24 C
Denpasar
Rabu, 22 Agustus 2018

Pengumuman Nama Pembicara dan Peluncuran Tiket Tahap Awal Ubud Writers & Readers Festival 2018

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) akan kembali hadir di Ubud, Bali pada tanggal 24-28 Oktober 2018. Penyelenggaraan UWRF ke-15 ini bertemakan ‘Jagadhita’, diambil dari sebuah filosofi Hindu yang berbicara mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan di jagat raya,serta sebuah pencarian manusia akan keselarasan dalam konsep tersebut.

Pada hari ini, Senin (16/07/2018), UWRF resmi meluncurkan 16 nama pembicara tahap awal yang akan mengisi Festival, beserta dengan penjualan tiket Early Bird. Keanekaragaman budaya dan kreativitas yang luar biasa dari bangsa ini tercermin dari para pembicara tahap awal UWRF 2018. Salah satu pelopor sastra modern Indonesia, Dewi Lestari, akan bergabung dengan Putu Fajar Arcana, sastrawan asal Bali yang merupakan tokoh di balik lahirnya Kelas Cerpen Kompas.

Ada pula nama para pembicara lain yang tidak kalah mengagumkan seperti Haidar Bagir yang merupakan seorang penulis, filantropis, dan pendiri salah satu penerbitan terbesar di Indonesia, Mizan Group. Baru-baru ini, Haidar Bagir menerima Global Business & Interfaith Peace Award setelah menggelar dialog antaragama.

UWRF juga menghadirkan Avianti Armand, penyair sekaligus arsitek yang berhasil memimpin tim kuratorial Indonesia dalam 14th International Architecture Exhibition di Venice tahun 2014; serta penulis sekaligus penyair populer Indonesia, M Aan Mansyur. M Aan Mansyur merupakan salah satu kurator Makassar International Writers Festival.

Bukan sebatas para penulis, Festival juga akan menyambut Kamila Andini, sineas muda Indonesia yang telah sukses menyutradarai film berjudul Sekala Niskala. Film tersebut merupakan salah satu film terbaru Indonesia yang paling terkenal, diputar perdana di Toronto International Film Festival 2017, telah menerima Grand Jury Prize di Tokyo Filmex, dan Generation Kplus Grand Prix di Berlinale. Kamila Andini hadir bersama Richard Oh, sutradara kawakan Indonesia yang rencananya akan menayangkan film terbarunya Love is a Bird secara perdana di UWRF 2018.

Yang paling spesial, Nyoman Nuarta juga menjadi salah satu pembicara Festival tahun ini. Nyoman Nuarta adalah seniman patung kenamaan Indonesia, pengagas proyek Mandala Garuda Wisnu Kencana, mega proyek di Bali yang akan diselesaikan setelah 28 tahun tertunda. Pada tanggal 17 Agustus 2018 di Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73 mendatang, Bali akan menjadi rumah bagi patung tertinggi di dunia.

Selain nama-nama pembicara nasional tersebut, UWRF 2018 juga menghadirkan deretan nama pembicara internasional tahap awal yang tidak kalah menarik. Mereka memiliki berbagai latar belakang yang berbeda, terdiri dari penulis, penyair, sutradara, pemain teater, dokter, penari, bahkan akademisi.

Dengan bangga, Festival akan menyambut Hanif Kureishi, seorang pemain teater, penulis skenario, dan sutradara, yang baru-baru ini tersorot publik internasional karena membela kebijakan keragaman yang dikeluarkan oleh Penguin, sebuah penerbitan internasional.

Ada pula Profesor Gillian Triggs, yang menjabat sebagai Presiden Komisi Hak Asasi Manusia Australia pada 2012-2017. Selama masa jabatannya, Profesor Triggs telah berjasa melakukan penyelidikan kasus anak-anak dalam tahanan imigrasi, yang kemudian memunculkan kontroversi di antara hak politik dan media konservatif.

Kim Scott, seorang novelis kawakan Australia yang karya pertamanya Benang (1999) memenangkan Miles Franklin Award, hadiah sastra tertinggi di Australia, juga akan hadir dalam panel diskusi dalam UWRF 2018.

Penyair kenamaan India sekaligus novelis dan penari, Tishani Doshi, yang baru-baru ini tersorot karena responnya terhadap masalah kekerasan terhadap perempuan di India pada Festival Hay 2018, akan hadir bersama penulis, sutradara, dan dokter asal Nigeria, UzodinmaIweala. Iweala juga merupakan CEO dari The Africa Centre di New York, yang mempromosikan narasi baru tentang Afrika dan diasporanya yang lebih berfokus pada sisi budaya, kebijakan, dan bisnis.

Penulis memoar dan novelis Pakistan, Fatima Bhutto akan kembali ke UWRF setelah penampilan pertamanya di tahun 2008. Sementara itu, fokus tentang kesetaraan dan hak eksklusif dalam dunia penerbitan, penulis asal Singapura kelahiran Indonesia bernama Clarissa Goenawan, akan hadir bersama Geoff Dyer, anggota Royal Society of Literature yang karya-karyanya telah diterjemahkan dalam 24 bahasa.

Ke-16 nama pembicara di atas akan membawakan karya-karya terbaiknya yang berkaitan dengan tema terpilih UWRF 2018, ‘Jagadhita’, yang diartikan sebagai ‘The World We Create’. Selama lima hari penyelenggaraan Festival, UWRF mengajak para pengunjungnya untuk mempertimbangkan kembali seperti apa dunia yang telah kita ciptakan, maupun peristiwa-peristiwa di dunia yang dengan atau tanpa sengaja telah berlangsung karena kehadiran manusia. Kita akan bersama-sama mengurai masalah dan menemukan solusi bagi dunia yang selama ini kita tinggali.

Sejak digelar pertama kali sebagai usaha pemulihan atas tragedi bom Bali yang pertama, Ubud Writers & Readers Festival menjadi salah satu Festival terbaik untuk bertukar ide, inspirasi, dan gagasan dari seluruh dunia. Para sastrawan, cendekiawan, seniman, pegiat, dan akademisi telah sama-sama saling membagi kisah dan suara hebatnya dalam Festival ini.

“Kami sangat bangga mengumumkan pembicara tahap awal Ubud Writers & Readers Festival tahun ini,” ujar Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe. “Berawal dari ide sederhana 15 tahun yang lalu, kami telah berkembang menjadi wadah yang cukup dikenal untuk menampilkan para penulis dan seniman, baik mereka yang masih baru atau yang sudah ternama. Festival ini telah menjadi salah satu acara sastra dan seni terkemuka di dunia,” lanjutnya.

“Kami menyatukan suara-suara paling berpengaruh di dunia dalam sebuah diskusi penting dan pertukaran ide yang berharga. Tahun lalu, kami menyambut pembicara yang berasal dari lebih 30 negara. Tahun ini pun, ada lebih banyak negara yang diwakili. Di UWRF, batas budaya dan geografis seolah hilang saat para pembicara dan peserta panel kami membaur menjadi sebuah komunitas global”.

“Saya mengundang Anda semua untuk bergabung dengan kami dalam merayakan tahun ke-15 UWRF sebagai festival inspirasi dan gagasan terkemuka di Asia Tenggara,” tutup Janet DeNeefe. (r/bpn)

Karya 5 Penulis Emerging  dari Penjuru Nusantara Terpilih untuk Ditampilkan dalam Ubud Writers & Readers Festival 2018

BALIPORTLANEWS.COM, GIANYAR – Sejak tahun 2008, Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), mengadakan seleksi penulis emerging sebagai wadah bagi para penulis-penulis berbakat Indonesia untuk menampilkan karya-karya terbaik serta membuka jalan di dunia kepenulisan yang lebih matang dan profesional. Pada tahun yang spesial ini, yaitu tahun ke-15 penyelenggaraan UWRF, Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga mengumumkan bahwa lima penulis emerging telah terpilih untuk tampil dalam perhelatan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara yang akan diselenggarakan pada tanggal 24-28 Oktober 2018.

Dari rapat kuratorial yang diadakan di kantor Yayasan Mudra Swari Saraswati di Ubud pada hari Kamis, tanggal 21 Juni lalu, terangkum nama-nama penulis emerging yang berhasil terpilih; Andre Septiawan dari Pariaman, Sumatera Barat, Pratiwi Juliani dari Rantau, Kalimantan Selatan, Rosyid H. Dimas dari Yogyakarta, Reni Nuryanti dari Aceh, dan Darmawati Majid dari Bone, Sulawesi Selatan. Lima nama tersebut dipilih langsung oleh Dewan Kurator UWRF 2018 yang terdiri dari penulis, jurnalis, serta sastrawan Indonesia, yaitu Leila S. Chudori, Putu Fajar Arcana, dan Warih Wisatsana.

Masa pengumpulan karya untuk seleksi penulis emerging UWRF berlangsung mulai bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Dalam rentang waktu tersebut, terkumpul 850 karya dari penulis-penulis yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Karya-karya tersebut terdiri dari cerpen, puisi, novel, esai, non fiksi, naskah drama, dan banyak jenis sastra lainnya. Pembacaan awal, yang dilakukan oleh Indonesian Program Manager UWRF, I Wayan Juniarta, menghasilkan sebuah daftar nominasi terdiri atas karya-karya dari sepuluh

penulis. Karya-karya inilah yang kemudian dibaca dan didiskusikan oleh para Kurator.

Dewan Kurator UWRF 2018 mencermati bahwa terdapat dua benang merah yang menghubungkan karya-karya para penulis yaitu sosok ibu dan kehadiran keluarga. “Sosok ibu yang muncul dalam karya-karya para penulis merupakan refleksi baik ibu secara harfiah, sosok perempuan yang melahirkan dan merawat, maupun ibu secara simbolis dan ideologis, sebagai metafora dari bangsa serta agama, juga keyakinan pribadi tertentu,” ujar Warih Wisatsana saat rapat kurasi berlangsung.

“Secara umum, karya-karya para penulis yang tercantum dalam daftar nominasi mencerminkan peningkatan yang menggembirakan dengan kemampuan mengolah cerita, bertutur, dan penggunaan diksi yang terasah. Meski ada beberapa tema yang sudah pernah digali, para penulis ini mampu menampilkan sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa maupun kejadian yang selama ini telah teramat sering ditulis. Selain itu, para penulis juga menunjukkan kecakapan berbahasa yang mengejutkan,” ujar Leila S. Chudori menambahi.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Yayasan Mudra Swari Saraswati hanya memilih lima penulis emerging. Hal ini mencerminkan komitmen UWRF untuk menempatkan kualitas karya sebagai parameter yang paling utama dalam proses seleksi. “Kualitas karya selalu menjadi parameter utama dalam proses seleksi penulis emerging UWRF.

Dalam perspektif ini, jauh lebih penting bagi kami untuk menampilkan penulis dengan karya-karya yang berkualitas tinggi dibandingkan dengan semata-mata mengejar jumlah penulis. Karena itulah, dalam seleksi tahun ini kami putuskan hanya memilih lima penulis saja karena karya-karya dari para penulis lainnya secara kualitas belum memenuhi harapan kami,” ujar I Wayan Juniarta mewakili UWRF.

Kelima penulis emerging terpilih datang dari latar belakang berbeda. Dua di antaranya masih mahasiswa, sedang tiga lainnya berprofesi sebagai sebagai dosen, peneliti bahasa, dan pemilik toko buku. Para penulis emerging terpilih ini merupakan para penulis muda, dengan rentang usia antara 22 tahun hingga 36 tahun.

Setelah tahun lalu karya sastra berupa puisi menjadi sorotan, tahun ini cerpen menggeser posisi tersebut. Lima karya dari penulis emerging terpilih berupa 3 cerpen, 1 novel, dan 1 puisi. Karya-karya ini mengambil tema-tema yang sederhana, tetapi diolah dengan bahasa yang sangat indah.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia menjembatani para penulis emerging untuk lebih berkembang. Mereka mendapat kesempatan memperdengarkan karyanya kepada dunia bersama para penulis ternama dari Indonesia maupun internasional. Mereka akan diterbangkan dari kota masing-masing untuk ikut berpartisipasi dalam mengisi panel- panel diskusi di UWRF 2018. Karya-karya mereka pun akan dibukukan dalam buku Antologi 2018, bersama dengan karya dari penulis-penulis ternama Indonesia lainnya. Nama-nama penulis ternama Indonesia yang akan melengkapi buku Antologi 2018 ini akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman program lengkap UWRF 2018.

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, program ini merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. (r/bpn)

12,000 Pengunjung Hadir Selama Penyelenggaraan Ubud Food Festival 2018 Persembahan ABC

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Dari tanggal 12 hingga 15 April, Ubud dipenuhi oleh ribuan pencinta kuliner yang ikut dalam perayaan kuliner terbesar di Indonesia, Ubud Food Festival 2018 Persembahan ABC. Ubud menjadi tuan rumah bagi ratusan pencinta kuliner dari penjuru Indonesia dan negara-negara lainnya. Sejak beberapa hari sebelumnya, Ubud sudah didandani dengan ratusan umbul-umbul, poster, dan spanduk dengan warna-warna khas UFF, membuat siapapun yang menghampiri Ubud akan tergiur untuk ikut bersuka cita di UFF.

Keriaan yang berpusat di Taman Kuliner di Jalan Raya Sanggingan ini menyajikan 95+ kios makanan dan minuman yang menawarkan hidangan-hidangan lezat dari beberapa daerah di Indonesia dan negara-negara lainnya. Tidak hanya kios makanan dan minuman, UFF juga menyajikan 100+ program bersama 100+ pembicara yang diadakan di Taman Kuliner dan beberapa hotel serta restauran terbaik di Ubud.

Kerjasama antara UFF dan ABC, perusahaan yang lebih dari 40 tahun telah menjadi bagian dari keluarga Indonesia, turut memberikan beragam pengalaman baru bagi para pengunjung dengan menghadirkan beragam kegiatan interaktif yang turut memperkenalkan ragam kuliner Indonesia. “Dukungan dari ABC ini membuat kami semua sangat bahagia. ABC adalah sebuah merk yang kita semua kenal dan cintai, merk yang sudah saya gunakan di dapur dan restauran-restauran saya lebih dari satu dekade, dan kesamaan visi dan misi antara UFF dan ABC menjadikan kolaborasi ini semakin sempurna.” ujar Janet DeNeefe, Founder & Director UFF.

Dhiren Amin, Head of Marketing, Kraft Heinz Asia Tenggara, juga berujar, “Ubud Food Festival merayakan keragaman makanan Indonesia. Sebagai merk makanan asli Indonesia, ABC juga memiliki misi untuk memperkenalkan masakan Indonesia dan ragam jenis kuliner dari penjuru nusantara kepada khalayak global. Kesamaan visi antara UFF dan ABC ini adalah motif utama kami dalam menjadi Presenting Partner di UFF 2018. Mengusung tema ‘Inovasi Cita Rasa Nusantara’, ABC menghadirkan berbagai kegiatan yang mengajak pengunjung UFF 2018 lebih mengenal dan mengetahui berbagai inovasi yang dapat dilakukan untuk memperkaya cita rasa kuliner Indonesia. Kami sangat bangga bisa menjadi bagian dari UFF 2018 ini.”

Ubud Food Festival 2018 Persembahan ABC berhasil mencapai target pengunjung yang berupa kenaikan 30% dari tahun lalu, yaitu 12,000 pengunjung selama tiga hari penyelenggaraanya. Mereka semua memenuhi sesi-sesi acara UFF seperti demo masak di Kitchen Stage dan Teater Kuliner, panel diskusi di Food for Thought, serta puluhan acara Masterclass dan Special Events atau jamuan ekslusif, dan tidak ketinggalan pemutaran film dan pertunjukan musik. Para pencinta kuliner yang menghadiri UFF ini datang dari pelosok Bali, beberapa kota di Indonesia, dan juga beberapa negara lainnya.

Ada banyak acara yang menjadi highlight Festival, salah satunya adalah pembukaan resmi di Opening Night Party pada tanggal 12 April yang diselenggarakan di Taman Kuliner. Di acara ini UFF memberikan Lifetime Achievement Award untuk mendiang Bondan Winarno, sosok besar industri kuliner Indonesia yang meninggalkan kita semua beberapa bulan lalu.

“Terima kasih kepada semua orang, terima kasih telah mengakui ayah saya sebagai seseorang yang bukan hanya tanpa lelah mempromosikan kuliner Indonesia, tapi juga mampu menumbuhkan rasa bangga akan kuliner Indonesia dan membuat kita jatuh cinta pada kuliner nusantara. Saya yakin saat ini ayah tengah berbahagia di atas sana sambal menikmati singkong goreng atau sambal roa.” ucap Gwendoline Winarno, puteri mendiang di atas panggung saat mewakilkan menerima penghargaan ini. Lifetime Achievement Award dari UFF ini diberikan setiap tahunnya kepada sosok-sosok yang berjasa dalam mempromosikan dan memajukan industri kuliner Indonesia.

Kabar bahagia lainnya yang datang dari penyelenggaraan Ubud Food Festival 2018 Persembahan ABC adalah dengan ditetapkannya Ubud sebagai UNWTO Prototipe Destinasi Gastronomi oleh Kementerian Pariwisata Indonesia melalui program Wonderful Indonesia. Wonderful Indonesia sendiri telah mendukung UFF sejak tahun 2017 lalu berkat visi dan misi UFF dalam mempromosikan pariwisata Indonesia melalui bidang kuliner.

“Kemenpar memilih Ubud, Gianyar untuk menjadi UNWTO Gastronomy Destination Prototype dan menjadi destinasi pertama yang akan dibranding sebagai destinasi gastronomy berstandar UNWTO, di mana mereka adalah endorser terbaik di dunia untuk bidang pariwisata,” ujar Vita Datau Messakh, Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar yang juga memberika pidato sambutan di malam pembukaan UFF.

“Sebuah kebahagiaan yang luar biasa melihat kesuksesan UFF tahun ini, mulai dari dukungan dan kerjasama dari banyak pihak, deretan program yang lezat, hingga antusiasme pengunjung. Kami merasa usaha kami selama ini dalam mempromosikan kuliner Indonesia ke hadapan dunia global mulai dilihat, dan ini membuat kami semua semangat untuk menghantarkan sebuah Festival kuliner yang lebih baik lagi, yang makin mendunia di tahun 2019. Saya ucapkan terima kasih yang sangat mendalam bagi semua sponsor, partners, volunteers, media, chef dan pembicara, serta tentunya para pencinta kuliner.” ungkap Janet DeNeefe di hari terakhir UFF 2018.(r/bpn)

Para Chef Terbaik Asia Akan Demo Masak di Kitchen Stage Ubud Food Festival 2018

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Berita gembira buat para pencinta kuliner, karena Ubud Food Festival akan kembali lagi untuk yang keempat kalinya tanggal 13-15 April mendatang. Seperti biasa Festival kuliner terbesar di Indonesia ini akan membawa sederet bintang-bintang kuliner ternama dari dalam dan luar negeri untuk tampil dan mendemokan keahlian memasak mereka.

Akan datang tiga chef yang telah memenangkan penghargaan Michelin Star, penghargaan yang dipandang sebagai penghargaan tertinggi di bidang kuliner kelas dunia. Jun Lee, chef asal Korea lulusan Culinary Institutre of Amerika tahun 2010 adalah pemilik restauran Soigné, restauran peraih penghargaan Michelin Star tahun 2016 dan 2017. Chef Jun Lee akan tampil di sesi Kitchen Stage: Michelin-starred Korean with Jun Lee, di mana ia akan memasak daging domba menggunakan teknik tradisional Korea.

Lalu chef Michelin Star yang juga berasal dari Korea, Chef Sun Kim, akan hadir di sesi Kitchen Stage: Bossman of Bibimbap. Ia akan memasak hidangan tradisional Korea, bibimbap dengan sentuhan modern Eropa. Sajian chef restauran Meta di Singapura ini akan meleburkan bibimbap dengan daging kepiting, telur asin, dan saus cabai rahasia. Selanjutnya ada chef Michelin Star lainnya, Rishi Naleendra, chef Sri Lanka pertama yang menerima status Michelin ini adalah pemilik sekaligus Executive Chef di Cheek by Jowl yang berlokasi di Singapura. Di sesi Kitchen Stage: Michelin-starred Modern Australian with Rishi Naleendra, ia akan meracik hidangan-hidangan yang sederhana namun kaya rasa, seperti ikan dengan daun bawang.

Selain para chef dengan Michelin Star, Ubud Food Festival juga akan membawa beberapa chef terbaik Asia lainnya yang telah memenangkan penghargaan, seperti Rydo Anton. Nama Rydo Anton mungkin belum terlalu terkenal di antara pencinta kuliner nusantara, namun orang Indonesia yang satu ini telah memiliki karir yang luar biasa di industri kuliner internasional. Ia kini menjabat sebagai Head Chef di restauran Gaggan di Bangkok, restauran yang menduduki peringkat satu di daftar Asia’s 50 Best Restaurants selama tiga tahun berturut-turut. Chef Rydo akan menghidangkan menu dengan rumus 5S yaitu Salty, Sweet, Sour, Spicy, dan Surprise di sesi Kitchen Stage: The 5S Equation with Rydo Anton.

Yang juga akan demo masak di Ubud Food Festival adalah chef pemenang penghargaan Restaurant of the Year dan Chef’s Choice di World Gourmet Summit Awards of Excellence tahun 2017, Petrina Loh di sesi Kitchen Stage: Fundamentals of Flavor with Petrina Loh. Andrian Ishak, chef dan pemilik Namaaz Dining, restauran molecular gastronomy pertama di Jakarta, akan menghadirkan sesuatu yang unik saat ia membumbui masakannya dengan menggunakan bunyi-bunyian di sesi Kitchen Stage: Sonic Seasoning with Andrian Ishak.

Selain nama-nama di atas, total akan hadir lebih dari 90 chef dan ahli kuliner lainnya untuk demo masak, diskusi, workshop, dan jamuan eksklusif Special Event selama tiga hari penyelenggaraan Ubud Food Festival 2018, seperti Rinrin Marinka, Farah Quinn, Sisca Soewitomo, Will Meyrick, peserta Iron Chef Chris Salans, Charles Toto, dan banyak lainnya. (r/bpn)

 Jagadhita Sebagai Tema Ubud Writers & Readers Festival 2018

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Tema yang diusung oleh Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) setiap tahunnya selalu menjadi bagian penting dari penyelenggaraannya, dan hari ini (12/03/2018), UWRF dengan bangga mengumumumkan tema terpilih untuk perayaan ulang tahun yang ke-15 pada tanggal 24-28 Oktober mendatang. Tema tahun 2018 ini ditarik dari sebuah filosofi Hindu kuno yang berbicara mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan, yaitu ‘Jagadhita’.

Terjemahan dari ‘Jagadhita’ sendiri adalah ‘kebahagiaan di jagat raya sebagai sebuah tujuan hidup’, dan untuk UWRF 2018, arti dari Jagadhita ini ditafsirkan ulang sebagai ‘dunia yang kita ciptakan’ atau ‘the world we create’ dalam bahasa Inggrisnya. “Tema tahun lalu, ‘Sangkan Paraning Dumadi’, atau ‘Asal Muasal’, mengingatkan kita mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang kita bagi,” jelas Janet DeNeefe, Founder & Director UWRF. “Di saat sekarang ini, saat perbedaan memisahkan kita hingga melupakan persamaan yang kita miliki, kami akan menanyakan bagaimana kesejahteraan dan harmoni akan dicari di tahun 2018 ini.”

“Di tahun ke-15 ini, kami akan merayakan penulis, seniman, cendekiawan, dan pegiat dari berbagai penjuru Indonesia dan negara-negara lainnya yang telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga harmoni dan kesejahteraan,” lanjut Janet. “Jagadhita akan mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan merenungkan arti dan makna dari hidup yang selama ini kita jalani dan bagaimana kita sebagai manusia dapat menghantarkan hal-hal positif di dunia yang kita ciptakan.”

Bersamaan dengan peluncuran tema ini, UWRF juga meluncurkan poster resmi UWRF 2018 hasil karya seniman asli pulau Bali, Budi Agung Kuswara yang dikenal di komunitas seni dengan nama Kabul. Karya seni yang dinamakan Anonymous Ancestors ini adalah sebuah upaya Kabul dalam memaknai ulang satu momen dan merangkainya kembali menjadi sebuah pernyataan terkait situasi kehidupan saat ini.

“Saat melihat wajah-wajah di foto dari Bali era 1930an membawa saya pada satu pertanyaan mengenai siapa wajah-wajah itu,” ungkap Kabul mengenai inspirasi di balik poster UWRF 2018. “Anonymous Ancestors adalah bentuk apresiasi untuk wajah-wajah di foto tersebut yang pastinya adalah leluhur masyarakat Bali zaman modern ini. Mereka adalah pelaku industri pariwisata, yang mana sekarang menjadi bagian dari proses kehidupan baik secara ekonomi maupun spiritual.”

Selanjutnya Kabul juga menjelaskan bahwa karya seninya untuk UWRF 2018 ini adalah upaya dirinnya dalam memaknai Jagadhita sebagai sebuah kemakmuran yang bukan hanya sekedar akumulasi angka-angka dan memaknai kemakmuran bukan tentang upaya bertahan hidup. Pandangan Kabul akan konsep Jagadhita ini sejalan dengan apa yang akan digali dan dibedah di UWRF, yaitu konsep kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi manusia di jagat raya ini.

Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2004 di Ubud oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai sebuah proyek penyembuhan dari tragedi Bom Bali I yang menghancurkan pariwisata Pulau Bali, UWRF kini dikenal sebagai festival sastra terbesar di Asia Tenggara dan sejajar dengan festival-festival sastra dunia lainnya yang telah memiliki banyak penggemar. Sebuah wadah untuk membawa sastra dan seni Indonesia ke hadapan dunia internasional, sekaligus juga ruang yang mengajak pengunjungnya mengenali isu-isu besar yang selama ini mengelilingi kehidupan kita. (r/bpn)

Dukung Rai Mantra Komunitas Taksu Seni Bali Gelar Konser “Salam Dua Jari”

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Puluhan artis Bali yang tergabung dalam Komunitas Taksu seni Bali Gelar Konser Salam Dua Jari. Rencananya konser ini akan digelar di Lapangan Astina, Gianyar pada Minggu (11/3/2018). Kordinator komunitas Taksu Seni Bali Agung Bagus Mantra alias Gus Mantra mengatakan konser ini adalah bentuk semangat seniman Bali mengawal taksu budaya Bali.

Semangat tersebut kemudian dipersembahkan kepada Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra atau Rai Mantra yang maju sebagai calon gubernur Bali tahun 2018. “Konser ini digelar berbasiskan semangat kebersamaan dalam mengawal taksu budaya Bali yang dititipkan kepada calon pemimpin Bali yaitu sahabat kami Rai Mantra,” kata Gus Mantra, saat menggelar jumpa pers di rumah makan Kubu Kopi, Denpasar, Sabtu (10/3/2018).

Adapun seniman yang akan tampil adalah Ayu Maenah & nana Viana, Joni Agung & double T, Coki Netral, Bintang Feat Lebri Partami, Kis, Bona Alit & Ocha Taksu, The Rocknest, The Crazy Horse, The Small Axe, Rajes n Band & Rah Tut XXX, Parade Band Gianyar, RastaFlute Singapadu dan Wayang Inovatif Genta Wisesa. Acara akan dipandu oleh pelawak Bali Dadong Rerod.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Mantra ini acara ini murni digagas seniman. Tanpa paksaan, tanpa tekanan. Tapi berjalan sendiri melalui media kreatif.  Karena itu konser digelar secara swadaya oleh seniman. Konser salam dua jari ini terbuka untuk umum, tanpa atribut partai politik.

Menariknya, walau bertitle Konser salam dua jari acara dikemas tanpa ajakan mencoblos, apalagi pemaparan visi misi pasangan calon. Sebaliknya konser ini dikemas sebagai media seniman Bali menyampaikan aspirasi kepada calon gubernur Bali Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.

“Kita tidak akan serukan coblos nomor tertentu tapi sebaliknya seniman akan menyampaikan aspirasi kepada beliau,” kata Gus Mantra.

Dalam konser ini seniman juga ingin menyampaikan pesan politik bermartabat. Kalah atau menang dihadapi secara terhormat. Politik sesungguhnya bisa dijalani dengan senyum dan kegembiraan. Bukan saling menghujat apalagi sekedar adu kekuatan.

“Apa yang kami persembahkan sesuatu yang terbaik bagi Bali, ingin membagikan sesuatu yg menyejukan. Gaungkan politik damai harmoni di tengah keberagaman,” kata Gus Mantra.

Karena itu Gus Mantra mengajak seluruh warga yang ingin bergembira untuk hadir tanpa atribut partai. “Ayo datang ramai-ramai, kita bergembira bersama, yang jelas tidak ada bsgi-bagi uang. Kita bergerak dengan nurani,” ujar Gus Mantra.(r/bpn)

Ibunda Cok Ace Meninggal, Rai Mantra Datang Melayat

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Calon Gubernur Bali nomor urut 2, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melayat ke Puri Ubud, Gianyar pada Jumat (23/2/2018). Kedatangan Rai mantra untuk menyatakan belasungkawa atas berpulangnya Anak Agung Istri Niang Agung.

Anak Agung Istri Niang Agung adalah ibunda dari Tjokorda Raka Kerthyasa alias Cok Ibah dan Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace.

Mengenakan pakaian adat khas putih – putih Rai Mantra tiba di Puri Ubud pukul 12.00 Wita, disambut Cok Ibah. Dalam kesempatan ini didampingi sejumlah tokoh mereka terlihat berbincang-bincang.

“Atas nama pribadi kehadiran saya untuk mengucapkan turut berbela sungkawa atas berpulangnya ibunda dari Cok Ibah dan Cok Ace,” kata Rai Mantra. Menurutnya antara Puri Ubud dan Griya Seba Sari sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan yang sudah terjalin panjang. Dalam berbagai kesempatan terlibat interaksi dalam rangka membicarakan bermacam hal.

Karena itu sudah sepatutnya dalam suasana kedukaan yang dialami Puri Ubud, Rai Mantra datang menyampaikan belasungkawa. Mengenai penglingsir Puri Ubud Cok Ace yang bertarung dengan Rai Mantra di pilgub Bali, Rai Mantra enggan berkomentar. Menurutnya dalam suasana kedukaan tidak tepat jika membicarakan urusan politik.

Di mata Rai Mantra, Cok Ace tetap sahabat yang baik untuk berdiskusi. Mengenai perbedaan politik itu biasa. “Ini kan suasana duka, tentu tidak tepat jika dikaitkan dengan politik. Cok Ace adalah sahabat baik saya yang tentu bisa membedakan urusan kekerabatan dan politik,” kata Rai Mantra. (ga/bpn)

“Perayaan Untuk Para Inovator Kuliner di Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC”

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC pada hari ini (13/02/18) meluncurkan daftar lengkap nama-nama pembicara yang terdiri dari chef, selebriti, food bloggers, penulis kuliner, pembawa acara, pegiat alam dan pertanian, pengusaha, inovator, dan tentunya pionir yang datang dari Indonesia dan beberapa negara lainnya di seluruh dunia. Mereka akan berkumpul di Ubud untuk makan, minum, berpesta, dan saling berbagi ilmu mengenai industri kuliner pada tanggal 13-15 April mendatang.

Mengusung tema ‘Generasi Inovasi’, tentunya di UFF 2018 akan hadir sederet inovator yang sukses memberikan angin segar di dunia kuliner, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Akan hadir Chef Ragil Imam Wibowo dari NUSA Indonesian Gastronomy dan kreasinya yang merupakan modernisasi dari resep tradisional Indonesia. Andrian Ishak, chef di balik Namaaz Dining di Jakarta yang terkenal berkat kemampuannya menghidangkan menu molecular gastronomy.

Chef lainnya yang berada di balik restauran ternama di Jakarta adalah Kim Pangestu dari Kimmy Patisserie dan Nomz Kitchen & Pastry. Gloria Susindra dari Mother Monster, dan, Hans Christian Chef de Cuisine di View Restaurant by Fairmont Jakarta. Para chef muda penuh inovasi tersebut akan bertemu dengan sosok-sosok kuliner Pulau Bali yang juga dikenal akan inovasi yang mereka bawa ke dapur restauran ternama seperti Putu Sumarjana dari Nusantara by Locavore, Mandif Warokka dari BLANCO par Mandif, dan Tri Sutrisna yang bertanggung jawab atas usaha sosial Wanaprasta.

Dari kancah internasional, UFF akan menghadirkan Chef Rydo Anton yang berasal dari Indonesia namun sukses berkarir sebagai Head Chef di Gaggan, Bangkok, restauran yang menduduki peringkat teratas daftar Asia’s 50 Best Restaurants selama tiga tahun berturut-turut. Lalu Rishi Naleendra, chef asal Sri Lanka pertama yang mendapatkan penghargaan Michelin untuk restauran Cheek by Jowl di Singapura.

Masih dari Singapura, UFF akan kedatangan Petrina Loh dari Morsels, pemenang Restaurant of the Year dan Chef’s Choice (Western) di World Gourmet Summit Awards of Excellence tahun 2017. Selain itu, dua chef asal Korea dengan penghargaan Michelin, Sun Kim dari Meta di Singapura dan Jun Lee dari restauran Soigné di Seoul juga akan meramaikan program-program UFF.

UFF juga akan diramaikan oleh mereka yang mengubah industri kuliner melalui usaha sosial dan teknologi. David Christian, Co-founder Evoware, produk kemasan biodegradable dan bebas kimia dari rumput laut. Tissa Aunilla dari Pipiltin Cocoa, sebuah produk cokelat asli Indonesia dan Helianti Hilman, Founder JAVARA Indonesia. Menggabungkan kuliner dan teknologi, ada Steven Kim, Founder dari Qraved, aplikasi kuliner paling populer di Indonesia dan Thor Yumna dari TaniHub, sebuah aplikasi yang mendukung petani lokal dengan menghubungkan mereka langsung dengan konsumen.

Nama-nama di atas juga akan tampil berdampingan dengan para pionir kuliner Indonesia yang namanya sudah dikenal banyak orang dan telah mendukung UFF sejak tahun lalu, seperti Sisca Soewitomo, Rinrin Marinka, Farah Quinn, Petty Elliott, Will Meyrick, dan Chris Salans.

“Kami sangat senang dapat kembali menghadirkan sekitar 100 pembicara di Ubud Food Festival Presented by ABC,” ujar Janet DeNeefe, Founder & Director UFF. “Dari chef muda penuh inovasi, para pionir yang namanya sudah mendunia, hinga pengusaha-pengusaha kuliner yang memberikan dampak sosial, mereka semua adalah alasan mengapa ini sudah saatnya bagi Indonesia untuk mendapatkan perhatian atas kreativitas, ide luar biasa, dan tentunya makanan yang lezat. Kami tidak sabar untuk belajar dari mereka dan menyediakan ruang untuk sebuah perayaan kuliner internasional di Ubud pada bulan April mendatang!”

Para inovator dan pionir kuliner ini akan tampil di puluhan program UFF, mulai dari menghidangkan sajian khas mereka ke untuk dicicipi pengunjung, mendiskusikan tema-tema kuliner, hingga membagikan ilmu mereka untuk terus memajukan dan membawa kuliner Indonesia ke hadapan dunia internasional. (r/bpn)

“Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC akan Menghadirkan Pionir dan Inovator Kuliner Indonesia”

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Hari ini Ubud Food Festival (UFF) dengan bangga mengumumkan kerjasama dan dukungan dari perusahaan kuliner yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga, ABC, sebuah merk yang digemari di Indonesia dan selalu muncul di dapur untuk menambah sedapnya masakan, sebagai Presenting Partner untuk Ubud Food Festival 2018.

Kerjasama dan dukungan ini akan membantu UFF dalam menghantarkan deretan program festival yang lebih menarik dan menggiurkan. Ubud Food Festival Presented by ABC akan diisi oleh berbagai macam acara seperti sesi diskusi, demo masak, Special Event, workshop, jalan-jalan kuliner, hingga pemutaran film dan pertunjukan musik pada tanggal 13–15 April mendatang.

“Tujuan utama dari Ubud Food Festival adalah untuk memperkenalkan betapa luar biasa unik dan lezatnya kuliner Indonesia. Sebagai sebuah produk asli Indonesia, ABC juga memiliki tujuan yang sama dalam mempopulerkan ragam kuliner yang ditawarkan oleh Indonesia. Kesamaan visi dari ABC dan UFF inilah alasan utama mengapa kami menjadi presenting partner dari UFF 2018.” ungkap Dhiren Amin, Head of Marketing dari Southeast Asia at Kraft Heinz ABC saat ditanya mengenai apa yang memotivasi ABC untuk mendukung UFF.

Merk ABC telah lama dikenal luas masyarakat Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi untuk bumbu-bumbu dapur. Merk ABC juga adalah salah satu nama besar di industri makanan dan minuman di Indonesia dengan ragam produk mulai dari saus sambal, kecap, hingga sirup dan aneka makanan kaleng.

Beberapa nama yang dipastikan akan hadir di pengumuman pembicara UFF tahap awal ini salah satunya adalah idola para pencinta kuliner sejak berpuluh-puluh tahun lalu, Sisca Soewitomo. Ini adalah ketiga kalinya sang pionir acara masak memasak berpartisipasi di UFF, dan tentunya ia akan kembali memasak hidangan rumahan khas Indonesia untuk disajikan kepada pengunjung UFF.

Selanjutnya chef yang tak kalah digemari oleh banyak orang adalah Rinrin Marinka, sosok yang kerap muncul di acara masak memasak di TV, mulai dari MasterChef dan Junior MasterChef Indonesia yang ditayangkan di TV lokal, hingga At Home With Marinka yang tayang di saluran TV internasional, Asian Food Channel.

Andrian Ishak, chef di balik Namaaz Dining di Jakarta, yang setiap hidangannya selalu berhasil membuat orang berdecak kagum juga akan memasak di hadapan para pengunjung UFF. Chef Andrian Ishak terkenal berkat kemampuannya menghidangkan menu molecular gastronomy, atau sebuah teknik memasak yang menggunakan ilmu fisika dan kimia. Ia juga adalah salah satu orang pertama yang membawa inovasi besar ini ke Indonesia.

Dari kancah internasional, UFF akan mendatangkan Rishi Naleendra, chef asal Sri Lanka pertama yang mendapatkan penghargaan Michelin untuk restauran miliknya, Cheek by Jowl di Singapura. Dua chef lainnya yang juga telah memenangkan penghargaan Michelin untuk restauran milik mereka adalah Sam Aisbett dari Whitegrass di Singapura dan Jun Lee, chef asal Korea yang berhasil mempertahankan penghargaan Michelin untuk restauran Soigné di Seoul selama dua tahun berturut-turut pada 2016 dan 2017. Ketiga nama tersebut juga tentunya akan menyajikan hidangan mereka kepada para pengunjung UFF 2018.

“Pengumuman tahap awal untuk nama chef yang akan hadir hanyalah sedikit dari banyaknya hal-hal lezat yang akan kami hadirkan pada bulan April mendatang,” ujar Founder & Director UFF, Janet DeNeefe. “Dengan hadirnya chef berkelas dunia dari luar negeri, inovator muda yang membuat bangga Indonesia, serta sosok-sosok kuliner yang nama serta karyanya sudah diakui, kami membuktikan bahwa Indonesia kini telah mendapatkan sorotan di peta kuliner dunia.”

“Kami juga ingin menunjukan pada dunia bahwa saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mengunjungi Bali,” lanjut Janet. “Bali kini lebih tenang, bersih, dan damai. Langit lebih biru, udara lebih bersih, sawah-sawah lebih subur, seperti sebuah cara bagi Gunung Agung untuk mengingatkan kita semua betapa indahnya pulau ini. Tanpa Gunung Agung, tidak akan ada Bali yang telah membuat kita semua jatuh cinta.”

Saat ini tim UFF sedang meracik keseluruhan program selama Festival berlangsung. Perayaan kuliner selama tiga hari ini akan menghadirkan sekitar 100 pembicara yang ahli di bidang kuliner dari dalam dan luar negeri.

Dengan mengambil tema ‘Generasi Inovasi’, UFF akan merayakan generasi muda Indonesia yang kini membawa banyak inovasi ke dalam industri kuliner Indonesia, tanpa melupakan mereka yang telah merintis dan membuka jalan bagi para generasi tersebut sejak lama. Daftar lengkap nama-nama yang akan menjadi pembicara beserta jadwal program akan diluncurkan pada pertengahan bulan Februari di www.ubudfoodfestival.com. (r/bpn)

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
4PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
12PelangganBerlangganan