SMP PGRI 9 Denpasar Cetak SDM ‘’Widya Jaya Jayanthi’’

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 9 Denpasar, Drs. A.A. Ketut Sumitra, M.M.,M.Si., merasa bangga SMP PGRI 9 Denpasar menjadi pilihan masyarakat. Tahun ini, SMP PGRI 9 Denpasar sukses menerima 237 siswa baru.

‘’Kami menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang mempercayakan SMP PGRI 9 Denpasar. Ini menunjukkan para orang tua siswa sangat pas menentukan pilihan di SMP PGRI 9 Denpasar,’’ ujar Agung Ketut Sumitra disela-sela sosialisasi Pendidikan Keluarga dan penyampaian kebijakan peningkatan pengelolaan sekolah bermutu di SMP PGRI 9 Denpasar, Sabtu (16/7/2016).

Kebanggaan kedua, SMP PGRI 9 Denpasar dipercaya Kemendikbud sebagai satu-satu sekolah swasta di Denpasar yang mendapatkan bimtek pemenuhan sekolah potensial menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN). SMP PGRI 9 Denpasar yang juga saudara kembar SMPN 10 Denpasar ini juga semakin memperkuat diri menerapkan Kurikulum 2013 (K-13).

A.A. Ketut Sumitra yang juga pengelingsir Puri Padangluwih, Dalung (duwe Puri Mengwi) mengungkapkan, warga SMP PGRI 9 Denpasar telah disiapkan yel-yel membangkitkan semangat warga sekolah. Pertama adalah ‘’Widya Jaya Jayanthi’’ artinya ilmu yang diperoleh di SMP PGRI 9 Denpasar berguna untuk selama-lamanya.

Kedua, bersih, disiplin dan berprestasi, dimana membiasakan warga sekolah berprilaku hidup bersih, disiplin dan bersemangat mengejar prestasi setinggi-tinggi. Terakhir adalah sekolahku rumahku, mengajak semua warga sekolah merasa memiliki sekolah sebagai rumah sendiri. Sehingga siswa di sekolah harus ditanamkan harus betah di sekolah, belajar dengan tenang di sekolah, gembira di sekolah. Dengan begitu proses belajar mengajar terlaksana dengan baik dan muaranya prestasi bisa diraih.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

Besarkan Sekolah dengan Konsep ‘’Nawasanga’’

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Pembina SMP PGRI 9 Denpasar yang juga Kepala SMPN 10 Denpasar, Drs. Ketut Sukartha, M.Si., memberi apresiasi luar biasa pada SMP PGRI 9 Denpasar. Sekolah ini sudah mampu mengelola sekolah secara mandiri dan maju.

Besarnya animo masyarakat mempercayakan anaknya bersekolah di SMP PGRI 9 Denpasar suatu yang tidak mudah, tetapi ini adalah perjuangan yang amat panjang. Semua itu berkat kerja keras kepala sekolah,para guru, dan staf pegawai, yang tidak henti bersinergi dengan stakeholder, pada akhirnya menghasilkan karya besar dan hasilnya sesuai dengan harapan bersama.

Ketut Sukartha mengajak seluruh stakeholder sekolah untuk membesarkan SMP PGRI 9 Denpasar dengan konsep nawasanga.

Pertama, membangun komunikasi dengan siapa saja secara positif, segala masalah akan terpecahkan dengan budaya komunikasi.

Kedua, selalu menjaga etika yang mengacu kepada kumpulan nilai-nilai normatif yang berlaku yang harus dijunjung tinggi sebagai kearifan lokal.

Ketiga, menjaga integritas yang murni proposisi positif membangun budaya positif.

Keempat, moralitas yang mengaku pada standar yang diterima umum tentang perilaku benar.

Kelima, positivity menunjukkan rasa bangga kepada sekolah yang tinggi, merasa risih bila sekolah mendapat aib, merasa bangga karena sekolah berprestasi.

Keenam, profesional menjad tenaga yang profesional membangi waktu dan pekerjaan selesai.

Ketujuh, komitmen yang tinggi terhadap kebesaran almamater.

Kedelapan, berpikir ilmiah dan rasional setiap memandang persoalan.

Kesembilan, mememiliki pengetahuan dan menjadi SDM yang terampil sesuai tuntutan masa kini dan akan datang.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 5 Denpasar Tanamkan Budaya Malu Kalau Melanggar

BALI-PORTAL-NEWS.COM  Selain meningkatkan mutu guru dan memperkuat kurikulum sekolah untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter dan berbudaya, SMP PGRI 5 Denpasar juga menanamkan budaya mutu dan budaya malu kalau melanggar.

Siswa SMP PGRI 5 Denpasar dikatakan kasek yang suka main tenis ini sudah tiba di sekolah pukul 07.00 wita dan  07.15 pintu sekolah sudah ditutup. Siswa, guru, kasek dan karyawan yang terlambat dicatat dan diumumkan kinerjanya setiap semester.

Kinerja ini merupakan bagian penilaian guru setiap tahun digabungkan dengan penilaian siswa terhadap guru. Guru yang tak disiplin disarankan untuk meninjau minat kembali kalau tak mau diberhentikan.

Model ini dikatakannya mampu meningkatkan motivasi kerja guru dan karyawan karena Wayan Wirasa mengakui kinerja guru sekarang tak boleh biasa-biasa saja tapi luar biasa. ‘’Ini juga memupuk kebersamaan,’’ujarnya.

Tahun ajaran baru ini SMP PGRI 5 Denpasar menerima 500 lebih siswa baru. Istimewanya semua siswa sekolah ini masuk pagi. Bahkan Wayan Wirasa mengatakan sekolah ini masih memiliki lima kelas kosong dan dipakai untuk kegiatan esktra kurikuler untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana mengacungkan jempol SMP PGRI 5 Denpasar terus hidup dan bergeliat untuk pendidikan berkualitas. Makanya Madiadnyana mengatakan program ini sejalan dengan pemerintah dimana tak ada lagi dikotomi sekolag negeri dan swasta.

Dengan padatnya program dan anggaran penguatan mutu guru, Madiadnyana mengatakan wajar sekolah ini diincar masyarakat. Programnya jelas, pelaksanaannya bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 5 Denpasar Anggarkan Rp 100 Juta untuk Mutu Guru

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 5 Denpasar Dr. Wayan Wirasa, mengungkapkan, secara rutin dan konsisten memberi perhatian pada penguatan mutu guru. Bahkan sekolah ini tiap tahun menganggarkan Rp 100 juta untuk peningkatan mutu guru.

Ia menegaskan kurikulum sekolah terus diperkuat untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter dan berbudaya. Utamanya dalam mendidik disiplin siswa dan guru serta karyawan.

Kemudian  menanamkan budaya mutu dan budaya malu kalau melanggar. Makanya sekolah ini dikenal menerapkan disiplin secara ketat.  Bukan saja disiplin siswa, juga guru dan kepala sekolah. Dengan demikian tercapai keseimbangan prestasi akademis dan non akademis.

Pada Sabtu (16/7/2016) semua guru, pegawai dan karyawan diikutkan dalam workshop implementasi Kurikulum 2013 (K-13) dan revisi Kurikulum Sekolah. Workshop dibuka Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana, M.M., didampingi Ketua YPLP Provinsi PGRI Bali, Dr. I Made Suada, M.M.,M.Si., dan Kepala SMP PGRI 5 Denpasar, Dr. I Wayan Wirasa, M.M.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

Wayan Wirasa: Guru Tak Boleh Anti Perubahan

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 5 Denpasar, Dr. I Wayan Wirasa, M.M., mengungkapkan, bahwa kunci utama PBM berkualitas ada di tangan guru. Karenanya ia mengatakan, guru SMP PGRI 5 Denpasar tak boleh anti perubahan, melainkan terus berkreasi dan berinovasi dalam mengajar.

‘’Dengan demikian siswa mendapat pelayanan berkualitas untuk menghasilkan mutu lulusan berkualitas,’’ ujar Kasek Wayan Wirasa disela-sela workshop implementasi Kurikulum 2013 (K-13) dan revisi Kurikulum Sekolah di SMP PGRI 5 Denpasar, Sabtu (16/7/2016).

Paradigma  baru cara mengajar guru ini dikatakan Dr. I Wayan Wirasa, sudah diterapakan puluhan tahun di SMP PGRI 5 Denpasar. Sebab kemajuan teknologi jauh lebih pesat dibandingkan kemampuan guru sehingga dituntut guru yang adaptif sepanjang jaman.

Sedangkan karyawan dan pegawai diikutsertakan karena mereka adalah bagian dan komponen penting dalam pelayanan PBM. Dengan demikian satu langkah menjadikan SMP PGRI 5 Denpasar sekolah berkualitas yang setara dengan sekolah kembarannya SMPN 2 Denpasar.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

‘’Sisya Upanayana’’ di Dwijendra

BALI-PORTAL-NEWS.COMSetelah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari, Jumat (15/7/2016), siswa baru dari play group, TK, SD, SMP, SMA/SMK di lingkungan Yayasan Dwjendra Pusat Denpasar mengikuti upacara sisya upanayana. Upacara sisya upanayana dipimpin Ida Pedanda Magelung dari Griya Magelung, Abiansemal.

Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar M.S. Chandra Jaya mengungkapkan, upacara sisya upanayana adalah penobatan dimulainya calon siswa menjadi siswa. Intinya, penyucian ditandai dengan natab banten dalam upacara sisya upanaya agar siswa siap menerima ilmu pengetahuan.

Bukan saja siswa yang mawinten juga wajib diikuti semua guru dari TK, SD, SMP dan SMA/SMK Dwijendra. Kata M.S. Chandra Jaya, melibatkan guru agar keduanya siap belajar dan mengajar. Inilah yang ia sebut dengan keterikatan sisya dan siwa (guru) di Bali.

Dalam upacara sisya upanayana ini setiap siswa diberikan karawista sebagai simbol penajaman pikiran. Benang merah sebagai simbol meninggalkan sifat  buruk dalam diri dan benang putih untuk menumbuhkan sifat  baik dan kedewataan di dalam diri.

Upacara pawintenan sisya upanayana, kata M.S. Chandra Jaya ini memiliki tiga tujuan. Pertama, untuk membersihkan  dan memertajam pikiran. Dengan pikiran yang tajam siswa mampu lebih cepat menyerap ilmu pengetahuan alias aguron-guron di sekolah.

Kedua, untuk memperhalus budi pekerti , berkata sopan dan ketiga berperilaku yang baik. Dengan upacara secara sekala dan niskala, kata M.S. Chandra Jaya, inilah yang membuat semua insan Dwijendra menjadi SDM yang cerdas secara intelektual, sosial, spiritual dan emosional. Mereka ini akan menjadi panutan di keluarga dan ke depan dalam hidup bermasyarakat.

Saat pawintenan para siswa baru juga dirajah. Lidah siswa dirajah agar siswa mampu berbicara dengan tajam dan benar. Ubun-ubunnya dirajah agar siswa mampu berpikir yang jernih. Telinganya dirajah agar siswa mampu mendengarkan yang baik.

Hal ini menurut M.S. Chandra Jaya untuk menjadikan semua hati anak didik di Dwijendra  penuh dengan kasih sayang. Sebelum sembahyang bersama mereka pun diajak majaya-jaya sebagai simbol pemusatan pemikiran untuk menempuh ilmu atau  belajar.

Dia berharap setelah pawintenan Sisya Upanayana warga baru Dwijendra  bisa mengikuti  pendidikan di jenjangnya dengan baik. Dia minta jangan menjadi  anak-anak yang tunarungu alias pura-pura tak tahu. Setiap  bertemu dengan guru dan warga sekolah apalagi tamu sekolah, siswa diwajibkan mencakupkan tangan di dada seraya mengucapkan ‘’Om Swastiatsu’’.

Ketua Panitia Sisya Upanayana, Ni Wayan Nadi Supartini mengungkapkan, sehabis sisya upanayana akan dilanjutkan denan melakukan perjalanan suci tirta gemana, Sabtu (16/7) ke sejumlah Pura Sad Kahyangan di Bali. Acara ini dilakukan nyatur desa.

Siswa SMA menuju timur Pura Silayukti dan Goa Lawah.  Siswa SMP menuju ke utara yakni Pura Batukaru. Siswa SMK di Pura Kahyangan Tiga Peguyangan, serta siswa SD dan TK menuju Bali selatan yakni Pura Candhi Narmada.

 

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha

Siswa Baru SMAN 1 Denpasar Diajak ‘’Ngejot’’

BALI PORTAL NEWS – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Denpasar (Smansa), terbukti mampu menumbuhkan budi pekerti luhur dan kepekaan sosial tinggi pada siswa baru. Mengakhiri kegiatan MPLS, siswa baru Smansa melakukan ngejot ke Panti Jompo Wana Saraya di Jalan Gumitir Denpasar, Yayasan Tat Twam Asi di Jalan Jaya Giri IX No. 6 Denpasar dan SLB A Negeri di Jalan Serma Gede Denpasar.

Sumbangan diserahkan siswa baru Smansa disaksikan Ketua Panitia MPLS Drs. I Gusti Ketut Adiawan, M.Pd., didampingi Waka Kesiswaan yang juga Koordinator MPLS Drs. I Ketut Loper Winartha, M.Pd. Adapun barang-barang yang disumbangkan antara lain, beras, mie instan, gula pasir, teh celup dan pakaian bekas layak pakai.

Ketua Panitia MPLS I Gusti Ketut Adiawan, mengungkapkan, kegiatan MPLS di Smansa sesuai dengan tema ‘’Sejuk, Sehat dan Berbudaya Kita Tumbuhkan Generasi Muda yang Berkarakter dan Peduli Lingkungan’’ sesuai yang dicanangkan Pemkot Denpasar dan mengacu pada Permendikbud No. 18 Tahun 2016. Istimewanya, MPLS juga sesuai dengan visi SMAN 1 Denpasar yaitu unggul dalam mutu, berbudaya, peduli lingkungan dan berwawasan global.

Karenanya, siswa baru Smansa sangat senang dan riang gembira mengikuti MPLS yang sangat jauh dari "aroma" perpeloncoan. Lebih positif lagi, MPLS tahun ini mampu memupuk rasa peduli dan empati siswa kelas X yang dituangkan dalam program kegiatan bakti sosial.

Uniknya, siswa baru mampu berkoordinasi dengan sesama siswa peserta MPLS dengan penuh rasa kepedulian sosial, mulai merancang jenis barang cara menyampaikan kepada siswa lain, pengumpulan barang, mengepak barang, menyimpan barang dan memilih tempat bakti sosial. Rasa peduli siswa sudah berkembang apalagi mendapat bimbingan dari guru-guru Smansa yang memang memiliki loyalitas tinggi dalam dunia pendidikan.

Kepala SMAN 1 Denpasar, Drs. Nyoman Purnajaya, M.Pd., mengaku terharu dengan tingginya kepekaan sosial warga Smansa. Purnajaya menyebutkan, ngejot ini dimaksudkan sebagai eskpresi penguatan pendidikan dan budi pekerti anak-anak di Smansa. Apalagi penumbuhan pendidikan budi pekerti semakin digalakkan pemerintah.

Selain itu budaya ini termasuk salah satu sisi baik pelaksanaan MPLS di Smansa. Purnajaya mengungkapkan budaya ngejot ini juga serangkaian menumbuhkan konsep suputra dalam bentuk nyata yakni anak yang baik, berbakti kepada orangtua dan suka membantu.

Konsep ini sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan Smansa bahwa  pendidikan itu bukan hanya dilakukan di kelas, melainkan dalam bentuk kegiatan bersentuhan dengan masyarakat. Jika semua anak suputra, maka dia yakin semakin sedikit penghuni panti jompo dan panti asuhan di Bali dan mampu memberikan semangat atau motivasi kepada anak-anak panti dan anak-anak SLB A Negeri agar mampu bangkit sebagai generasi muda yang tangguh.

Sekretaris Komite Smansa, A.A. Anom Masta, S.E., merasa terharu karena anak-anak Smansa memiliki kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan spiritual yang tinggi.  Inilah yang dia sebut sebagai penanama sikap mental positif. Dengan demikian sikap mental semua insan Smansa aka menjadi  panutan di rumah dan di sekolah.

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha

SMPN 5 Denpasar Giatkan Potensi Anak untuk Berprestasi

BALI PORTAL NEWSRangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 5 Denpasar, telah ditutup resmi, Rabu (13/7/2016). Kepala SMPN 5 Denpasar, I Wayan Kamasan, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan, MPLS diikuti 394 siswa baru dengan kehadiran 100 persen dan dinyatakan lulus dengan nilai baik.

Kasek Wayan Kamasan didampingi Koordinator Wakasek Nyoman Widana, Waka Kesiswaan Dewa Gede Sumantra dan Ketut Ardika; Waka Humas Wayan Suwirya dan Tjok. Istri Liliawathi; Waka Kurikulum Ni Wayan Suarmi dan Ni Made Murni; dan Waka Sarana Made Suana dan Tri Eny Susiwi, mengungkapkan, MPLS selama tiga hari ditekankan pada suasana menyenangkan, sejuk, sehat dan berbudaya. Sesuai tujuannya untuk mengenalkan lingkungan sekolah sebagai sarana beradaptasi siswa bru dengan teman-teman baru terhadap lingkungan yang baru dan sebagai ajang kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan dalam memajukan pendidikan di sekolah.

Dengan demikian MPLS banyak diisi dengan kegiatan menggali kreativitas siswa dan ceramah serta cinta lingkungan. Termasuk melaksanakan bakti sosial berupa pemberantasan sarang nyamuk ke rumah-rumah warga di sekitar lingkungan sekolah, juga melaksanakan kegiatan 3 M yakni menutup, menguras, dan mengubur.

Wayan Kamasan menambahkan, momentum MPLS juga dimanfaatkan sebagai media sosialisasi nilai-nilai etika, sosial dan budaya sekolah. Kebiasaan dari sebelum pelajaran dimulai hingga akhir pulang dengan aktualiasasi jurus 5 S. Meliputi senyum, salam, sapa, sopan dan santun serta siswa wajib mengucapkan salam om swatiastu setiap bertemu dengan guru maupun tamu yang datang ke sekolah.

Wayan Kamasan mengungkapkan, berkomitmen bulat menjadikan SMPN 5 Denpasar sebagai sekolah berprestasi dan favorit di Kota Denpasar. Kini yang dikembangkan adalah sekolah tumbuh kembang, dimana terus menggali potensi yang dimiliki siswa untuk nantinya mampu memunculkan prestasi.

Karenanya, saat MPLS siswa baru juga dikenalkan beragam bentuk ekstrakurikululer. Tercatat ada 33 jenis ekstrakurikuler di SMPN 5 Denpasar, dan ke depan akan dikembangkan lagi klub-klub akademis seperti klub MIPA, klub bahasa dan lainnya. Ini sesuai dengan motto SMPN 5 Denpasar Widya Purnam Jayanthi artinya dengan ilmu pengetahuan yang sempurna memperoleh kemasyuran.

Waka Humas Wayan Suwirya menambahkan, untuk meningkatkan keakraban antar siswa dengan warga sekolah, Jumat (15/7/2016) besok diisi dengan kegiatan outbond di Taman Kota Denpasar di Lumintang. Kegiatan akan diisi dengan games outbond, atraksi antar kelompok dan lomba-lomba menyenangkan.

Selanjutnya, Sabtu (16/7/2016), siswa baru diajak melakukan kerja bakti membersikan lingkungan sekolah dan kegiatan berkebun. Sehingga siswa baru terbiasa di lingkungan sekolah dan menjadikan sekolahku rumahku.

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha

Penutupan MPLS SMK Teknas Denpasar Berlokasi di PA Tat Twam Asi

BALI PORTAL NEWSRangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Teknologi Nasional (Teknas) Denpasar resmi ditutup, Rabu (13/7/2016). Mengakhiri kegiatan MPLS siswa baru melakukan bakti sosial dengan menyantuni anak yatim piatu di Panti Asuhan (PA) Tat Twam Asi Denpasar di Renon.

Sumbangan bakti sosial berupa berupa mie instan, beras, gula dan uang tunai dikumpulkan dari siswa baru. Sumbangan itu diserahkan Kepala SMK Teknologi Nasional Denpasar I Made Mudarta, S.E., M.M., didampingi Waka Sarana Prasarana, Made Peri Ardiasa, ST.; Waka Kurikulum, Ni Nyoman Sulasmini, S.Pd.; Waka Humas dan Kesiswaan, Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., dan KaprodiSS I Gede Putu Ranggapati, ST., diterima Ketua Yayasan Tat Twam Asi Denpasar, Ny. Gusti Ngurah Ketu.

Mudarta menjelaskan penyerahan bantuan sosial ke panti asuhan sebagai bentuk kepedulian siswa SMK Teknas terhadap sesama manusia. Dikatakannya, kegiatan ini dilakukan di akhir MPLS untuk membuka sejumlah kebaikan dan budi luhur peserta MPLS dan OSIS yang sebenarnya dirahasiakan saat MPLS.

‘’Tradisi menyantuni anak-anak di panti asuhan ini sudah dilakoni anak-anak SMK Teknas Denpasar rutin setiap tahun,’’ ujar Mudarta.

Mudarta menambahkan, bakti sosial ini dimaksudkan sebagai eskpresi penguatan pendidikan dan budi pekerti anak-anak di SMK Teknas Denpasar. Selain  diberikan MPLS yang sejuk, sehat dan berbudaya mereka juga diuji kepekaan sosialnya membantu mereka yang memerlukan uluran tangan anak muda.

Mudarta mengungkapkan bakti sosial ini juga serangkaian menumbuhkan konsep Tri Hita Karana dalam bentuk nyata yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan yang diimplementasikan dalam bentuk persembahyangan bersama, hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan yang diimplementasikan dengan kegiatan peduli lingkungan dan hubungan harmonis antara manusia dengan manusia yang diimplementasikan dengan kegiatan bakti sosial, berbagi dengan sesama dengan memberi perhatian kepada anak-anak yang nasibnya kurang beruntung.

Mudarta menyebutkan, tahun pelajaran 2016/2017 SMK Teknas Denpasar sukses menerima empat kelas siswa baru. Mereka tersebar di empat program keahlian yaki Multimedia, TKJ, Akuntansi dan Administrasi Perkantoran. Dua program keahlian terakhir adalah program keahlian terbaru yang dilahirkan SMK Teknas dan terbukti sangat laris.

Sementara itu, pelaksanaan MPLS menurut Ketua Panitia Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., lebih banyak diisi dengan kegiatan cemarah dan pengenalan kultur sekolah selainmembentuk karakter siswa sesuai dengan harapan Mendikbud. MPLS yang dilakukan selama tiga hari dilakukan secara terukur, tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan di luar aturan seperti perploncoan, kekerasan, atau yang lainnya.

Pada hari terakhir MPLS diisi materi stop bullying yang disampaikan oleh Pendiri Komunitas Anak Bangsa yang juga Ketua Perdiknas Denpasar, Dr. AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H.

Sementara itu, Ketua Yayasan Tat Twam Asi Denpasar, Ny. Gusti Ngurah Ketu, mengapresiasi sumbangan dari SMK Teknas Denpasar sangat membantu penghuni PA Tat Twam Asi, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk keperluan sekolah. Dikatakan Ny. Gusti Ngurah Ketu, 44 orang penghuni PA Tat Twam Asi saat ini merupakan usia sekolah, dimana sembilan orang di antaranya sudah kuliah dan sisanya studi di SD hingga SMA/SMK.

Ny. Gusti Ngurah Ketu menyebutkan hampir 80 persen keperluan biaya di PA Tat Twam Asi Denpasar dihabiskan untuk biaya pendidikan. Untuk itu, ia berharap kepada donatur dan pemerintah daerah bisa membantu memperingan biaya pendidikan anak-anak PA Tat Twam Asi Denpasar.

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha