BALIPORTALNEWS.COM – Prevalensi alergi dan defisiensi vitamin D meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terjadi hampir di berbagai negara dunia.

“Anak dengan faktor risiko alergi (atopi) cenderung mempunyai kadar vitamin D yang rendah,” kata dr. Sri Wahyu Herlinawati, Sp.A., M.Kes., saat menjalani ujian terbuka program doktor di Fakultas kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Kamis (25/10/2018).

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi ini menyebutkan sejumlah penelitian menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kasus alergi di dunia. Hal tersebut dihubungkan dengan rendahnya kadar vitamin D akibat dari banyaknya orang yang lebih banyak tinggal di dalam ruangan sehingga kurang mendapatkan pajanan sinar matahari dan rendahnya produksi vitamin D di kulit.

Kurangnya pajanan sinar matahari merupakan penyebab utama defisiensi vitamin D. Sebab, sekitar 80 persen vitamin D dalam tubuh manusia berasal dari previtamin D yang diproduksi di kulit yang diinduksi oleh sinar UV B.

Herlinawati pun melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pajanan sinar matahari terhadap kadar vitamin D. Selain itu untuk menggali lebih dalam terkait pengaruh vitamin D dari pajanan sinar matahari terhadap kadar IL4 dan IgE total pada anakan dengan faktor risiko alergei atau atopi.

Hasil penelitian menjukkan dengan pemberian perlakuan pajanan sinar matahari pada anak dengan atopi meningkatkan kadar vitamin D secara signifikan. Sementara peningkatan kadar vitamin D dari pajanan sinar matahari tidak secara signifikan memengaruhi kadar IL4 dan IgE total pada anak dengan atopi. (ika/humas-ugm/bpn)