BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Penampilan komunitas Suarshima dalam tari dan tabuh di Jaba Pura Puri Agung Denpasar, Minggu malam (7/10/2018) memberikan sebuah gambaran bahwa gairah berjesenian tetap tampak dalam membangun negeri. Menampilan karya-karya seni yang bersifat pembaruan yakni I Made Artya Talava, I Gusti Ngurah Gede Agung Mariswara dan Anak Agung Putu Atmaja disaksikan Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra. Tampak juga dalam pementasan malam itu, komunitas Suarshima yang baru terbentuk dengan mengusung spirit Arti Foundation ini tampak juga disaksikan penglingsir Puri Agung Denpasar Cok Ratmadi, tokoh seniman Bali, Prof. I Wayan Dibia dan beberapa seniman Bali.

“Saya berharap komunitas Suarshima dapat bergerak lincah, mantap dan melahirkan karya-karya yang menginspirasi masyarakat luas,” ujar Walikota Rai Mantra. Lebih lanjut Rai Mantra menuturkan bahwa pernah ditemui Artya Talava anak dari Kadek Suardhana pendiri ARTI Foundation yang berkeinginan membentuk komunitas Suarshima. Dalam pertemuan tersebut Rai Mantra memiliki pemikiran bahwa Kadek Suardana seakan hidup kembali. “Pertemuan dengan Artya Talava seakan terlintas kalau Kadek Suardana hidup kembali,” ujarnya.

Rai Mantra juga mengaku menyambut baik keinginan Made Lolink sapaan akrab Artya Talava ini untuk meneruskan yayasan ARTI Foundation yang didirikan ayahnya yang sangat saya kenal sebagai seniman dan tokoh penting kesenian Bali modern. Menurut Rai Mantra tak pernah ada upaya menjalankan niat yang luput dari hambatan. Itulah ujian dari kesungguhan kita mengupayakan niat itu. Terkadang semakin besar niat, semakin besar pula tantangannya.

“Saya berharap komunitas ini dapat mendorong lahirnya generasi baru yang berkrakter Bali, yang gandrung perdamaian, mengutamakan kejujuran dan kebersihan hari, kreatif, adaktif dan selalu menemukan cara untuk menjawab tantangan jamannya melalui inovasi-inovasi, serta bersemangat meraih masa depan dengan tetap berpijak pada akar tradisi dan kearifn masa lalu,” ujar Rai Mantra.

Sementara Made Lolink mengatakan pada tahun 2018 ini tepat pada peringatan lima tahun kepergian sang ayah, serta saya bersama rekan-rekan membentuk Suarshima sebagai wadah berekspresi, berkarya, dan berinovasi. Dijelaskan Suarshima secara etimologi berasal dari penggalan kata yakni Suar dan Shima. Dimana penggalan kata ini diambil dari kedua seniman yakni Kadek Suardana dan Mari Nabeshima.

Keberadaan Suarshima saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari Yayasan ARTI Foundation yang diasuh ayah saya Kadek Suardana ada periode 1998 hingga beliau meninggal di tahun 2013. “Sehingga kami memutuskan bersama rekan-rekan untuk ikut bergabung dan bisa melahirkan sebuah komunitas baru namun sejalan dengan visi misi kebudayaan yang selama ini dijalankan oleh ARTI Foundation,” ujarnya. Suarshima dibentuk demi memuaskan hasrat berkesenian para senimannya. Bukan semata-mata komunitas seni yang bersifat konvensional atau ekonomis. Namun menurut Lolink Suarshima memiliki tujuan menjadi sebuah komunitas yang berkarya dengan profesional, baik dalam menghargai sebuah karya maupun senimannya.

Dalam penampilan kali ini, sebuah garapan tari Legong dengan iringan musik Saron, yang juga menampilkan karya Anak Agung Putu Atmaja dengan garpan menggunakan instrumen selonding yang berjudul Rasa. Disamping itu juga menampilkan karya I Gusti Ngurah Gede Agung Mariswara berjudul Sedulur yang berpijak pada pola-pola leluang dari instrumen Saron yang dimodifikasi bersama aksen gending-gending sanghyang yang kental dengan aroma tradisi. (pur/humas-dps/bpn)