesarkan kedua anaknya dengan hasil menganyam bambu membuat kerajinan tangan kuskusan, yang hasilnya tidak menentu terkadang hanya 20 ribu rupiah itupun kalau ada yang membeli. Dari penghasilan sebesar itu sudah tidak mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi masih menanggung anak sekolah. Namun demikian Made Stiyawati tetap dibantu oleh saudara-saudara dekatnya.

Melihat kondisi sang ibu yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Wayan Sri Mertami yang merupakan anak pertama dari Made Stiyawati memutuskan untuk mengadu nasib dan astungkara Sri Mertami kini sudah mendapat pekerjaan di sebuah restoran di Denpasar. Hasil dari jerih payahnya itu nanti, mudah-mudahan bisa membantu ibunya, dan adiknya Ni Made Rita Sandat Rahayu yang saat ini masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SMK Saraswati, Selat, Karangasem.

Menurut informasi dari Ketut Muspa Kepala Seksi Pelayanan Umum Kantor Camat Selat yang didampingi Wayan Agus Suliadi selaku Kepala Wilayah Padang Tunggal Kauh, dan I Kadek Eko Putrawan selaku Kepala Wilayah Padang Tunggal Kangin membenarkan warganya Ni Made Stiyawati mengalami kelumpuhan sejak kecil. Namun demikian, pihaknya berharap adanya bantuan baik dari pemerintah maupun para dermawan untuk meringankan beban hidup warganya yang saat ini mengalami kelumpuhan.

Untuk meringankan beban keluarga yang bersangkutan, pada kesempatan tersebut tim Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali didampingi aparat desa setempat, menyerahkan bantuan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika berupa uang tunai yang diterima langsung oleh keluarga yang bersangkutan. Dengan harapan, bantuan tersebut dapat dipakai untuk yang lebih bermanfaat.(humas-bali/bpn)

Tidak Memiliki Ijin Usaha Pertambangan Pasir, Nyoman Dana Kerti Ditangkap Ditreskrimsus Polda Bali

BALIPORTALNEWS.COM – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bali berhasil mengamankan seorang laki-laki yang bernama I Nyoman Dana Kerti di wilayah Kubu, Karangasem pada Selasa (20/2) lalu. Ia ditangkap polisi lantaran nekat menambang pasir tanpa dilengkapi ijin usaha pertambangan.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali, Kombes Pol. Anom Wibowo, S.I.K., M.Si. mengatakan, penangkapan terhadap pelaku berawal ketika anggotanya melakukan penyelidikan di wilayah Kubu. Saat itu polisi menemukan sebuah proyek penambangan pasir yang mencurigakan. Kemudian dilakukan introgasi terhadap saksi, pemilik lahan dan I Nyoman Dana Kerti selaku pemilik proyek.

Dari hasil introgasi itu, didapatkan fakta bahwa penambangan pasir itu dilakukan dengan  menggunakan alat berat berupa excavator dan ayakan yang sudah beroperasi sejak akhir bulan Desember 2017. Hasil penambangan berupa pasir super yang dijual oleh pelaku kepada Depo Pasir Kubu dengan harga Rp 600.000 per truk.

“Saat polisi meminta administrasi proyek itu, pelaku tidak bisa menunjukan surat ijin usaha pertambangan. Atas hal tersebut, kita amankan dan bawa pelaku ke Ditreskrimsus Polda Bali untuk diperiksa dan dimintai keterangan lebih lanju,” kata Kombes Pol. Anom Wibowo, S.I.K., M.Si. di Polda Bali, Senin (26/2/2018).

Perwira lulusan Akpol tahun 1994 ini menjelaskan bahwa sebelum bergabung dengan Depo Pasir Kubu (paguyuban), pelaku memiliki proyek penambangan pasir di Banjar Mekarsari. Akibat erupsi freatik Gunung Agung, lahan proyeknya dialiri lahar dingin. Atas kondisi itu, pihak paguyuban menyarankan untuk menggali di tempat lain dan pelaku pun melakukannya tanpa memiliki ijin.

“Paguyuban tersebut beranggotakan sekitar 40 orang (pengusaha tambang pasir) yang masing-masing secara bergiliran mengirim pasir ke depo sesuai jadwal yang ditentukan oleh depo. Sebagai anggota paguyuban, pelaku wajib menjual pasir hasil pertambangannya kepada depo sebanyak yang depo butuhkan (dalam seminggu sekitar 15 truck pasir super),” terangnya.

Ditambahkannya, pasir-pasir hasil kegiatan penambangan tersebut dijual kepada pembeli yang datang membawa truk oleh pihak depo. Untuk truk pembeli yang datang dari wilayah Karangsem (arah timur depo), mereka bisa langsung membeli ke lokasi penambangan yang ada di wilayah Kubu dengan harga sekitar Rp 500.000 per truk. Sedangkan untuk truk pembeli yang datang dari wilayah Singaraja (arah barat depo) diharuskan membeli di Depo Pasir Kubu, dengan harga Rp 1.100.000 per truk.

“Terhadap I Nyoman Dana Kerti diduga melanggar pasal 158 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan dengan ancaman pidana kurungan maksimal 10 tahun dan denda paling banyak sepuluh miliar rupiah,” beber perwira melati tiga di pundak ini. (binaw/humas-polda.bali/bpn)

Gunung Agung Kembali Tenang

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gunung Agung kembali tenang pasca letusan petang tadi. Informasi dari Pasebaya hujan abu vulkanik tipis telah terjadi di Tulamben, Rubaya, dan Dukuh Kubu.

Aktivitas masyarakat normal. Tidak ada kepanikan di masyarakat Hingga saat ini sebanyak 53.207 jiwa masyarakat masih mengungsi yang tersebar di 233 titik pengungsi. Sementara itu kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap aman dan normal beroperasi. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung tidak menyebar hingga Kota Denpasar.

Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam siaran pers, masyarakat dihimbau tetap tenang. Aktivitas vulkanik Gunung Agung memang masih cukup tinggi dan berstatus Awas sehingga masih dimungkinkan terjadi erupsi dan hembusan. Masyarakat dihimbau tetap mentaati rekomendasi pemerintah bahwa tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. Jangan melakukan pendakian, apalagi berada di sekitar puncak kawah karena sangat berbahaya. Di luar radius 6 kilometer, kondisinya aman dan normal. (r/bpn)

Gunung Agung Kembali Erupsi, 53.207 Jiwa Masih Mengungsi

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gunung Agung kembali erupsi mengeluarkan asap berwarna kelabu kehitaman dengan intensitas tebal bertekanan sedang dengan tinggi kolom 2.500 meter dari puncak kawah pada 11/1/2018 pukul 17.54 WITA. Erupsi dengan amplitudo 27 milimeter dengan lama gempa 130 detik. Asap condong ke arah utara hingga timur laut.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam siaran pers menjelaskan,

aktivitas vulkanik masih cukup tinggi yang ditandai dengan tremor menerus dengan amplitudo 1-13 milimeter (dominan 1 milimeter). Hembusan, gempa vulkanik dalam dan gempa tektonik jauh masih sering terdeteksi oleh Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG di Rendang. Status masih Awas (level 4). Daerah berbahaya hanya berada di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. Di luar radius 6 kilometer kondisinya aman dan normal.

Hujan abu vukanik diperkirakan jatuh di beberapa daerah di sebelah utara hingga timur laut dari Gunung Agung. Sebaran hujan abu tidak jauh dari Gunung Agung karena tinggi kolom erupsi hanya 2.500 meter. Selain itu juga sebagian lereng Gunung Agung cuaca mendung hingga hujan. Informasi dari Pasebaya hujan abu vulkanik tipis telah terjadi di Tulamben, Rubaya, dan Dukuh Kubu. Aktivitas masyarakat normal. Tidak ada kepanikan di masyarakat

Hingga saat ini sebanyak 53.207 jiwa masyarakat masih mengungsi yang tersebar di 233 titik pengungsi. Sementara itu kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap aman dan normal beroperasi. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung tidak menyebar hingga Kota Denpasar.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. Aktivitas vulkanik Gunung Agung memang masih cukup tinggi dan berstatus Awas sehingga masih dimungkinkan terjadi erupsi dan hembusan. Masyarakat dihimbau tetap mentaati rekomendasi pemerintah bahwa tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. Jangan melakukan pendakian, apalagi berada di sekitar puncak kawah karena sangat berbahaya. Di luar radius 6 kilometer, kondisinya aman dan normal. (r/bpn)

Daerah Berbahaya Gunung Agung Diturunkan Menjadi 6 Km, Ribuan Pengungsi Akan Dipulangkan

BALIPORTALNEWS.COM – Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih cukup tinggi dan fluktuatif. Hasil analisis data visual dan instrumental meliputi seismik, deformasi dan geokimia, menunjukkan bahwa saat ini Gunung Agung masih berada dalam fase erupsi. Material erupsi berupa lava yang mengisi kawah, hembusan/letusan abu, dan lontaran batuan di sekitar kawah masih berpotensi terjadi. Data deformasi dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan trend yang stagnan yang mengindikasikan belum ada peningkatan pada sumber tekanan yang signifikan. Perkiraan potensi bahaya saat ini berupa lontaran batu pijar, pasir, kerikil, dan hujan abu pekat juga lahar hujan diperkirakan melanda area di dalam radius 6 kilometer dari kawah.

Mendasarkan pada analisis terkini tersebut maka PVMBG masih menetapkan status Awas (level 4). Namun daerah berbahaya diturunkan yang sebelumnya daerah berbahaya adalah daerah di dalam radius 8-10 kilometer menjadi 6 kilometer. Artinya masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. Penurunan daerah berbahaya ini terhitung mulai Kamis (4/1/2018).

Kepala PVMBG telah melaporkan kepada BNPB untuk mengambil langkah-langkah penanganan pengungsi. Dengan penurunan daerah berbahaya yaitu menjadi di dalam radius 6 kilometer maka ribuan masyarakat yang mengungsi yang berasal dari desa yang aman boleh pulang ke rumahnya masing-masing.

Berdasarkan analisis peta kawasan rawan bencana, terdapat 12 desa di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. 12 desa tersebut harus dikosongkan dan warganya harus mengungsi. Dari 12 desa tersebut terdapat 7 desa yang ada penduduknya dan 5 desa yang tidak ada penduduknya di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah.

7 desa dengan 20 Banjar yang penduduknya masih harus mengungsi adalah:

  1.      Desa Jungutan (Br. Dinas Yeh Kori, Br. Desa Galih),
  2.      Desa Buana Giri (Br. Dinas Tanah Aron, Br. Dinas Bhuana Kerta, Br. Dinas Kemoning, Br. Desa Nangka),
  3.      Desa Sebudi (Br. Dinas Sogra, Br. Dinas Lebih, Br. Dinas Badeg Dukuh, Br. Dinas Telung Buana),
  4.      Desa Besakih (Br. Dinas Temukus),
  5.      Desa Datah (Br. Dinas Kedampel),
  6.      Desa Baturinggit (Br. Dinas Bantas),
  7.      Desa Ban (Br. Dinas Pengalusan, Br. Dinas Cegi, Br. Dinas Daya, Br. Dinas Pucang, Br. Dinas Belong, Br. Dinas Bonyoh, Br. Dinas Cutcut).

Diperkirakan terdapat 17.115 jiwa masyarakat yang tinggal di 7 desa (20 banjar) yang berada di dalam radius 6 kilometer dan masih harus mengungsi. Di luar radius 6 kilometer tersebut kondisinya aman, normal dan masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing. Saat ini sebagian pengungsi telah kembali ke rumahnya masing-masing setelah mendapat informasi desanya aman.

Hingga Kamis (4/1/2018) pagi jumlah pengungsi 70.610 jiwa yang tersebar di 240 titik pengungsian. Pengungsi ini berada di tempat yang jauh dari desa asalnya dan terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Buleleng (9.983 jiwa), Klungkung (10.964 jiwa), Karangasem (42.908 jiwa), Bangli (1.017 jiwa), Tabanan (733 jiwa), Kota Denpasar (748 jiwa), Gianyar (3.507 jiwa), Badung (590 jiwa), dan Jembrana 9205 jiwa).

Agar pemulangan pengungsi dapat berjalan dengan tertib, maka BNPB bersama Satgas Tanggap Darurat Penanganan Erupsi Gunung Agung terus melakukan koordinasi. Pendataan diperlukan untuk pemulangan pengungsi. Kendaraan disiapkan untuk memfasilitasi para pengungsi yang akan pulang. Pasebaya juga terus menginformasikan kepada masyarakat terkait penurunan radius berbahaya Gunung Agung. Bukan hanya pemulangan pengungsi saja yang dilakukan, tapi juga terkait dukungan logistik, pemindahan pengungsi ke titik yang dekat dan lainnya.

Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Gunakan aplikasi Cek Posisi Anda. Pemerintah dan Pemda dibantu unsur lainnya masih berkoordinasi untuk proses pemulangan dan penanganan pengungsi. (humas-bnpb/bpn)

Wapres Jusuf Kalla Kunjungi Pengungsi Erupsi Gunung Agung Karangasem

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Setelah dilakukan upaya lobi-lobi oleh Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri yang didampingi sejumlah staf menghadap ke Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan Jakarta, Jumat tanggal 15 Desember belum lama ini, terkait upaya mencarikan solusi penangulangan bencana erupsi Gunung Agung di Kab.Karangasem menuai hasil. Pasalnya, Sabtu (30/12/2017) Wakil Presiden Jusuf Kalla sesuai dengan janjinya, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Karangasem Bali.

Untuk diketahui, kunjungan Wapres di Pulau Seribu Pura yang juga secara khusus ke Kab. Karangasem ini diagendakan selama empat hari dari tanggal 29 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018 dengan tujuan menjenguk kondisi para pengungsi Gunung Agung di Karangasem juga diagendakan untuk menikmati perayaan tahun baru di Kabupaten Badung.

Kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama rombongan disambut di Posko Induk Siaga Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung Tanah Ampo  oleh Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri bersama Wabup Artha Dipa, Sekdakab Karangasem Adnya Mulyadi beserta jajaran Pemkab.Karangasem, Kapolda, Pangdam IX/Udayana, Anggota DPR RI, Forkopimda Karangasem, BNPB, BPBD Prov. Bali dan BPBD Karangasem, Sabtu (30/12/2017).

Saat meninjau Posko Induk Tanah Ampo, Wakil Presiden mendapatkan penjelasan dari Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, tentang langkah-langkah dan persiapan yang saat ini dilakukan dan telah dilakukan dalam upaya penangganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung.

Selanjutnya Wapres mengunjungi lokasi pengungsi mandiri erupsi gunung agung di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Holtikultura, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem. Wapres beserta rombongan disambut anak-anak pengsungsi sambil menyanyikan lagu selamat datang  Bapak Wakil Presiden di Karangasem.

Kegiatan dilanjutkan dengan seremonial di Wantilan UPT Dinas Pertanian Kec. Rendang yang dilanjutkan dengan penyerahan bantuan oleh Wapres Jusuf Kalla secara simbolis yang diterima perwakilan pengungsi mandiri setempat.

Dalam sambutannya Wapres Jusuf Kalla menyampaikan selamat tahun baru bagi kita semua serta rasa empatinya juga sedih melihat kondisi rakyatnya di pengungsian karena dampak erupsi Gunung Agung yang membuat anak-anak harus bersekolah di pengungsian, tidur di pengungsian, warga lansia, orang tua juga harus di pengungsian,”Saya tentu merasa simpati dan sedih bahwa akibat erupsi gunung agung anak-anak terpaksa bersekolah di sini di pengungsian, tidur di sini, ibu-ibu dan bapak-bapak tentu mengalami kesulitan. Tapi semua itu adalah cobaan dari Tuhan dan mari kita berdoa agar semua ini, segera berlalui,” ujarnya

Orang nomor dua dijajaran Pemerintah Indonesia ini juga meyakinkan kepada para pengungsi bahwa dibalik musibah erupsi Gunung Agung ini mudah-mudahan ke depannya membawa suasana lebih baik dan pengungsi lebih tabah menjalani cobaan ini.

Pihaknya mendoakan semua pengungsi Gunung Agung dapat selesai menghadapi cobaan ini karena rumahnya berada pada radius zona bahaya 8 kilometer dengan perluasan sektoral 10 kilometer dari timur, timur laut, utara, selatan dan barat dari puncak Gunung Agung.

“Perlu diketahui bahwa Gunung Agung itu resiko bahayanya terbatas, hanya diradius 8 km sampai dengan maksimum10 km. Jadi tidak perlu kawatir untuk daerah yang di luar radius untuk tetap beraktifitas seperti biasa. Khususnya anak-anak di pengungsian untuk tetap bersekolah jangan absen, yang ikut pramuka tetap aktif, semoga tidak lama lagi keadaan kembali normal,” ucapnya

Disamping itu, Wapres menekankan bahwa pemerintah juga PMI tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang berada di pengungsian tetaplah bekerja jangan sampai kehilangan kebiasaan untuk bekerja.,”Pemerintah tetap berusaha untuk menormalisasi kehidupan masyarakat. Yang penting, yang sekolah tetap sekolah, yang bekerja tetap bekerja dan pemerintah menjamin semua itu tetap berjalan dengan baik,” pungkasnya.(humas-karangasem/bpn)

Gubernur Pastika Hadiri Upacara Bhumi Sudha di Pura Pengubengan  Besakih

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gubernur Bali Made Mangku Pastika menghadiri persembahyangan serangkaian Upacara Bhumi Sudha yang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem di Pura Pengubengan, Besakih, Senin (18/12/2017).

Disela sela kegiatan upacara, Gubernur Pastika yang didampingi sejumlah Kepala OPD terkait di lingkungan Pemprov Bali menyampaikan bahwasannya upacara yang digelar setiap setahun sekali ini bertujuan untuk nunas kerahayuan jagat Bali, terlebih kondisi Gunung Agung saat ini sedang menggeliat dan aktivitasnya mengalami peningkatan. Disamping itu pula upacara ini digelar dalam rangka menyikapi kondisi alam dan perubahan sasih yang berpotensi adanya berbagai penyakit, bencana dan virus.

“Hari ini kita melaksanakan Upacara Bhuni Sudha, upacara ini adalah untuk mengantisipasi bencana dengan menjaga alam beserta isinya agar semua manusia ingat dengan keberadaan Ibu Pertiwi. Bersama sama kita nunas kerahayuan jagat Bali” imbuhnya.

Upacara Bhumi Sudha di Pura Pengubengan Besakih  di puput oleh  Ida Peranda Wayahan Tianyar Griya Mandara Sidemen Karangasem dan Ida Peranda Buda Gede Jelantik Duaja dari Griya Budakeling, Karangasem. Upacara Bhumi Sudha dilaksanakan sesuai dengan petunjuk sastra babad dewa dan hasil paruman Sulinggih Provinsi Bali dan dilaksanakan di tiga lokasi berbeda yaitu di Pura Pengubengan Besakih, Pura Batur dan Pura Watu Klotok, Klungkung. Dalam pelaksanaanya, Tirta pemarisudha dari Pura Pengubengan Besakih  dan juga dari Pura Batur akan dituntun dan dipusatkan di Pura Segara Watu Klotok, Klungkung.

Setelah tiba di Utama Mandala Pura Watu Klotok, tirta dari dua Pura tersebut dicampur lagi dengan tirta di Pura Watu Klotok yang juga diawali dengan  persembahyangan bersama. Selanjutnya, ketiga tirta yang telah dicampur tersebut dibagikan kepada seluruh bendesa baik dari Kabupaten Klungkung maupun dari Kabupaten/Kota lainnya di Bali.Tirta yang dibagikan tersebut terdiri dari dua jenis, yakni tirta penawar yang dipercikkan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sementara tirta bumisudha dipercikkan untuk banten pengenteg hyang dan untuk diri sendiri. Selain tirta, dalam upacara ini juga dibagikan nasi tawur. Nasi tawur panukun jiwa tersebut nantinya ditebar di areal pakarangan rumah hingga ke pintu gerbang atau jaba pekarangan. (humas-bali/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
6PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
79PengikutMengikuti
16PelangganBerlangganan