Gubernur Pastika Bantu Ketut Tangkas, Keluarga Miskin Tidur Berenam di Gubuk Sempit

BALIPORTALNEWS.COM – Kondisi Ketut Tangkas (32) yang tidur berenam didalam gubuk sempit berukuran 2 x 2 meter di Banjar Kauh Teben, Desa Jagaraga, Kec. Sawan, Buleleng yang dimuat di media mendapat perhatian Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Secara khusus, Gubernur Pastika mengutus Staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk meninjau sekaligus menyerahkan bantuan sementara kepada keluarga Tangkas, Rabu (11/4/2018)

Gubuk tempat Tangkas bersama Istrinya Luh Suarmini (32) dan keempat anaknya tidur merupakan bale bengong milik saudaranya, yang diberi dinding dari seng dan triplek bekas. Diceritakan Tangkas, ia bersama keluarga kecilnya harus berdesakan tidur didalam gubuk sempit tersebut karena gubuk mereka tinggali sebelumnya roboh akibat diterjang hujan angin pada Desember 2017 lalu. Bisa dibayangkan bagaimana pengap dan tidak nyamannya mereka tinggal berenam dalam gubuk dengan ukuran sesempit itu.

“Sebelumnya saya tinggal disebelah sana (sambil menunjuk), namun roboh akibat diterjang hujan angin. Sekarang kita tinggal di bale bengong milik kakak ini, saya tutup dengan seng dan triplek agar punya tempat untuk tidur bersama istri dan anak-anak,” cerita Tangkas kepada tim yang mengunjunginya siang itu.

Ditambahkan Tangkas, ia tinggal satu pekarangan dengan rumah orang tuanya. Dalam pekarangan itu juga tinggal Lima saudaranya yang lain, dimana kondisi ekonominya juga sama seperti dirinya. Bahkan tempat tinggal Tangkas tidak memiliki aliran listrik, sehingga pada malam harinya hanya mengandalkan lampu Petromak. Tangkas yang tidak memiliki pekerjaan tetap, harus berusaha keras untuk bisa menafkahi keluarga kecilnya. Terlebih anak kelimanya saat ini baru berusia Lima hari, sehingga membutuhkan biaya untuk asupan gizi dan kesehatannya.

“Gubuk saya ini tidak ada listrik, hanya satu saudara saya ada listriknya. Itupun nyentel (ikut gabung-red) di tetangga,” ungkap Tangkas.

Kondisi Tangkas yang serba kekurangan tersebut dibenarkan Sekretaris Desa Jagaraga Nyoman Satiawan ketika ditemui tim dikantornya. Satiawan membenarkan jika Tangkas merupakan salah satu warganya yang termasuk dalam keluarga miskin, sehingga Tangkas memperoleh bantuan sosial dari pemerintah seperti beras sejahtera dan juga Kartu Indonesia Sehat (KIS). Lebih lanjut, Satiawan menjelaskan jika orang tua Tangkas sebelumnya pada tahun 2010 telah memperoleh bantuan bedah rumah. Tak hanya orang tuanya, salah satu saudaranya juga memperoleh bantuan rehab rumah pada tahun 2014 yang lalu. Bahkan Tangkas sendiri sudah didaftarkan untuk dibantu bedah rumah dari oemerintah, namun hingga kini belum terealisasi.

“Pihak Desa telah mengusulkan bantuan bedah rumah untuk Tangkas tahun 2018 ini, namun belum bisa. Sehingga kita usahakan untuk bantuan rehab rumah, infonya pertengahan tahun ini bisa terealisasi. Untuk bantuan lain seperti beras sejahtera, KIS, keluarga Tangkas menerimanya,” jelas Satiawan.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Pastika menitipkan sejumlah uang untuk dapat digunakan oleh keluarga Tangkas memenuhi kebutuhan sehari-harinya. (humas-bali/bpn)

Gubernur Bali Bantu Pasutri Miskin Di Desa Panji Sukasada Buleleng

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Harapan pasutri Putu Loka (64) bersama istrinya Made Suci yang tinggal di Dusun Delod Kauh, Desa Panji, Sukasada, Buleleng untuk mendapatankan bantuan Gubernur Bali akhirnya terkabul. Begitu foto pasutri ini muncul di salah satu media masa, Senin (26/3/2018) Gubernur langsung mengutus beberapa staf Biro Humas dan Protokol Setda Prov. Bali untuk terjun mengecek langsung ke kelapangan.

Diantar Kasi Kesra Kantor Desa Panji, Gede Ardana, rombongan yang dipimpin Kepala Bagian Publikasi, Pengumpulan dan Penyaringan Informasi, Made Ady Mastika bertandang ke gubug tempat pasutri ini beristirahat. Untuk sementara Gubernur Bali hanya memberikan bantuan sejumlah uang agar bisa meringankan biaya hidup yang bersangkutan untuk beberapa bulan ke depan.

 Seperti di wartakan di salah satu media lokal bahwa ada sepasang suami istri miskin di Dusun Kedlod Kauh, Desa Panji, Sukasada, yang luput dari bantuan pemerintah. Pasutri yang sudah renta dan sakit sakitan khususnya Made Suci yang mengalami gangguan pada mata, hidup dari menjual porosan.

Meski mereka memiliki dua orang anak tetapi mereka tidak mau membebani  kehidupan keluarga anak-anaknya, terpaksa mereka harus hidup mandiri. Meskipun pada siang harinya mereka tinggal di gubug, tetapi pada malam hari mereka tetap tidur di rumah bersama anak-anak mereka. Maka dari itu Loka da Suci sangat berharap ada perhatian dari Bapak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika,

Untuk sakit mata yang dialami Made Suci, Kabag Publikasi, Pengumpulan dan Penyarngan Informasi Biro Humas dan Protokol Setda prov Bali, Made Ady Mastika sudah melakukan Kordinasi dengan Pihak Rumah Sakit Mata Bali Mandara agar bisa membantu yang bersangkutan. Mastika menyarankan Pihak Kantor Desa bisa memfasilitasi keluarga ini agar bisa berobat ke Ramah Sakit, dan kalau bisa langgsung ke Rumah Sakit Mata Bali Mandara, dan Mastka berjanji akan membantu mempermudah prosesnya. (humas-bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Dadong Belek Asal Desa Tunjung-Kubutambahan

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Kisah memilukan yang dialami dadong Nyoman Belek (80) yang Tinggal bersama Made Mudiasna (anak), Nyoman Yastimin (menantu), dan dua (2) orang cucunya Wayan Gunawan dan Made Windi Saputra di Banjar Dinas Dangin Margi, Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan-Buleleng mendapat perhatian Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Dengan mengirim Tim respon cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Gubernur Pastika meminta agar kondisi dadong Belek yang tidak memiliki jaringan kesehatan akibat terkendala administrasi kependudukan (KTP)  untuk bisa dikoordinasikan dan dibantu.

Sekalipun tinggal bersama anak dan menantu, namun hingga saat ini dadong Belek tidak mendapatkan kartu Indonesia sehat (KIS) maupun BPJS PBI (penerima bantuan iuran), karena namanya tidak masuk kedalam Kartu Keluarga (KK).

Dadong Belek yang sudah renta ini, kesehariannya hanya bisa memasak daun keladi untuk teman nasinya. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari anak semata wayangnya Made Mudiasna yang hanya bekerja serabutan sebagai buruh proyek.

Mereka menempati rumah kontrakan ukuran 2×6 meter, dengan dinding batu bata yang sudah rusak diatas tanah milik orang lain yang harus dibayarnya setiap Tahun Rp 350.000.

Kepala Desa Tunjung Kecamatan Kubutambahan – Buleleng membenarkan kondisi warganya dadong Belek seperti yang dimuat oleh sebuah media. Bahkan untuk beras sejahtera (rastra) pun dadong Belek tidak menerima Karena terkendala administrasi kependudukan.

Dibenarkan pula bahwa tahun lalu, dadong Belek sudah dibantu akan dibuatkan kartu keluarga oleh pihak desa, namun dadong Belek berhalangan hadir.

Saat ini sesuai program Pemerintah yakni jemput bola data kependudukan, maka dadong Belek kembali akan dibantu dalam mengurus administrasi kependudukan, sehingga memudahkan pengurusan kartu jaminan kesehatan, baik KIS maupun BPJS PBI.

Untuk meringankan beban hidup dadong Belek, Gubernur Bali Made Mangku Pastika melalui tim respon cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali menyerahkan bantuan sejumlah uang, yang nantinya diharapkan dapat digunakan untuk keperluan hidup sehari hari. (humas-bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu 2 Warga Miskin di Buleleng dan Susik Bondres yang Tengah Sakit Komplikasi

BALIPORTALNEWS.COM – Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberi respon cepat terkait pemberitaan media massa tentang keberadaan dadong Ketut Sukranis (65). Lansia yang hidup sebatang kara tanpa anak, suami maupun keluarga untuk merawatnya. Dadong ranis (sebutan sehari-harinya) warga Banjar Dinas Kelod Kauh, Kecamatan Sukasada – Buleleng ini mengalami kebutaan sejak usia 2 bulan.

Untuk berteduh Dadong Ranis menempati rumah yang terbuat dari batu bata, berukuran 2×3 meter persegi dan berlantaikan tanah. Tidak cukup disitu, atap dapur yang digunakan untuk memasak dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun nampak sudah mulai bocor.

Sedangkan usianya yang sudah lanjut membuatnya tidak mampu untuk berbuat banyak, yang mengakibatkan Dadong Ranis hanya mengandalkan belas kasihan dari warga lain untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Terkadang untuk mengisi waktunya, Dadong Ranis beternak babi dan ayam yang ada di kamarnya, dan juga menjarit porosan (bahan sesajen) yang kemudian dijual kepada pembeli yang datang langsung ke rumahnya.

Hingga saat ini Dadong Ranis yang tergolong warga kurang mampu belum pernah menerima bantuan dari Pemerintah, lantaran terkendala administrasi kependudukan (tidak memiliki KK dan KTP). Namun melihat kondisi Dadong Ranis yang seperti ini, Kepala Dusun setempat menggandeng komunitas sosial untuk menyalurkan bantuan sembako sebagai pemenuhan hidup sehari-harinya.

Kaur Perencanaan Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Putu Sedana yang ikut mendampingi membenarkan akan kondisi yang dialami Dadong Ranis. Dan pihaknya mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Gubernur Pastika melalui tim respon cepat dan berharap ada bantuan rehab untuk warganya ini.

Pada kesempatan yang sama tim respon cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali  juga mengunjungi Made Sih  warga miskin yang berasal dari Banjar Dinas Tenaon, Desa Alasangker – Buleleng. Sepanjang hidupnya setelah ditinggal meninggal oleh orangtuanya, Made Sih hidup sebatangkara diatas tanah milik Desa Adat dan memilih tidak menikah hingga saat ini. Di dalam gubuknya yang reot dan beratap bocor, Made Sih berteduh walaupun terkadang tetap harus basah kuyup saat musim hujan tiba.Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Made Sih menjual pupuk dari kotoran sapi dan ngadas sapi (memelihara sapi milik oranglain).

Untuk meringankan beban hidup masing-masing dari warga miskin (Ketut Sukranis dan Made Sih) tim respon cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi menyerahkan bantuan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika berupa sejumlah uang, dengan harapan bantuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.

Diwaktu yang sama, Gubernur Pastika juga memberikan perhatian kepada salah satu maestro seni bondres asal Bali Utara Made Ngurah Sadika (54) atau yang kita kenal “Susik Bondres” yang saat ini tengah terbaring lemas akibat menderita penyakit yang cukup serius. Gubernur Pastika juga pada kesempatan tersebut menitipkan bantuan untuk dapat meringankan beban keluarga dalam pengobatan Susik.

Ngurah Sadika ketika dijenguk Tim tengah terbaring lemah di Ruang Hemodialisa RSUD Buleleng karena harus menjalani cuci darah. Sang Istri Ni Luh Rening (46) yang saat itu mendampingi, mengatakan jika “Susik” saat ini tengah mengalami sakit komplikasi dan gagal ginjal. Selama 6 bulan terakhir ini, Susik harus menepi dari dunia pentasnya karena tak kuasa menahan sakit yang diderita.

“Bapak (Ngurah Sadika-red) harus menjalani cuci darah sebanyak Dua kali dalam seminggu yakni hari Selasa dan Kamis karena sakit komplikasi yang diderita, terakhir Bapak sakit gagal ginjal. Kakinya juga membengkak sekarang,” cerita Luh Rening.

Pada kesempatan tersebut, Ngurah Sadika mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Bali yang telah memberikan perhatian kepada dirinya. (humas-bali/bpn)

Gubernur Pastika Bantu Keluarga Sumadi Asal Desa Sudaji Buleleng

BALIPORTALNEWS.COM – Respon cepat dilakukan Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengetahui adanya warga kurang mampu bernama Ketut Mas Sumadi (39) asal Banjar Kaja Kauh, Desa Sudaji, Kec. Sawan, Buleleng yang dimuat di beberapa media.

Sumadi tinggal bersama Istri dan ketiga anakanya dibangunan rumah yang bisa dibilang tidak layak huni. Betapa tidak, dinding rumah yang terbuat dari bata mentah tersebut kini sudah rapuh. Tak hanya itu, atapnya yang terbuat dari seng juga sudah karatan dan berlubang. Bahkan ketika hujan turun, mereka menggunakan terpal untuk berteduhnya. Daun pintu dan jendelanya sulit dibuka, karena sudah lapuk dimakan rayap sehingga bagian dalam rumahnya pun berbau apek. Yang lebih memprihatinkan lagi, tidak ada kamar mandi di bangunan rumahnya itu. Semua kebutuhan untuk memasak, mandi, cuci pakaian, hingga kebutuhan buang hajat, dilakukan di saluran irigasi dekat rumah mereka.

Untuk itu, Gubernur Pastika langsung mengutus tim respon cepat Biro Humas dan Protokol SetdaProvinsi Bali untuk meninjau sekaligus menyerahkan bantuan sementara kepada keluarga Sumadi pada Rabu (28/2/2018) pagi.

Setelah berkoordinasi terlebih dahulu ke kantor Perbekel Desa Sudaji, tim langsung menuju kediaman Sumadi didampingi Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Sudaji I Made Mas Santika Putra. Ketika tim berkunjung, Sumadi tidak berada di rumah hanya sang Istri Luh Serki (35) serta ketiga buah hatinya yakni Kadek Anggara Natha (11), Komang Rudiasa (6), serta si bungsu Ketut Ani Ningsih (3). Sedangkan anak sulungnya Gede Ariaba (13) yang saat ini telah putus sekolah sedang bekerja di wilayah Tabanan sebagai buruh pasir.

“Bapak (Suami-red) sedang tidak ada dirumah, dia lagi keluar ada keperluan. Dirumah hanya berempat saja, kalau Gede (Anak Pertama-red) kerja jadi buruh di Tabanan,” ujar Luh Serki.

Diceritakan Serki, di rumah yang ia tinggali saat ini terdapat Dua kamar. Satu kamar untuk keluarganya, sedangkan Satu kamar lagi untuk adik iparnya (adik BUNGSU Sumadi). Rumah tersebut merupakan warisan dari orang tua Sumadi. Disamping rumah Sumadi yang masih dalam satu pekarangan (halaman-red), tinggal kedua adiknya juga.

“Kalau yang disamping-samping ini ditinggali saudara dari suami Saya, rumah yang Saya tinggali ini merupakan warisan dari Orang tua suami,” ceritanya.

Lebih lanjut, Serki mengatakan jika Sumadi hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Sementara dirinya fokus mengasuh anak-anak, sehingga penghasilan yang didapat tidak menentu. Keterbatasan pendapatan itu membuat keluarga Sumadi pasrah dengan kondisi tempat tinggalnya. Ia memilih membiarkan rumahnya rusak dimakan waktu, karena tak ada biaya untuk merenovasi rumahnya tersebut.

“Ya semoga Saya dapat bantuan rehab atau bedah Rumah dari pemerintah agar keluarga Saya bisa tidur tenang dan hanya memikirkan mencari kerja untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya dan sekolah anak,” imbuh Serki.

Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Sudaji I Made Mas Santika Putra mengatakan, keluarga Mas Sumadi memang tercatat sebagai keluarga kurang mampu di wilayahnya. Hal itu juga dikuatkan dengan tercantumnya nama Sumadi dalam Basis Data Terpadu (BDT) yang diterbitkan Dinas Sosial Buleleng serta terdaftar sebagai keluarga miskin dalam basis data pemerintah. Keluarga Sumadi dijelaskan Santika saat ini telah memegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang didamnya terdapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Khusus untuk bantuan rumah, Santika menyebut keluarga Sumadi akan mendapat bantuan rehab rumah pada tahu 2018 ini.

“Kami sudah usulkan tahun lalu. Informasinya tahun ini akan direalisasikan. Bantuannya itu berupa rehab, nanti akan kita coba usulkan untuk bantuan bedah rumah kalau tanah yang ditempati memungkinkan,” kata Santika.

Tak lupa, Santika juga mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Bali yang telah memberikan perhatian khusus kepada salah satu warganya. Ia berharap agar pemerintah terus memperhatikan warga lainnya yang kurang mampu, dan program pemprov Bali yang menurutnya sangat bagus dalam pengentasan kemiskinan ini bisa terus dilanjutkan.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Pastika menyerahkan sejumlah uang kepada keluarga Sumadi untuk digunakan membeli keperluan sehari-hari. (humas-bali/bpn)

Gubernur Pastika Respon Cepat 2 KK Kurang Mampu di Buleleng

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Gubernur Bali merespon pemberitaan media sosial terkait kondisi anak-anak dari pasutri Dewa Made Ukir dan Desak Putu Artiningsih yang keduanya mengalami kelumpuhan permanen di Banjar Dinas Kaja Kangin, Kecamatan Kubutambahan-Buleleng, Senin (12/2/2018).

Kedua anak tersebut bernama Dewa Kadek Kertiyasa lumpuh akibat kecelakaan saat duduk di sekolah tingkat SMP tahu 2011, sedangkan adiknya Dewa Komang Arijambe mengalami kelumpuhan sejak kelas 4 SD  diduga akibat polio.

Selama ini mereka hanya dirawat di rumah karena tidak memiliki biaya, begitu juga mereka tidak memiliki kartu jaminan kesehatan. Namun sebagai warga yang tercatat kurang mampu, mereka sudah menerima sembako tiap bulannya dari desa dan kursi roda dari sebuah komunitas.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Bapaknya Dewa Made Ukir bekerja sebagai buruh nelayan, yang penghasilannya tidak menentu. Sedangkan ibunya Desak Putu Artiningsih tidak bekerja karena harus merawat dan menjaga Dewa Kadek Kertiyasa dan juga Dewa Komang Arijambe.

Selain mengunjungi keluarga Dewa Made Ukir, Tim Respon Cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali juga mengunjungi bayi kembar, putri kedua  dari pasangan Komang Rasa dan Anak Agung Istri Oka Dianawati. Seperti yang diberitakan oleh media sosial sebelumnya, bahwa ibu bayi kembar ini meninggal setelah melahirkan 31 januari Pekan lalu, akibat komplikasi jantung dan asma.

Kepala Desa Tunjung-Kubutambahan  I Made Dadia membenarkan bahwa kondisi keluarga bayi kembar ini merupakan salah satu warga kurang mampu dari 505 kk yang tercatat. Sesuai informasi yang kami peroleh bahwa untuk meringankan beban hidup bayi kembar kelak, salah satu dari bayi kembar tersebut akan dibiayai pendidikannya oleh Bupati Buleleng, dan satunya lagi akan dibiaya pendidikannya oleh istri dari Wakil DPRD Buleleng. Saat ini bayi kembar yang belum di beri nama itu tinggal bersama kakak, bapak, kakek dan neneknya.

Meskipun demikian, bapak dari bayi kembar ini mengatakan bahwa hak asuh anak-anaknya akan tetap dilakukannya bersama keluarga, dan tidak akan diserahkan hak asuhnya kepada orang lain. Untuk membiayai kebutuhan hidupnya, Komang Rasa kini bekerja sebagai tenaga serabutan ( buruh sablon ) yang dibayar Rp 50.000 perhari.

Untuk meringankan beban hidup keluarga mereka,  Gubernur Bali Made Mangku Pastika melalui Tim Respon Cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali yang didampingi aparat desa setempat menitipkan bantuan berupaya sejumlah uang untuk masing-masing keluarga yang bersangkutan. (humas-bali/bpn)

Buleleng Dilintasi Tour De Indonesia 2018

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Untuk pertama kalinya Buleleng akan menjadi salah satu lintasan dalam rangkaian kejuaraan Sepeda bertajuk Tour De Indonesia yang akan berlangsung tanggal 25 hingga 28 Januari 2018.

Ketua Harian Pengkab ISSI Buleleng, Wayan Ariasa usai melakukan audensi kepada Kapolres Buleleng Senin (22/1/2018) siang menjelaskan Tour De Indonesia yang mengambil start di Yogjakarta akan melintas di kabupaten Buleleng Minggu 28 Januari 2018. Adapun jarak tempuhnya mencapai 170 km dengan waktu tempuh 4 Jam.

Dipaparkan bahwa Tour De Indonesia tahun 2018  yang diikuti oleh 20 negara dibagi menjadi 14 tim akan mengambil start pada  Etape Pertama di Yogjakarta dan finish di  Ngawi, Jawa Timur , Etape Kedua mengambil start di  Madiun dan finish di Mojokerto. Pada etape ketiga dari Probolinggo menuju Banyuwangi. Etape kempat mengambil di Gilimanuk dan Finish di lapangan Puputan Renon Denpasar Bali. Dari Gilimanuk.

Ratusan  peserta yang telah mendaftarkan diri akan menuju Denpasar melalui lintasan jalan Gilimanuk-Singaraja melintasi  jalan Sudirman, Jalan Pahlawan, Jalan Veteran, Jalan Mayor Metra, Jalan Jelantik Gingsir via Gitgit –Baturiti dan menuju finish di lapangan Puputan badung. Buleleng sebagai salah satu wilayah lintasan menurut ketua harian ISSI Wayan Ariasa telah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian terutama pada lintasan yang dinilai rawan karena kondisi jalan maupu adanya lintasan yang sering dilintasi oleh binatang. “Kami panitia lokal akan telah melakukan sosialisasi mengenai jalur yang akan dilintasi sehingga pada saatnya nanti lintasan itu bisa aman dari aktifitas,” ujarnya.

Sementara itu Kasat lantas Polres Buleleng  Adi Sulistio Utomo mengaku telah siap untuk mengamankan lintasan yang akan dilalui oleh peserta Tour De Indonesia. Apalagi Sulitio Utomo yang sempat bertugas di Bukit Tinggi mengaku sudah memiliki pengalaman dalam mengamankan Tour De Singkarak. Dua lokasi masing-masing kawasan Pulaki di Kecamatan Gerokgak dan kawasan Puncak Wanagiri di Kecamatan Sukasada akan menjadi atensi khusus pihak kepolisian. “Bukan hanya jalan berlubang tapi juga binatang liar, aktifitas masyarakat juga perlu mendapat atensi sehingga H-1 harus sudah disterilkan,” ungkapnya. (humas-konibll/bpn)

Gubernur Pastika Meninjau Kondisi Pengungsi di Tejakula Buleleng

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Selepas mengikuti apel peringatan HUT KORPRI di Kantor Gubernur Bali, Gubernur Made Mangku Pastika berinisiatif meninjau kondisi pengungsi di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Rabu (29/11/2017).

Didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra, Gubernur Pastika tiba di lokasi pengungsian dan langsung mendapat laporan kondisi pengungsi dari Kepala BPBD Provinsi Bali Dewa Made Indra dan Kepala Desa Tembok Dewa Komang Yudi Astara. Menurut Astara, sebanyak 2.300 pengungsi asal Karangasem sudah ditampung di desa Tembok pasca penaikan status Gunung Agung ke level Awas untuk kedua kalinya.

Gubernur Made Mangku Pastika mengatakan proses pengungsian untuk kali kedua ini jauh lebih baik, karena status Awas terjadi pagi hari. Ia menilai pemerintah dan masyarakat lebih siap dengan status Awas kali ini dan tak ada kepanikan seperti pada pernyataan Awas sebelumnya.

Pastika menambahkan masyarakat kali ini mengungsi dengan tertib dan atas kesadaran sendiri. Hanya saja, ia menambahkan, masyarakat tidak membawa kembali bantuan yang dulu sudah diberikan oleh pemerintah seperti matras, selimut kompor dan kipas. Ia berharap jangan sampai ada kesan pemerintah membiarkan pengungsi tidur di alas tipis dan tanpa selimut.

Menurutnya para pengungsi sudah dihimbau agar membawa kembali kompor, alat masak dan kebutuhan lainnya. “Minta lagi ke pemerintah agak sulit karena dulu sudah pernah dikasih. Tapi kemarin saya sudah minta ke pemerintah pusat matras selimut tenda terpal alat masak ya mudah mudahan didrop, kalau tidak ya kita musti cari lah,” ujarnya.

Pada kesempatan ini Gubernur Pastika juga berharap masyarakat mengikuti arahan pemerintah. Menurutnya selama penghuni 22 desa yang masuk ke dalam Kawasan Rawan Bencana mengikuti arahan pemerintah, mudah-mudahan masyarakat akan aman.

 “Kita harapkan tidak terjadi sih, anggaplah kemungkinan terburuk itu (erupsi seperti tahun 1963). Tidak ada masalah sepanjang saudara-saudara kita mengikuti arahan kita,” ujarnya. (humas-bali/bpn)

Serahkan 6000 Sertifikat Tanah di Buleleng, Presiden Jokowi Minta Tidak Dipakai Beli Mobil

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ny. Ayu Pastika mendampingi Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Buleleng, Selasa (26/9/2017).

Tiba dengan helikopter yang mendarat di lapangan Mayor Metra pukul 11.00 WITA, Presiden Joko Widodo beserta rombongan menghadiri penyerahan KIP di Gedung Kesenian Gde Manik sebelum beranjak ke Taman Kota Singaraja untuk menyerahkan sertifikat hak atas tanah kepada warga Buleleng.

Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo mengatakan penerbitan sertifikat untuk seluruh tanah di provinsi Bali diharapkan selesai tahun 2019 dan ini memungkinkan Bali menjadi provinsi pertama di Indonesia yang sertifikatnya 100 persen. Ia menambahkan tahun ini pemerintah menargetkan penerbitan 5 juta sertifikat. Hal ini menurutnya perlu karena banyak sengketa lahan terjadi di masyarakat, baik antar masyarakat, masyarakat dengan pemerintah atau masyarakat dengan swasta karena tidak adanya sertifikat.

Presiden Jokowi juga mengingatkan masyarakat penerima agar berhati-hati menggunakan sertifikat ini untuk pinjaman. “Nggak papa dipakai agunan tapi tolong diitung bisa mengangsur nggak, kalo nggak jangan pinjam,” katanya. Ia berharap pinjaman tidak dipakai untuk belanja konsumtif seperti membeli mobil atau motor pribadi. Menurutnya sebaiknya pinjaman dipakai modal kerja dan keuntungan dari modal kerja itulah yang ditabung hingga mencukupi untuk membeli kendaraan.

Terakhir Presiden berpesan agar masyarakat Indonesia yang beraneka ragam rukun dan bersatu agar negara Indonesia menjadui negara yang besar dan kuat. Menurutnya perbedaan itu adalah potensi dan kekuatan bangsa Indonesia.

Sebelumnya Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI Sofyan Djalil mengatakan sampai saat ini masih 33 persen tanah di Bali yang belum tersertifikat. Untuk penyerahan kali ini di dibagikan 6000 sertifikat kepada 4430 warga Buleleng, karena banyak yang menerima lebih dari satu sertifikat.

Secara simbolis Presiden Joko Widodo menyerahkan sertifikat kepada 12 warga penerima. Acara penyerahan juga dihadiri Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama dan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana.

Seusai penyerahan sertifikat di Buleleng, Presiden Joko Widodo dan Gubernur Made Mangku Pastika juga akan mengunjungi Posko Bencana Erupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem.(r/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :