Daerah Berbahaya Gunung Agung Diturunkan Menjadi 6 Km, Ribuan Pengungsi Akan Dipulangkan

BALIPORTALNEWS.COM – Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih cukup tinggi dan fluktuatif. Hasil analisis data visual dan instrumental meliputi seismik, deformasi dan geokimia, menunjukkan bahwa saat ini Gunung Agung masih berada dalam fase erupsi. Material erupsi berupa lava yang mengisi kawah, hembusan/letusan abu, dan lontaran batuan di sekitar kawah masih berpotensi terjadi. Data deformasi dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan trend yang stagnan yang mengindikasikan belum ada peningkatan pada sumber tekanan yang signifikan. Perkiraan potensi bahaya saat ini berupa lontaran batu pijar, pasir, kerikil, dan hujan abu pekat juga lahar hujan diperkirakan melanda area di dalam radius 6 kilometer dari kawah.

Mendasarkan pada analisis terkini tersebut maka PVMBG masih menetapkan status Awas (level 4). Namun daerah berbahaya diturunkan yang sebelumnya daerah berbahaya adalah daerah di dalam radius 8-10 kilometer menjadi 6 kilometer. Artinya masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. Penurunan daerah berbahaya ini terhitung mulai Kamis (4/1/2018).

Kepala PVMBG telah melaporkan kepada BNPB untuk mengambil langkah-langkah penanganan pengungsi. Dengan penurunan daerah berbahaya yaitu menjadi di dalam radius 6 kilometer maka ribuan masyarakat yang mengungsi yang berasal dari desa yang aman boleh pulang ke rumahnya masing-masing.

Berdasarkan analisis peta kawasan rawan bencana, terdapat 12 desa di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah. 12 desa tersebut harus dikosongkan dan warganya harus mengungsi. Dari 12 desa tersebut terdapat 7 desa yang ada penduduknya dan 5 desa yang tidak ada penduduknya di dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah.

7 desa dengan 20 Banjar yang penduduknya masih harus mengungsi adalah:

  1.      Desa Jungutan (Br. Dinas Yeh Kori, Br. Desa Galih),
  2.      Desa Buana Giri (Br. Dinas Tanah Aron, Br. Dinas Bhuana Kerta, Br. Dinas Kemoning, Br. Desa Nangka),
  3.      Desa Sebudi (Br. Dinas Sogra, Br. Dinas Lebih, Br. Dinas Badeg Dukuh, Br. Dinas Telung Buana),
  4.      Desa Besakih (Br. Dinas Temukus),
  5.      Desa Datah (Br. Dinas Kedampel),
  6.      Desa Baturinggit (Br. Dinas Bantas),
  7.      Desa Ban (Br. Dinas Pengalusan, Br. Dinas Cegi, Br. Dinas Daya, Br. Dinas Pucang, Br. Dinas Belong, Br. Dinas Bonyoh, Br. Dinas Cutcut).

Diperkirakan terdapat 17.115 jiwa masyarakat yang tinggal di 7 desa (20 banjar) yang berada di dalam radius 6 kilometer dan masih harus mengungsi. Di luar radius 6 kilometer tersebut kondisinya aman, normal dan masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing. Saat ini sebagian pengungsi telah kembali ke rumahnya masing-masing setelah mendapat informasi desanya aman.

Hingga Kamis (4/1/2018) pagi jumlah pengungsi 70.610 jiwa yang tersebar di 240 titik pengungsian. Pengungsi ini berada di tempat yang jauh dari desa asalnya dan terdapat di 9 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Buleleng (9.983 jiwa), Klungkung (10.964 jiwa), Karangasem (42.908 jiwa), Bangli (1.017 jiwa), Tabanan (733 jiwa), Kota Denpasar (748 jiwa), Gianyar (3.507 jiwa), Badung (590 jiwa), dan Jembrana 9205 jiwa).

Agar pemulangan pengungsi dapat berjalan dengan tertib, maka BNPB bersama Satgas Tanggap Darurat Penanganan Erupsi Gunung Agung terus melakukan koordinasi. Pendataan diperlukan untuk pemulangan pengungsi. Kendaraan disiapkan untuk memfasilitasi para pengungsi yang akan pulang. Pasebaya juga terus menginformasikan kepada masyarakat terkait penurunan radius berbahaya Gunung Agung. Bukan hanya pemulangan pengungsi saja yang dilakukan, tapi juga terkait dukungan logistik, pemindahan pengungsi ke titik yang dekat dan lainnya.

Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Gunakan aplikasi Cek Posisi Anda. Pemerintah dan Pemda dibantu unsur lainnya masih berkoordinasi untuk proses pemulangan dan penanganan pengungsi. (humas-bnpb/bpn)

Wapres Jusuf Kalla Kunjungi Pengungsi Erupsi Gunung Agung Karangasem

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Setelah dilakukan upaya lobi-lobi oleh Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri yang didampingi sejumlah staf menghadap ke Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan Jakarta, Jumat tanggal 15 Desember belum lama ini, terkait upaya mencarikan solusi penangulangan bencana erupsi Gunung Agung di Kab.Karangasem menuai hasil. Pasalnya, Sabtu (30/12/2017) Wakil Presiden Jusuf Kalla sesuai dengan janjinya, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Karangasem Bali.

Untuk diketahui, kunjungan Wapres di Pulau Seribu Pura yang juga secara khusus ke Kab. Karangasem ini diagendakan selama empat hari dari tanggal 29 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018 dengan tujuan menjenguk kondisi para pengungsi Gunung Agung di Karangasem juga diagendakan untuk menikmati perayaan tahun baru di Kabupaten Badung.

Kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama rombongan disambut di Posko Induk Siaga Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung Tanah Ampo  oleh Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri bersama Wabup Artha Dipa, Sekdakab Karangasem Adnya Mulyadi beserta jajaran Pemkab.Karangasem, Kapolda, Pangdam IX/Udayana, Anggota DPR RI, Forkopimda Karangasem, BNPB, BPBD Prov. Bali dan BPBD Karangasem, Sabtu (30/12/2017).

Saat meninjau Posko Induk Tanah Ampo, Wakil Presiden mendapatkan penjelasan dari Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, tentang langkah-langkah dan persiapan yang saat ini dilakukan dan telah dilakukan dalam upaya penangganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung.

Selanjutnya Wapres mengunjungi lokasi pengungsi mandiri erupsi gunung agung di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Holtikultura, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem. Wapres beserta rombongan disambut anak-anak pengsungsi sambil menyanyikan lagu selamat datang  Bapak Wakil Presiden di Karangasem.

Kegiatan dilanjutkan dengan seremonial di Wantilan UPT Dinas Pertanian Kec. Rendang yang dilanjutkan dengan penyerahan bantuan oleh Wapres Jusuf Kalla secara simbolis yang diterima perwakilan pengungsi mandiri setempat.

Dalam sambutannya Wapres Jusuf Kalla menyampaikan selamat tahun baru bagi kita semua serta rasa empatinya juga sedih melihat kondisi rakyatnya di pengungsian karena dampak erupsi Gunung Agung yang membuat anak-anak harus bersekolah di pengungsian, tidur di pengungsian, warga lansia, orang tua juga harus di pengungsian,”Saya tentu merasa simpati dan sedih bahwa akibat erupsi gunung agung anak-anak terpaksa bersekolah di sini di pengungsian, tidur di sini, ibu-ibu dan bapak-bapak tentu mengalami kesulitan. Tapi semua itu adalah cobaan dari Tuhan dan mari kita berdoa agar semua ini, segera berlalui,” ujarnya

Orang nomor dua dijajaran Pemerintah Indonesia ini juga meyakinkan kepada para pengungsi bahwa dibalik musibah erupsi Gunung Agung ini mudah-mudahan ke depannya membawa suasana lebih baik dan pengungsi lebih tabah menjalani cobaan ini.

Pihaknya mendoakan semua pengungsi Gunung Agung dapat selesai menghadapi cobaan ini karena rumahnya berada pada radius zona bahaya 8 kilometer dengan perluasan sektoral 10 kilometer dari timur, timur laut, utara, selatan dan barat dari puncak Gunung Agung.

“Perlu diketahui bahwa Gunung Agung itu resiko bahayanya terbatas, hanya diradius 8 km sampai dengan maksimum10 km. Jadi tidak perlu kawatir untuk daerah yang di luar radius untuk tetap beraktifitas seperti biasa. Khususnya anak-anak di pengungsian untuk tetap bersekolah jangan absen, yang ikut pramuka tetap aktif, semoga tidak lama lagi keadaan kembali normal,” ucapnya

Disamping itu, Wapres menekankan bahwa pemerintah juga PMI tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang berada di pengungsian tetaplah bekerja jangan sampai kehilangan kebiasaan untuk bekerja.,”Pemerintah tetap berusaha untuk menormalisasi kehidupan masyarakat. Yang penting, yang sekolah tetap sekolah, yang bekerja tetap bekerja dan pemerintah menjamin semua itu tetap berjalan dengan baik,” pungkasnya.(humas-karangasem/bpn)

Gubernur Pastika Hadiri Upacara Bhumi Sudha di Pura Pengubengan  Besakih

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gubernur Bali Made Mangku Pastika menghadiri persembahyangan serangkaian Upacara Bhumi Sudha yang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kanem di Pura Pengubengan, Besakih, Senin (18/12/2017).

Disela sela kegiatan upacara, Gubernur Pastika yang didampingi sejumlah Kepala OPD terkait di lingkungan Pemprov Bali menyampaikan bahwasannya upacara yang digelar setiap setahun sekali ini bertujuan untuk nunas kerahayuan jagat Bali, terlebih kondisi Gunung Agung saat ini sedang menggeliat dan aktivitasnya mengalami peningkatan. Disamping itu pula upacara ini digelar dalam rangka menyikapi kondisi alam dan perubahan sasih yang berpotensi adanya berbagai penyakit, bencana dan virus.

“Hari ini kita melaksanakan Upacara Bhuni Sudha, upacara ini adalah untuk mengantisipasi bencana dengan menjaga alam beserta isinya agar semua manusia ingat dengan keberadaan Ibu Pertiwi. Bersama sama kita nunas kerahayuan jagat Bali” imbuhnya.

Upacara Bhumi Sudha di Pura Pengubengan Besakih  di puput oleh  Ida Peranda Wayahan Tianyar Griya Mandara Sidemen Karangasem dan Ida Peranda Buda Gede Jelantik Duaja dari Griya Budakeling, Karangasem. Upacara Bhumi Sudha dilaksanakan sesuai dengan petunjuk sastra babad dewa dan hasil paruman Sulinggih Provinsi Bali dan dilaksanakan di tiga lokasi berbeda yaitu di Pura Pengubengan Besakih, Pura Batur dan Pura Watu Klotok, Klungkung. Dalam pelaksanaanya, Tirta pemarisudha dari Pura Pengubengan Besakih  dan juga dari Pura Batur akan dituntun dan dipusatkan di Pura Segara Watu Klotok, Klungkung.

Setelah tiba di Utama Mandala Pura Watu Klotok, tirta dari dua Pura tersebut dicampur lagi dengan tirta di Pura Watu Klotok yang juga diawali dengan  persembahyangan bersama. Selanjutnya, ketiga tirta yang telah dicampur tersebut dibagikan kepada seluruh bendesa baik dari Kabupaten Klungkung maupun dari Kabupaten/Kota lainnya di Bali.Tirta yang dibagikan tersebut terdiri dari dua jenis, yakni tirta penawar yang dipercikkan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sementara tirta bumisudha dipercikkan untuk banten pengenteg hyang dan untuk diri sendiri. Selain tirta, dalam upacara ini juga dibagikan nasi tawur. Nasi tawur panukun jiwa tersebut nantinya ditebar di areal pakarangan rumah hingga ke pintu gerbang atau jaba pekarangan. (humas-bali/bpn)

Wagub Sudikerta Salurkan Bantuan Untuk Pengungsi di Desa Culik dan Desa Datah, Karangasem

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Kondisi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem yang hingga kini masih mengalami erupsi dengan status level IV (awas) membuat masyarakat yang berada di wilayah Kawasan Rawan Bancana (KRB) III harus berada cukup lama di Posko Pengungsian, hal ini jelas akan mengganggu perekonomian mereka serta kebutuhan sehari-harinya.

Untuk meringankan beban para pengungsi, Kamis (14/12/2017) siang Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta menyalurkan bantuan ke Posko Pengungsian di Banjar Seloni dan Banjar Dinas Amertasari, Desa Culik serta di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem.

Kehadiran Wagub Sudikerta disambut baik masyarakat pengungsi yang berada di balai banjar setempat. Pada kesempatan tersebut, Sudikerta mengatakan jika penyaluran bantuan ini merupakan kepedulian pemerintah atas kejadian bencana alam erupsi Gunung Agung yang terjadi.

“Hari ini kita menyalurkan bantuan untuk masyarakat pengungsi yang ada di posko pengungsian di Desa Culik dan Desa Datah. Ini merupakan kepedulian pemerintah terhadap masyarakatnya yang saat ini terdampak erupsi Gunung Agung. Ini merupakan bencana alam, kita tidak bisa menolaknya, tapi kita bisa menghindarinya dengan cara mengungsi ketempat aman,” ujar Sudikerta.

Ditambahkan Orang nomor Dua di Pemprov Bali tersebut, kejadian ini belum diketahui hingga sampai kapan akan berakhir. Tentu hal ini akan mengganggu mata pencaharian masyarakat, sehingga akan menjadi masalah untuk jangka panjangnya. Untuk itu, ia berharap bencana ini bisa cepat selesai agar perekonomian masyarakat bisa kembali normal dan pengungsi bisa kembali beraktifitas seperti biasa.

“Kita semua tidak tau kapan semua ini akan berakhir, yang pasti kita harus tetap waspada dan menjaga diri serta keluarga lainnya. Belum pastinya kapan Gunung Agung akan selesai erupsi atau meletus, membuat kita harus menjadi lebih lama di pengungsian, tentu kita semua harus memikirkan juga jangka panjangnya nanti seperti apa. Karena ini terkait dengan pasokan logistik, mata pencarian dan yang lainnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut menurut Sudikerta, agar tidak mengalami kejenuhan selama berada di posko pengungsian, para pengungsi di minta untuk lebih aktif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat agar kejenuhan selama di pengungsian bisa terhilangkang.

“Para pengungsi pasti jenuh, coba lebih aktif lagi dan lakukan kegiatan positif yang bisa bermaanfaat selama di pengungsian. Contohnya membuat kerajinan, membuat anyaman. Ya, lebih aktif lagi jangan hanya berdiam diri,” pintanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Sudikerta didampingi Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri menyerahkan sejumlah uang dan sembako di masing-masing posko pengungsian.

Sementara itu, Camat Abang I Gusti Nyoman Darsana yang turut mendampingi penyerahan bantuan mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada pemerintah yang telah peduli kepada masyarakatnya yang saat ini tengah berada di posko pengungsian. Ia berharap agar penanganan pengungsi bisa terus diperhatikan agar kebutuhan logistik bisa berjalan lancar. Dijelaskan Darsana, di Desa Culik sendiri terdapat 942 jiwa pengungsi. Sedangkan untuk pengungsi di Desa Datah berjumlah 904 jiwa. (humas-bali/bpn)

Peduli, Kapolres Badung Serahkan Bantuan Untuk Pengungsi

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Status Awas Gunung Agung menyisakan kisah pilu terhadap para pengungsi, para pengungsi ini mengaku tak bisa berbuat banyak selain menunggu dan menunggu di perbolehkan untuk pulang kembali ke kampung halamannya untuk beraktifitas memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun di balik kepiluan itu, mereka sangat bangga dengan kepedulian masyarakat, aparat pemerintah yang selalu memberikan perhatian kepada mereka.Hal itu disampaikan salah satu pengungsi yang di tampung di Balai Subak Gaga Banjar Bindu Desa Mekar Bhuana Kecamatan Abiansemal Badung pada saat Kapolres Badung AKBP Yudith satriya Hananta,S.I.K didampingi Kapolsek Abiansemal mengunjungi tempat pengungsian, Rabu (6/12/2017).

Di hadapan orang nomor satu di Polres Badung ini, perwakilan pengungsi mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas perhatian Kapolres badung dan jajarannya serta masyarakat yang telah membantu baik secara moril dan material sehuingga beban yang mereka rasakan berkurang.

AKBP Yudith Satriya Hananta,S.I.K memberikan pesan pesan penyemangat agar para pengungsi tabah dalam menjalani ujian ini, mengajak agar tidak menjadikan sebuah beban yang sangat berat walaupun ujian ini cukup berat, masih banyak yang peduli terhadap kondisi seperti sekarang ini, selain itu AKBP Yudith Satriya Hananta,S.I.K juga mengajak para pengungsi untuk menjaga kesehatannya dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Pada akhir kunjungannya, disaksikan kelihan Dinas Banjar Bindu dan Pekaseh Subak Gaga serta pengungsi lainnya, pemegang tongkat Komando di Polres Badung ini menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan pokok seperti beras, mie instan, telur, minyak goring, gula, kopi dan teh kepada pengungsi yang berjumlah 28 orang terdiri dari 8 kepala keluarga ini.

“Kami sangat merasakan beban yang mereka rasakan, untuk itu kami menyerahkan sedikit bantuan ini denfgan harapan dapat meringankan beban para pengungsi akibat status awas Gunung Agung ini,” ungkap mantan Kapolres Muna ini. (guz/humas-polres.badung/bpn)

Pastikan KRB Steril, Kapolda Bali Berada 3,5 Km dari Kawah Gunung Agung

BALIPORTALNEWS.COM – Hujan lebat dan banjir lahar dingin, tak menyurutkan niat Kapolda Bali, Irjen Pol Dr. Petrus Reihard Golose menuju lokasi KRB (Kawasan Rawan Bencana). Kapolda nekat menerobos masuk KRB, guna memastikan wilayah ini sudah steril dari penduduk sekaligus ingin melihat langsung penomena banjir lahar dingin.

Bahkan, Kapolda bersama Pejabat Utama Polda Bali maupun Polres Karangasem, langsung naik gunung hingga hanya berjarak 3,5 km dari puncak Gunung Agung, sekitar pukul 10.00 wita.

Kapolda Bali didampingi Karo Ops Polda Bali, Kasat Brimob, Dir. Sabhara, Kabid TI, Dir. Intel, Dir. Lantas, Koorspripim Polda Bali dan Kapolres Karangasem AKBP I Wayan Gede Ardana, S.I.K., M.Si. Saat tiba di KRB III, Kapolda langsung menuju Banjar Dinas Untalan, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem.

Di sana, Kapolda Bali melihat langsung aliran banjir lumpur atau banjir lahar dingin di Tukad Krekuk. Tukad ini memotong wilayah Banjar Dinas Untalan dengan Banjar Dinas Galih, Desa Jungutan.

Bhabinkamtibmas Desa Jungutan Aiptu I Made Sudani dihadapan Kapolda Bali, menyampaikan banjir lahar dingin di tukad itu sudah terjadi 27 November lalu. Sebelum terjadi banjir, sehari sebelumnya juga turun hujan abu.

Setelah turun hujan lebat, banjir lahar dingin kembali terjadi di tempat ini dengan debit air bercampur lumpur cukup besar, Kamis (30/11/2017) siang. Beberapa anak sungai lainnya juga dialiri lahar dingin, seperti di Tukad Yeh Sah, Desa Muncan, Tukad Bambangbiaung dan Tukad di Geriana Kangin, Kecamatan Selat.

Pada kesempatan tersebut, Kapolda memperingatkan warga agar tidak berada terlalu dekat sungai yang teraliri banjir lahar dingin. Sebab, volume banjir seketika bisa membesar dan menghanyutkan benda di sekitarnya, karena tekanannya cukup besar.

Setelah dari Untalan, rombongan Kapolda Bali menyusuri kaki Gunung Agung menuju Pura Pasar Agung dan Pura Tirta di Banjar Yeh Kori, Desa Sibetan. Wilayah ini masuk kategori KRB III. Dalam perjalanan itu, rombongan Kapolda Bali melihat langsung tebalnya lumpur yang menutupi jalan dan keringnya padang gajah milik petani, akibat abu vulkanik Gunung Agung. “Ini sangat berbahaya, karena jaraknya hanya 3,5 km dari kawah Gunung Agung,” ujarnya.

Kapolres Karangasem AKBP I Wayan Gede Ardana, S.I.K., M.Si. menegaskan kegiatan turun langsung ke lokasi KRB III ini untuk memastikan langkah-langkah yang dilakukan jajaran kepolisian sudah berjalan dengan baik. “Warga semua sementara harus mengungsi. Kami turun ingin memastikannya. Selain itu, juga untuk menentukan langkah-langkah berikutnya dengan berkoordinasi dengan pihak terkait,” tegasnya. (binaw/humas-polda.bali/bpn)

Wabup Artha Dipa : Ini Banjir Akibat Hujan becampur Abu, Bukan Lahar Dingin

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Pasca ditetapkannya kembali status Awas (Level IV) Gunung Agung Kab. Karangasem Bali oleh PVMBG, muncul beragam kesimpangsiuran informasi lewat sosial media (info hoax).  Teranyar, di beberapa titik aliran sungai terjadi banjir pekat yang banyak disalah artikan oleh masyarakat awam sebagai banjir lahar dingin.

Menyikapi hal tersebut,  Wakil Bupati Artha Dipa didampingi Kapolsek Selat,  Kamtibmas Kec Rendang, Camat Selat, Camat Rendang, Perbekel Muncan dan tokoh masyarakat desa Muncan meninjau langsung banjir yang terjadi di Tukad Yeh Sah Desa Muncan, Senin (27/11/2017).

Wabup Artha Dipa menyatakan bahwa banjir ini bukan lahar dingin.Kondisi ini terjadi akibat hujan deras di hulu bercampur abu dan lumpur akibat hujan abu yang melanda beberapa wilayah Kab. Karangasem dan sekitarnya. “Bukan. Ini Banjir Akibat Hujan Abu, Bukan Lahar Dingin. Bedakan mana banjir lumpur, mana banjir lahar dingin. Untuk itu perlu dikoordinasikan dengan pihak BPBD jika masyarakat ragu atas fenomena alam yang terjadi saat ini, jangan langsung menyimpulkan sendiri sehingga membuat yang lain panik, ” imbuhnya.

Artha Dipa menghimbau masyarakat tidak panik namun tetap waspada dan selalu berkordinasi dengan pimpinan setempat untuk segala proses evakuasi erupsi Gunung Agung. “Tentunya kami pemerintah berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat agar kita semua terehindar dari bencana erupsi Gunung Agung dan semuanya selamat tidak ada satu pun yang mengalami masalah atau korban,” terangnya.

Sementara itu,  Perebekel Muncan  I Gusti Lanang Ngurah menambahkan, banjir ini terjadi sekitar pukul 01.00 Wita sampai sekarang. “Air begitu deras dan besar hingga pepohonan hanyut pula. Sebelumnya sempat mengecil lalu tadi pagi debit air membesar lagi,” ujarnya.

Warga sekitar juga menuturkan sejam sebelum banjir lumpur terjadi, kemarin warga mendengar gemuruh dan dentuman keras dari arah kawah Gunung Agung sebanyak dua kali sekitar pukul 21.00 Wita sampai kurang lebih pukul 23.00 Wita. (humas-karangasem/bpn)

Mas Sumatri-Artha Dipa Turun Langsung Kunjungi Pengungsi Warga Tihing Seka

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Minggu malam  (26/11/2017) sekitar pukul 19.30 Wita, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri bersama Wabup Artha Dipa didampingi Sekda Adnya Mulyadi, Camat Bebandem dan Kabag Humas turun langsung kunjungi 35 KK warga Banjar Dinas Tihing Seka Desa Bebandem Karangasem yang medunungan (mengungsi) di Balai Masyarakat Desa Bebandem, Karangasem.

Mengungsinya 35 KK warga Tihing Seka  Desa Bebandem itu  akibat kembali meletusnya Gunung Agung pada Sabtu malam (25/11) pukul 21.00 Wita, kemarin, yang mana sebelumnya Gunung Agung mengawali letusan pada Selasa 21 Nopember 2017, pukul 17:05 Wita.

Dalam kesempatan itu, Bupati Mas Sumatri menyampaikan pada warga Tihing Seka Desa Bebandem untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah beserta aparatur terkait lainnya untuk mengikuti arahan dan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi agar warga di Zona Siaga tetap untuk mengungsi. (humas-karangasem/bpn)

Letusan Freatik Ketiga Gunung Agung, Vona Berwarna Orange

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Gunung Agung untuk ketiga kalinya meletus freatik pada Pukul 19.13 Wita, Sabtu (25/11/2017). Sebelumnya letusan freatik juga terjadi pada pukul 17.20 Wita.

Sementara itu untuk Vona, saat ini sudah berwarna orange. Kepulan asap tebal di puncak Gunung Agung cukup mengundang perhatian warga.

Beberapa nampak serius mengamati asap yang diperkirakan berasal dari erupsi. Namun demikian, warga belum berencana untuk mengungsi karena masih menunggu imbauan resmi pemerintah.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Kamil Devy Syahbana membenarkan bahwa gunung tertinggi di Pulau Dewata ini kembali mengalami erupsi freatik. Kata Devy, kolom abu saat erupsi teramati berwarna kelabu kehitaman dengan tekanan sedang.

Kepulan asap mencapai ketinggian 1.500 meter dari puncak gunung. Ketinggian ini jauh lebih tinggi ketika saat letusan freatik pada 21 November lalu yang hanya mencapai 600-700 meter di puncak..

“Kita minta masyarakat agar tetap tenang dan tetap mengikuti rekomendasi PVMBG. Gunung masih tetap pada status Level III (Siaga). Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 kilometer ditambah perluasan sektoral sejauh 7.5 km ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya,” imbaunya.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh. (balisiagabencana/bpn)