Pentingnya Komunikasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

50

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Melatih berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain sangat penting untuk dilakukan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Karena ini berguna bagi perkembangan anak, agar terbiasa berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Demikian dijelaskan oleh Siti Nursany, A.Md.,SKM saat tampil sebagai narasumber di acara parenting “Komunikasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus’’ yang digelar Disdikpora Kota Denpasar dan Pusat Layanan Autis Kota Denpasar serangkaian Peringatan Hari Peduli Autis Sedunia tahun 2018 di Ruang Sewaka Mahottama Gedung Sewaka Dharma Kota Denpasar, Sabtu (7/4/2018) kemarin.

Nursany mengungkapkan, komunikasi yang tidak baik pada ABK dapat menimbulkan masalah. Karena berdasarkan pengalamannya banyak anak dengan ABK tersebut tidak dapat mengungkapkan apa yang dinginkannya karena keterbatasan bahasa. Sehingga sang anak pun menangis dan marah. “Bayangkan hal seperti itu bisa membuat anak frustasi, orang tua juga frustasi dan akhirnya nambah masalah,” tuturnya.

Pembicara lainnya, Luh Pande Ary Susilawati, S.Psi., M.Psi. Psikolog, menyampaikan bagaimana sikap orangtua dalam menangani ABK. Orangtua bisa menerima keadaan anak itu, sabar, dan dengan penuh kasih sayang, karena ABK itu berbeda dengan anak-anak yang lain.

“Anak autis itu super sensitif karena mereka tidak bisa dipaksa untuk berbicara, mereka akan merespon bicara jika itu menarik bagi mereka, jangan pernah membandingkan anak autis dengan anak yang normal dan jangan bilang tidak boleh, kata tidak boleh bisa diganti dengan kata tidak bagus,’’ katanya.

Ia menegaskan, anak autis itu bukan anak terbelakangan mental, tetapi makin ke depan anak autis bisa bersekolah di sekolah umum karena mereka memiliki IQ yang bagus. Dikatakan, ada empat sikap yang dikukuhkan dalam setiap komunikasi dengan ABK.

Pertama adalah banyaknya cinta dan perhatian. Kedua, membangun kepercayaan bahwa mereka mampu melangkah menuju tindakan otonom mereka sendiri. Ketiga, menguatkan penghargaan dalam setiap kemajuan yang mereka capai. Dan, keempat hendaknya komunikasi yang dibangun dengan mereka menonjolkan usaha kita untuk memahami pengalaman unik mereka.

‘’Dengan ke empat yang dikukuhkan dalam setiap komunikasi dengan ABK, maka akan dapat dibangun kepercayaan diri dari mereka sehingga dapat mendukung dinamika kehidupan mereka baik dalam melakukan adaptasi maupun aktualisasi secara mandiri,’’ ulasnya.

Parenting yang dibuka Kabid Pembinaan PAUD dan PNF Disdikpora Kota Denpasar, Drs. I Made Merta, M.Si., itu diikuti sebanyak 150 peserta. Terdiri dari pendidik dari pusat layanan ABK di PAUD, pendidik dari sekolah inklusif dan para orangtua anak didik di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

Made Merta menegaskan, komunikasi pada kelompok ABK memerlukan perlakukan khusus agar mereka mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif dengan segenap keterbatasan mereka. Karenanya, melalui kegiatan parenting ini dapat meningkatkan pemahaman dan wawasan kepada para pendidik dan orangtua ABK dalam rangka menangani permasalahan komunikasi yang sering terjadi pada mereka yang memiliki hambatan perkembangan secara fisik maupun psikis dan pada ABK. (tis/bpn)