Tari Rejang Ratu Segara Garapan Bupati Eka, Gelar Latihan Perdana di Tegeh

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, garap kesenian Tari Kreasi Baru bertajuk Tari Rejang Ratu Segara, yang akan ditampilkan di pelataran Pura Luhur Tanah Lot, Beraban, Kediri, bulan Juli mendatang. Sebagai persembahan kesenian yang penuh rasa, estetika dan keindahan kehadapan Betara-Betari (Ratu Segara) yang berstana di Pura dan Pantai Tanah Lot.

Dibantu 2 (dua) orang koreografer handal, Putra Daerah asli Tabanan, yakni I Wayan Juana adi Saputra (Dadong Rerod) dan I Wayan Muder. Diharapkan tari kreasi ini bisa tampil Agung, Sakral dan kejawen. Sehingga selaras dengan kondisi alam Pura dan Pantai Tanah Lot yang memang bersifat sacral dan penuh dengan aura mistis.

Sesuai dengan arahan Bupati Eka sebelumnya, mulai dari gambelan, pakain, irama dan gerak tari telah disiapkan oleh duet koreo Dadong Rerod dan Muder dalam latihan Perdana Tari Rejang Ratu Segara di Aula Rumah Bupati Eka, Banjar Tegeh, Angseri, Baturiti, Jumat (6/4/2018) malam. Mengingat latihan Perdana tersebut disaksikan oleh Beliau.

Setelah menyimak performance dari para penari dan penabuh, Bupati Eka mengkritisi Tarian dan Tabuh, karena ada beberapa yang perlu dikoreksi. Beliau meerasa gerakannya kurang pas dan tidak terlihat mencerminkan keagungan dan kesakralan dari tari tersebut. Tabuhnya juga demikian, sehingga tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam imajinasi orang nomer satu di Tabanan tersebut.

“Gerakannya begitu lembut dan terlalu cepat, begitu juga dengan gambelannya, terlalu banyak seruling. Hanya suara seruling yang terengar, sehingga menutupi irama gambelan yang lain. Saya mau kurangi sulingnya, dan perlambat gerakannya, serta masukan unsur kejawen agar tariannya lebih terlihat agung dan sacral”, pinta Eka kepada Dadong Rerod.

Srikandi cantik asal Tegeh, Angseri itu juga meminta agar penciptaan semua gerak tari agar tidak melenceng dari ciri khas tari Rejang itu sendiri. Bila memungkinkan dipadukan dengan berbagai gerakan tari rejang yang ada.

“Gerak Tari, Gambelan, bahkan Sinden ataupun efek yang akan ditampilkan nantinya harus didasari dengan penuh rasa. Kalau sudah pake rasa, otomatis persembahan kita kehadapan Ratu segara sebagai wujud pengabdian kita kepada Beliau bisa berimbas menjadi sebuah prestasi”, pungkasnya.

Karena sebuah prestasi bukan saja lahir dari kepintaran akademik semata maupun olah-raga, namun mempersembahkan kesenian yang agung dan Sakral-pun merupakan sebuah prestasi, sambung Eka.

Sementara di kesempatan yang sama, I Wayan Juana Adi Saputra atau Dadong Rerod menuturkan ide tarian ini merupakan gagasan dari Ibu Bupati. Yang mana melihat kepopuleran Tari Rejang Renteng saat ini, dan mascot Tabanan tari Bungan Sandat serasi. Dan kami berdua merupakan pelaksana ide tersebut, dan inilah tugas kami sebagai pelaku seni, pungkasnya.

“Ibu ingin memadukan Tari Bungan Sandat Serasi dengan Tari Rejang Renteng, dan jadilah Rejang Sandat Ratu Segara. Dan setelah didiskusikan lagi, untuk lebih sakralnya maka diambil Tari Rejang Ratu Segara”, lanjut Dadong Rerod.

Saya selaku penggarap pembantu Ibu Bupati, harus membuat menu yang enak untuk orang yang mau menikmatinya. Dan dituntut harus bisa menampilkan suasana agung dan sacral pula, tanpa menghilangkan rasa dan estetika tarian tersebut, sambungnya.

Dadong Rerod-pun menambahkan bahwa apa yang diinginkan oleh Ibu Bupati dalam tarian ini agar bisa diuraikan menjadi suatu kesenian kontemporer yang memiliki keagungan dan kesakralan dimata para penikmat tarian ini nantinya.

“Suatu kesenian yang kontemporer dipadukan dengan unsur kejawen, sehingga sangat agung dan sakra. Ibu sangat menginginkan tarian ini begitu agung dan sakral, maka dari itu kami padukan dengan beberapa tari Rejang, semisal Tari Rejang Dewa, Rejang Dedari, dan Rejang Renteng, serta dimasukkan sedikit ornament kejawen tanpa mengurangi ciri khas Tari Rejang tersebut,” jelasnya.

Dirinya sebagai seorang koreografer, penerus ide dan gagasan dari Bupati Eka berharap agar tarian ini bisa maksimal sesuai dengan harapan Beliau. Sehingga bisa ditampilkan secara maksimal pada bulan Juli mendatang di Pelataran Pura Tanah Lot.

Dirinya sebagai seorang koreografer, penerus ide dan gagasan dari Bupati Eka berharap agar Tarian ini bisa maksimal sesuai dengan harapan Bupati Eka. Sehingga bisa ditampilkan secara maksimal pada bulan juli mendatang di pelataran Pura Tanah Lot.

“Mengingat tempat yang mungkin tidak akan memadai untuk menampung lebih dari 7000-an orang penari, maka jumlah penari yang akan mempersembahkan Tari Rejang Ratu Segara ini berjumlah 3.600 orang penari”, jelasnya. (ita/bpn)