BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR   Tim Penilai Lomba Ogoh- Ogoh Kota Denpasar 2018 yang terdiri dari unsur Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan perwakilan Sekaa Teruna – Teruni  (STT) se-Kota Denpasar mulai mengadakan penilaian ogoh- ogoh hasil karya seluruh STT se-Kota Denpasar. Proses penilaian dimulai dari tanggal 6 Maret 2018 hingga tanggal 9 Maret 2018 dengan 182 ogoh-ogoh. Pada Selasa (6/3/2018) penilaian hari pertama diawali menilai sebanyak 46 Ogoh- ogoh di kecamatan Denpasar Utara.

Ogoh- ogoh karya STT di Kecamatan Denpasar Utara selain menggunakan bahan- bahan ramah lingkungan sesuai anjuran Pemerintah Kota, juga nampak beberapa STT mencoba berkreatifitas menggunakan bahan baku alternatif seperti kertas tisu, kulit telur ayam dan daun pisang kering. Bahkan beberapa STT ada juga yang telah menambahkan sentuhan teknologi kedalam karya ogoh- ogohnya. Salah satu Ogoh-ogoh karya STT Banjar Ambengan, Peguyangan Kangin bahkan menggunakan bahan kulit telur ayam.

Salah satu tim juri, I Ketut Sudita mengatakan penilaian yang dialkukan diantaranya dari segi kreatifitas berupa bentuk, ekspresi, komposisi dan penggunaan bahan pembuatan ogoh- ogoh.

Lebih lanjut dikatakan pada tahun ini kriteria hampir sama seperti ditahun sebelumnya. Peserta tidak diperkenankan menggunakan bahan seperti stereofoam dan diharapkan menggunakan bahan ramah lingkungan. “Bahkan berdasarkan hasil pengamatan kami, beberapa STT telah bereksperimen menggunakan bahan alternatif seperti tisu dan kulit telur ayam yang terlihat memberi efek khsusus pada ogoh- ogoh. “Tim penilai lomba ogoh- ogoh Kota Denpasar tahun ini terdiri dari pakar dari beberapa disiplin  ilmu seperti seni rupa, tari untuk menilai fragmen dan ada juga ahli dibidang cerita dan sinopsis. Tentu lomba ogoh- ogoh yang digagas Pemkot Denpasar ini bertujuan untuk terus melestarikan warisan seni budaya di Bali dan mengarahkan generasi muda Kota Denpasar melakukan hal- hal yang positif,” ungkapnya.

Wisnu Pramana, Ketua STT Yowana Dhika Karma, Banjar Batur, Peguyangan Kaja saat ditemui pada saat penilaian mengatakan pengerjaan ogoh- ogoh selama dua bulan dimulai awal januari dan rampung pada awal maret. Ogoh- ogoh ini bertema Atma Corah dan telah diberi sentuhan teknologi. Ogoh – ogoh digerakkan dengan memakai mesin degan satu poros dan tiga rotasi atau pergerakan yaitu memutar, kedua gerakan dileher dan gerakan di badan. “Kami sangat senang dan bangga dapat dinilai secara langsung oleh tim Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Semoga hasil yang kami terima dari karya kami memuaskan dan kami jadikan pembelajaran untuk dapat menghasilkan karya yang lebih baik kedepannya,” ujarnya. (esa/humas-dps/bpn)