Masyarakat Bersama Ratusan Anak Down Syndrome Meriahkan Peringatan Hari Down Syndrome Dunia 2018

83

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Dunia (HDSD) yang jatuh pada 21 Maret 2018 lalu, POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) menyelenggarakan Fun Walk bersama Orangtua, Anak-anak Down Syndrome (ADS) dan juga masyarakat pada 25 Maret 2018 di Area Car Free Day Senayan, Jakarta.

Dengan tema Aku Ada Aku Bisa, acara Fun Walk ini turut didukung oleh para pemerhati Down Syndrome. Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Setda Provinsi DKI Jakarta, Adi Ariantara, mewakili Gubernur DKI Jakarta. Sementara Ketua Kadin Indonesia, Roesan Roeslani turut mengawali start Fun Walk yang diikuti oleh lebih dari 1000 peserta.

Kegiatan ini turut dimeriahkan dengan berbagai hiburan, seperti flashmob oleh Ari Tulang dan Indah CS. Selain itu artis-artis ibukota, seperti HiVi, Rick Karnadi, BID, Frelo dan Ghaniya yang peduli terhadap Anak-anak Down Syndrome juga turut memeriahkan kegiatan HDSD 2018.

Acara Fun Walk menjadi acara puncak dari rangkaian kegiatan HDSD 2018 yang diselenggarakan POTADS. Pada kesempatan ini, POTADS ingin mengajak para keluarga Down Syndrome, masyarakat Indonesia, serta para pemerhati ADS untuk berolahraga bersama dalam acara Fun Walk.

Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menyuarakan tema Aku Ada Aku Bisa, guna meneguhkan perspektif seluruh masyarakat mengenai para penyandang down syndrome yang mempunyai hak setara serta dapat hidup normal, mandiri dan bahkan mampu menunjukkan prestasi di tingkat dunia.

Ketua Pelaksana Hari Down Syndrome Dunia 2018 Bernadeta mengatakan, ”Melalui rangkaian kegiatan HDSD, kami ingin menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa banyak penyandang Down Syndrome yang berhasil menempuh pendidikan yang baik, berkarya, bekerja, dan menemukan potensi dirinya, bahkan hingga akhirnya membangun keluarganya sendiri. Kami berharap, melalui kegiatan ini dapat menggugah berbagai pihak untuk lebih mengenal, peduli dan menerima keberadaan ADS, serta dapat memberi kesempatan bagi mereka untuk berprestasi di tengah-tengah masyarakat.”

Dengan bekal pengasuhan dan pendidikan yang baik dan tepat serta terbukanya kesempatan dari lingkungan sekitar, Anak dengan Down Syndrome dapat beraktivitas dengan produktif. Mereka ada, tentu mereka bisa.”, tambah Bernadeta yang juga orangtua dari Anak dengan Down Syndrome.

Rangkaian kegiatan HDSD telah dibuka sejak 17 Maret di Rumah Ceria Down Syndrome (RCDS) POTADS, Pejaten Barat, dengan mengadakan berbagai perlombaan, seperti Tari Modern, Tari Daerah, Peragaan Busana Daerah & Penampilan Musik (Djimbe/Keyboard/Drum) dan Vlog Competition. Kegiatan Fun Day menjadi kegiatan kedua yang akan diselenggarakan pada 24 Maret di Bentara Budaya, Palmerah, dengan berbagai kegiatan seperti talkshow dan penampilan final para peserta ADS yang telah terpilih di babak penyisihan.

Para pemerhati dari berbagai profesi, diantaranya Dian HP, Elfa’s Singer, Nico Ajie Bandy, Ava Victoria, Netta Kusumah Dewi, Kartika Martakoesoemah, Sri Dijan Tjahjati, Rury Avianti, Tike Priatnakusumah, Kartika Martakoesoemah, Paulina Dinaristi, Tohpati, Indro Hardjodikoro, Purwa Caraka, dan Frans Sartono turut mendukung rangkaian kegiatan ini. Bersama POTADS, mereka mengajak masyarkat luas untuk memberikan semangat dan motivasi bagi Anak-anak Down Syndrome di Indonesia beserta keluarganya.

Musisi yang sekaligus pemerhati Down Syndrome, Dian HP, mengatakan jika dirinya sudah sejak lama menaruh perhatian pada Anak-anak Down Syndrome dengan membantu mereka belajar melalui alat musik. Musik dapat membantu Anak dengan Down Syndrome mengekspresikan emosi mereka lebih baik dan membantu mereka dalam menjalani proses belajar sehari-hari.

“Anak dengan Down Syndrome memiliki kemampuan yang baik untuk belajar memainkan alat musik, seperti piano, djimbe dan drum. Musik merupakan suatu hal yang menyenangkan untuk dipelajari dan dapat membantu mengembangkan kemampuan konsentrasi. Nada dan irama berulang yang ada di dalam musik dapat mempermudah Anak Down Syndrome untuk mengingat dan memahami materi yang diberikan, serta membantu mereka dalam mempelajari barbagai hal lainnya.” Jelas Dian HP.

Kelainan Down Syndrome pertama kali ditemukan oleh Dokter dari Inggris, John Langdon Down, pada 1866. Pada normalnya manusia memiliki 23 pasang kromosom, sehingga menjadi total 46 buah kromosom. Sementara pada Anak Down Syndrome terdapat kelebihan satu kromosom pada kromosom nomor 21 dan menjadikan kromosom ini berjumlah tiga, dimana seharusnya hanya sepasang. Hal ini menyebabkan jumlah total kromosom menjadi 47 buah, yang biasa disebut sebagai trisomi 21. Kelainan kromosom ini menyebabkan lambatnya pertumbuhan fisik dan mental penyandang Down Syndrome. (r/bpn)