BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Demi mendukung percepatan penguasaan teknologi guru, pemerintah mengkampanyekan agar guru melek literasi. Setidaknya, guru menguasai literasi bahasa, numerik, digital, budaya, dan finansial.

Saat ini, baru sekitar 25 persen guru yang menguasai teknologi. Sebagian besar guru di perdesaan masih terkendala akses informasi untuk bisa menguasai teknologi. “Keterbatasan akses teknologi di perdesaan juga menjadi hambatan,” kata pengamat pendidikan, Wayan Supartha, Rabu (27/12/2017) kemarin.

Menurut Supartha, guru tak perlu menguasai teknologi yang terlalu rumit. Cukup melalui media pembelajaran sederhana yang mampu dipahami siswa. Namun, kreativitas guru diperlukan untuk bisa menyampaikan materi ajar.

“Tidak perlu juga di setiap tempat harus mengajar dengan teknologi canggih. Tidak selalu harus memaparkan materi pelajaran dengan teknologi tinggi,” katanya.

Supartha menambahkan, budaya literasi merupakan prasyarat yang sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara apabila ingin maju. Menumbuhkan minat baca penting dilakukan para guru. Selain itu, membangun sinergi antara ekosistem pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat tak kalah penting.

“Keluarga, sekolah dan masyarakat dapat saling bersinergi dalam tri sentra literasi. Hal ini sesuai konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara,” kata pensiunan birokrat di Disdikpora Kota Denpasar ini.

Oleh karena itu, membudayakan literasi sejak dini akan lebih efektif dengan adanya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Keluarga sebagai lingkungan masyarakat terkecil harus mulai membiasakan aktivitas membaca, salah satunya dengan mengunjungi berbagai komunitas baca atau taman bacaan masyarakat, agar kesadaran literasi generasi penerus tumbuh sempurna,” ujarnya. (r/bpn)