Jagadhita Sebagai Tema Ubud Writers & Readers Festival 2018

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Tema yang diusung oleh Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) setiap tahunnya selalu menjadi bagian penting dari penyelenggaraannya, dan hari ini (12/03/2018), UWRF dengan bangga mengumumumkan tema terpilih untuk perayaan ulang tahun yang ke-15 pada tanggal 24-28 Oktober mendatang. Tema tahun 2018 ini ditarik dari sebuah filosofi Hindu kuno yang berbicara mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan, yaitu ‘Jagadhita’.

Terjemahan dari ‘Jagadhita’ sendiri adalah ‘kebahagiaan di jagat raya sebagai sebuah tujuan hidup’, dan untuk UWRF 2018, arti dari Jagadhita ini ditafsirkan ulang sebagai ‘dunia yang kita ciptakan’ atau ‘the world we create’ dalam bahasa Inggrisnya. “Tema tahun lalu, ‘Sangkan Paraning Dumadi’, atau ‘Asal Muasal’, mengingatkan kita mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang kita bagi,” jelas Janet DeNeefe, Founder & Director UWRF. “Di saat sekarang ini, saat perbedaan memisahkan kita hingga melupakan persamaan yang kita miliki, kami akan menanyakan bagaimana kesejahteraan dan harmoni akan dicari di tahun 2018 ini.”

“Di tahun ke-15 ini, kami akan merayakan penulis, seniman, cendekiawan, dan pegiat dari berbagai penjuru Indonesia dan negara-negara lainnya yang telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga harmoni dan kesejahteraan,” lanjut Janet. “Jagadhita akan mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan merenungkan arti dan makna dari hidup yang selama ini kita jalani dan bagaimana kita sebagai manusia dapat menghantarkan hal-hal positif di dunia yang kita ciptakan.”

Bersamaan dengan peluncuran tema ini, UWRF juga meluncurkan poster resmi UWRF 2018 hasil karya seniman asli pulau Bali, Budi Agung Kuswara yang dikenal di komunitas seni dengan nama Kabul. Karya seni yang dinamakan Anonymous Ancestors ini adalah sebuah upaya Kabul dalam memaknai ulang satu momen dan merangkainya kembali menjadi sebuah pernyataan terkait situasi kehidupan saat ini.

“Saat melihat wajah-wajah di foto dari Bali era 1930an membawa saya pada satu pertanyaan mengenai siapa wajah-wajah itu,” ungkap Kabul mengenai inspirasi di balik poster UWRF 2018. “Anonymous Ancestors adalah bentuk apresiasi untuk wajah-wajah di foto tersebut yang pastinya adalah leluhur masyarakat Bali zaman modern ini. Mereka adalah pelaku industri pariwisata, yang mana sekarang menjadi bagian dari proses kehidupan baik secara ekonomi maupun spiritual.”

Selanjutnya Kabul juga menjelaskan bahwa karya seninya untuk UWRF 2018 ini adalah upaya dirinnya dalam memaknai Jagadhita sebagai sebuah kemakmuran yang bukan hanya sekedar akumulasi angka-angka dan memaknai kemakmuran bukan tentang upaya bertahan hidup. Pandangan Kabul akan konsep Jagadhita ini sejalan dengan apa yang akan digali dan dibedah di UWRF, yaitu konsep kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi manusia di jagat raya ini.

Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2004 di Ubud oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai sebuah proyek penyembuhan dari tragedi Bom Bali I yang menghancurkan pariwisata Pulau Bali, UWRF kini dikenal sebagai festival sastra terbesar di Asia Tenggara dan sejajar dengan festival-festival sastra dunia lainnya yang telah memiliki banyak penggemar. Sebuah wadah untuk membawa sastra dan seni Indonesia ke hadapan dunia internasional, sekaligus juga ruang yang mengajak pengunjungnya mengenali isu-isu besar yang selama ini mengelilingi kehidupan kita. (r/bpn)

Dukung Rai Mantra Komunitas Taksu Seni Bali Gelar Konser “Salam Dua Jari”

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Puluhan artis Bali yang tergabung dalam Komunitas Taksu seni Bali Gelar Konser Salam Dua Jari. Rencananya konser ini akan digelar di Lapangan Astina, Gianyar pada Minggu (11/3/2018). Kordinator komunitas Taksu Seni Bali Agung Bagus Mantra alias Gus Mantra mengatakan konser ini adalah bentuk semangat seniman Bali mengawal taksu budaya Bali.

Semangat tersebut kemudian dipersembahkan kepada Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra atau Rai Mantra yang maju sebagai calon gubernur Bali tahun 2018. “Konser ini digelar berbasiskan semangat kebersamaan dalam mengawal taksu budaya Bali yang dititipkan kepada calon pemimpin Bali yaitu sahabat kami Rai Mantra,” kata Gus Mantra, saat menggelar jumpa pers di rumah makan Kubu Kopi, Denpasar, Sabtu (10/3/2018).

Adapun seniman yang akan tampil adalah Ayu Maenah & nana Viana, Joni Agung & double T, Coki Netral, Bintang Feat Lebri Partami, Kis, Bona Alit & Ocha Taksu, The Rocknest, The Crazy Horse, The Small Axe, Rajes n Band & Rah Tut XXX, Parade Band Gianyar, RastaFlute Singapadu dan Wayang Inovatif Genta Wisesa. Acara akan dipandu oleh pelawak Bali Dadong Rerod.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Mantra ini acara ini murni digagas seniman. Tanpa paksaan, tanpa tekanan. Tapi berjalan sendiri melalui media kreatif.  Karena itu konser digelar secara swadaya oleh seniman. Konser salam dua jari ini terbuka untuk umum, tanpa atribut partai politik.

Menariknya, walau bertitle Konser salam dua jari acara dikemas tanpa ajakan mencoblos, apalagi pemaparan visi misi pasangan calon. Sebaliknya konser ini dikemas sebagai media seniman Bali menyampaikan aspirasi kepada calon gubernur Bali Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.

“Kita tidak akan serukan coblos nomor tertentu tapi sebaliknya seniman akan menyampaikan aspirasi kepada beliau,” kata Gus Mantra.

Dalam konser ini seniman juga ingin menyampaikan pesan politik bermartabat. Kalah atau menang dihadapi secara terhormat. Politik sesungguhnya bisa dijalani dengan senyum dan kegembiraan. Bukan saling menghujat apalagi sekedar adu kekuatan.

“Apa yang kami persembahkan sesuatu yang terbaik bagi Bali, ingin membagikan sesuatu yg menyejukan. Gaungkan politik damai harmoni di tengah keberagaman,” kata Gus Mantra.

Karena itu Gus Mantra mengajak seluruh warga yang ingin bergembira untuk hadir tanpa atribut partai. “Ayo datang ramai-ramai, kita bergembira bersama, yang jelas tidak ada bsgi-bagi uang. Kita bergerak dengan nurani,” ujar Gus Mantra.(r/bpn)

Ibunda Cok Ace Meninggal, Rai Mantra Datang Melayat

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Calon Gubernur Bali nomor urut 2, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melayat ke Puri Ubud, Gianyar pada Jumat (23/2/2018). Kedatangan Rai mantra untuk menyatakan belasungkawa atas berpulangnya Anak Agung Istri Niang Agung.

Anak Agung Istri Niang Agung adalah ibunda dari Tjokorda Raka Kerthyasa alias Cok Ibah dan Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace.

Mengenakan pakaian adat khas putih – putih Rai Mantra tiba di Puri Ubud pukul 12.00 Wita, disambut Cok Ibah. Dalam kesempatan ini didampingi sejumlah tokoh mereka terlihat berbincang-bincang.

“Atas nama pribadi kehadiran saya untuk mengucapkan turut berbela sungkawa atas berpulangnya ibunda dari Cok Ibah dan Cok Ace,” kata Rai Mantra. Menurutnya antara Puri Ubud dan Griya Seba Sari sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan yang sudah terjalin panjang. Dalam berbagai kesempatan terlibat interaksi dalam rangka membicarakan bermacam hal.

Karena itu sudah sepatutnya dalam suasana kedukaan yang dialami Puri Ubud, Rai Mantra datang menyampaikan belasungkawa. Mengenai penglingsir Puri Ubud Cok Ace yang bertarung dengan Rai Mantra di pilgub Bali, Rai Mantra enggan berkomentar. Menurutnya dalam suasana kedukaan tidak tepat jika membicarakan urusan politik.

Di mata Rai Mantra, Cok Ace tetap sahabat yang baik untuk berdiskusi. Mengenai perbedaan politik itu biasa. “Ini kan suasana duka, tentu tidak tepat jika dikaitkan dengan politik. Cok Ace adalah sahabat baik saya yang tentu bisa membedakan urusan kekerabatan dan politik,” kata Rai Mantra. (ga/bpn)

“Perayaan Untuk Para Inovator Kuliner di Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC”

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC pada hari ini (13/02/18) meluncurkan daftar lengkap nama-nama pembicara yang terdiri dari chef, selebriti, food bloggers, penulis kuliner, pembawa acara, pegiat alam dan pertanian, pengusaha, inovator, dan tentunya pionir yang datang dari Indonesia dan beberapa negara lainnya di seluruh dunia. Mereka akan berkumpul di Ubud untuk makan, minum, berpesta, dan saling berbagi ilmu mengenai industri kuliner pada tanggal 13-15 April mendatang.

Mengusung tema ‘Generasi Inovasi’, tentunya di UFF 2018 akan hadir sederet inovator yang sukses memberikan angin segar di dunia kuliner, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Akan hadir Chef Ragil Imam Wibowo dari NUSA Indonesian Gastronomy dan kreasinya yang merupakan modernisasi dari resep tradisional Indonesia. Andrian Ishak, chef di balik Namaaz Dining di Jakarta yang terkenal berkat kemampuannya menghidangkan menu molecular gastronomy.

Chef lainnya yang berada di balik restauran ternama di Jakarta adalah Kim Pangestu dari Kimmy Patisserie dan Nomz Kitchen & Pastry. Gloria Susindra dari Mother Monster, dan, Hans Christian Chef de Cuisine di View Restaurant by Fairmont Jakarta. Para chef muda penuh inovasi tersebut akan bertemu dengan sosok-sosok kuliner Pulau Bali yang juga dikenal akan inovasi yang mereka bawa ke dapur restauran ternama seperti Putu Sumarjana dari Nusantara by Locavore, Mandif Warokka dari BLANCO par Mandif, dan Tri Sutrisna yang bertanggung jawab atas usaha sosial Wanaprasta.

Dari kancah internasional, UFF akan menghadirkan Chef Rydo Anton yang berasal dari Indonesia namun sukses berkarir sebagai Head Chef di Gaggan, Bangkok, restauran yang menduduki peringkat teratas daftar Asia’s 50 Best Restaurants selama tiga tahun berturut-turut. Lalu Rishi Naleendra, chef asal Sri Lanka pertama yang mendapatkan penghargaan Michelin untuk restauran Cheek by Jowl di Singapura.

Masih dari Singapura, UFF akan kedatangan Petrina Loh dari Morsels, pemenang Restaurant of the Year dan Chef’s Choice (Western) di World Gourmet Summit Awards of Excellence tahun 2017. Selain itu, dua chef asal Korea dengan penghargaan Michelin, Sun Kim dari Meta di Singapura dan Jun Lee dari restauran Soigné di Seoul juga akan meramaikan program-program UFF.

UFF juga akan diramaikan oleh mereka yang mengubah industri kuliner melalui usaha sosial dan teknologi. David Christian, Co-founder Evoware, produk kemasan biodegradable dan bebas kimia dari rumput laut. Tissa Aunilla dari Pipiltin Cocoa, sebuah produk cokelat asli Indonesia dan Helianti Hilman, Founder JAVARA Indonesia. Menggabungkan kuliner dan teknologi, ada Steven Kim, Founder dari Qraved, aplikasi kuliner paling populer di Indonesia dan Thor Yumna dari TaniHub, sebuah aplikasi yang mendukung petani lokal dengan menghubungkan mereka langsung dengan konsumen.

Nama-nama di atas juga akan tampil berdampingan dengan para pionir kuliner Indonesia yang namanya sudah dikenal banyak orang dan telah mendukung UFF sejak tahun lalu, seperti Sisca Soewitomo, Rinrin Marinka, Farah Quinn, Petty Elliott, Will Meyrick, dan Chris Salans.

“Kami sangat senang dapat kembali menghadirkan sekitar 100 pembicara di Ubud Food Festival Presented by ABC,” ujar Janet DeNeefe, Founder & Director UFF. “Dari chef muda penuh inovasi, para pionir yang namanya sudah mendunia, hinga pengusaha-pengusaha kuliner yang memberikan dampak sosial, mereka semua adalah alasan mengapa ini sudah saatnya bagi Indonesia untuk mendapatkan perhatian atas kreativitas, ide luar biasa, dan tentunya makanan yang lezat. Kami tidak sabar untuk belajar dari mereka dan menyediakan ruang untuk sebuah perayaan kuliner internasional di Ubud pada bulan April mendatang!”

Para inovator dan pionir kuliner ini akan tampil di puluhan program UFF, mulai dari menghidangkan sajian khas mereka ke untuk dicicipi pengunjung, mendiskusikan tema-tema kuliner, hingga membagikan ilmu mereka untuk terus memajukan dan membawa kuliner Indonesia ke hadapan dunia internasional. (r/bpn)

“Ubud Food Festival 2018 Presented by ABC akan Menghadirkan Pionir dan Inovator Kuliner Indonesia”

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Hari ini Ubud Food Festival (UFF) dengan bangga mengumumkan kerjasama dan dukungan dari perusahaan kuliner yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga, ABC, sebuah merk yang digemari di Indonesia dan selalu muncul di dapur untuk menambah sedapnya masakan, sebagai Presenting Partner untuk Ubud Food Festival 2018.

Kerjasama dan dukungan ini akan membantu UFF dalam menghantarkan deretan program festival yang lebih menarik dan menggiurkan. Ubud Food Festival Presented by ABC akan diisi oleh berbagai macam acara seperti sesi diskusi, demo masak, Special Event, workshop, jalan-jalan kuliner, hingga pemutaran film dan pertunjukan musik pada tanggal 13–15 April mendatang.

“Tujuan utama dari Ubud Food Festival adalah untuk memperkenalkan betapa luar biasa unik dan lezatnya kuliner Indonesia. Sebagai sebuah produk asli Indonesia, ABC juga memiliki tujuan yang sama dalam mempopulerkan ragam kuliner yang ditawarkan oleh Indonesia. Kesamaan visi dari ABC dan UFF inilah alasan utama mengapa kami menjadi presenting partner dari UFF 2018.” ungkap Dhiren Amin, Head of Marketing dari Southeast Asia at Kraft Heinz ABC saat ditanya mengenai apa yang memotivasi ABC untuk mendukung UFF.

Merk ABC telah lama dikenal luas masyarakat Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi untuk bumbu-bumbu dapur. Merk ABC juga adalah salah satu nama besar di industri makanan dan minuman di Indonesia dengan ragam produk mulai dari saus sambal, kecap, hingga sirup dan aneka makanan kaleng.

Beberapa nama yang dipastikan akan hadir di pengumuman pembicara UFF tahap awal ini salah satunya adalah idola para pencinta kuliner sejak berpuluh-puluh tahun lalu, Sisca Soewitomo. Ini adalah ketiga kalinya sang pionir acara masak memasak berpartisipasi di UFF, dan tentunya ia akan kembali memasak hidangan rumahan khas Indonesia untuk disajikan kepada pengunjung UFF.

Selanjutnya chef yang tak kalah digemari oleh banyak orang adalah Rinrin Marinka, sosok yang kerap muncul di acara masak memasak di TV, mulai dari MasterChef dan Junior MasterChef Indonesia yang ditayangkan di TV lokal, hingga At Home With Marinka yang tayang di saluran TV internasional, Asian Food Channel.

Andrian Ishak, chef di balik Namaaz Dining di Jakarta, yang setiap hidangannya selalu berhasil membuat orang berdecak kagum juga akan memasak di hadapan para pengunjung UFF. Chef Andrian Ishak terkenal berkat kemampuannya menghidangkan menu molecular gastronomy, atau sebuah teknik memasak yang menggunakan ilmu fisika dan kimia. Ia juga adalah salah satu orang pertama yang membawa inovasi besar ini ke Indonesia.

Dari kancah internasional, UFF akan mendatangkan Rishi Naleendra, chef asal Sri Lanka pertama yang mendapatkan penghargaan Michelin untuk restauran miliknya, Cheek by Jowl di Singapura. Dua chef lainnya yang juga telah memenangkan penghargaan Michelin untuk restauran milik mereka adalah Sam Aisbett dari Whitegrass di Singapura dan Jun Lee, chef asal Korea yang berhasil mempertahankan penghargaan Michelin untuk restauran Soigné di Seoul selama dua tahun berturut-turut pada 2016 dan 2017. Ketiga nama tersebut juga tentunya akan menyajikan hidangan mereka kepada para pengunjung UFF 2018.

“Pengumuman tahap awal untuk nama chef yang akan hadir hanyalah sedikit dari banyaknya hal-hal lezat yang akan kami hadirkan pada bulan April mendatang,” ujar Founder & Director UFF, Janet DeNeefe. “Dengan hadirnya chef berkelas dunia dari luar negeri, inovator muda yang membuat bangga Indonesia, serta sosok-sosok kuliner yang nama serta karyanya sudah diakui, kami membuktikan bahwa Indonesia kini telah mendapatkan sorotan di peta kuliner dunia.”

“Kami juga ingin menunjukan pada dunia bahwa saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mengunjungi Bali,” lanjut Janet. “Bali kini lebih tenang, bersih, dan damai. Langit lebih biru, udara lebih bersih, sawah-sawah lebih subur, seperti sebuah cara bagi Gunung Agung untuk mengingatkan kita semua betapa indahnya pulau ini. Tanpa Gunung Agung, tidak akan ada Bali yang telah membuat kita semua jatuh cinta.”

Saat ini tim UFF sedang meracik keseluruhan program selama Festival berlangsung. Perayaan kuliner selama tiga hari ini akan menghadirkan sekitar 100 pembicara yang ahli di bidang kuliner dari dalam dan luar negeri.

Dengan mengambil tema ‘Generasi Inovasi’, UFF akan merayakan generasi muda Indonesia yang kini membawa banyak inovasi ke dalam industri kuliner Indonesia, tanpa melupakan mereka yang telah merintis dan membuka jalan bagi para generasi tersebut sejak lama. Daftar lengkap nama-nama yang akan menjadi pembicara beserta jadwal program akan diluncurkan pada pertengahan bulan Februari di www.ubudfoodfestival.com. (r/bpn)

UGM dan Kabupaten Gianyar Perkuat Kerjasama Riset

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kabupaten Gianyar, Bali sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam bidang penelitian yang kali ini berfokus pada riset perilaku sosial budaya masyarakat Gianyar  akibat dampak globalisasi dan komersialisasi pariwisata.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Barata beserta rombongan ke UGM, Jum’at (5/1/2018). Rombongan diterima oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M., didampingi Kasubdit Kerja Sama Dalam Negeri Dra. Sri Widati dan Sekretaris Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Sang kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D.

Kerja sama antara UGM dengan Kabupaten Gianyar telah berlangsung sejak tahun 2015 lalu antara lain dalam penghijauan dan konservasi air di sepanjang pantai Kabupaten Gianyar. Kini keduanya berencana kembali memperkuat kerja sama tersebut yang difokuskan pada penelitian perilaku sosial budaya masyarakat Gianyar karena dampak globalisasi dan komersialisasi pariwisata.

“Semoga kerja sama ini bisa berjalan lancar dan bermanfaat bagi Kabupaten Gianyar dan UGM,”harap Anak Agung Gde Barata.

Paripurna mengatakan UGM memiliki komitmen dalam upaya menjaga kelestarian dan kelangsungan masyarakat Bali. Oleh sebab itu dalam waktu dekat akan segera diterjunkan tim yang terdiri dari pakar-pakar UGM dari berbagai bidang terkait untuk berkolaborasi dengan pemda Bali dalam pelaksanaan riset.

“Riset akan dimulai bulan Februari mendatang dan kami akan segera siapkan tim yang komperehensif dari berbagai bidang seperti hukum adat, antroplogi, arkeologi, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lainnya,” paparnya. (ika/humas-ugm/bpn)

Seleksi Penulis Emerging Indonesia Ubud Writers & Readers Festival 2018 Telah Dibuka!

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), dengan bangga mengumumkan bahwa Seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk UWRF 2018 kembali dibuka. Seleksi ini adalah sebuah program Festival yang diadakan untuk menemukan calon-calon bintang sastra Indonesia.

Dari seleksi ini, UWRF akan memilih 15 Penulis Emerging Indonesia yang kehadiran serta partisipasinya di Festival akan didanai sepenuhnya oleh UWRF. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi, dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Indonesia. Seleksi sendiri akan dilakukan oleh tim UWRF dan Dewan Kurator yang beranggotakan penulis-penulis senior Indonesia. Nama-nama anggota Dewan Kurator akan dirahasiakan hingga pengumuman pemenang.

Seleksi yang ditujukan khusus untuk penulis berkewarganegaraan ini memiliki syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  • Penulis adalah warga negara Indonesia.
  • Tidak ada batasan umur untuk mengikuti seleksi ini.
  • Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa (cerpen, novel atau novelet), naskah drama maupun karya non-fiksi.
  • Karya dapat berupa buku dan kumpulan naskah yang belum ataupun sudah pernah diterbitkan di media massa.
  • Penulis yang sudah menerbitkan buku dapat mengirimkan beberapa buku karyanya.
  • Bagi penulis yang belum menerbitkan buku dapat mengirimkan 30 karya puisi terbaik atau 8 karya cerpen terbaik, atau 5 karya essai, atau 3 naskah drama.
  • Koresponden dan pengumuman seleksi akan dilakukan melalui email.
  • Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online di www.ubudwritersfestival.com.

Batas akhir untuk pengiriman karya jatuh pada tanggal 28 Februari 2018. 15 pemenang terpilih akan diumumkan pada akhir bulan Mei 2018.

15 penulis yang terpilih akan diterbangkan dari kota asal masing-masing ke Ubud, Bali untuk mengikuti UWRF 2018 pada tanggal 24-28 Oktober 2018 sebagai pembicara dan berpartisipasi dalam kegiatan festival yang meliputi; panel diskusi, pembacaan karya, workshop, peluncuran buku, pementasan, serta beberapa acara Satellite yang diadakan di beberapa kota di Indonesia. Karya-karya terpilih mereka juga akan diterbitkan dalam buku bilingual Antologi 2018 dan diluncurkan di UWRF 2018. Seluruh biaya penerbangan dan akomodasi pemenang selama di Ubud akan ditanggung oleh Emerging Writers Patron, yaitu program pendanaan khusus bagi para pemenang terpilih.

Sejak diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2008, Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini sukses memperkenalkan penulis-penulis Indonesia ke dalam kancah internasional. Beberapa alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Sunlie Thomas Alexander (2012), Mario F. Lawi (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erik Pasaribu (2015), Rio Johan (2015), Ni Made Purnamasari (2016), Joseph Rio Haminoto (2016), dan Azri Zakkiyah (2016).

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menemukan bakat-bakat sastra dari pelosok nusantara Indonesia. (r/bpn)

Astra Motor Bali Ajak Komunitas Honda PCX 150 Reli Gembira Jelajah Gianyar

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Untuk mengapresiasi para pecinta motor skutik premium Honda PCX150, Astra Motor Bali mengajak komunitas PCX untuk mengikuti Fun Rally (reli gembira) jelajah Kota Seni julukan Kabupaten Gianyar, sekaligus gathering (pertemuan) yang digelar, (25/11/2017).

Kegiatan yang bertemakan “Enjoy your PCX150” ini, diikuti 47 orang peserta dari 2 komunitas Honda PCX, yakni Dewata PCX Community (DPC), dan Honda PCX Club Indonesia. Para anggota komunitas ini memulai kegiatan dengan diawali breafing cara berkendara dengan aman dan sekaligus mengkampanyekan #Cari_Aman oleh tim safety riding Astra Motor Bali. Kemudian peserta bersiap berkumpul di halaman Astra Motor Cokroaminoto, untuk memulai kegiatan reli pukul 15.00 Wita menyusuri Gianyar.

Perjalanan mengambil rute jalan Gatot Subroto-jalan Nangka-jalan Patimura-jalan WR. Supratman-Batubulan-Celuk-Sukawati-Sakah-Batuan- Dharma Giri – jalan Raya Tulikup-By Pass IB Mantra, dan  menjelajah keliling Kota Gianyar, serta sekitarnya untuk menikmati kenyamanan berkendara menggunakan Honda PCX150 sesuai dengan tema yang diusung pada helatan ini.

Dalam perjalanan mengelilingi kota, para peserta touring singgah di Taman Kota Gianyar yang merupakan ikon Kabupaten Gianyar, dan melakukan aktivitas kebersamaan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan antaranggota komunitas, serta mendokumentasikan momen tersebut dan reli berakhir di Wake Resto sekitar pukul 17.00 Wita. Dilanjutkan dengan games-games menarik untuk semakin meningkatkan kedekatan sesama peserta dan santap malam bersama sambil menikmati pemandangan pantai yang indah.

Safety Riding and Community Promotion Astra Motor Bali, Ngurah Iswahyudi, mengatakan, tidak hanya sebagai ajang silaturahi antar anggota, reli gembira ini menjadi saat yang tepat untuk lebih mendekatkan Honda PCX150 dengan masyarakat di Gianyar dengan cara reli melewati ruas jalan favorit yang ada di kabupaten ini.

Honda PCX menjadi motor skutik premium yang terus diminati masyarakat. Model ini dibekali dengan mesin canggih 150cc eSP (Enhance Smart Power) terintegrasi dengan ACG Starter yang mampu menghidupkan mesin lebih halus tanpa suara dan menjadi dasar pengaplikasian fitur canggih Idling Stop System (ISS).

Dilengkapi dengan ragam fitur unggulan tercanggih di kelasnya, seperti penerapan sistem lighting LED di semua lampu, lampu Hazard yang pertama diterapkan di sepeda motor Indonesia. Sebagai motor skutik premium terbaik di kelasnya, Honda PCX dilengkapi dengan Answer Back System yang terintegrasi dengan remote control alarm anti pencurian yang mampu mendeteksi getaran, dan gerakan pada saat alarm diaktifkan serta mempermudah mencari posisi motor saat diparkir.

Untuk  menunjang kenyamanan, model ini telah dilengkapi DC socket untuk power charger yang disematkan di konsol box sisi depan, dan sistem pengereman combi brake hidrolis dengan 3 caliper yang memberikan kestabilan saat pengereman. (ngr/bpn)

Ubud Writers & Readers Festival Kembali Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra dan Seni dari Seluruh Dunia pada Bulan Oktober Lalu

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Ubud Writers & Readers Festival sekali lagi dengan sukses menjadi kancah pertukaran ide, inspirasi, dan pembelajaran antara penulis dan pembaca dari Indonesia dan negara-negara lainnya pada tanggal 25-29 Oktober lalu. Mengusung tema Origins atau Asal Muasal dalam bahasa Indonesia, selama lima hari tersebut UWRF diisi oleh ratusan program yang disusun berdasarkan tema tersebut. UWRF pada tahun 2017 ini membawa 160 lebih figur-figur mengagumkan dari 30 negara di seluruh dunia untuk tampil di atas satu panggung dan berkolaborasi atas nama sastra dan seni.

Nama-nama besar dunia sastra nasional maupun internasional seperti NH. Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Joko Pinurbo, Intan Paramaditha, Trinity, Jung Chang, Ian Rankin, Simon Winchester, Madeleine Thien, Han Yujoo, dan masih banyak lagi, tampil berdampingan dengan seniman, desainer, sutradara, penari, musisi, dan aktor seperti Pierre Coffin, Djenar Maesa Ayu, Chicco Jericho, Voice of Baceprot, Kan Lumé, Lulu Lutfi Labibi, dan Sakdiyah Ma’ruf.

UWRF juga dengan bangga mempersembahkan sebuah penghargaan Lifetime Achievement Award kepada legenda hidup sastra Indonesia, NH. Dini, pada malam Gala Opening (25/10/2017) di Puri Saren Ubud. Yang juga menjadi highlight dari UWRF 2017 adalah hadirnya 16 penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang datang dari beberapa tempat di seluruh pelosok Indonesia, untuk tampil dalam sesi-sesi diskusi bersama pembicara-pembicara terkenal dunia dan meluncurkan buku Antologi 2017.

72 acara sesi diskusi atau Main Program yang diadakan di tiga venue utama UWRF, yaitu NEKA Museum, Indus Restaurant, dan Taman Baca selalu ramai dihadiri pengunjung yang ingin mendengar diskusi-diskusi mendalam seperti di sesi Beyond the Front Page yang menghadirkan jurnalis-jurnalis top Asia untuk mendiskusikan isu-isu global terkini. Di sesi Moving Images bersama beberapa pembuat film, penggalian kisah di balik layar dimulai dengan bahasan mengenai pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Serta masih banyak lagi sesi menginspirasi lainnya.

Setiap harinya para pencinta sastra dan seni tersebut terus memenuhi lokasi-lokasi tempat diselenggarakannya 200 program UWRF yang terdiri dari sesi-sesi diskusi, workshop, Special Event, pemutaran film, panggung musik, pembacaan puisi, dan program pengembangan karir Emerging Voices yang tersebar di beberapa tempat di Ubud. Tak ada satupun dari mereka yang terlihat mengkhawatirkan status Gunung Agung yang sedang Awas. Festival tetap berjalan lancar dan berhasil mengundang 25,000 lebih pengunjung, banyak dari mereka adalah turis yang untuk pertama kalinya mengunjungi Bali.

Dari data yang dikumpulkan tim UWRF, saat penyelenggaraan festival, termasuk kehadiran penulis mancanegara dan pencinta sastra dalam dan luar negeri, telah berkontribusi senilai IDR10,350,000,000 yang dikeluarkan oleh para pengunjung selama enam hari untuk biaya akomodasi di banyak penginapan, transportasi, restauran, spa, yoga, souvenir, museum, galeri, dan acara budaya di sekitar Ubud dan Bali. Ini adalah sebuah kontribusi dalam menggerakan ekonomi lokal, terutama di bidang pariwisata.

Jumlah tersebut tentunya sangat membanggakan dan sesuai dengan misi organisasi nirlaba yang menaungi UWRF, Yayasan Mudra Swari Saraswati, yaitu untuk memperkaya kehidupan masyarakat lokal melalui program-program seni dan budaya. Dari data tersebut juga tercatat bahwa 96% pengunjung yang hadir akan datang kembali untuk UWRF 2018.

Di acara penggalangan dana yang digelar di Museum Blanco pada tanggal 26 Oktober lalu, berhasil terkumpul dana sebesar IDR15,000,000, yang selanjutnya akan diserahkan kepada Kopernik, sebuah organisasi nirlaba di Ubud, yang akan diteruskan kepada masyarakat di daerah-daerah sekitar Gunung Agung yang terkena dampak aktifitas vulkanik. Malam penggalangan dana ini menghadirkan grup Papermoon Puppet Theater dan grup tari yang diketuai oleh Eko Supriyanto, koreografer asal Indonesia yang berkiprah di panggung internasional. Setiap pengunjung yang hadir dikenakan biaya sebesar IDR100,000 sebagai bentuk donasi.

“Kendati persiapan UWRF dibayangi oleh ketakutan akan aktifitas vulkanik Gunung Agung, kami tetap bertekad untuk terus mendukung masyarakat Bali, yang mana adalah asal muasal terselenggaranya festival ini sendiri,” ujar Janet DeNeefe. “UWRF lahir sebagai bentuk pemulihan dari sebuah tragedi, dan UWRF tahun ini adalah bukti bahwa selama 14 tahun penyelenggaraannya, UWRF terus bertahan dan berkembang dari tahun ke tahunnya.”

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penulis dan pembaca yang telah membantu keberhasilan UWRF tahun ini, baik di komunitas sastra dan seni maupun industri pariwisata Pulau Bali. Dari data yang tercatat tahun ini, hampir semua pengunjung ingin kembali lagi tahun depan dan kami juga sudah tidak sabar untuk kembali membawakan sebuah perhelatan sastra dan seni yang selalu ditunggu-tunggu ini pada tahun 2018.” ujar Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe.

Ubud Writers & Readers Festival dijadwalkan untuk kembali lagi di tahun 2018 pada tanggal 24 hingga 28 Oktober. Tema UWRF 2017 akan diumumkan di www.ubudwritersfestival.com pada awal tahun depan. (r/bp)


Pantau terus baliportalnews.com di :