BALIPORTALNEWS.COM – Masa remaja seringkali dihubungkan dengan stereotip mengenai ketidakselarasan emosional maupun perilaku. Karena pada masa ini, remaja kerap mengalami perubahan-perubahan penting seperti perubahan hormonal maupuan psikologis. Di masa ini pula, remaja rentan mengalami depresi dan mungkin punya pikiran untuk bunuh diri.

Seperti kasus siswa SMA di Denpasar, Kadek Agus Hiawan (18) yang nekat bunuh diri lantaran diduga diputus kekasihnya. Nah, agar anak-anak yang mungkin bernasib sama supaya tidak gampang depresi dan melakukan hal terlarang tersebut, psikolog Aritya Widianti, S.Psi.,M.Psi., Psikolog., mengajak seluruh warga untuk belajar berdamai dengan diri sendiri dan menghadapi realita dalam hidup meski terasa pahit agar tidak terjadi self harm, bahkan bunuh diri.

‘’Kasus bunuh diri, khususnya di kalangan pelajar tidak disebabkan faktor tunggal. Secara psikologi kita juga tidak bisa hanya menebak-nebak penyebab kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang,’’ katanya, Rabu (21/3/2018) kemarin.

Aritya Widianti mengemukakan, tidak mungkin hanya satu penyebab bisa membuat seseorang bunuh diri dan tidak semua yang bunuh diri mengalami gangguan mental, bisa jadi karena alasan dan faktor lain. Demikian sebaliknya, yang gangguan mental pun belum tentu semuanya berakhir dengan bunuh diri.

Ia mengatakan yang terpenting adalah sensitivitas lingkungan dan teman terhadap mengenali perubahan perilaku seseorang. Lingkungan sekitar harus cepat tanggap terhadap perubahan perilaku seseorang terutama orang-orang dekat.

‘’Curahan hati (curhat) memang tidak bisa serta merta menyelesaikan setiap persoalan, namun paling tidak membantu meringankan dan bersama-sama bisa mencari solusi,’’ ujarnya.

Aritya Widianti menambahkan, pentingnya peran lingkungan, baik di rumah dan sekolah untuk mendampingi anak. Karena kepribadian satu anak dengan yang lain berbeda. Di sekolah, kata dia, perlunya pengaktifan guru-guru Bimbingan Konseling (BK) dalam membangun karakter anak didik di sekolah.

Karena ini terjadi pada usia remaja, akan sangat efektif misalnya dilakukan diskusi interaktif di dalam kelas dengan melibat siswa-siswi yang ada. Misalnya dengan memberikan pertayaan sederhana, misalnya tentang ‘’Apa yang kamu lakukan ketika ada yang mengejekmu?’’ atau “Apa yang kamu lakukan ketika ditolak oleh seseorang yang kamu sukai?’’.

Menurut Aritya Widianti dengan memberikan pertayaan di kelas saat jam BK, maka guru akan dapat mapping pola pikir anak didiknya ketika mendapat masalah. ‘’Tugas guru BK bukan hanya memanggil siswa-siswa yang bermasalah tetapi menanamkan nilai dan karakter. Karena usia remaja memang sangat retan,’’ ulasnya.

Sebaliknya jika di rumah, kata Aritya Widianti, orang tua bukan hanya bertugas membayar uang sekolah dan memberi anak-anak ini sandang, pangan, dan papan, tetapi perhatian yang cukup. ‘’Jika anak nampak gelisah dan murung, sangat dianjurkan untuk mencaritahu melalui anak langsung atau teman-temannya, atau juga saudaranya apa yang terjadi sebenarnya pada diri anak,’’ sarannya.

Selain bunuh diri, kata Aritya Widianti, yang sering terjadi pada anak muda (kalangan mahasiswa dan pelajar) adalah self harm atau menyakiti diri sendiri, bahkan mereka banyak yang menjadi kecanduan sendiri hingga kebablasan dan akhirnya menghilangkan nyawa diri sendiri alias bunuh diri.

Ia mengakui sebenarnya ada hal mudah dan sederhana untuk menghindari kasus-kasus self harm hingga bunuh diri tersebut, namun sangat sulit untuk dilaksanakan, yakni belajar menerima realita dan berdamai dengan realita itu. ‘’Selama kita bisa berdamai dengan kenyataan pasti kita juga bisa berdamai dengan diri sendiri, sehingga hal-hal yang merugikan diri sendiri bisa dihindari (dicegah),’’ pungkasnya. (tis/bpn)