BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Gelaran Parade Gong Kebyar dan Kesenian Klasik Kota Denpasar tahun 2018 senantiasa terus melahirkan insan seni baru. Tidak hanya itu, beragam garapan baru juga turut lahir dari gelaran seni tahunan Kota Denpasar ini.

Kali ini, serangkaian pelaksanaan Parade Gong Kebyar dan Kesenian Klasik Kota Denpasar tahun 2018 yang mengambil tempat di wantilan Pura Dalem Desa Pakraman Panjer, Denpasar Selatan, Selasa (13/11/2018) turut tampil Gong Kebyar Anak-anak Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh yang mebarung dengan Sekehe Gong Kebyar Anak-anak Siwer Nadi Swara, Banjar Pagan Kelod.

Dalam kesempatan tersebut, Sekehe Gong Kebyar Anak-anak Eka Dharma Swara menampilkan tiga materi yakni Tabuh Telu Lelambatan Kreasi Swaraning Ngembat, Tari Jauk Keras, dan Tari Kreasi Mecurik-curikan. Tahap demi tahap penampilan turut dimeriahkan riuh dan tepuk tangan penonton yang hadir.

Kordinator Sekehe Gong Eka Dharma Swara Banjar Yangbatu Kauh, I Wayan Agus Yuliawan didampingi Penata Tabuh, Deo Sandiawan mengatakan bahwa pelaksanaan Parade Gong Kebyar dan Kesenian Klasik ini merupakan wahana yang efektif sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Bali. Dimana, dari serangkaian kegiatan ini secara otomatis akan mampu menghasilkan insan seni baru serta garapan tabuh dan tarian baru.

“Kegiatan tahunan ini sangat efektif dalam melahirkan insan kesenian di Kota Denpasar sebagai wahana edukasi dini  tentang seni budaya dalam menjaga kelestarian seni budaya itu sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, adapun materi yang dibawakan sengaja dipilih guna menggugah rasa yang mendalam bagi masyarakat. Seperti halnya Tabuh Telu Lelambata Kreasi Swaraning Negmabt yang terisnpirasi dari perjalanan kehidupan manusia yang mmiliki fase tersendiri. Mulai dari lahir, anak-anak, dewasa, menu hingga mati. Hal inilah yang identik dengan ngembat yang dapat diartikaan sebagai sebuah perjalanan yang diaplikasikan dalam garapan seni tabuh dengan penekanan pada tehknik ngembat pada instrumen terompong yang merupakan unsur penting dalam pembawaan tabuh telu.

Untuk Tari Jauk Keras, lanjut Agus bahwa Sekeha Gong Anak-anak Banjar Yangbatu Kauh sebagai generasi milenial tetap menghargai jasa para pahlawan. Hal inilah yang menjadi makna penting pembawaan Tari Jauk Keras yang menggambarkan gerak heroik seoarang raja dalam mempertahankan kerajaanya.

Sedangkan untuk Tari Kreasi Mecurik-curikan, pihaknya menekankan bahwa saat ini permainan tradisional Bali sudah sangat jarang. Dimana, anak-anak milenial masa kini lebih disibukan denga gadget dan handphone yang dilengkapi dengan fitur aplikasi yang justru menjadikan anak-anak tumbuh dengan individualisme. “Dari garapan ini kami ingin memperkenalkan permainan tradisional sebagai media sosialisasi sekaligus edukasi sejak dini tentang pentingnya permainan tradisional yang dapat membentuk karakter dan mental anak,” jelasnya.

“Dan yang terpenting dalam garapan ini anak-anak dapat menikmati permainan tradisional sembari bermain gambelan, menari dan bernyanyi dalam balutan Parade Gong Kebyar,” pungksnya.

Sementara, salah seoarang penabuh, Indra Wira Pratama mengaku senang dapat ikut serta pada parade gong kebyar tahun 2018 ini. “Ini kesempatan yang langka, belum tentu tahun depan bisa ikut lagi, jadi harus dimanfaatkan dengan maksimal, yang penting berani tampil aja dulu,” tandasnya. (ay/bpn)